
(Bagian Flashback)
Ada hal yg tidak bisa di raih dalam hidup, misalnya seperti saat ini. Saat ini aku mencintai seseorang, tapi dia teramat jauh untuk aku jangkau. Aku mungkin akan terjebak dalam halusinasiku sendiri jika aku tak sadar oleh perkataan Idan waktu itu. Di tambah lagi perkataan Ilham kemarin malam semakin membuka mataku.
Kenapa aku tidak menyadarinya dari awal, padahal terlihat jelas di depan mataku. Mungkin kah cinta lagi-lagi menutup akal dan pikirinku.
Hari ini tidak ada kuliah karena sedang libur, hari ini adalah hari minggu dan aku berada di sebuah taman dekat rumahku. Entah mengapa aku ingin berteduh di bawah pohon besar ini, sambari memikirkan dan mencari jawaban dari keraguanku sebelum aku memutuskan untuk mundur seperti Ilham.
Aku duduk dan bersandar di sebatang pohon besar, pohon tua yg sudah sangat lama berdiri di taman ini. Tempat yg cocok mendingkan kepala karena udara yg berada di sekitar pohon begitu sejuk.
Hembusan angin sepoy-sepoy membuatku nyaman hingga tak sadar akupun tertidur.
*sementara itu.
"iya Mam, Ivan tau kok." Kata Ivan yg berbicara dengan Ibunya via telfon.
"Kamu harus ingat itu Ivan, jangan lupa." Kata Ibunya sekali lagi.
"Iya iya Mam."
"oh iya, bagaimana kabar Arman?"
"mereka baik Mam."
"Mamanya baik juga? Kamu sering main ke rumah mereka kan?"
"iya baik. Iya Ivan sering kesana. Arman juga nitip salam sama Mama."
"Mama jadi pengen ketemu sama mereka."
"nanti aku bilangin kalau Mama kangen sama mereka." balas Ivan.
"iya nak, kalau gitu Mama tutup ya telfonnya." Ujar Ibunya.
"iya Mam, bye." Kata Ivan menutup telfon.
Bel rumah berbunyi, sepertinya ada orang di luar rumah Ivan. Dia keluar untuk melihat, saat pintu terbuka ternyata yg ada di hadapannya adalah Dian. "Ivan." Kata Dian merendahkan nada suaranya.
Ivan tak membalas, dia langsung ingin menutup pintu rumahnya kembali tapi Dian spontan menahan dan terus berusaha meyakinkan Ivan agar dia mau berbicara dengannya. " Ivan please, aku mau ngomong." Ujar Dian sambil menahan pintu.
Ivan yg melihat Dian dengan keadaan seperti itu akhirnya luluh. Dia pun mempersilahkan Dian masuk ke dalam rumahnya. Ivan memberi isyarat kepada Dian agar duduk, mereka berdua berada di ruang tamu rumah Ivan. "Ivan aku ke sini mau minta maaf." Kata Dian merasa bersalah.
__ADS_1
"tidak perlu, aku sudah memaafkan kamu." balas Ivan.
Dian mendekat ke arah Ivan dan mencoba untuk memegang tangannya tapi Ivan menghindar. "Van, apa kamu benci sama aku?" Dian masih saja merasa bersalah, tampak jelas ada raut wajahnya.
"tidak. Kalau kau ke sini hanya untuk minta maaf kau hanya membuang-buang waktumu. Aku sudah bilang kalau aku telah memaafkanmu. Dan aku mohon, aku benar-benar tidak ingin bertemu denganmu saat ini." jelas Ivan.
Mendengar perkataan Ivan membuat Dian benar-benar terpukul, dia sekali lagi terlihat ingin menangis namun dia menguatkan dirinya karena tak ingin menangis di depan Ivan. "aku mengerti, ini cincin yg kamu berikan ke aku sebagai hadiah ulang tahun, aku kembalikan ke kamu." Kata Dian menarik cincin dari jari manisnya.
"simpan saja, cincin itu sudah ku berikan padamu." balas Ivan.
"Maaf aku tidak bisa, cincin ini hanya mengingatkan aku padamu dan itu membuatku sakit."
"sakit? Bukankah kau seharusnya bahagia bersama laki-laki itu?" Tanya Ivan.
