Kamu & Senja

Kamu & Senja
Salah Paham


__ADS_3

(Bagian Flashback)


Aku di tolak, ini akan jadi momen memalukan dalam hidupku. Tapi bukan salahku, karena aku sendiri tidak berniat untuk melakukannya, jika saja Idan tidak sejahil itu mungkin aku tidak akan malu seperti tadi.


Sekarang satu UKM Penalaran Ilmiah sudah tau bahwa aku di tolak padahal menyatakan perasaanku saja tidak ku lakukan. Lagi-lagi ini gara-gara Idan, kekesalanku terhadapnya semakin besar saat aku memikirkan momen yg telah berlalu sejak tadi.


Jika aku ingat, mungkin sekarang Alfy tidak mau lagi bertemu denganku. Aku masih ingat raut wajahnya ketika di kerumuni oleh teman-teman yg lain. Aku yakin dia membenciku sekarang, bagus.


Untung saja dari awal aku sudah meyakinkan diri untuk menyerah terhadapnya, jika tidak mungkin sekarang aku sudah galau karena di tolak. Di tolak untuk pengakuan yg tidak ingin ku akui, tapi tak apalah. Kalau memang sekarang dia membenciku itu tidak masalah, yg jelas aku tidak punya perasan lagi padanya.


Dari pada aku terus memikirkan hal itu, lebih baik aku segera bertemu dengan Evelyn. Perempuan yg lebih bisa membuatku nyaman, perempuan yg bisa membuatku jujur dengan perasanku sendiri.


Waktu juga sudah tepat, aku sudah menghubungi dia sebelumnya agar kami bisa bertemu di tepi danau dekat gedung rektorat kampus. Rasanya tempat itu sangat cocok untuk mengakui perasaanku padanya. Dengan penuh percaya diri aku berangkat ke lokasi, aku yakin akan mengakhiri masa jombloku hari ini.


Tidak ada yg perlu di takutkan, selama kurang lebih 3 bulan ini aku dan Evelyn sangat dekat, pasti dia juga menyukaiku.


Setelah sampai di lokasi, sepertinya Evelyn belum datang. Akupun berinisiatif untuk menghubunginya via WA, setelah terlihat dua centang biru balasannya pun masuk.


Katanya, dia baru selesai kuliah dan akan segar menuju ke tempatku sekarang berada. Aku jadi degdegan, aku bingung harus mulai dari mana ketika dia datang. Apakah harus basa basi dahulu? Atau langsung saja pada intinya?


Setiap detik berlalu aku semakin gugup, aku terus saja mondar mandiri dari tempatku berdiri sekarang. Memikirkan kemungkinan-kemungkinan apa yg akan terjadi ketika Evelyn datang.


Tak lama dia pun tiba dan menghampiriku yg semakin gugup di pinggir danau. Aku melihat dia tersenyum dan menyapaku.


Aku perhatikan dia yg berjalan ke arahku. Hari ini dia tampak sangat cantik, rambutnya yg mulai memanjang di ikat kebelakang. Dia mengenakan pakaian serba putih atau mungkin itu adalah jas lab yg biasa di gunakan mahasiswa kedokteran.


Terlihat cocok untuknya. Dalam hatiku rasa kagum itu kembali membuatku gugup sangat gugup sampai tanganku mulai dingin.


Mungkin agak sedikit berlebihan tapi sudah lama aku tidak di perhadapkan pada situasi seperti ini, sampai akhirnya sekarang dia sudah berada tepat di depanku."Kak, Udah lama yah? Tanyanya.


"gak, baru kok." jawabku gugup.


"hm.. Terus kenapa suruh aku datang ke sini?"


"sorry, ngegangu yah."


Aku masih berusaha menenangkan diri di tengah rada gugupku. "gak juga sih, cuma tiba-tiba aja."


"Sebenarnya ada yg mau aku omongin sama kamu." Kataku.


Aku mendekat dan mulai menatap tajam matanya, dia terlihat malu ketika aku sudah berada tepat di depannya dengan jarak yg sangat dekat.


Evalyn menatapku dalam, karena momen yg ku rasa sudah sangat tepat akupun mengumpulkan keberanian dan menghela nafas. Ku pegang kedua tangannya dan ku angkat ke depan setinggi dada. "Evelyn.. Aku mau jujur sama kamu."

__ADS_1


Evelyn terdiam, matanya berbinar menatapku.


"walaupun kita baru aja kenal, tapi waktu itu sudah cukup buat aku bilang.."


Jantungku mulai berdetak tidak beraturan. Sementara ku lihat Evelyn yg masih menatapku. "aku.. Suka sama kamu."


"iya aku suka sama kamu. Aku mau kita lebih dari teman." sambungku.


Evelyn tak terkejut, dia hanya tersenyum manis mendengar perkataanku. Dia lalu melepas genggaman tanganku dengan lembut dan menjauhkan tangannya.


"Makasih Kak udah berusaha jujur." katanya.


Aku diam.


"aku juga suka sama Kak Arman, suka sejak pertama kali aku melihat Kak Arman."


Mendengar perkataan itu aku merasa senang bukan main. Aku tersenyum dan kembali menggenggam tangannya, akhirnya kejombloanku hari ini akan berakhir. Itu pikirku, tapi.


