
(Bagian Flashback)
Ivan terlihat berjalan di koridor fakultas bersama dengan teman-temannya, sepertinya dia terlihat senang karena besok adalah hari spesial untuk kekasihnya. Ivan benar-benar menantikan datangnya hari esok, baginya tidak ada yg lebih penting selain kejutan yg dia harapkan berhasil. “Van.. Gue mau ngomong sesuatu sama lu” kata Anya yg mendekati Ivan.
"Anya, gomong aja.” Balas Ivan.
“Gue mau ngomong berdua boleh.” Anya mengajak Ivan berbicara empat mata karena tadi Ivan bersama dengan teman-temannya. Mungkin pembicaraan mereka harus di rahasiakan kepada siapapun.
“jadi gimana besok? Jadi yah?” Tanya Anya.
“iya Nya, jangan lupa datang yah.” Balas Ivan.
“Van.. Lu bener sayang yah sama Dian?”
"tentu saja, emang kenapa?”
“ya gue nanya aja. Tentang perasaan lu ke Dian kayak gimana?” tanya Anya mulai serius.
“iya lah Nya, aku sayang banget sama Dian. Emang kenapa?”
“oh gitu.” Jelas wajah Anya menampakkan sebuah keraguan, seperti ingin mengatakan sesuatu tapi tak bisa. Sesaat dia menghela nafas dan kembali berbicara.
“Van.. Lu tuh orang baik, Gue gak mau aja lu di giniin. Rasanya gak adil, gue gak tahan.” Kata Anya menundukkan kepala.
“maksudnya? Aku gak ngerti?” balas Ivan bingung.
“Gue gak bermaksud merusak acara kejutan lu besok Van. Gue cuma gak mau cowok sebaik lu sakit hati.” kata Anya terus memuju Ivan.
“sorry aku gak ngerti, tolong ngomong yg jelas? ”
“Van... Gue selama ini tau kalau Dian sering jalan bareng dengan cowok lain. Gue ngomong ini ke elu karena Gue gak mau Dian terus menerus mengkhianati elu.” Jelas Anya.
Mendengar perkataan Anya, terlihat raut wajah Ivan mulai serius. Tatapan matanya tajam menatap muka Anya, suasana tiba-tiba jadi tegang karena pernyataan Anya yg tiba-tiba memberikan info jika kekasih yg di cintai Ivan ternyata berselingkuh dengan lelaki lain. “ kamu cuma becanda kan?” kata Ivan masih tidak percaya.
“Van... Gue tau lu cinta banget sama Dian tapi tolong. Gue gak boong, sering banget gue lihat dia berdua-duan di UKM sama cowok lain.” Jelas Anya sekali lagi.
Ivan tidak membalas, dia hanya diam tanpa kata dan terus memandang Anya. Berat memang untuk percaya berita seperti ini, Ivan sekarang di hadapkan pada fakta dan sepertinya lagi-lagi logika di kalahkan oleh perasaan. “maaf.. Kalau cuma ini yg kamu ingin bicarakan denganku. Sudah cukup, aku pergi dulu.” Kata Ivan berbalik membelakangi Anya.
__ADS_1
“Ivan tunggu.. Percaya sama gue. Gue gak bermaksud merusak hubungan lu sama Dian tapi lu harus tau ini semua.” Jelas Anya memegang tangan Ivan.
Lagi-lagi Ivan tak mengatakan apa-apa, dia melepas tangan Anya dan mulai berjalan meninggalkan Anya yg mulai menangis karena melihat sikap Ivan.
“Van... Please percaya sama gue. Gue gak mau lu sakit hati. Van... Ivan..” Kata Anya dengan nada suara yg keras.
Orang-orang yg berada di sekitar taman Fakultas tersebut sontak berbalik melihat mereka berdua, Anya yg terus memanggil Ivan mulai menjauh meninggalkan dia.
“Ivan... IVAN GUE SAYANG SAMA LU.” Kata Anya berteriak kepada Ivan.
Mendengar kata itu, Ivan berhenti berjalan. Dia hanya diam mematung, jika di perhatikan ternyata air matanya juga jatuh. Anya berlari ke arah Ivan dan memegang tangannya dari belakang. Kemudian Ivan berbalik dan menatap Anya.
“Van.. Sorry gue egois. Gue sayang sama elu Van. Gue cinta sama elu Van. Karena itu gue gak mau lu sakit hati gara-gara Dian. Lu cowok baik, lu berhak mendapat yg lebih baik.” Kata Anya yg air matanya sudah memenuhi pipi.
“Makasih, tapi aku hanya cinta sama Dian.” Kata Ivan.
