
(Bagian Flashback)
Sepertinya hari ini berpihak padaku, sempat berpikir bahwa hari ini mungkin aku akan kehilangan harapan nyatanya sekarang aku sedang bersama dengannya. Bersama dengan sahabatnya yg bernama Naya kami bertiga berbincang tentang hal yg baru saja terjadi.
Setelah Alfy melihatku saat dia memegang bunga pemberian Riyal, dia lalu mengatakan sesuatu kepada Riyal yg tidak aku tau itu apa. Hanya saja setelah mengatakan itu Riyal tampak berdiri dan berjalan ke arahku.
Riyal tidak mengatakan apa-apa, dia hanya menyapaku dan memegang pundakku lalu beranjak pergi meninggalkan ku. Kemudian Alfy berjalan ke arahku dan diapun memperkenalkan sahabatnya yg bernama Naya.
Aku sebenarnya tidak menyinggung hal yg ku lihat tadi, hanya tiba-tiba tanpa bertanya dia menjelaskan semua kepadaku. Mungkin dia tidak mau aku salah paham atau.. Aku pun bingung Kenapa?
Alfy menjelaskan bahwa dia dan sahabatnya setiap sore jika ada waktu mereka memang biasa berada di tempat ini untuk sedikit melakukan olahraga ringan. Riyal menghubungi Alfy dan bertanya dimana Alfy saat itu, setelah mengetahui posisi Alfy. Riyal pun bergegas ke sini tanpa tau maksud Riyal ingin bertemu, Alfy pun tidak melarang dia datang.
Setelah bertemu tanpa basa-basi Riyal langsung menyatakan perasaannya ada Alfy dan selanjutnya seperti adegan yg tadi aku lihat."So sweet banget ya Riyal ngasih kamu bunga." Kataku sok tegar padahal merintih.
"iya..." balasnya tersenyum malu.
"selamat yah.. Semoga langgeng sama Riyal." Kataku sekali lagi sok tegar. "heh.. Selamat untuk apa?" katanya heran.
"loh.. Kan kamu udah resmi sama Riyal. Hehe." ucapku memasang topeng senyum.
Dia tertawa ringan sambil menutup mulutnya. "aku terima bunga yg dia berikan bukan berarti aku terima perasaan dia." Katanya menjelaskan.
"loh.. Jadi maksudnya." Balasku.
__ADS_1
"aku gak bisa Man. Gak bisa menjalin hubungan seperti itu. Aku terima bunga dari dia karena aku menghargai pemberian orang lain kepadaku." Ujar Alfy menjelaskan situasi.
Mendengar itu tentu aku tidak bisa menyimpan raut wajah bahagiaku dan di depan Alfy tanpa sadar aku terus tersenyum.
"Arman kenapa? Senyum-senyum?" tanya Alfy.
"eee.. Anu.. Hehe gak papa." Jawabku gugup.
"jadi kamu juga teman kelompoknya Fina yah waktu di Malaysia? Tanya Naya tiba-tiba.
"Iyaa." Jawabku melirik kepadanya.
"rumit juga yah kisah cintanya." Kata Naya cengengesan
"gak papa Fin.. Hehe."
"Fy...." Kataku.
"iya Arman, ada apa? ."
"sebenarnya aku udah tau sih kalau Riyal suka sama kamu, soalnya waktu aku di rawat di RS Malaysia dia sempat bilang. Katanya di malam perpisahan bareng anak-anak dia bakal nembak kamu. Waktu itu aku sempat lihat kalian berdua keluar dari apartemen, di fikiranku saat itu mungkin Riyal sudah nembak kamu dan malam itu aku kira kalian sudah jadian." Ujarku menjelaskan keadaan waktu itu
"hm.. Tapi waktu itu dia gak nembak aku. Waktu itu Pak Imran nelfon dia, trus katanya Pak Imran mau bicara sama aku makanya aku keluar sama dia untuk terima telfon." ucal Alfy mencoba mengingat kembali.
__ADS_1
"ohh jadi gitu yah.. Jadi lega.." Kataku spontan setelah mendengarkan penjelasan Alfy.
"lega?" Alfy bertanya heran.
"ee gak.. Hehe. Maksudnya lega anu itu..." Kataku tidak jelas sambil bertingkah aneh di depan Alfy.
"apa sih? Gak jelas." Kata dia sambil tertawa melihat tingkahku.
"hehehe." aku salah tingkah di depan Alfy sekarang.
"Man trus gimana luka kamu?" tanyanya.
"alhamdulillah Fy. Udah mendingan. Lukanya juga udah kering." Jawabku.
"Fina pulang yuk, udah hampir jam 5 nih." Kata Naya
"iya Nay. Man aku pulang dulu yah. Assalamualaikum." Katanya sambil berdiri meninggalkanku.
"waalaikumsalam."
Dari pembicaraan itu akhirnya aku sekarang tau bahwa apa yg ku fikirkan selama ini tidak terjadi. Nyatanya Alfy tidak sedang dimiliki siapa-siapa, dia masih sendiri dan aku punya peluang untuk mengisi ruang di hatinya. Sore ini benar-benar berkah bagiku, untung aku kepikiran untuk ke sini hari ini, karena jika tidak mungkin aku tidak akan tau bagaimana hubungan Alfy dan Riyal yg sebenarnya.
Hatiku berbunga.. Bahkan saat aku berkendara menuju rumah. Tiba-tiba aku mempertanyakan diri sendiri, apa kah aku bisa seberani Riyal?.
__ADS_1
-Bersambung-