
Hari ini adalah hari besar untuk Ivan, dia sudah mempersiapkan mental untuk bertemu dengan perempuan yg akan dj lamarnya. Dia terus menggantungkan harapan kepada Tuhannya, sambil berzdikir dia berpikir untuk singgah terlebih dahulu dk rumah sahabatnya.
Setelah sampai, dia mengetuk pintu. Melihat sahabatnya, entah kenapa dia langsung memeluknya. "Arman, berkat kamu aku sudah sejauh ini. Terima kasih." Kata Ivan.
Aku heran sekaligus senang, baru kali ini aku di peluk oleh seseorang selain dari keluargaku. Aku pikir sekarang memang benar kami sudah menjadi sahabat. "Aku doain semoga kamu di terima." Balasku meyakinkan bahwa dia bisa.
"iya Man. Aamiin."
"Ma.. Mama.. Ivan udan mau pergi nih."
"iya nak tunggu." Balas Ibu.
"astaga Arman. Seharusnya gak usah nyuruh mama kamu keluar."
"Ivan.. Sudah mau pergi nak." Kata Ibu melihat Ivan.
"Iya tante."
"hati-hati yah. Semoga kamu di terima." Kata Ibu sambil memeluk Ivan.
"InsyaAllah tante, makasih.." dengan percaya diri, Ivan bergegas pergi ke rumah pujaan hatinya, tentu tanpa di beritahupun aku sudah tau bagaimana suasana hati Ivan sekarang karena aku pun pernah mengalaminya. Iya.. Pernah ketika itu aku ke rumahnya dan hal itu merubah segalanya.
*ditempat lain
"Ayah sudah kasih tau Nak Ivan kan kalau hari ini dia kita undang ke sini."
"Iya Bu. Ayah juga udah kirim alamat ini via WA."
"jadi mana orangnya yg mau melamar cucu ku." Kata seorang wanita tua yg duduk berhadapan dengan orang tua Yana.
__ADS_1
"ciee di lamar.. Ciee.." kata Ikbal adik sepupu Yana.
"jadi penasaran sama cowok yg mau melamar kamu." Lanjut Indah tante Yana, adik dari Ibunya.
Sepertinya beberapa keluarga Yana terlihat datang untuk melihat Ivan. Beberapa di antara mereka penasaran seberapa jantan laki-laki bernama Ivan ini sehingga berani untuk melamar Yana. "nak sini sebentar." Kata Ayahnya.
"iya Ayah." Jawab Yana sambil mendekat.
"jadi gimana nak? Kalau Ayah sama Ibu sih setuju-setuju saja. Nenek kamu juga insyaallah tidak ada masalah. Sekarang tinggal kamunya." Jelas Ayahnya.
"iya Bi. Insyaallah saya baru bisa memutuskan kalau Ivan sudah datang."
"fikirkan baik-baik ya nak. Kalau Ibu sih menilai Ivan ini anaknya baik. Walaupun mualaf tapi sepertinya dia anak yg sholeh." Kata Ibunya.
"insyaallah Ibu. Jujur Yana masih bingung tapi semoga saja setelah Ivan datang Yana bisa memutuskan dengan Izin Allah." Jelas Yana.
"insyaallah nenek doakan cucu nenek bisa dapat petunjuk ketika laki-laki itu datang." Kata neneknya
Semua sepupu Yana berlomba untuk melihat Ivan, laki-laki dengan nyali besar yg berani datang untuk mempersunting Yana. Ayah, Ibu, nenek serta dua orang tante Yana keluar ke ruang tamu untuk bertemu dengan Ivan.
Ivan yg gugup mulai memperkenalkan dirinya di hadapan keluarga Yana. Keringat tiba-tiba mengucur deras membuat Ivan tampak basah dari dekat. Jantung yg tadi baik-baik saja, kini berdetak tak tak berirama. "santai aja nak Ivan.. Santai yah." Kata Ayah Yana melihat Ivan.
Sepupu Yana yg lain melihat hal itu mereka tertawa. Ivan pun ikut tertawa walaupun terlihat memaksakan diri. "jangan gugup nak Ivan. Terus terang saja Ibu sama Ayahnya Yana menyukai nak Ivan." Kata Ibu Yana mencoba menenangkan Ivan.
"iya Bu. Alhamdulillah." Balas Ivan sambil menarik nafas panjang.
Sementara itu Nenek Yana dari tadi memperhatikan gerak gerik Ivan. Matanya tak mau lepas, itu wajar saja mengingat cucu kesayangannya akan di persunting oleh lelaki bernama Ivan ini. "sepertinya kamu anak yg baik." Kaka Nenek.
Ivan tersenyum mendengar perkataan Nenek itu. "sepertinya Ibu menyukai Ivan. Kalau gitu panggilkan Yana Bu." Kata Ayah Yana yg melihat Nenek sudah mulai menyukai Ivan.
__ADS_1
Ibu itupun masuk ke kamar dan memanggil Yana yg juga terlihat gugup dan masih bingung memberi jawaban. Wajar jika masih bingung karena yg datang ke rumahnya saat ini adalah laki-laki asing yg ingin mengajak dia untuk hidup satu atap selamanya. Walaupun sudah menjalin ta'aruf beberapa bulan tapi Yana masih belum menetapkan hatinya.
Yana keluar dan duduk di samping neneknya berhadapan dengan Ivan. Yana menundukkan pandangannya karena malu, sedangkan Ivan sesekali melirik dan menunduk. "jadi nak gimana. Kasian Ivan kelamaan nunggu jawaban dari kamu." Kata Ayahnya.
"iya Ayah."
"maaf, sebelumnya ini saya ada bunga jika berkenang, bunga ini untuk kamu." Kata Ivan memberikan bunga matahari kepada Yana.
"masyaallah nak. Cantik sekali bunga ini. Jazakallah." Balas Ibu Yana yg melihat bunga itu
"jago nyogok juga kamu yah.. Nak Ivan." Kata Ayah Yana bermaksud bercanda.
Mendengar hal itu semua orang yg berada di ruang tamupun tertawa. Yana juga terlihat tersenyum. "jadi nak gimana.." Kata Ayahnya mempersilahkan Yana berbicara.
"iya Ayah, Insyaallah baru saja Allah memberikan saya petunjuk. Sebelumnya saya minta maaf sama Ivan. Sepertinya saya tidak bisa menikah dulu saat ini karena......."
Yana pun menjelaskan panjang lebar kepada Ivan dan juga kepada Orang tuanya. Dengan serius semua orang yg berada di ruangan itu mendengarkan Yana.
Mendengar penjelasan itu Ivan sempat tegang tapi akhirnya dia bisa tersenyum lega dan menerima keputusan Yana.
Setelah ketegangan berlalu, keluarga Yana mengajak Ivan untuk makan siang bersama untuk mengakrabkan dirinya.
*di tempat lain.
Aku yg sedang membantu Ibuku, mendengar smartphone berdering tanda pesan masuk. Aku membuka pesan itu dan melihat pesan WA dari Ivan.
"assalamualaikum Arman. Alhamdulillah, berkat doa dan dukunganmu. Aku di terima, lamaranku di terima. Terima kasih saudaraku. Kamu adalah orang pertama yg tau berita ini." Kata Arman membaca pesan WA dari Ivan.
Membaca pesan itu membuatku kegirangan, tentu aku gembira karena sahabatku berhasil meraih apa yg ingin dia raih. Senang rasanya bisa menjadi bagian dari salah satu kesuksesannya meminang pujaan hati.
__ADS_1
-Bersambung-