
Sementara itu di dalam pabrik, terlihat beberapa orang sedang menumpahkan bahan bakar ke lantai dan dinding pabrik. Semua plastik berisi bubuk putih tersebut dimasukkan ke dalam tas, sebagian di bakar dan di buang ke saluran air untuk menghilangkan jejaknya.
Beberapa orang bersama dengan pria berkumis yang di panggil bos tersebut terlihat bersiap untuk meninggalkan pabrik sambil terus melumuri dinding dan lantai pabrik dengan bahan bakar.
Produksi berhenti seketika, bahkan semua orang yang saat ini berada dalam pabrik dengan gamblang menembaki polisi yang masih berada di luar gedung.
"Bagaimana situasi di luar saat ini?" tanya si bos kepada anak buahnya.
"Mereka masih belum bisa menerobos masuk bos." balas salah satu diantara mereka.
"Kalau gitu bergegas, semua barang ini harus kita hilangkan. Jangan sampai polisi nemuin satupun barang ini." ucap si bos memegang plastik dengan bubuk putih.
"Bos.. Bagaimana dengan perempuan yang beada di dalam kamar?"
"******.. Bukan saatnya mikirin itu." ucap si bos sambil memukul kepala salah satu anak buahnya.
Seorang pria mendekat kearah mereka saat sedang melakukan persiapan.
"Bos, persiapan selesai. Kita sudah menyiapkan mobil untuk kabur di belakang. Seperti bantuan mereka belum datang jadi kita masih bisa keluar dari sini.
"ya sudah, ayo kita pergi sebelum semua jadi tambah brabe. Parjooo.. Parjooo.."
Seorang pria yang membawa senjata laras panjang mendekat setelah dipanggil berkali-kali.
"Siap bos."
Si Bos tersebut memeluk pria bernama Parjo. "Gue.. Serain semua kepada lo.. Semoga beruntung." bisiknya.
__ADS_1
Perkataan itu sudah cukup membuat Parjo mengerti maksud dari bosnya. Hari ini adalah hari terakhirnya mengabdi kepada bos tersebut. Sekaligus bisikan itu menjadi perpisahan untuknya.
Si bos dan beberapa orang lalu bergegas lari keluar dari sisi lain dari pabrik. Bos dan beberapa anak buahnya kabur dan yg lain mulai membakar pabrik berserta barang yg mereka produksi. Lama kelamaan Api dan asap mulai terlihat, semakin lama semakin besar.
Ica yang masih terjebak di dalam kamar terus menggedor-gedor pintu agar bisa keluar tapi tenaganya tidak cukup untuk mendobrak pintu tersebut.
Sementara asap sudah mulai masuk memenuhi ruangan itu dan membuat Ica semakin panik. Ica mulai batuk karena asap api mulai masuk ke paru-parunya, dia masih berusaha menggedor tapi tak berhasil.
Api mulai membesar bahkan terlihat sampai diluar pabrik. Asap pekat terlihat meski malam karena cahaya api yg semakin terang dan semakin membesar.
Ilham yg melihat hal itu mulai panik, dia mencoba memberanikan diri menerobos untuk masuk tapi aksinya gagal karena terus di halangan oleh petugas yang tak membiarkan dia lewat karena situasi berbahaya.
Api mulai membesar, beberapa pengedar narkoba mulai kocar kacir saat Polisi satuan Brimob tiba di lokasi 30 menit saat dimulainya adu tembak. Dengan sigap satuan Brimob mulai melakukan operasinya dan membuat beberapa pengedar tersebut kabur.
Dengan keahlian hebatnya, satuan tugas Brimob mulai mencoba menerobos masuk ke dalam pabrik. Sementara beberapa polisi yang lain mulai menaruh garis polisi di depan pabrik agar tidak ada yg menerobos masuk.
Dengan kecepatan dan ketepatan para petugas Brimob, setengah dari penculik yg bersenjata dapat dilumpuhkan sementara setengah yg lain lari kocar kacir.
Terlihat salah satu polisi di lokasi melakukan kontak dengan petugas pemadam kebakaran karena api saat ini sudah menyebar membakar setengah isi gedung pabrik tua tersebut.
