
(Bagian Flashback)
Selepas maghrib, dengan hati yg berbunga Ivan datang ke rumah Dian untuk menjemput kekasihnya. Dengan Gaun putih dan rambut yg terurai Dian keluar dari pintu rumahnya, Ivan yg melihat kekasihnya itu tak sedikit pun berkedip, Ivan melotot sambil menahan perasaannya.
Tak ada kata yg mampu menggambarkan perasaan Ivan malam ini, kekasihnya tampak sempurna di depannya. Diapun terdiam melihat kekasihnya yg saat ini berada tepat di depannya. “sayang.. Sayang..” ujar Dian.
“e iya sayang. Maaf.. Hehe.. aku merhatiin kamu cantik banget malam ini. "
Dian pun tersenyum melihat tingkah Ivan yg mengaga dan memuji melihat dia malam ini. Tanpa buang-buang waktu Akhirnya mereka berdua berangkat ke vila tempat di mana dia akan makan malam romantis bersama.
Perjalanan cukup jauh, di jalan mereka berbincang layaknya sepasang kekasih. Bercanda, tertawa kadang membicarakan hal-hal tidak perlu tapi karena mereka sepasang kekasih, perbincangan apa pun itu terasa bermakna dan mendekatkan.
Sejam telah berlalu dan mereka pun sampai di tempat tujuan. Ivan lalu memberikan sebuah sapu tangan dan mengikatkan sapu tangan itu di kepala kekasihnya untuk menutup matanya. Mereka turun dari mobil, Ivan memegang tangan kekasihnya sambil mengarahkannya agar berhati-hati ketika berjalan.
Sampai di halaman belakang Villa, dengan perlahan Ivan membuka penutup mata kekasihnya. Hitungan satu sampai tiga jadi tanda agar Dian membuka mata.
Ketika membuka mata hal pertama yg di lihatnya adalah cahaya lilin, tampak jelas lilin yg sedang menyala di sebuah meja bundar dengan kain putih. Di meja itu terlihat dua kursi yg saling berhadapan, dan terlihat jelas sebuah tulisan selamat ulang tahun di belakang meja, cukup besar dengan hiasan balon putih dan bunga mawar merah.
Saat teralihkan oleh tulisan itu, tiba-tiba dari tempat mereka berdua berdiri sampai pada meja di depan mereka terbentuklah sebuah jalan dari lampu kecil yg menyala, di sampingnya banyak bunga mawar yg di susun sehingga menambah kesan romantis pada tempat mereka berdiri.
Saat melihat itu semua tanpa sadar Dian meneteskan air mata, bukan sedih tapi bahagia. Dia berbalik melihat ke arah Ivan, menatap wajahnya penuh bahagia.
“sayang...” katanya lembut sambil memeluk Ivan erat.
Ivan membalas dengan tersenyum, Dian yg masih terbawa dengan suasana haru kembali memeluknya. Memeluk sangat erat tanda bahwa dia bahagia dengan semua yg telah di berikan Ivan padanya malam ini. Ivan membalas pelukan kekasihnya, memegang dan mengelus kepala kekasihnya dengan lembut sebagai tanda bahwa dia sangat mencintainya.
Ivan memegang wajah kekasihnya dan menghapus air mata bahagianya, kemudian dia mengarahkan wajah kekasihnya itu ke wajahnya agar mereka saling menatap. Dengan suara pelan dia berkata “surprise”.
__ADS_1
Ivan lalu memegang tangan kekasihnya, mereka berjalan mengikuti jalan yg terbentuk oleh lampu kecil dan bunga mawar merah yg mengiringi mereka berdua. Sampai di depan meja, Ivan dengan sopan menarik kursi untuk Dian dan mempersiapkan dia duduk di kursi itu. Sementara Ivan duduk di kursi tepat di depannya. Mereka duduk saling bertatapan, mata mereka tak mau beralih ke arah lain terus saja seperti itu sampai pelayan datang membawa kue ulang tahun.
Melihat pelayan itu datang semakin membuat Dian bahagia, sebuah kue coklat ala Perancis di sajikan tepat di depannya. Ivan pun berkata kepada kekasihnya sambil meraih tangan kekasihnya di meja itu, mereka saling menggenggam. “selamat ulang tahun sayang.” Kata Ivan di lanjutkan dengan mencium tangan kekasihnya.
Sekali lagi Dian tak sadar meneteskan air mata bahagia. Semakin erat genggaman tangannya tanda bahwa dia sangat menyayangi Ivan.
Setelah itu, pelayan yg menggunakan pakaian ‘pelayan ala eropa’ itu memutar sebuah musik klasik menambah kesan romantis di tempat itu.
Ivan dan Dian terlihat bahagia, mereka berbincang tentang diri mereka, saat pertama mereka bertemu hingga saling jatuh cinta seperti sekarang. Tak lama pelayan itu datang kembali dan membawa makanan Perancis yg pernah mereka santap di restoran beberapa waktu yg lalu. Dengan lahap Dian menyantap makanan itu penuh rasa bahagia. Hanya bahagia yg mampu menggambarkan suasana malam ini.
