
(Bagian Flashback)
Aku sedikit berlari di siang ini, aku tak mau membuat dia menunggu. Aku juga bingung kenapa aku berlari seperti ini.
Siang ini aku akan bertemu dengan Evelyn, aku sebenarnya tidak terlalu mengenalnya. Yg ku tau dia hanya seorang MABA yg ingin bertemu denganku dan membicarakan sesuatu. Tapi ada yang salah, kenapa aku begitu bersemangat?
Gedung Fakultas dan gedung kantin pusat tidak terlalu jauh, jadi aku memutuskan untuk tidak mengendarai motor. Hitung-hitung sedikit olahraga, ya mungkin karena itu aku berlari.
Setelah sampai, aku mulai melihat berbagai stand makanan. Aku berjalan masuk ke gedung kantin sambil melihat ke kiri dan kanan. Mencari seorang perempuan yg memakai kemeja merah garis-garis biru.
Aku berjalan sampai aku melihat seorang perempuan yg mengangkat tangannya kepadaku. Dia terlihat memanggil namaku, saat mendekat aku serasa tau jawaban mengapa aku begitu bersemangat sekarang.
Aku semakin mendekat dan wajahnya tampak jelas. Dia tersenyum, tampak cantik dengan cacat yg ada di wajahnya. Cacat itu bernama lesung pipi, kecacatannya itu menambah indah senyumannya."hi kak." katanya
"ya hi. Evelyn kan?" tanyaku memastikan.
"iya kak."
"sorry, kamu udah dari tadi yah?"
"gak kok, baru aja kak."
Suaranya yg lembut berbanding lurus dengan senyumnya yg manis. Sebagai sentuhan akhir, lesung pipi yg berada di kedua pipinya ketika dia tersenyum membuatku tak tenang.
Aku pernah membaca bahwa lesung pipi adalah sebuah cacat di wajah. Lesung pipi adalah lengkungan yg terbentuk di wajah bagian pipi pada sebagian orang, terlihat jelas ketika mereka tersenyum. Seperti saat ini, saat Evelyn tersenyum, jika lesung pipi benar adalah cacat maka aku bisa bilang bahwa ini adalah cacat yg indah. "kak kenapa?"
"hah.. Iya gak apa-apa."
"ya udah kak kita pesan dulu aja. Laper."
"iya boleh." kataku sedikit malu.
Dia pun berdiri, saat kembali dia memberikan sebotol minuman teh dingin. "ya ampun, aku jadi gak enak ngerepotin kamu." ucapku.
"gak papa kak, hari ini aku yg traktir." balasnya.
"waduh, jangan-jangan. Entar aku bayar."
"jangan kak. Aku traktir. Kan aku yg ngajakin ketemuan." paksanya.
"hmm ya udah, terus apa nih yg mau kamu omongin?"
"gini kak, aku kan mau gabung UKM tapi bingung mau gabung yg mana?"
"hmm emang kamu suka apa?"
"aku sih mau gabung UKMnya kakak? Tapi takut nanti gak bisa aktif soalnya kuliah."
"ya di sesuaikan saja jadwal kuliah kamu."
"nah itu dia kak, jadwal aku padat."
__ADS_1
"emang kamu kuliah di jurusan apa?"
"kedokteran umum kak."
"oh pantas aja sibuk yah" kataku.
Perbincangan kami pun berlanjut, Evelyn yg bingung dengan UKM terus bertanya tentang UKM kampus yg bagus untuknya. Aku sedikit menjelaskan kepadanya sistem UKM yg ada di kampus.
Lama kelamaan perbincangan kami kian berkembang, dari perbincang yg terjadi aku sudah mengetahui latar belakang keluarganya dimana Ayahnya seorang Apoteker dan Ibunya seorang Dokter.
Aku pun terbuka menceritakan latar belakang dan segala sesuatu Tentangku. Entah mengapa percakapan mengalir begitu saja dan aku merasa nyambung dengannya.
Saat makanan kami tibapun, kami tetap berbincang sambil menyantap makanan. Dari perbincang yg terjadi kami setidaknya menjadi akrab. Yg tadinya kaku sekarang mengalir begitu saja, seperti ada hal yg membuat kami nyambung seperti ini.
Karena asyik berbincang waktu sudah berlalu sejam setangah. Waktu yg singkat jika melihat perbincang kami yg panjang sedari tadi.
Walaupun makanan kami sudah habis, entah mengapa aku masih ingin Berlama-lama lagi dengannya. Aku merasa baru kali ini bisa senyaman ini berbicara dengan perempuan. Biasanya aku akan merasa malu tapi dengan Evelyn semua berbeda.
Sesekali aku mencuri pandang dan memperhatikan wajahnya. Matanya yg bulat menghipnotisku agar terus menatap. Rambut pendek sebahu terlihat cocok untuknya, aku masih ingat ketika pertama bertemu rambutnya panjang tapi sepertinya dia memotong rambutnya sehingga bisa seperti itu. Tapi tetap cocok untuknya dan terlihat manis, apa lagi saat dia tersenyum.
"oh iya kak, maaf sudah menyita waktunya hari ini." katanya.
