
(Bagian Flashback)
"Arman... Arman.. Arman bangun... Arman." Ucap seorang perempuan yg terus saja menangis memanggil namaku.
Aku sendiri tak tau siapa yg memanggil namaku, hanya saja suara darinya terasa begitu familiar di telingaku. Terus saja namaku di panggil olehnya tapi aku tak bisa melihat apa-apa karena di tempat ini sangat gelap.
Aku berdiri sambil melangkah perlahan di kegelapan, berharap menemukan sedikit cahaya agar dapat melihat perempuan yg masih saja memanggil namaku dengan di sertai isak tangis.
Aku pun sedikit bingung, kenapa bisa berada ditempat gelap seperti ini. Aku hanya bisa berjalan perlahan agar tidak terjatuh dan tanganku mencoba meraih sesuatu tapi selama aku berjalan tak ada apa-apa. Hanya gelap.. Dan sepi..
Di tengah kegelapan, tepat di depanku tiba-tiba setitik cahaya mendekat. Lama kelamaan cahaya itu semakin mendekat dan semakin terang, hingga cahaya itu mengembalikan penglihatanku yg tadi tak bisa melihat apa-apa. Ku lihat seorang pria yg memakai seragam dan tersenyum padaku.
Pengelihatanku masih kabur, aku pun bertanya kepada pria itu."siapa anda?" kataku
"bangun lah.. Ibumu menunggu di rumah." Kata pria itu.
Saat aku mendengar suaranya, tanpa sadar air mataku Tumpah dan saat Pengelihatanku mulai membaik ku lihat pria itu adalah ayahku."Bapak....." ucapku.
"Arman.. Arman.. Ya ampun syukurlah kamu sudah sadar." Kata Ana tiba-tiba memelukku.
"Aduh.." kataku sambil memegang perutku yg sakit.
"kamu bikin kita khawatir tau gak.." Kata Ana sambil sedikit terisak.
"ini dimana?" tanyaku kepada Ana
"ini di rumah sakit.. Untung banget luka kamu gak parah." lanjutnya terlihat khawatir.
"luka? Luka kenapa?
Belum sempat aku Ana menjawab, aku melihat perban yg ada di Perutku. "luka tusuk Arman .. Ya Allah.. Yg penting kamu sudah sadar." Balas Ana.
Sepertinya tadi aku sedang bermimpi, bermimpi bertemu dengan ayah yg sangat ingin aku temui, saat bertemu aku kemudian terbangun dari tidur sambil memanggilnya.
Sempat pula aku lupa dengan keadaan, akhirnya setelah berfikir jernih aku kembali mengingat apa yg terjadi. "haahh.. Fijay.. Mana dia.. Alfy mana?" Kataku kepada Ana terlihat panik.
__ADS_1
"tenang Man.. Tenang.. Fijay brengs*** itu sudah di tangkap polisi." balasnya.
Ana mulai menceritakan semua yg terjadi kepadaku sesaat setelah aku di tikam dan pingsan di taman malam itu.
Saat itu ketika aku terjatuh, Fijay yg mendorong tubuhku kembali berlari ke arah Alfy tapi di hadang oleh Riyal. Akhirnya Fijay berhadapan dengan Riyal. Dengan berani Riyal mencoba menghentikan Fijay, mereka terlibat perkelahian yg menegangkan. Tangan Riyal sempat terkena tebasan dari pisau yg di pegang Fijay, tapi karena luka yang tidak terlalu dalam Riyal masih bisa memberikan perlawanan.
Sementara Riyal berhadapan dengan Fijay, Ana kemudian menelfon Sahidah. Dengan sigap Sahidah menelfon ambulans dan polisi. Namun saat polisi datang ternyata Fijay melarikan diri.
Saat ambulans datang, aku kemudian langsung dilarikan ke rumah sakit terdekat, katanya saat itu aku mengalami pendarahan yg cukup parah dan membutuhkan donor darah. Teman-temanku sempat bingung mencari pendonor, untung saja teman-teman di kampus membantu sehingga aku mendapatkan 3 kantong darah. Satu kantong dari Alice salah seorang teman di kampus dan dua orang lagi pendonor yg tidak ingin di ketahui namanya.
Cukup susah mencari darah AB, tapi karena usaha teman-teman aku berhasil selamat melewati masa kritis. "trus Alfy dan Riyal dimana sekarang?"