Setelah makan malam romantis, Ivan kembali memberikan sebuah hadiah. Dia mengeluarkan sebuah kotak kecil dari sakunya. Kemudian memberikan kotak itu kepada kekasihnya, terlihat Dian tak mampu menahan semua perasaan bahagia sejak dia pertama membuka matanya. Puncaknya ketika dia membuka kotak itu, terlihat sebuah cincin. “itu tanda bahwa aku serius dan sangat mencintaimu.” Kata Ivan.
“ahh.. Sayang..Makasih.” Balas Dian dengan nada lembut.
Setelah itu mereka berdua masuk ke dalam Villa . Di dalam Villa Ivan memperkenalkan koki yg memasak untuk mereka berdua dan Dian memuji masakan koki tersebut. Mereka berdua melanjutkan malam romantis dengan menyantap Kue ulang tahun di tambah teh hangat. Malam yg sempurna, itulah fikiran Dian saat ini.
“kenapa yang? Bukannya lebih baik kita nginap di sini malam ini.” Balas Dian.
“tidak sayang. Aku tak mau Ayah kamu khawatir.”
Setelah menjelaskan keadaan, mereka berduapun memutuskan untuk kembali. Untjk terakhir kalinya Ivan akan mengantar kekasihnya itu sampai rumah dengan selamat. Seperti itulah seharusnya pria sejati, tidak menyentuh wanitanya tanpa izin dari Ayah wanitanya, tanpa ada ikatan suci yg mengikat mereka.
Dian semakin yakin bahwa Ivan adalah pria baik yg tidak mengincar apa-apa darinya, yg di lakukan Ivan adalah wujud perasaan yg dalam untuknya.
Di Perjalanan pulang, karena jarak dan mungkin kelelahan Dian tertidur. Ivan menoleh melihat kekasihnya yg tertidur lelap, tiba-tiba dia meneteskan air mata, terus saja mengalir sembari dia menyetir, tapi ada yang salah. Dia menangis bukan karena bahagia, tapi karena sedih bercampur kecewa.
Sudah hampir jam 1 malam akhirnya mereka berdua sampai di rumah Dian. Ivan membangunkan kekasihnya yg tertidur. Dian terbangun dan melihat bahwa mereka sudah berada di depan rumahnya.
__ADS_1
Dia turun dari mobil begitu pun Ivan. Dian memeluk Ivan dan mengatakan bahwa dia sangat bahagia malam ini. Namun sesaat Dian berbalik dan hendak masuk ke dalam rumahnya. Ivan meraih dan memegang tangan kekasihnya itu, Dian kembali berbalik dan Ivan langsung memeluk Dian dengan erat. Sambil memeluk Ivan membisikkan sesuatu kepada Dian.
Dian yg mendengar perkataan Ivan terkejut, matanya yg tadi layu karena lelah tiba-tiba terbelalak dan setelah mencerna perkataan Ivan, air matanya mengalir, cukup deras kali ini. Dari raut wajahnya jelas dia sedang tidak bahagia, dia menangis karena perkataan dari Ivan.
Dian tak percaya apa yg dia dengar dari Ivan. Ivan melepas pelukan Dian dan berbalik, tampak Ivan tertunduk dan sangat jelas dia tak kuasa menahan tangisnya.
Ivan Menangisi keadaan yg membuat dia harus mengatakan kenyataan yg salam ini menghancurkan hatinya, hal itu kemudian membuat Dian masih tak percaya setelah mendengarnya.
Ivan berbalik sementara Dian tak bisa berbuat apa-apa, Dian terjatuh ke tanah seakan tak bisa menerima kenyataan. Dia terus menangis, air matanya terus keluar tak bisa berhenti sementara Ivan sudah berada di dalam mobil. Sama seperti Dian, air matanya juga tak bisa berhenti. Dengan suasana hati yg kacau dia meninggalkan Dian yg terlihat duduk tepat di depan pagar rumahnya sambil menangisi keadaan.
*sementara itu di waktu yg sama.
Sudah jam 1 tapi aku masih berada di kampus dengan teman-teman panitia, saat ini kami sedang rapat evaluasi terkait event yg akan di laksanakan. Kami sengaja lembur agar bisa mengerjakan semua properti yg akan di gunakan pada saat event nanti tepat waktu. Saat aku sedang fokus dengan apa yg ku kerjakan, smartphoneku berdering. “iya halo Van.” Kata Arman yg menjawab telfon dari Ivan.
“Arman...” ucapnya lirih.
“iya Van.. Gimana kejutannya? Sukses ya?” tanya Arman.
“berakhir Man.” Balas Ivan.
“hah.. Berakhir.. Ohh sudah selesai ya Van. Selamat yah, pasti tadi pacar kamu senang banget yah.”
“aku udah putus Man.” Kata Ivan dengan suara yg berat.
“hah.. Putus.”
-Bersambung -
__ADS_1