
Bagi mereka mungkin waktu berlalu cepat, tapi bagiku semua berlalu sesuai dengan seharusnya. Aku sadar betul dengan waktu-waktu yg telah aku lalui, tawa, tangis, senang, sedih, luka, bahagia dan semua rasa yg menyertai hingga saat ini. Aku melalui itu semua dengan sadar, hanya saja waktu membuat semua itu seolah berakhir dengan cepat.
Kenapa saat waktu telah habis, orang-orang malah berpikir demikian? Itu karena kita tak ingin kenangan yg telah dirangkai berhenti seketika. Kita tak ingin, kebiasaan dan kebersamaan yg telah terjalin berhenti sampai di sini saja, meski tidak sepenuhnya berhenti tapi keadaan menjadi berbeda dari sebelumnya.
Sangat sulit memang tapi mau tidak mau kita harus siap untuk hal yg pasti akan berlalu karena waktu terus berjalan, karena waktu terus berubah.
Aku masih tidak percaya dengan saat-saat terakhirku berada di sini dengan mereka. Saat aku merasa semua akan baik-baik saja jika hari ini datang tapi malah berakhir sebaliknya. Waktu yg datang kali ini benar-benar memberi jarak kepada kami semua, memberi jarak kepadaku dengan teman-teman dekatku, memberi jarak kepadaku dengan seseorang yg aku cintai.
Aku terus merenungi hal ini, aku menatap langit-langitt rumahku. Ku pejamkan mata mengingat kembali yg telah lalu bersama dengan mereka. Benakku tertegun kala merasa bahwa takdir memang tak memihak kepadaku. Cobaan Tuhan padaku kali ini sangat berat, aku sampai berpikir tak dapat melewati hal ini.
Sejak saat itu.. Semua berubah menjadi canggung. Pertemanan kami harus berakhir..
Besok adalah hari besar, tapi aku merasa sedih walaupun seharusnya aku senang karena hari esok adalah hari dimana aku akan di wisuda. Itu adalah tanda bahwa aku telah menyelesaikan studiku di Universitas, sekaligus tanda bahwa aku akan meninggalkan dunia kampus dan berpisah dengan teman-temanku.
Berpisah.. Benar-benar berpisah bahkan sebelum hari esok tiba kami benar-benar telah berpisah. Kami tak pernah lagi bersama sejak kesalahpahaman itu terjadi. Jarak yg tercipta atas kejadian itu sangat lebar, sedang ego merekapun sangat besar. Aku memang masih bertemu, tapi pertemuan yg terpisah. Jika tak sengaja bertemu kami masih saling menyapa. Ica dan Ilham sepertinya mereka bahagia saling memadu kasih, Adi tak ingin lagi bertemu dengan mereka, Wahid dan aku mencoba bersikap netral dan sering menasihati walau hasilnya nihil, sementara Gina tak pernah lagi aku bertemu dengannya.
Sementara itu, yg di cinta tak kunjung menyadari. Lelah rasanya menunggu, ingin mengakhiri tapi tak bisa. Penantian tak berujung ini apakah suatu saat akan tercapai?
__ADS_1
Saat sedang merenung, Ibuku memanggil dari ruang tamu. Aku membuka mata, mencoba melawan pikiran-pikiran negatif yg ada di dalam kepalaku. Aku keluar melihat kegaduhan yg terdengar di ruang tamu.
Ternyata kegaduhan itu di sebabkan oleh tamu tak terduga dan mereka adalah Ivan dan kedua orang tuanya.
"ini Arman yah.. Wah.. Sudah besar." ucap Ayah Ivan kepadaku.
Aku menghampiri mereka dan menyapa dengan sopan. Bagaimanapun aku pernah menjadi bagian dari kehidupan mereka sewaktu aku masih kecil. Bahkan di saat keluargaku mengalami masalah finansial, Ayah Ivan dengan kemurahan hatinya sering membantu keluargaku. Aku menghormati mereka berdua sebagaimana aku menghormati orang tuaku.
Tentu saja karena telah lama tak bertemu kami semua, aku dan Ibuku beserta Ivan dan keluarganya terlibat percakapan yg panjang. Sekedar bertanya kabar dan kesibukan serta membicarakan Ayahku. Ivan memang sudah tahu bahwa Ayahku meninggal tapi dia tak tahu bagaimana Ayahku meninggal. Begitupun dengan Ayah dan Ibunya.
Setelah lama tak bertemu, setidaknya malam ini kami kembali bersuka cita mengingat masa lalu. Terlebih Ibu Ivan yg sepertinya sudah berdamai dengan keputusan anaknya yg menjadi mualaf dan sebentar lagi akan menikahi perempuan pujaannya.
Selain alasan wisuda Ivan, orang tua Ivan datang ke Indonesia juga karena bertepatan dengan hari dimana secara resmi keluarga Ivan akan meminang Yana setelah acara wisuda berakhir. Pertemuan dua keluarga tersebut akan berlangsung saat sore hari, sepertinya Ivan ingin mengajakku dan Ibuku untuk ikut ke acara lamaran itu.
Tapi sepertinya Ibuku tidak bisa pergi karena urusan mendesak. Sedangkan aku, awalnya mungkin aku tidak akan bisa pergi karena janji yg telah aku buat dengan teman-teman dekatku yg lain di kampus tapi jarak saat ini sudah sangat jauh dan janji itu rasanya tidak akan terpenuhi. Akhirnya aku mengiyakan ajakan dari keluarga Ivan untuk datang di acara tersebut. Bagaimanapun hari esok akan jadi hari besar untuk Ivan, setidaknya sebagai teman atau sahabat aku bisa mendampinginya. Tidak.. Bukan sebagai teman dan sahabat, sebagai saudaranya..
Ivan mengajakku keluar dari ruang tamu, di teras rumah kami duduk dan berbincang tentang sesuatu. Sementara Ibuku dan orang tua Ivan masih saling melepas rindu setelah bertahun-tahun tak bertemu.
__ADS_1
Ivan memandangiku dan tersenyum.
"Man.. Aku senang bisa mengenalmu. Berkatmu aku bisa mengenal agama ini." Ucapnya.
"Seharusnya kamu berterima kasih pada calon istrimu.. Bukankah awalnya kamu penasaran dengan islam gara-gara ingin dekat dengannya." Aku membalas sambil tertawa ringan.
"Iya kamu betul.. Tapi jika bukan karena kamu yang menyuruh aku membaca Qur'an, mungkin niatku akan berbeda.. Dan aku tidak akan seperti sekarang." tegasnya.
Aku bisa memaklumi, berkali-kali aku mengatakan kepada Ivan.. Aku sendiri tak percaya dengan dirinya yang bisa belajar agama dengan cepat. Bahkan.. Jika boleh jujur, aku saat ini jauh dibandingkan dengan Ivan.
Ivan terlihat emosional, dia memeluk karena kami lagi-lagi akan berpisah setelah ini. Sama seperti dulu ketika kami masih kecil, dipisahkan jarak.. Sebab Ivan akan pergi ke Amerika melanjutkan studinya.
Meski dia akan kembali untuk menikah.. Tapi rasanya sedih juga jika harus kehilangan seorang sahabat yang sudah ku anggap sebagai saudara.
"Oh iya.. Aku gak mau tahu. Besok kamu harus datang. Aku akan ngenalin kamu dengan Yana." Ucapnya
-Bersambung-
__ADS_1