
(Bagian Flashback)
Sudah sejam berlalu sejak Ilham membawa Ica pergi dari teman-temannya yg lain. Ica dengan sabar mencoba tak bertanya, dia hanya diam dengan pikiran yg sepertinya kosong.
Sementara Ilham fokus melihat jalan, sesekali melihat ke arah Ica yg sedang memandang jalan dari jendela mobil. Sejam mereka bersama dan selama itu juga tidak ada percakapan yg terjadi.
Sampai Ica menoleh ke arah Ilham dan bertanya tentang tujuan mereka.
"sebentar lagi sampai Ca'." balas Ilham.
Ica kembali berbalik ke arah jendela mobil, melihat ke luar. Yg terlihat adalah hamparan sawah dan banyaknya pohon menandakan bahwa mereka sedang ada di pedesaan. Sepertinya mereka telah meninggalkan kota.
Suasana perkampungan yg asri dan udara yg sejuk membuat Ica rileks. Dia membuka kaca jendela dan mencoba menikmatinya. Tanpa polusi, tanpa panas yg terik membuat Ica nyaman dan diapun tertidur.
Tak lama kemudian, Ilham berhenti pada suatu rumah. Di antara rumah yg lain yg berada di pedesaan itu terlihat rumah itu cukup mewah untuk ukuran rumah di pedesaan. "Ica bangun. Ica.." Kata Ilham mencoba membangunkan Ica.
Ica terbangun mendengar suara Ilham. "ini dimana?" tanyanya.
"kita udah sampai, ini rumah nenekku."
"hah, rumah nenek kamu?"
"iya. Ayo turun."
Mereka berdua turun dari mobil, di luar seorang wanita tua yg terlihat sedang Bersih-bersih bersama dengan wanita yg lebih muda melihat ke arah Ilham dan Ica.
"Ilham, kenapa kesini? Tumben." sahut wanita tua yg sepertinya nenek Ilham.
"iya nek, maaf gak ngasih kabar sebelumnya."
"perempuan cantik ini siapa? Pacar kamu?"
"Maaf nek, bukan." Ica spontan mengelak.
"temanku nek." Ilham memperkenalkan.
Icapun salim kepada nenek Ilham sebagaimana salim untuk menunjukan rasa hormat kepada orang tua. "kalian mau nginap?" tanya nenek.
"tidak nek. Habis magrib balik ke kota kok." jawab Ilham.
"oh, Mirna tolong siapkan makan malam untuk mereka." Ujar nenek kepada wanita yg dari tadi bersamanya.
"nek, saya kebelakang dulu."
"iya."
Ilham lalu mengajak Ica berjalan ke belakang rumah neneknya. Mereka lewat pintu samping kanan yg langsung tersambung ke belakang rumah itu.
"Ham sebenarnya kita mau ngapain di sini?" tanya Ica mulai risau.
"udah Ca' ikut aja."
__ADS_1
Tak lama Sampailah mereka di halaman belakang rumah. Di halaman tersebut terlihat jalan yg mengarah ke hutan. Ilham kemudian mengajak Ica masuk ke hutan itu.
"eh mau kemana? Kok masuk ke hutan."
"aku gak bakal apa-apain kamu Ca'. Percaya sama aku yah."
Mereka berdua kembali melangkah, kali ini dengan hati-hati Ilham memegang tangan Ica agar tidak tersandung batu atau ranting pohon yg berjatuhan.
Tak lama melangkah, sampailah mereka pada satu bukit yg cukup tinggi. Kembali Ilham meyakinkan Ica agar mendaki bukit itu bersama. Dengan susah payah akhirnya sampailah mereka di atas bukit itu.
Ica yg kelelahan melangkah kewalahan seketika takjub dengan apa yg dia lihat. Sejauh mata memandang yg terlihat hanya warna hijau. Hijau dari hamparan padi yg membentang luas di keliling oleh bukit di sekitarnya.
Bukit-bukit yg cukup tinggi bagaikan pagar yg memagari lahan-lahan pesawahan yg ada di sekitar daerah itu.
Ica melihat ke arah Ilham, dengan sedikit tersenyum Ica kembali mengalihkan pandangan pada luasnya areal sawah yg dia lihat.
Hembusan angin sore yg menyambar semakin membuat suasana hati semakin baik. Hembusan angin terlihat dari Selatan dengan gerakan padi yg sudah meninggi. Mereka seperti memperlihatkan pertunjukan alam dengan indahnya.