“Ivan..” Kata Anya meletakkan kepalanya di dada Ivan.
"Anya.. Pliss hak enak diliatin orang. Udah yah." kata Ivan menenangkan Anya.
Ivanpun terlihat tidak sedamg baik-baik saja, mungkin memang sakit mengetahui kenyataan bahwa kekasih yg sangat di cintai itu telah berkhianat tapi semua sudah terjadi. Mungkin Ivan masih berharap bahwa semua yg di katakan Anya adalah kebohongan akan tetapi melihat ekspresi Anya yg seperti itu Ivan mulai ragu akan kepercayaannya kepada Dian.
Anya mengangkat wajahnya dan melihat raut wajah Ivan yg bersedih. Ivan lalu memeluk Anya dan membisikkan sesuatu.
“hah..?” kata Anya terkejut dengan perkataan Ivan.
Setelah itu Ivan kembali melihat wajah Anya, terlihat Ivan mencoba tersenyum, mencoba menyembunyikan luka dengan senyum, mencoba kuat dengan tersenyum meski air mata terus terjatuh. Akhirnya Ivan berbalik dan meninggalkan Anya yg masih tidak percaya dengan apa yg di katakan Ivan kepadanya.
*sementara itu, ditempat lain.
Dian sedang berada di rumah, hari ini dia tidak berangkat ke kampus. Terlihat dia sedang memasak sesuatu yg baunya menggugah selera. Di rumah ini Dian tinggal bersama Ayahnya dan dua orang pembantu rumahnya. Ibunya telah meninggal sejak Dian masih berusia 7 tahun, sejak saat itulah dia mulai mandiri meskipun kadang-kadang masih di bantu oleh mboknya.
Mbok adalah sebutan Dian untuk salah satu pembantu rumah tangganya, sejak Ibunya meninggal mboknya inilah yg senantiasa merawat dan menjaganya hingga kini.
Ayahnya sekarang sedang tidak berada di rumah, karena keluar kota untuk urusan bisnis. Sedangkan Mboknya sedang sakit dan sudah 2 hari tidak masuk kerja di rumahnya. Sementara pembantu yg satu sudah menyelesaikan tugasnya dan pulang ke rumah, karena memang tugasnya hanya mengurus kebun dan mencuci kendaraan saja. “hm.. Baunya enak sayang.” Kata Irwan memeluk Dian dari belakang.
“iya dong yang, kamu tunggu aja dulu. Bentar lagi jadi kok.” Balas Dian dengan nada manja.
__ADS_1
“ngomong-ngomong besok kejutan untuk kamu gimana?” tanya Irwan.
“jadi dong.. Kemarin Ivan udah nelfon katanya mau ngajak aku jalan. Pasti mau ngasih kejutan buat aku.” Kata Dian.
“ohh.. Boleh ikut gak.”
“gak boleh.. Gak boleh sayang.. Entar kalau Ivan tau hubungan kita gimana?”
“marah ya.. Yang kalau aku nyuruh kamu milih aku atau Ivan. Kamu pilih siapa?”
“ih kamu, apa coba maksudnya nyuruh pilih-pilih kayak gitu.”
“gak.. Cuma pengen tau aja.”
“aku pilih Ivan lah. Aku kan cinta sama dia.” Kata Dian menegaskan perasaannya.
“terus kamu kok mau jalan sama aku?”
“ya.. Hm.. Karena aku nyaman sama kamu. Emang aku cinta sama Ivan tapi Ivan tuh gak bisa buat aku nyaman seperti aku nyaman sama kamu dan kamu juga orangnya menarik. Ya gitulah pokoknya.” Jelas Dian.
“hoh...” ujar Irwan masih memeluk Dian.
“bentar-bentar.. Aku ambil piring dulu.” Kata Dian melepaskan tangan Irwan di pinggangnya.
“hm.. Baunya emang bikin lapar nih.” ujarnya menciun aroma makanan.
“iya kan.. Gini-gini aku jago masak tau.”
“hmm. Enak sayang.” Kata Irwan memuji masakan Dian.
“makan yg banyak.” Balas Dian tersenyum.
“aku boleh gak nginap di sini malam ini sepertinya kemarin.”
“jangan.. Entar malam Papa udah pulang. Lagian besok juga Ivan mau ke rumah jemput aku. Kalau dia lihat kamu gimana.”
“ya udah.. Tapi sebelum pulang boleh kan.” Kata Irwan memberi kode.
__ADS_1
Mereka terlihat bahagia berdua walau sedang menjalin hubungan gelap. Entah apa yg ada di hati Ivan jika sekarang dia melihat kemesraan kekasih nya dengan lelaki lain.
-Bersambung-