Kamu & Senja

Kamu & Senja
Siasat


__ADS_3

(Lanjutan Flashback)


Sudah dua hari ini aku berapa di depan laptop, membuat materi presentasi untuk memperkenalkan UKM Karate di depan para MABA hari senin nanti. Aku sengaja mengerjakan materi ini sendiri agar nanti ketika berbicara aku sepenuhnya paham akan materi yg aku sampaikan. Terus terang hal ini cukup membuatku gugup karena harus berbicara di depan banyak orang, tantangan terbesarnya adalah harus menarik perhatian agar banyak maba yg berminat bergabung ke UKM Karate.


Presentasi ini penting untuk regenerasi kader di lembaga-lembaga kampus, jika gagal maka regenerasi lembaga mungkin tidak akan berjalan baik dan imbasnya adalah kinerja lembaga yg akan kurang memuaskan dari tahun-tahun sebelumnya.


Sedanh sibuk-sibuknya, smartphoneku bersering. "aduh siapa lago nih, ganggu aja." umpatku.


 


“assalamualaikum Arman. Kamu lagi dimana? Aku boleh minta tolong ngak.” Ucap bibirku membaca pesan WA dari Alfy.


 


Setelah membaca, tanganku spontan menutup laptop, setelahnya aku mulai memakai pakaian stelan kemeja dan celana jens biru serta keluar rumah menggunakan sepatu. “harum amat kak. Mau kemana?” tanya Raihan adikku.


“jangan banyak tanya, kamu masih kecil.” Balasku sambil memegang kepalanya.


Aku lalu bergegas ke tempat di mana Alfy berada. Tak lama aku sampai dan melihat dia sedang kesulitan karena motor matic yg di gunakannya menabrak sebuah mobil yg tiba-tiba berhenti di depannya.


Saat aku turun dari motor, aku lihat wajahnya sedikit pucat dan tampak syok dengan kejadian itu. Aku pun mendekat, terlihat pemilik mobil itu terus mengomeli Alfy yg duduk di bawah etalase toko bangunan.


Cukup banyak orang dan pengendara motor yg berhenti melihat kejadian itu, melihat Alfy yg sedang di bentak oleh pemilik mobil. Ada juga yg merekam dengan smartphonenya, kebiasaan nitijen yg hanya bisa berkomentar di dunia maya dan diam di dunia nyata. “Fy.. Alfy..” Kataku berlari mendekatinya.


“Arman..” dia datang kepadaku dan bersembunyi di belakang punggungku.


Aku lihat raut wajahnya yg ketakutan, seperti itulah dia. Perempuan yg tidak bisa mendengar suara keras cacian serta makian. Melihat dia seperti itu, jiwa kejantanankupun meronta-ronta untuk melindunginya. “ada apa ini Pak?” Kataku mencoba menenangkan si pemilik mobil.


“cewek anda itu Sudah menabrak mobil saya, lihat... Jadi lecet kan.” Katanya dengan nada tinggi sambil menunjukan lecet pada mobilnya yg hanya sekecil goresan tusik gigi.


“ya ampun Pak, goresan sekecil ini yg membuat Bapak membentak teman saya sampai ketakutan begini.” Balasku.


Cukup lebay memang Bapak ini, sudah suaranya keras, ngotot, bentak-bentak pula ternyata mobilnya cuma tergores sedikit. Bahkan menurutku goresan kecil ini penyebabnya bukan karena Alfy yg menabrak mungkin goresan ini sudah lama.


Aku dan Bapak itu pun terus saja beradu argumentasi sementara Alfy berada di belakang punggungku memegang kemejaku tanda dia masih ketakutan dengan Bapak yg berkumis tebal ini. “Pak di lihat dari mana pun goresan itu bukan karena teman saya. Gimana sih Bapak ini.”


"maaf mas maaf, bukannya saya mau ikut campur tapi tadi saya juga sudah bilang sama Bapak ini kalau teman cewek masnya memang tidak menabrak. Hampir tapi gak kena mas.” Kata seorang tukang partik yg berada di tempat kejadian saat ini.


“ah tidak mungkin.. Ini buktinya mobil saya lecet begini. Saya juga dengar kok suara tabrakan.” Ucap si pemilik mobil masih ngotot.


“baiklah Pak kalau gitu kita selesaikan di kantor polisi saja.” Kataku memberi jalan tengah.


