Kamu & Senja

Kamu & Senja
Menyesal


__ADS_3

Perkataanku saat itu tidak hanya melukai hatinya, tapi juga raganya. Jika ada hal yg aku sesali, untuk pertama kalinya mungkin aku bisa katakan bahwa aku menyesali ucapanku.


"Kamu tidak usah membebani dirimu, itu hanya akan membuatmu semakin bersalah." Kata Riyal.


Aku hanya tertunduk.


"meskipun orang tau Fina bercerita tentang kondisinya , tapi mereka tidak menceritakan hal yg kamu lakukan hingga Fina jadi seperti sekarang. Dan aku pun tidak ingan bertanya." lanjut Riyal.


"aku.. Penyebabnya." gumamku.


"Kamu harus tau, orang tua Fina apa lagi Ayahnya sangat menghargaimu. Dia bilang kamu adalah laki-laki yg baik karena berani datang melamar Fina meskipun masih sementara kuliah dan tidak punya apa-apa. Ayahnya juga menitipkan maaf atas apa yg keluarganya lakukan padamu." Ujar Riyal.


"Ayah Fina adalah orang yg baik. Aku hanya.. Takdir.. Hanya."


"cukup bro." Kata Riyal sambil menepuk pundakku.


Aku menoleh ke arahnya, dia sudah berdiri dari tempat duduknya.


"apa pun yg telah terjadi, kamu danĀ  Fina adalah temanku dan aku harap kamu bisa datang minggu depan." ujarnya.


"insyaallah, aku usahakan." balasku tidak yakin.

__ADS_1


Riyal pergi meninggalkanku yg masih berpikir atas hal buruk yg telah terjadi. Satu-satunya yg bisa ku lakukan untuk menebus kesalahanku adalah mengirimkan bunga matahari untuknya, walau dia tak pernah membalas pesan yg aku kirim bersamaan dengan bunga matahari itu.


Aku sering menuliskan sedikit cerita pada potongan kertas yg ku sisipkan dalam bunga Matahari yg aku kirim. Tapi tak pernah sekalipun dia membalas pesan singkat itu.


Akhirnya aku kembali kepada teman-temanku yg lain. Untuk menyembunyikan perasaan bersalahku kepada mereka, aku harus terlihat baik-baik saja.


Memakai topeng agar masalahku tertutupi oleh yg lain, sebab aku tidak ingin terlihat sedih di depan mereka. Sebuah topeng yg selalu melekat pada orang-orang yg pura-pura bahagia, topeng yg bernama senyuman. Sangat ampuh untuk menipu orang-orang sekitar.


"buset Arman, lama banget lu beli minum." Kata Ilham yg melihatku datang.


"tadi kebetulan ketemu sama teman lama, makanya ngobrol dulu sebentar." balasku.


"cewek yah?" tanya Adi.


"itu adalah hal langka yg belum pernah aku lihat." Kata Wahid.


"gua jadi curiga sama lu. Jangan-jangan lu homo yah." Kata Ilham sambil tertawa ringan.


"setan kamu Ham. Aku masih normal." balasku membela diri.


"eh tapi bener loh. Gue gak pernah lihat satu kalipun Arman deket sama cewek selama 7 semester ini di kampus." Kata Aan.

__ADS_1


"godain temen angkatan pun Arman kayaknya gak pernah deh." sambung Intan salah satu teman angkatanku.


"nah kan.. Man lu bener maho yah?" tanya Ilham meledek.


"bang***t kau Ham.."


teman-teman yg lain tertawa, seakan puas mengejek masa lalu yg bahkan mereka tak tahu.


"angkat tangan bagi siapa saja yg tau atau pernah lihat Arman jalan sama cewek di kampus?" Kata Adi kepada semua teman-teman.


Dari sekitar 20 an orang teman angkatanku yg berada di sini tidak ada satupun yg mengangkat tangannya.


"ok Fix.. Arman maho guys." jelas Adi.


Sontak yg lain pun tertawa dengan perkataan Adi. Aku hanya bisa diam di permalukan oleh mereka semua.


"eh bentar, gua inget. Arman pernah deket sama cewek kedok guys." ucap Ilham.


"oh iya, apa kabar tuh Man cewek kedok?" tanya Adi.


"paling juga di php in doang si Arman." jawab Ilham.

__ADS_1


Mendengar hal itu lagi-lagi mereka semua tertawa. Momen yg sebentar lagi akan menghilang dari kehidupanku, momen yg nantinya akan aku rindukan bersama mereka semua.


-Bersambung-


__ADS_2