Di sebelah kira terdapat sebuah pohon tua yg sangat besar, Ilham kemudian mengajak Ica untuk berdiri di bawah pohon itu. Setelah sampai, udara yg berada di sekitar pohon terasa berbeda, udaranya sangat sejuk tidak hanya membuat tubuh nyaman tapi hatipun menjadi nyaman di buatnya.
"sawah ini di kelola sama nenekku, dulunya kakek waktu dia masih hidup." Ujar Ilham.
Ica tak merespon, dia hanya memandang Ilham. Namun kali ini pikirannya menjadi tenang karena suasana yg ada di tempat itu.
"Kamu tau dari kecil bahkan sampai sekarang, ketika aku sedang ada masalah. Aku akan pergi ke sini menenangkan diri. Aku harap kamu juga bisa tenang berada di sini Ca'."
"makasih Ilham." balas Ica.
Ica tak merespon.
"hm.." Ilham mengambil nafas panjang.
"AAAAHHHHHHHH" Teriaknya.
"IIICCAAA.. AKU SUUKAA SAMAA KAAMUU." sambung Ilham sambil berteriak dengan kerasnya.
Mendengar hal itu Ica tertawa kecil.
Ilham berbalik dan melihat Ica tertawa untuk pertama kalinya setelah semua yg dia lalui. "Kamu mau coba, Ayo."
"gak papa. Aku di sini saja."
"ayo." Ilham menarik Ica maju beberapa langkah ke depan.
"gak Ham. Kamu aja."
"ayo Ca' coba aja. Keluarin uneg-uneg kamu. Teriakkan dengan keras."
"aku malu."
"di sini tidak ada orang Ca', cuma ada aku sama kamu."
__ADS_1
"huh.."
"ayo Ca', keluarin aja semua."
Ica berbalik dan melihat Ilham. Dia maju selangkah dan menutup mata lalu mengambil nafas panjang dan akhirnya..
"AAAAAAAAHHHHHHHHH." Dia berteriak.
"IIRWAAN, KAMU BRREEENNGGSSSEEEEKK." sambungnya sambil mengeluarkan suara kerasnya.
"BEENCII, AKUUU BENCII SAMA KAMUUUU. DAAASAARR BREEENNNGGSSSEKKKKK."
"AAAAHHHHHHHHHH."
"IIRWAAAN,.. MATI SAJA KAAAAUUU."
"huhhmm." Ica ngos-ngosan. Nafasnya habis karena teriakan yg begitu keras.
"gimana Ca'?"
"huh.. Ini, cukup menyenangkan." jawab Ica.
"jadi, mau gak pacaran sama aku?" tanya Ilham mendadak.
"gak mau." balas Ica.
"eh."
Ica tersenyum melihat Ilham.
"gak MAU." sekali lagi Ica menegaskan dengan menyilangkan jarinya.
Bukan galau karena di tolak tapi Ilham sadar bahwa sekarang Ica sudah kembali seperti yg dulu. Setidaknya sekarang dia sudah lebih tenang dan bebanya seperti telah berkurang atau bahkan hilang.
Ica yg sudah terlihat ceria terlihat menutup mata. Seakan menikmati alam sekitar dengan penuh penghayatan. "tidak ada yg mengalahkan suasana tenang di desa." Kata Ica.
"makasih Ham, sudah membawaku ke tempat ini." sambungnya.
"iya Ca', aku senang kamu sudah bisa tenang sekarang. Pasti teman-teman yg lain akan ikut senang juga." balas Ilham.
"aku terlalu bodoh. Waktu aku masih dengan lelaki brengsek itu, aku benar-benar tidak ada waktu untuk kalian dan setelah aku di tinggalkan, kalian semua tetap masih menerimaku sebagai teman. Aku minta maaf"
"Ca', kamu tidak salah. Yg salah itu kami semua. Kami tidak bisa mencegah kamu dekat dengan Irwan padahal kami tau kalau dia laki-laki yg seperti itu. Jadi aku dan yg kain yg harusnya minta maaf."
"Ilham."
Ica menatap Ilham tanpa sadar dia memeluk Ilham dan mulai menangis menyesali perbuatan dan kelakuanya selama ini. Ilham yg mulai terbawa suasana membalas pelukan Ica dengan erat.
Pohon besar yg ada di tempat itu menjadi saksi mulai luluhnya hati Ica untuk Ilham walau dia belum sepenuhnya menyadari.
-Bersambung-
__ADS_1