“loh kok pakai-pakai polisi. Wah kamu nantangin saya yah.”

__ADS_1


“astagfirullah Pak. Saya sudah jelaskan tadi sama Bapak dan Mas ini juga saksinya kalau teman saya ini tidak menabrak Bapak. Kalau Bapak masih ngotot ya udah di laporkan saja ke polisi biar jelas.” Ujarku.


“iya Pak saya saksinya.” Sambung tukang parkir itu.


“ah sudah.. Awas kau yah, saya tanda muka kau itu.” Kata si pemilik mobil berbalik dan masuk ke dalam mobilnya.


Pemilik mobil itu pun pergi, bersamaan dengan perginya orang-orang yg tadinya cukup ramai menonton perdebatan kami juga mulai membubarkan diri, sementara itu Alfy yg berada di belakangku masih terlihat tegang. “Fy.. Fy hei.. Lihat aku.” Kataku mencoba menenangkannya.


Alfy melihatku, sepersekian detik kami bertatapan dan tanpa sadar ternyata kedua tanganku memegang pipinya.


Saat tersadar, Alfy spontan menarik kedua tanganku dengan tangannya dan menutup wajahnya mungkin karena malu. Akupun panik karena tidak sadar telah melakukan itu, aku gugup dan wajahku memerah karena hal itu. “Fy... Astagfirullah.. Alfy maaf aku.. Aku gak sengaja.” Kataku mencoba minta maaf.


Diapun mengangkat wajahnya melihatku dengan tatapan marah dan menampar wajahku, Wajahku yg tadinya memerah karena malu sekarang tambah merah karena sakit. “aduh.. Shhhhs.” Kataku memegang pipi kananku yg di tampar olehnya.


Alfy yg melihatku kesakitan tiba-tiba panik, dan terlihat wajah cantiknya itu memelas maaf dan menyesal karena telah melakukan itu. “Arman.. Maaf aku gak sengaja.” Ucap bibirnya.


“iya Fy.. Duh duh... Gak papa. Hehe.” Balasku menahan sakit.


Aku memaklumi tindakan dia yg seperti itu, seperti yg sudah aku katakan bahwa Alfy adalah perempuan baik yg taat dengan agamanya atau bisa di katakan sebagai muslimah yg baik. Wajar saja jika dia tidak terima aku menyentuhnya, walaupun sebenarnya tidak sengaja. Aku terlalu terbawa perasaan, karena memang perasaanku kepadanya terus bertambah sejak pertama bertemu dengannya.


Aku pun berjalan ke pinggir jalan memeriksa motor matic yg di kendarainya, memeriksa jika saja ada yg rusak atau lecet. “Arman.. Maaf..” katanya sekali lagi meminta maaf.


“Iya Fy.. Gak papa. Kamu sendiri udah baikan kan sekarang?” Balasku.


“tapi kayaknya kamu butuh minum deh. Kita ke supermarket itu dulu yuk, beliin kamu minum.” Kataku menunjuk sebuah toko di seberang jalan.


“iya.” Balasnya.


Aku berjalan di sampingnya, sesekali mencuri waktu untuk menatap wajahnya. Sebuah candu yg tak bisa ku tahan ketika sedang bersamanya, cukup melihatnya, apa lagi ketika dia tersenyum.


Kami masuk ke supermarket dan membeli dua botol air putih, setelah ke kasir kami berdua keluar dan duduk di sebuah kursi yg berada di depan supermarket itu. “coba minum dulu Fy, tenangin dulu perasaan kamu.”


Dia pun meminum air putih itu, aku melihatnya meneguk air putihnya. Entah mengapa saat melihat dia minum seperti itu waktu rasanya melambat. Aku terus saja melihatnya. “Arman..”


"e.. Iya Fy ada apa?”


“makasih ya udah datang nolongin aku. Kalau kamu gak datang aku gak tau jadinya seperti apa.” Jelasnya.


“oh iya santai aja. Eh btw kenapa yg kamu hubungi itu aku?” tanya ku penasaran.


“ngak papa, emang kenapa?”


“gak.. Maksudku kenapa gak hubungi keluarga kamu atau teman dekat gitu.”

__ADS_1


"oh.. Aku takut orang tuaku khawatir, lagian tadi gak tau kenapa tiba-tiba aku kepikiran sama kamu jadi aku minta tolong aja sekalian sama kamu” Jelasnya.


