Kamu & Senja

Kamu & Senja
Rumah Sakit


__ADS_3

Baru kali ini aku berkendara dengan kecepatan yg tidak wajar, lampu merahpun aku terobos demi sampai ke lokasi dengan cepat. Aku tidak tahu apa yg terjadi sebenarnya, yg ku tahu saat ini Ilham berada di rumah sakit dengan kondisi yg cukup parah akibat menghirup banyak asap dari kebakaran suatu pabrik. Setidaknya itu yg aku tahu dari Ibunya yg pagi Ini menelfonku.


Cukup panik terlebih semalam aku tidak mengaktifkan smartphone milikku karena bersama dengan Sahidah, Ana dan Riyal di sebuah bioskop. Sampai aku pulang, aku tidak melihat smartphone dan langsung tertidur lelah. Di pagi hari aku cukup terkejut melihat beberapa pesan dari Ica dan Ilham yg bertanya tentang Ica.


Aku pikir mereka sedang terlibat masalah, hingga Ibu Ilham menghubungiku dan mengatakan bahwa Ilham saat ini di rawat di rumah sakit. Aku terkejut dan bergegas menuju ke rumah sakit tersebut, semoga saja aku hanya bertemu Ilham di rumah sakit.


Sesaat setelah mendapat panggilan dari Ibunya Ilham, aku menghubungi teman-teman angkatanku di kampus melalui grup WA jika Ilham saat ini sedang di rawat di rumah sakit. Dengan sigap beberapa dari mereka memutuskan untuk ikut menjenguk Ilham.


Aku masih terjebak di jalan karena padat merayap, aku hanya bisa melaju 20 km/jam. Bahkan sesekali harus berhenti saking padatnya sampai membuat aku gelisah. Hal yg aku takutkan adalah Ica yg juga tidak ada kabar saat ini, aku harap dia tidak di rawat dalam rumah sakit bersama Ilham.


Waktu tempuh dari rumahku menuju rumah sakit normalnya hanya 20 menit, tapi sekarang aku menempuh 50 menit waktu yg habis di jalan dan berkutat dengan kegelisahan serta perasaan cemas.


Saat aku tiba di rumah sakit, aku bergegas masuk menuju kamar perawatan tempat dimana Ilham saat ini terbaring. Saat masuk ke lobby rumah sakit aku bertemu dengan Gina yg terlihat panik.


"Gina.."


"Arman.."


"kamu sudah ketemu Ilham?"


"belum, aku juga baru nyampe." ucapnya sedikit panik.


"ya udah, dia ada di kantai tiga perawatan melati kamar nomor 4. Bareng aja kalau gitu."


Kami berdua dengan cepat berjalan menuju lift dan naik ke lantai 3 gedung rumah sakit. Aku lihat Gina cukup gelisah dengan apa yg terjadi, aku maklum karena Ilham adalah teman dekat kami berdua.


"apa tidak ada kabar dari Ica?" tanyaku pada Gina saat memasuki lift


"tidak ada, aku sudah telfon tapi tidak aktif."


"aduh.. Ica, semoga dia baik-baik saja." harapku cemas.

__ADS_1


"Arman.. Sebenarnya semalam Ilham datang ke rumahku." ucap Gina tiba-tiba.


"hah!"


"dia tiba-tiba pergi saat mendapat pesan dari Ica. Aku juga tak tahu pasti apa yg terjadi tapi kemarin Ilham terlihat cemas." sambung Gina.


Aku sebenarnya penasaran apa yg membuat Ilham bertamu malam-malam di rumah Gina tapi aku lebih penasaran dengan keadaan Ica saat ini. Aku semakin cemas setelah mendengar cerita Gina, apa lagi Ica semalam ingin meminta tolong padaku.


Di tengah perasaan gelisah, lift akhirnya terbuka dan kami berdua melangkah dengan cepat menuju kamar perawatan Ilham. Saat tiba di depan kamar, aku mengetuk pintu dan masuk ke dalamnya. Tapi yg ku lihat hanya ada Ibu dari Ilham, sementara Ilham tidak terlihat batang hidungnya.


"Nak Arman." sapa Ibunya Ilham.


Aku lalu mendekat dan salam sambil mencium tangan Beliau layaknya anak muda yg menghormati yg tua. Begitupun dengan Gina yg terlihat canggung karena baru pertama kali Gina bertemu dengan orang tua Ilham.


"Ilham kemana tante?"


"dia di kamar sebelah nak. Temannya yg satu lagi di rawat di situ."


Betapa terkejutnya aku melihat seorang perempuan yg terbaring dengan perban mengikat bagian kepalanya. Perempuan itu adalah Ica dan saat ini masih belum sadarkan diri. Di sampingnya ada Ilham yg masih terpasang selang infus sedang duduk sambil memegang tangan Ica.


Belum aku bereaksi, Gina sudah histeris melihat kondisi Ica dan langsung berlari menghampirinya. Ilham yg mendengar kami berdua masuk ke dalam kamar menoleh melihat kami berdua.