"Kak, bagaimana kalau aku nyuruh Kak Arman masuk agamaku?" tanyanya tiba-tiba.


"maksudnya?"


"jawab aja kak."


"orang bilang ldr paling jauh adalah perbedaan keyakinan."


"Maksud kamu apa?"


"Kak.. Aku juga suka sama Kak Arman. Tapi aku gak bisa kak. Aku gak bisa ldr an sama Kak Arman." jelasnya.


"aku disini, di dekat kamu. Aku gak jauh." ucapku meyakinkan.


"salah satu Kakak perempuanku menikah dengan laki-laki yg agamanya berbeda. Awalnya hubungan mereka baik-baik saja, tapi seiring waktu perbedaan itu tampak jelas, sampai akhirnya mereka bercerai. Dan aku gak mau kayak gitu." jelasnya sekali lagi.


"tapi.. Pasti ada jalan. Aku tidak peduli agama kamu apa yg ku tau aku suka sama kamu." Ujar ku yg mencoba meyakinkannya.


Sekali lagi Evelyn melepas genggaman tanganku, dia mundur beberapa langkah lalu tersenyum. "Maaf Kak, aku gak bisa." katanya.


"tapi.."


"itu alasan pertama kenapa kita tidak bisa bersama." katanya.


"alasan pertama?"

__ADS_1


"iya Kak, alasan kedua karena Kak Arman sedang berbohong."


"hah? Bohong.. Aku gak merasa kalau aku bohong. Aku memang suka sama kamu." sekali lagi meyakinkannya.


"Kak.. Sudahlah, aku mohon berhenti bohong dengan perasaan Kak Arman sendiri. Bukan aku yg Kak Arman bohongi, tapi diri Kakak sendiri." jelasnya.


Mendengar itu, aku hanya diam dan terus memandang dengan penuh tanda tanya.


"Evelyn aku gak ngerti, aku gak bohong. Tolong kasih aku kesempatan. Apa aku punya salah sama kamu?"


"tidak." jawabnya tersenyum.


"terus kenapa kamu bicara hal seperti itu dari tadi."


"Kak.. Tolong jangan pura-pura tidak mengerti. Aku senang mengenal Kak Arman, sebaiknya kita berteman saja Kak. Itu lebih baik." Katanya.


Aku tertusuk tepat di hati, pisau yg menusuk itu kemudian membelah hatiku. Aku terus saja menatapnya, tak kuasa karena ekspektasi yg terlalu tinggi di awal kedekatan membuatku runtuh hari ini. Aku tak bisa berkata apa-ap lagi, seluruh badanku lesuh.


"Maaf Kak sebaiknya aku pergi." ujarnya sambil berbalik meninggalkanku.


"Evelyn tunggu, Ev.. Evelyn.." kataku memanggil namanya.


Evelyn terus saja menjauh tanpa menoleh, aku benar-benar di acuhkan. Aku di tolak dua kali di hari yg sama, aku sakit hati dua kali di hari yg sama.


Aku diam.. Berdiri dan mencoba berpikir jernih. Diam seperti pohon yg berada di sekitar danau, diam dalam kesedihan. Aku terpuruk tak tau harus berbuat apa. Hariku yg menyenangkan apakah berakhir hari ini. Apakah patah hati sesakit ini?


Semantara itu, diwaktu yg sama. Alfy memandang langit, bersama hembusan angin sore di pinggir pantai. Dia terlihat begitu menikmatinya, setelah seharian berada di kampus dan sebuah momen yg membuat hatinya tak tenang, akhirnya di sinilah dia sekarang.


Harapannya akan jadi nyata atau tidak di tentukan sore ini. Dia terus saja menunggu, menunggu seseorang yg siang tadi membuatnya malu untuk jujur di depan semua orang.


Siang tadi, iya.. Dia sangat senang saat mengetahui bahwa Arman menyukainya. Itu adalah siang yg tak biasa untuknya, tapi dia terlalu malu untuk mengakui.


Hingga akhirnya Alfy berisik pada Arman agar mereka bertemu di tempat ini. Tempat yg Alfy tau adalah tempat Favorit Arman, di pinggir pantai sambil menikmati senja.


Alfy sedari tadi menunggu, dia berpikir akan mengatakan semuanya saat Arman telah datang. Dia menunggu hingga langit sore mulai menghitam, warna jingga mulai muncul dan siluet-siluet orang-orang mulai terlihat. Dia menunggu.. Masih menunggu..


Tapi sampai Adzan Magrib terdengar Arman tak kunjung datang.


"Kenapa dia tidak datang? Mungkin ada urusan atau dia tidak mendengar ketika aku berisik padanya untuk bertemu di tempat ini. Atau apakah dia tidak menyukaiku? Apa pengakuan tadi siang hanya ulah jahil Idan?" Pikir Alfy.


Alfy terus berpikir, hingga Adzan berhenti berkumandang dan langit sepenuhnya gelap Arman tidak datang.


Alfy sudah berdiri menunggu sejak langit sore masih terlihat biru, hingga saat ini diapun menyerah. Berbalik dan membutuskan untuk pulang ke rumah. Dia berjalan dengan rasa kecewa, kecewa karena harapannya yg terlalu tinggi.

__ADS_1


-Bersambung-


__ADS_2