Alfy memang polos, dia langsung mengakui bahwa dia memikirkanku. Mendengar hal itu tentu membuatku senang bukan kepalang. Aku berasa sedang terbang dan di langit ku lihat Alfy sedang menunggu, sedikit lagi.. Sedikit lagi aku akan meraihnya.


“Arman.. Kamu aneh.” Katanya sembari tertawa melihat tingkahku.


“ee.. Hehe.”


Saking bahagianya aku malah tidak sadar sedang tersenyum sendiri sambil memandang langit. Mungkin ini saat yg tepat untuk ku mengakui bahwa aku menyukainya. Iya.. Ini adalah saat yg tepat.


Aku dan Alfy memang sudah dekat walaupun pada dasarnya kami hanya berteman. Aku masih ingat ketika saat itu, saat aku menjadi panitia bersama dia di UKM Penalaran Ilmiah. Waktu itu event karya tulis ilmiah tingkat SMA di semester 4.


Yg awalnya dia cuek karena sibuk dengan tugasnya sebagai bendahara panitia tapi akhirnya setelah event selesai dia menjadi Alfy yg aku kenal lagi. Alfy yg ramah dan selalu tersenyum setiap kali kami bertemu, hingga membuatku candu akan senyumnya.


Perlahan kedekatanku dengannya terus bertambah seiring seringnya kami bertemu di kampus secara tidak sengaja walaupun sengaja. Berbagi dan bercerita banyak, aku pun kadang bertingkat bodoh agar dia tertawa, walaupun tingkah bodohku kadang sederhana tapi tetap saja dia tertawa. Tawanya menjadi bahan bakar untuk ku, bahan bakar untuk tetap menjadi bodoh di depannya. Dan hari ini ku rasa adalah hari yg tepat untuk mengakuinya , mengakui bahwa kau benar mencintainya. “Fy.. Ada sesuatu yg mau aku omongin.” Kataku mulai serius.


“iya . Ngomong aja.”


“hufff.. Alfy.. Aku sebenarnya.. “


Belum selesai aku berbicara. “maaf sebentar, Ada telfon.” ucapnya mengangkat telfon.


Dia pun berdiri menerima telfon dari seseorang, aku yg tadi mulai mengumpulkan keberanian untuk menyatakan perasaan, sekarang malah kembali menciut." maaf sorry Man. Aku duluan ya, dapat telfon dari rumah.”


“oh iya Fy. Hati-hati di jalan.”


“makasih ya Arman tadi udah nolongin.. Eh maaf juga untuk yg tadi.” Jelasnya sambil memegang pipinya


“iya Fy. Gak papa.” Balasku.


Diapun pergi meninggalkan ku sendiri di sini. Aku kembali duduk ke kursi dan tertawa sendiri. Menertawai ketidakmampuanku menyatakan perasaan padanya. Setelahnya Aku berdiri dan menghampiri tukang parkir yg tadi bersedia menjadi saksi bahwa Alfy tidak bersalah. “Mas.. Makasih ya tadi. Nih buat Masnya.” Kataku sambil memberi uang merah kepada tukang parkir itu.


“makasih Mas. Namanya juga bisnis.” Balasnya.


“huss jangan bilang-bilang.” ucapku.


Jadi ceritanya, ketika aku melihat Alfy sedang di bentak oleh Bapak-Bapak berkumis tebal itu sebenarnya aku tak tau harus berbuat apa sampai aku mempunyai sebuah ide. Akupun meminta tukang parkir yg berada di situ pura-pura menjadi saksi bahwa Alfy tidak bersalah dan sebagai imbalanya aku akan memberikan uang 100 rb pada tukang parkir itu.


Awalnya dia menolak karena takut akan di laporkan oleh polisi tapi aku pun meyakinkan dan dia bersedia. Aku merancang skenario agar pemilik mobil itu tidak berani dan akhirnya menyerah dan pergi. Alhasil strategi yg ku buat berhasil membuat pemilik mobil itu berhenti membentak Alfy dan pergi karena tak mau berurusan dengan polisi.


Sungguh siasata yg licik, tapi jika sudah jatuh cinta apapun akan di lakukan untuk melindungi yg di cinta. Setidaknya itu pemikiran egois yg ku pikirkan saat ini.


-Bersambung-

__ADS_1


__ADS_2