"kau tidak mengerti apa-apa Van. Kau benar-benar tidak mengerti apa-apa."
Dian berdiri dan beranjak ke luar dari rumah Ivan, dia menahan air matanya. Saat dia berada di depan pagar rumah, Ivan mengejarnya. "tunggu dulu, Dian...."
Dian berhenti, dia berbalik melihat Ivan. "aku benar-benar tidak mengerti, tapi satu yg ku tau. Hatiku benar-benar hancur saat aku melihatmu keluar dari hotel bersama laki-laki itu." jelas Ivan.
Dian terdiam, dia tak bisa berkata-kata karena memang saat itu dia bersama dengan laki-laki lain di sebuah hotel. "aku bingung melihatmu, kenapa kau menangis seperti itu?" tanya Ivan.
"sayang? Sudahi omong kosongmu itu." Kata Ivan mulai membentak.
"kalau kau sayang tidak mungkin kau berkhianat, dasar wanita mura... Ah sudahlah." sambung Ivan yg mulai tampak emosional.
Dian terkejut mendengar perkataan kasar Ivan, tidak pernah dia melihat Ivan dalam kondisi seperti ini, akhirnya Dian berlari keluar dan meninggalkan Ivan yg sedang dalam keadaan terluka, yg membuat pikiran serta mentalnya menjadi kacau.
Ivan mengambil smartphone miliknya dan dia menelfon Arman. Semantara itu Arman yg berada di sebuah taman terlihat berbaring memejamkan matanya di bawah pohon besar di taman itu. Dia terbangun oleh suara smartphonenya yg berdering. "iya, halo Van." Kata Arman dengan suara lemas.
"Arman, apa kau punya waktu?"
"iya, kenapa Van?"
"aku sedang, aku.."
Arman mendengar suara Ivan via telfon seperti sedang bingung, dia mengetahui bahwa Ivan tidak baik-baik saja saat ini. Arman berspekulasi bahwa Ivan membutuhkan dia saat ini, belum selesai Ivan berbicara dia langsung mengatakan bahwa dia akan ke rumahnya. "Van.. Kamu di rumah?" Kata Arman.
"iya."
"kalau gitu, aku ke rumah kamu sekarang." ujarku dan menutup telfon.
__ADS_1
Tanpa pikir panjang, aku segera menuju rumah Ivan setelah mendengar nada suaranya yg lirih kebingungan. Benar saja begitu aku sampai, dia langsung mengungkapkan semua isi hatinya.
Arman, makasih sudah mendengar curhatanku hari ini."
"santai bro, btw udah malam aja nih." kataku sambil tertawa.
"Maaf maaf, mungkin aku terlalu banyak bicara." balas Ivan tertawa.
"tapi aku salut sama kamu Van, tidak semua cowok bisa kayak gitu."
Ivan diam, dia seperti tak mau merespon apa yg ku katakan. "ya sudah Van, sekarang mending kamu move on. Saran aku sih gitu. Soalnya kalau kamu mau balikan sama dia, aku takut endingnya bakal sama kayak gini."
"aku juga berfikir kayak gitu." sambung Ivan.
"temanku pernah bilang, balikan sama mantan itu ibarat nonton film yg sama dua kali, kita suka film itu karena seru tapi tetap saja endingnya bakal sama." kataku sok bijak.
"masuk akal sih Man." Kata Ivan sedikit tersenyum.
"iya kan, aku pikir juga begitu seharusnya. Kata-kata itu aku dengar dari sahabatku ketika masih SMA, saat itu aku juga jadi korban."
"korban?"
"korban kayak kamu Van, korban perselingkuhan." jelas ku sambil tertawa.
"hahaha korban yah." Kata Ivan tertawa.
"nah gitu bro, kamu harus sering-sering tertawa."
"iya Man iya. Sekali lagi terima kasih sudah menghiburku."
"santailah, kita ini udah seperti saudara."
"oh iya Mama aku nanyain kamu."
"mama kamu? Bagaimana keadaannya?"
"Puji Tuhan dia sehat Man. Dia nitip salam buat kamu sama Mama kamu."
"salam balik Van, entar aku kasih tau ke Mama kalau Mama kamu titip salam."
-Bersambung-
__ADS_1