
Suara tepuk tangan terdengar keras menyudahi sambutan dari Rektor Universitas yg saat ini berada di depan kurang lebih seribu wisudawan yg hadir di gedung ini. Tak terkecuali aku yg merasakan sukacita akan kesuksesan yg telah aku capai selama masih kuliah di kampus ini.
Saat ini aku, Ilham dan Ica duduk di kursi yg sama sedangkan Adi terpisah cukup jauh di antara kami. Dari total 70 orang dalam angkatanku, yg wisuda hari ini sekitar 31 orang. Bisa di bilang setengah dari jumlah kami satu angkatan. Sedangkan sisanya masih berjuang dengan skripsi dan ada pula yg masih sibuk dengan urusan kampus seperti Wahid misalnya.
Sementara Gina, dia benar-benar menghilang. Bahkan di hari bahagia ini dia tidak datang. Entah bagaimana atau seperti apa perasaannya saat ini? Aku rasa hal ini sudah keterlaluan, bagaimana mungkin dia tak datang di hari wisudanya sendiri?
"Arman.. Kenapa kok melamun?" ucap Ica melihatku.
"hm.. Ngak Ca'. Gak papa."
"kenapa bro, kok sedih gitu sih muka lu." ucap Ilham
Ditengah keramaian aku menatap mereka berdua. Aku menunduk sejenak dan menarik nafas. "aku hanya ingin kita kembali bersama dengan yg lain."
"Arman.." ucap Ica memegang tanganku.
Aku menoleh ke sebelah kiri, lima kursi dari tempat aku duduk, ku lihat Adi yg sedang memejamkan mata. Sepertinya dia sedang tertidur, orang yg hanya ingin tidur pada saat wisuda. Orang seperti itu benar-benar ada, orang itu adalah Adi.
Aku mengatakan hal itu kepada Ica dan Ilham tanpa sadar. Ilham menoleh dan melihat ke arah Adi begitupun Ica. Sepertinya Ica larut dengan kenangan hingga dia mengeluarkan air mata dan mulai meminjam bahu Ilham untuk meredakan emosi sedihnya.
Mereka berdua sangat dekat.. Hubungan mereka berjalan dengan baik tapi sayang, mereka berdua mengorbankan hubungan pertemanan kami.
"gue juga gak mau ini terjadi, tapi gue gak bisa berbuat apa-apa." ucap Ilham.
Sepertinya memang sulit untuk kembali seperti dulu, aku jadi berpikir tentang Alfy. Jika pertemananku saja tak bisa utuh lagi, bagaimana dengan perasaan Alfy padaku. Apakah aku harus menyerah? Benar-benar menyerah kali ini?
Setelah melewati berbagai rangkaian acara, sekarang tibalah saatnya kami wisudawan satu persatu naik ke atas panggung untuk menerima Ijazah langsung dari Rektor Universitas. Satu persatu nama di sebutkan oleh ketua Jurusan di mulai dari Fakultas Kedokteran sampai kemudian Fakultasku mendapatkan gilirannya.
Nama teman-temanku di sebut, begitupun dengan nama Gina tapi dia tak terlihat sama sekali. Ica yg berada di depanku saat ini bergumam sendiri. Sepertinya dia juga merindukan Gina, bagaimana tidak. Selama kuliah mereka berdua sangat dekat tapi kedekatan mereka harus berakhir saat ini. Berakhir seperti kami yang telah resmi meninggalkan kampus hari ini.
Akhirnya namaku di sebut, akupun melangkah ke atas panggung dan menyalami Rektor sambil Beliau memindahkan tali toga yg aku kenakan saat ini. Aku menerima Ijazah hasil belajarku selama 4 tahun ini. Memang hanya sebuah kertas tapi kertas ini cukup menghabiskan waktu dan menguras tenagaku untuk mendapatkannya.