"mereka berdua lagi di kantor polisi Man." Balas Ana
"kalian gak papa kan? Aduhh." ucapku sambil menahan sakit bekas jahitan di perutku.
"tangannya Riyal kena sayatan pisau tapi gak terlalu dalam. Aku dan Alfy alhamdulillah gak ada yg luka." terang Ana.
"alhamdulillah.. Aduh aduh.." balasku sambil memegang perut yg masih terasa perih.
"gak usah.. Ibuku gampang panik. Lagian aku juga udah gak papa." Balasku.
Di tengah perbincangan kami, pintu terbuka dan kulihat Riyal, Alfy dan Sahidah masuk. Alfy yg melihatku sudah sadarkan diri lalu berjalan cepat ke arahku dan memegang lengan bajuku." hei Fy.. Hehe.." Kataku sambil cengengesan.
"Aku minta maaf .. Ini semua salahku, kamu jadi terluka." ucapnya terlihat sedih dan menyesal atas apa yg menimpaku.
"Fy.. Alfy.. Lihat aku.." Kataku mencoba menenangkan Alfy.
Alfy mengangkat kepalanya yg dari tadi tertunduk sambil mengusap air matanya.
"aku baik-baik aja sekarang. Yg penting kamu juga gak kenapa-kenapa, perutku juga sudah tidak begitu sakit. alhamdulillah.. Aku baik kok." Ujarku padanya mencoba menghentikan rasa bersalah yg ada di benaknya.
Meskipun aku berbohong, yg penting Alfy bisa tenang dan tidak lagi menangis. Sambil menahan perih dari luka tikam di perutku aku pun tersenyum padanya.
Kulihat pula Sahidah yg mendekat, ekspresi yg sedih tampak di wajahnya. Di sebelahnya ku lihat Riyal. "hei Man.. Untung saja pisau tidak mengenai organ vital kamu." Kata Riyal.
__ADS_1
"Riyal, Tangan kamu gak papa kan?"
"alhamdulillah.. Gak papa. Di banding lukaku, lukamu itu yg bikin anak-anak panik. Dasar.." balasnya.
"iyaa maaf.."
"sepertinya kampus juga sudah tau masalah ni dan mungkin Fijay akan di D.O ." Kata Sahidah.
"syukurin biar tau rasa dia." Balas Ana
"sepertinya dia tidak sadar dengan apa yg dia lakukan pada kita. Saat di kantor polisi aku lihat kepribadiannya berubah." Kata Riyal menjelaskan situsi di kantor polisi.
Sepertinya aku tertidur selama 24 jam, kata Riyal 2 jam setelah kejadian akhirnya Fijay berhasil di tangkap polisi di Rumahnya. Alfy dan Riyal pun diminta untuk jadi saksi atas perbuatan yg telah di lakukan oleh Fijay. Polisi juga menerangkan bahwa Fijay pernah tertangkap untuk kasus pelecehan seksual saat umurnya masih 16 tahun. "kurang ajar bener tuh.. Psikopat." umpatku sedikit emosi.
"eh Man.. Untung aja ya waktu itu Riyal berhasil ngalahin fijay, kalau ngak aku udah gak tau apa yg bakal terjadi." ucap Ana membangga-banggakan kemampuan Riyal
"hah... Ngalahin Fijay?" balasku tak percaya.
"iyaa.. Riyal hebat." Kata Alfy memujinya.
"hah... Emang bener?" balasku masih tak percaya.
"ngremehin kamu? Gini-gini aku ikut muay thai." Balasnya padaku.
"hah...? Hah...? " masih tak percaya.
Melihat Alfy memuji Riyal membuatku iri, sepertinya aku telah salah menilai Riyal. Nyatanya dia lebih hebat dari penampilannya dan lebih berguna di banding denganku. Mendengar Riyal seperti itu membuatku minder di hadapan Alfy.
"Oh iyaa Man. Aku juga udah kabarin Pak Imran Dosen pendamping kita. Katanya besok dia akan ke rumah sakit ini." Kata Riyal
Kejadian kali ini cukup memberikan syok kepada kami semua. Terkhusus aku pribadi, aku jadi ingat kalau sering bolos saar latihan UKM Karate di kampus.
Meski rasanya masih perih, tapi perhatian Alfy padaku membuat rasa perih ini tidak ada apa-apannya. Aku malah bersyukur terkena musibah ini.
-Bersambung-
__ADS_1