Kamu & Senja

Kamu & Senja
Sebuah Janji


__ADS_3

(Bagian Flashback)


Ibuku tersenyum sambil meneteskan air mata saat dia membuka bungkusan kado yg ku berikan. Aku lalu mengambil kalung emas itu dan memakaikannya di leher Ibuku. Kemudian aku di peluk dan di ciumnya, sementara Raihan tak mau kalah dia pun memberikan hadiah berupa gambar yg di buat untuk ibuku. Ya.. Gambar seorang anak SD tapi bukan itu esensinya. Ibu memaknai pemberian kecil dari Raihan adalah sesuatu yg besar untuknya karena pasti gambar itu di buat dengan penuh kasih sayang anak terhadap orang tuanya.


Bagi seorang Ibu, bertambahnya usia anak itu tidak jadi alasan untuk tidak lagi menganggap anak meraka adalah anak kecil. Berapa pun usianya di mata seorang Ibu, anaknya tetaplah anaknya.. Kecil dan ingin dia lindungi sampai mungkin dia tiada di dunia ini.


Aku benar-benar merasakan hal itu, di usiaku yg sekarang, Ibu masih sering melihatku sebagai anak kecilnya. Anak kecil yg harus dia lindungi dengan tangannya sendiri, sekeras apapun kau mengatakan aku sudah dewasa percayalah dimata Ibu kau masih anak-anak.


Sepertinya malam ini kejutan untuk Ibuku sukses, berkat bantuan dan pinjaman uang dari Ilham aku bisa memberikan hadiah terbaik untuk wanita spesial di hidupku.


Kejutan kecil malam ini berakhir saat Raihan menangis karena mengungkapkan perasaannya pada Ibu. Aku pun tanpa sadar sedikit meneteskan air mata melihat Raihan.


Selain kami bertiga juga ada Ilham yg membantuku mempersiapkan kejutan kecil ini. Dialah yg sibuk mengalihkan perhatian Ibuku dengan mengajaknya berbicara sembari aku dan Raihan mempersiapkan semuanya.


Ibu lalu mengantarkan Raihan ke tempat tidurnya karena terlihat dia sudah mengantuk. Raihan memang anak yg bisa di bilang manja kepada Ibuku, terutama ketika Ayahku meninggal. Walaupun dia sebentar lagi masuk SMP dia masih saja berperilaku layaknya anak kelas 4 SD. "Ham makasih ya.. Kamu emang temanku yg terbaik." Kataku memujinya.


"nyantai Man." Balasnya.


Ku perhatikan Ilham dari tadi memandang langit, kami berdua berada di teras rumahku. Ilham yg sedang berdiri memandang langit malam yg terang oleh cahaya purnama. Aku tentu tau apa yg membuatnya seperti itu, hanya saja aku tidak ingin membicarakan hal itu dengannya. "Man.. Gua salah gak yah kalau saat ini gua nyerah?" Tanya Ilham kepadaku.


"nyerah gimana maksudnya Ham?" tanya ku balik pura2 tidak mengerti.


"Ica.. Lu tau kan? Dua hari yg lalu." ucapnya memperjelas situasi.

__ADS_1


"ohh.. Iya Ham." ujarku terdengar canggung.


"seandainya itu elu Man, atau Adi atau siapapun itu. Gua bakal ikhlas, tapi kenapa harus Irwan?" ucapnya serius.


Aku tak tau harus berkata apa sekarang, aku takut salah berpendapat, maka sebaiknya aku diam saja dan menyimak. "maksud gua.. Emang sih tampang kayak Irwan itu tampang idaman cewek-cewek tapi bukannya satu kampus udah tau kelakuan dia kayak gimana. Gua heran kok masih aja sih Ica bisa suka gitu. Apa lagi dia sendiri yg pernah bilang kalau gak mungkin dia bakal suka dengan Irwan. Kata Ilham mulai emosi.


"Ham.. Kita belum tau mereka itu jadian atau ngak. Siapa tau aja mereka kebetulan ketemu di tempat itu. Ica sendiri juga gak bilang apa-apa kok." Jelasku mencoba menenangkan Ilham. Memang benar, karena waktu yg singkat itu agak canggung. Ica tidak mengatakan apa-apa kepada kami, begitu puka Irwan.


"apa maksudnya coba mereka berdua masuk ke toko perhiasan? Pasti mereka ada hubungan lah." Jelas Ilham.


"ya mungkin saja Irwan minta tolong gitu sama Ica buat bantu cari kado atau apalah untuk pacarnya." Jelasku sekali lagi positif thingking.


"Gak mungkinlah dia cuma mau bantu nyari apalah kalau bukan karena mereka udah jadian. ." katanya mulai kacau.


"Ham tenang dulu. Gini deh, kalau emang kamu suka sama Ica. Sekarang aku saranin kamu nyatain perasaan kamu sama dia dengan serius. Gak main-main seperti biasa, tapi dengan serius seperti kamu benar-benar ingin memilikinya." Kataku memberi saran.


"Ham kalau kamu gak mau kehilangan dia. Berarti kamu harus bertindak, sekarang atau tidak sama sekali." Mencoba memotivasi Ilham.