Gina seketika langsung menangis melihat kondisi sahabatnya saat ini. Sedangkan aku berjalan perlahan sambil menyalahkan diri sendiri karena semalam tidak melihat pesan darinya.


"Ham.. Bagaimana keadaanmu?"


"gue baik-baik aja, seperti yg lu lihat." balasnya.


Gina masih histeris, dia juga menyalahkan dirinya atas apa yg terjadi dengan Ica saat ini. Wajah Ica yg penuh luka lebam membuat tangisan Gina semakin menjadi-jadi. Dia terus memegang tangan Ica sambil sesegukan memanggil nama Ica.


Sementara aku yg melihat kondisi Ica tanpa sadar mulai menyeringai karena marah dengan diri sendiri. "seandainya kemarin aku tidak mematikan smartphoneku." benakku

__ADS_1


Aku mendekat.. Amarahku tersulut saat aku melihat luka lebam di wajah Ica. Aku jelas tahu bahwa luka itu adalah luka pukul. Sambil menahan rasa marah, aku melihat Ilham. "apa yg sebenarnya terjadi? Kenapa kondisi Ica seperti ini?"


Ilham berjalan sempoyongan membawa Infus miliknya sambil mengajakku keluar ruangan. Kami berjalan cukup jauh sampai di sebuah jendela. Dia menceritakan kejadian malam kemarin kepadaku, perlahan tapi pasti aku semakin larut dalam penyesalan dan kemarahan mengetahui kejadian yg menimpa mereka berdua.


Aku marah dengan orang yg telah melakukan hal ini kepada Ica serta akupun marah dengan diriku sendiri. Aku memukul tembok sebagai tanda kekesalanku, rasanya aku ingin meluapkan amarahku dan saat ini hanya tembok yg bisa aku jadikan luapan amarah.


"gue tahu apa yg lu rasain sekarang, percayalah Man. Perasaan gue jauh lebih merah ketimbang perasaan lu karena gue baru menyadari perasaan gue selama ini. Orang yg gue cinta adalah Ica.. Bukan perempuan kecil yg pernah hadir sebentar di masa lalu gue." ucapnya memegang pundakku.


Aku mengangkat wakahku dan memeluknya.


"maaf.." ucap Gina yg menegur kami dari belakang.


Kami berdua berbalik, Ilham menatap canggung ke arah Gina dan begitupun sebaliknya.


"ada apa Gina?"


"e.. ngak.. Iya ngak papa. Aku hanya melihat kalian berdua di sini." ucapnya


Setelah mengatakan hal itu dia berbalik dan pergi meninggalkan kami. Sepertinya dia kembali masuk ke dalam kamar perawatan Ica.


Gina membelakangi kami berdua, sepertinya dia mendengar percakapan kami dan yg tidak aku sadari adalah air mata yg terus jatuh saat dia mendengar perkataan Ilham.


Tak lama satu per satu teman angkatan kami di kampus datang menjenguk Ilham. Mereka sama denganku, tak tahu jika Ica juga di rawat dalam rumah sakit ini terlebih kondisi Ica lebih parah dari pada Ilham. Terdapat beberapa luka lebam di wajah Ica dan sempat mendapatkan sedikit jahitan di dahinya.


Teman-teman yg melihat Ica dengan kondisi seperti ini terlihat sedih. Ada yg menangis dan ada pula yg marah dengan penjahat yg membuat Ica menjadi seperti sekarang. Tak terkecuali Wahid yg dari tadi menendang-nendang kursi yg ada di dalam ruangan tersebut. Dia sangat marah kepada Irwan, karena dialah yg jadi awal dari semua ini.


Ilham memberitahu kami semuanya, jika Irwan adalah pengedar narkoba dan yg menculik Ica adalah sindikat pengedar narkoba dimana Irwan mendapatkan pasokan narkoba dan sepertinya Irwan mempunyai hutang di sindikat tersebut. Ica yg di sangka masih berhubungan dengan Irwan menjadi korban akibat Irwan yg sudah setahun menghilang begitu saja tanpa membayar hutangnya kepada sindikat tersebut. Informasi ini, di dapatkan oleh Ilham dari Polisi yg menangani kasus yg menimpa Ica.


Sudah sejam berlalu sejak aku datang ke tempat ini, tapi aku masih belum melihat Adi, padahal aku sudah menghubunginya jika kondisi Ica sangat memprihatinkan saat ini. Aku juga sudah bertanya kepada Gina tentang Adi tapi dia sendiri bingung dan menjawab tidak tahu.


Aku jadi ikut bingung, apa yg sebenarnya terjadi dengan teman-temanku beberapa hari ini. Jika aku perhatikan jarak antara kami jadi semakin melebar. Gina dan Ilham terlihat canggung dan Adi.. Tidak ada kabar sama sekali.

__ADS_1


-Bersambung-


__ADS_2