Aku berjalan, aku berbalik ke kiri melihat ke arah depan panggung. Cahaya kamera terus menyala membuat pandanganku terganggu. Aku melihat orang-orang yg telah bersuka cita karena sekarang mereka sudah menjadi sarjana, seakan menjadi akhir dari perjalanan mereka. Tapi bagiku itu adalah awal, mungkin selanjutnya jalan yg akan di lalui cukup terjal dan keras.
Setelah beberapa saat, rombongan Rektor, Dekan dan seluruh staff mulai meninggalkan panggung wisuda. Terlihat teman-teman wisudawan juga mulai meninggalkan gedung, sebagian lagi saling peluk sana sini dan berswafoto bersama.
"Guys guys.. Kumpul. Foto angkatan dulu yuk." ucap Karmel salah satu teman angkatanku yg juga wisudawan.
Kami berkumpul bersama, berbaris dan berfoto. Selanjutnya berfoto dengan kelompok-kelompok kecil. Bersuka cita dan saling mendoakan kesuksesan di masa depan. Kami semua tertawa, kami semua bersedih karena akan berpisah. Kami benar-benar bersuka cita atas pencapaian kami semua.
Setelah selesai dengan urusan tersebut, kami semua keluar dari gedung. Di luar gedung kami di sambut oleh teman-teman yg lain dan keluarga tentunya. Sekumpulan orang-orang yg sedang berbahagia untuk merayakan kesuksesan mereka dalam menempuh studinya.
Aku melihat Ibuku dan Raihan yg sepertinya menangis karena bangga dengan pencapaianku. Aku menghampiri mereka dan langsung memeluk erat keluarga kecilku.
"Bapak pasti bangga sama kamu Arman." ucap Ibuku lirih.
"aku sayang Mama." balasku.
__ADS_1
Di tengah sukacita kami, Ivan muncul bersama dengan kedua orang tuanya.
"Assalamualaikum.." ucapnya menyapa.
Aku menoleh dan langsung menjabat tangannya. Setelah itu Ivan memelukku. "selamat brother.." ucapnya.
Ivan juga memeluk Ibuku dan akupun memeluk orang tua Ivan.
"Arman jangan lupa loh sebentar sore." ucap Ibu Ivan.
"iyaa Tante. Arman pasti datang."
"bagaimana kalau kita foto studio?" ucap Ayah Ivan.
"nanti saya foto di sini saja Om. Soalnya tukang foto di sini lebih murah." balasku.
Dengan sedikit paksaan akhirnya aku menerima lagi kebaikan dari Ayah Ivan. Tapi sebelum itu sepertinya aku harus bertemu sekali lagi dengan teman-temanku yg lain.
Aku meninggalkan Ibuku bersama dengan orang tua Ivan. Di tengah keramaian aku lalu bertemu dengan Adi. Kami berdua berpelukan dan saling mengucapkan selamat atas wisuda hari ini.
"bro, sebaiknya kamu bertemu dengan mereka berdua?"
"mereka berdua? Siapa?" balas Adi.
"berhenti bersikap seolah kamu gak tahu bro."
Adi hanya diam dan sekarang karena pertanyaan itu diapun pergi tergesa-gesa tanpa berbicara padaku. Setelah itu aku bertemu dengan rombongan teman angkatanku yg lain. Di situ aku bertemu dengan Wahid, Ilham dan Ica. Bahkan dari semua teman angkatanku yg lain tak ada satupun orang yg mengetahui keberadaan Gina sekarang.
Selain teman angkatanku, aku juga berbagi kebahagiaan dengan junior yang juga datang menghampiri dan mengucapkan selamat atas gelar sarjana yang saat ini ku miliki. Tak sediki pula yang memberiku hadiah berupa bunga, coklat dan lain hal.
Setelah bersama mereka.. Aku menghampiri rombongan teman-temanku di UKM Karate. Sepertinya beberapa dari mereka juga telah wisuda hari ini. Kami berfoto dan bersuka cita.. Sungguh momen yang indah.