"gak papa, aku juga senang bisa ngobrol sama kamu." balasku.
Dia terlihat senang ketika aku mengatakan itu, terus saja dia cengar cengir sampai seseorang memanggilku.
"Arman yah?"
"Naya." kataku sambil menunjuknya.
"kebetulan banget, Fin duduk di sini aja. Boleh kan Arman?" Kata Naya.
Saat aku mendengarnya memanggil orang lain dan nama yg di panggilnya adalah Fina, itu artinya dia sedang bersama Fina atau aku biasa memanggilnya Alfy, perempuan yg diam-diam aku kagumi.
"he.. Tentu. Silahkan." aku membolehkan Naya duduk di meja ini.
"wih, siapa nih? Pacar kamu yah?" tanya Naya saat melihat Evelyn.
"bukan bukan.." jawabku spontan.
Aku lalu memperkenalkan Evelyn pada Naya.
"oh baru pdkt toh." Ujar Naya.
"gak gitu." aku berusaha mengelak.
Kenapa hari ini aku merasa khawatir, entah apa yg ku khawatirkan. Aku tidak tenang dan merasa gugup. Tak lama diapun mendekat.
"sorry lama, pesanannya antri." Kata Alfy mendekat.
"hi Fy. Apa kabar?"
__ADS_1
"Arman. Baik alhamdulillah." jawabnya.
Alfy duduk, dia bersebelahan dengan Evelyn dan aku pun memperkenalkan mereka berdua, sekarang di depanku duduk dua perempuan. Yg satu adalah Evelyn, aku baru mengenalnya tapi entah mengapa aku bisa nyaman dengannya. Yg kedua adalah Alfy, perempuan yg aku kagumi sedari dulu.
Aku seperti terjebak pada dua pilihan berbeda, situasi saat ini sangat mengganggu. "kalian sudah makan?" tanya Alfy
"udah kak, baru aja selesai." jawab Evelyn.
"oh, maaf ya kami ganggu kalian. Soalnya gak ada lagi tempat duduk. Kantin lagi ramai." Kata Alfy.
"tidak.. Anu.. e.. Tidak apa-apa." Ujarku gugup.
Apa maksudnya? Kenapa dia mengatakan itu? Kenapa Alfy harus mengatakan "maaf kami mengganggu kalian." seolah dia menegaskan dirinya adalah pengganggu. Dia seperti melihatku dengan Evelyn sepasang kekasih yg di ganggu olehnya. Aku tidak menyukai ketika dia berkata seperti itu, aku terganggu dan gelisah akibat dia berkata seperti itu.
"Kak Fina dan Kak Arman saling suka yah?" Kata Evelyn polos.
"hah..." respon ku.
Sementara Alfy yg sedang meminum minumannya tersedak mendengar perkataan Evelyn. Naya yg duduk di sampingku malah tertawa. "gak lah.. Gak mungkin. Mustahil. Kamu ada-ada aja." aku berusaha mengelak.
"oh, maaf kak. Soalnya aku lihatnya begitu." ucapnya lagi.
Alfy hanya diam, sementara Naya sedari tadi tertawa.
"tidak. Ada-ada aja kamu nih." aku mempertegas.
Entah mengapa dia mengatakan hal itu tiba-tiba, karena gemas dengan kepolosannya, saat aku mengatakan itu spontan tangan kananku bergerak dan memegang kepala Evelyn. Aku yg heran dengan tingkahku sendiri langsung menarik tanganku dari kepala Evelyn.
Kemudian aku lihat Evelyn tersenyum sambil memegang kepalanya, sementara aku menoleh ke arah Alfy, dia tentu saja melihatku melakukan itu. Saat aku melihat wajahnya, dia berekspresi datar-datar saja seolah tak ada yg terjadi.
Aku bertanya lagi, sebenarnya apa yg ku harapkan. Apakah aku berharap Alfy cemburu atas sikapku itu? Sepertinya itu hanya angan-anganku. Aku sebaiknya sadar bahwa aku tak pantas untuknya.
Di tengah pikiran kacauku, Evelyn sepertinya harus pergi karena ada sesuatu hal yg penting."kak sorry, aku duluan yah. Ada urusan soalnya." Kata Evelyn.
"iya." balasku.
Evelyn berjalan menjauh, sementara aku tidak tau harus berbuat apa sekarang di hadapan Alfy. "Arman kalau kamu mau pergi gak papa pergi aja." Alfy spontan mengatakannya.
"heh." aku terkejut.
"Fina jangan gitu dong, kamu ngusir Arman yah?" ucap Naya.
"enggak, sorry sorry, maksud aku siapa tau kamu ada urusan penting. Terus kamu gak enak sama aku dan Naya untuk pamit."
"oh gitu yah. Kebetulan sih aku ada urusan. Ya udah sekalian aja, aku duluan yah. Assalamualaikum."
Aku pun pamit kepada mereka berdua, aku seolah di tolak saat ini. Dari sini aku benar-benar mulai berfikir untuk menyerah mencintai Alfy.
"plin plan yah si Arman." Kata Naya sedikit tertawa.
Sementara Alfy cemberut mendengar perkataan Naya.
__ADS_1
-Bersambung-