"Pak.. Teman saya.. Teman saya ada di dalam." Ilham berteriak frustrasi ke arah petugas yg terus menenangkannya.
Beberapa petugas mencoba masuk ke dalam kobaran api untuk memastikan jika benar korban penculikan berada di dalam.
Api menyala.. Semakin besar tapi belum ada tanda-tanda keberadaan Ica.
Ilham semakin panik, matanya melotot melihat kobaran api sambil membayangkan wajah Ica. Sesaat dia melirik ke arah petugas yg mengawasinya, dilihatnya petugas itu sedang lengah, seketika Ica langsung menerjang petugas dan membuat petugas itu terjatuh.
__ADS_1
Ilham berlari ke arah pabrik, petugas yang terjatuh berteriak kepada rekan-rekannya tapi Ilham berhasil melewati mereka semua hingga saat ini dia sudah berada tepat di pintu masuk ke dalam pabrik.
Dia melihat kobaran api, sepertinya masih ada beberapa ruangan yg tidak terbakar. Dengan tekad kuatnya dia masuk menerobos api di pintu masuk.
Dalam ruangan pandangnya sangat terbatas, dia hanya melihat petugas polisi yang menangkap dan menyerat pria-pira yg sudah tidak melawan lagi.
Asap mulai membuat matanya perih dan sesak. Ilham belum melihat satupun petugas polisi yg menemukan Ica. Dengan nekat Ilham masuk lebih dalam mencoba mencari Ica.
Ilham yg melihat sambaran api yg semakin lama membesar, Ilham semakin panik karena belum menemukan Ica. Dia berteriak memanggil nama Ica tapi tak ada jawaban. Nafas Ilham kembali sesak mengingat asap sudah memenuhi setengah pabrik tersebut.
Ilham terus berjalan sampai dia melihat sebuah pintu yg mengarah ke satu ruangan. Saat dia ingin membuka, ternyata pintu itu terkunci. Dia mulai batuk karena banyak menghirup asap pekat yg semakin memenuhi pabrik. Dengan tenaga seadanya dia berhasil mendobrak pintu.
"Ica.. Ica.." ucapnya melihat Ica terkapar tak sadarkan diri penuh luka di lantai.
"Ica.. Ca.. Icaaaa.. Kamu gak papa. Ica." ucapnya terus menerus mencoba membangunkan.
Gemuruh gedung terdengar, sepertinya Api sudah bertambah besar sampai-sampai membuat beberapa atap pabrik mulai runtuh.
Dengan sigap Ilham memopang Ica untuk keluar dari Pabrik tersebut. Dengan nafas yg sangat berat dan pandangan yg terbatas dia berjalan perlahan mencari jalan keluar yg hampir tak terlihat.
Dia sesak dan batuk.. Kesadarannya hampir hilang. Tapi tekadnya untuk menolong Ica lebih besar. "Ica..." ucapnya.
Dia mulai meyakinkan dirinya, Ica adalah perempuan yg dia cintai.. Iya.. Satu-satunya perempuan yg dia cintai adalah Chisilia Isya Ramadhani. Dengan tekad itu dia terus berjalan, terus berjalan dengan setangah sadar sekalipun masih terus saja berjalan demi perempuan yg dia cintai.
Tekad kuatnya saat ini membuat kobaran api dan gumpalan asap tidak ada apa-apannya. Ilham masih berusaha mencari jalan, terus saja berjalan meski dia tak tahu ada apa di depannya sekarang.
Pandangannya hanya melihat api dan asap hitam.. Perih? Iya sangat perih matanya tapi perempuan yg bersamanya saat ini harus selamat. Hanya itu pikirnya sekarang.. Dan hal itu sudah cukup membuat dia tak menyerah.
__ADS_1
Tapi jalan keluar yg tak terlihat lagi membuat Ilham bingung dan tubuhnya tak kuat lagi menghirup asap hitam pekat dan panasnya Api yg menyambar menambah beban hingga akhirnya dia hilang kesadaran.
-Bersambung-