Sejujurnya baru kali ini aku melihat Ilham bersikap kekanak-kanakkan seperti ini, mungkin ini karena cinta. Ya.. Aku sudah bilang dari awal bahwa cinta adalah virus bagi logika bahkan untuk mereka yg berpendidikan tinggi.


Ilham kemudian duduk di sebelah ku, mencoba menenangkan dirinya. "Man lu tau gak kenapa gua suka sama Ica?"


"gak tau Ham. Soalnya kamu bilang gak butuh alasan buat suka sama dia." Balasku mengingat kembali apa yg Ilham katakan padaku beberapa waktu yg lalu.,

__ADS_1


"waktu gua kecil.. Ya umur gua masih sekitar 5 tahun. Gua pergi berlibur bareng dengan keluarga, gua lupa tempatnya dimana. Yg gua ingat waktu itu tempatnya kayak taman bunga gitu." Kata Ilham menjelaskan masa kecilnya. Ilham menceritakan semua kejadian saat dia kecil waktu itu, kejadian yg mempengaruhi perasaannya sekarang.


Waktu itu Ilham bertemu gadis kecil yg sedang menangis dan dia datang untuk menghibur gadis kecil itu, akhirnya mereka berteman dan bermain Bersama. Kurang lebih 5 hari mereka berdua bermain karena ditempat itu memang disediakan vila untuk tinggal karena pada akhirnya itu adalah objek wisata keluarga, sampai pada akhirnya mereka harus berpisah karena keluarga mereka berdua sudah harus kembali dan libur telah usai.


Gadis cilik itu ternyata menangis dan tak ingin berpisah dengan Ilham. Mungkin karena 5 hari ini Ilham senang tiasa menjaga gadis kecil itu, bermain bersama dan bercanda. Melihat gadis itu menangis lalu Ilham menghibur gadis kecil itu dan berkata "jangan menangis, kita akan bertemu lagi nanti." Gadis kecil itu tersenyum kepada Ilham dan memberikan Ilham sebuah gelang manik-manik berwarna hitam, sementara gadis cilik itu memiliki gelang manik-manik berwarna putih. "kalau nanti kita ketemu lagi, kamu harus menikah denganku." Kata gadis kecil itu dengan polosnya sambil tersenyum.


"baiklah.. Aku berjanji." balas Ilham. Sebuah janji kecil yg terucap dari mulut kedua anak kecil itu.


Mereka berdua berpisah dan tak pernah bertemu lagi. "Bentar-bentar Ham.. Jangan bilang gadis kecil yg kamu ceritakan itu Ica?" ujarku sambil menyela Ilham menceritakan masa lalunya.


"tebakan lu bener Man. Waktu semester dua gua sempat lihat Ica dan Gina di kantin dan waktu itu gua lihat Ica lagi megang gelang manik-manik warna putih. Gua sangat yakin kalau gelang itu adalah gelang yg sama dengan yg gua pegang selama ini." Jelas Ilham.


"apa kamu yakin Ham. Emang menurutmu wajah gadis kecil yg kamu temui dulu itu mirip dengan Ica?" Kataku penasaran.


"gua gak inget pasti.. Gua sering mimpi tenang itu hanya saja gambaran wajahnya samar-samar. Intinya gelang itu jadi saksi kalau dia adalah gadis kecil itu Man. Atas dasar itu akhirnya gua mulai deketin Ica walaupun kelihatannya main-main, hanya saja gua takut kalau gua serius gua di tolak Man." jelas Ilham.


Aku hanya diam mendengarkan kisah Ilham, aku tak tau harus bicara apa karena bagiku ini seperti dua sisi mata uang koin. Di sisi lain romantis namun di satu sisi kekanak-kanakkan.


Ilham berbalik ke arahku, melihatku tanpa ekspresi. "kalau lu mau ketawa Man silahkan.. Gua tau kelihatannya gua masih seperti anak-anak. Masih mempercayai perkataan bocah di masa lalu. Tertawa aja Man sepuas lu." Kata Ilham.


"Ham.. Kamu temanku.. Gak mungkin aku menertawakan temanku seperti itu. Sekarang gini, kalau benar Ica adalah gadis kecil yg kamu maksud. Kenapa kamu tidak menceritakan semua kepadanya. Bukan kah dia masih menyimpan gelang putih itu, artinya dia masih ingat denganmu walaupun dia tidak tau kalau anak kecil yg bersamanya dahulu adalah kamu. Dia cuma butuh penjelasan sedikit Ham." Kataku sekali lagi mulai memotivasi.


" gua udah pernah mancing Man tapi sepertinya dia benar-benar lupa. Gua takut kalau gua ngomong yg sebenarnya, dia bakal ketawa dan nganggep gua masih anak-anak. Masih percaya omongan anak-anak. Gua juga gak ngerti dengan perasaan gua sendiri Man."

__ADS_1


Satu lagi hal positif yg aku pelajari dari Ilham, dia bisa begitu loyal dari kecil sampai sekarang. Mungkin bagi orang lain ini seperti dongeng, tapi ini benar terjadi bagi sebagian orang di luar sana. Contoh kecilnya Ilham, dalam hati kecilnya dia sudah jatuh cinta pada gadis cilik yg di temui ketika dia masih berusia 5 tahun.Bahkan perasaannya tisam berubah samlai hari ini.


-Bersambung-


__ADS_2