Setelah puas bersukacita dan berswafoto bersama mereka semua, akhirnya aku kembali ke tempat dimana Ibuku berada. Di tengah perjalanan aku bertemu dengannya, ku lihat dia bersama dengan teman-temannya yg juga sedang merayakan hari bahagia ini.
Aku berjalan menjauh, tiba-tiba dia memanggil namaku. Aku melihat dia mendekat kepadaku.
"selamat yah atas wisudanya hari ini. Ssmoga gelarnya berkah." ucap bibir manisnya.
Aku sedikit tersenyum. "Iya, sama-sama."
Suasana cukup canggung sekarang. "hm.. Kalau begitu aku pergi dulu. Assalamualaikum. " ucapnya.
"Alfy.. Sepertinya dia belum mengingat siapa diriku. " gumamku.
Di tengah kegelisahanku. "Kak Arman." ucap seorang gadis di sampingku.
"Evelyn.."
__ADS_1
"hi Kak. Selamat yah. Ini untuk Kak Arman." ucapnya sambil memberi sebuah boneka beruang kecil lengkap dengan toga mungilnya.
"Wah.. Terima kasih."
"ini dia orangnya.. Dari tadi di cariin." ucap Ivan yg Tiba-tiba datang.
"Ivan.."
"oh jadi ini alasan kenapa kamu lama?." ucap Ivan sambil tertawa ringan.
"bukan ini.. Ini Evelyn. Teman doang." ucapku.
"eh.. Tunggu bentar. Kayaknya aku pernah lihat kalian berdua jalan bareng di mall kan waktu itu?"
"iya iya.. Itu udah lama banget."
Evelyn tersenyum.. Dan ku lihat senyumnya masih sama. Di hias oleh dua buah lesum pipit.. Sangat indah.
"Ya udah aku tunggu yah." Ucap Ivan pergi meninggalkan aku dan Evelyn.
Tampaknya Ivan sedikit memberiku ruang untuk berbicara berdua dengan Evelyn.
"Oh iya, kamu disini ngapain? Ada teman atau keluar yang wisuda juga?" tanyaku canggung.
Cukup canggung karena setelah Evelyn menolakku waktu itu, aku tak pernah lagi bertemu dan tatap muka dengannya. Bahkan komunikasi melalui smartphone juga tak pernah. Kami benar-benar putus komunikasi sejak saat itu.
"Tidak.. Emang ke sini buat ngucapin selamat ke Kak Arman." balasnya.
"Eh.." Aku cukup terkejut dengan apa yang dia katakan.
"Kemarin aku ketemu Kak Riyal di Fakultasku. Terus dia bilang hari ini Kak Arman wisuda.. Jadi sekalian aja ke sini." jelasnya agak malu.
"Oh.. Iya.. Iya.. Hehe.." aku masih mencoba menyesuaikan suasana.
Kami berdua berbincang.. 15 menit sepertinya sudah cukup membuat rasa canggung diantara kami mereda.. Aku sudah bisa berbicara santai dengan Evelyn. Tak ada yang berubah dengannya, dia masih seperti dulu.
Aku pamit setelah mendapat pesan WA dari Ivan. Sepertinya aku lupa waktu karena terlibat pembicaraan dengan Evelyn. Akhirnya aku pamit dan segera menuju ke tempat Ivan berada.
Evelyn terlihat cukup senang berbicara lagi denganku. Saat meninggalkannya, ia pun bergegas kembali ke fakultas kedokteran karena masih ada hal yang harus dia lakukan.
Di tengah keramaian orang yang sedang bersukacita.. Evelyn menabrak seseorang saking padatnya. Dia terjatuh, begitupun dengan perempuan yang ditabraknya.
Evelyn bangkit dan mendekati perempuan itu..
"Loh.. Kak Alfy." Ucapnya terkejut.
Alfy yang melihat Evelyn bingung.. Di pikirannya saat ini seorang perempuan yang Tiba memanggil namanya dengan sebutan 'Alfy'.
__ADS_1
"Maaf, siapa kamu?" Tanya Alfy yang sepertinya juga tak mengingat Evelyn.
-Bersambung-