Kamu & Senja

Kamu & Senja
Beda Keyakinan


__ADS_3

(Bagian Flashback)


Aku pernah berkata bahwa luka dan rasa sakit adalah pemicu move on terbaik dari ketergantungan perasaan terhadap seseorang yg salah.


Rasa sakit karena di khianati itu jadi obat mujarab yg membangunkan logika dari cinta buta seperti yg di alami oleh Ica. Setelah Ilham berhasil menenangkan dan membuat Ica kembali pada dirinya yg dulu dengan metode yg entah apa, tapi jelas bahwa Ilham berhasil.


Hanya saja semua benar-benar kembali normal, seperti keadaan yg seharusnya. Keadaan dimana Ilham yg terus mengejar Ica tapi Ica yg tak pernah menganggap serius pengakuan Ilham.


Ilham yg dulu sangat serius sekarang juga sudah terlihat santai dan kembali berbuat bodoh demi menyenangkan Ica, sang gadis kecil yg dia temui di masa kecilnya.


Tertawa menjadi hal yg lumrah jika waktu di habiskan bersama mereka, bersama teman sepergaulan. Begitulah masa muda, kedekatan ini yg kelak akan kami perbincangkan dimasa tua.


Kadang aku memikirkan satu waktu dimana aku dan mereka akan sulit untuk bertemu, iya.. Masa itu akan datang seperti ketika aku masih di bangku sekolah.


Rasanya sudah lama aku tidak berkumpul dengan teman sekolahku, komunikasi juga sudah mulai terputus. Hal yg mungkin akan terulang lagi ketika kali ini aku dan teman dekatku di bangku kuliah telah lulus dari Universitas ini suatu saat nanti.


Tapi itu nanti, untuk sekarang ada baiknya aku menikmati setiap momen bersama mereka. Seperti biasa, ada saja yg kami perbincangkan ketika sedang bersama. Apa lagi saat ini kami berenam kumpul setelah sekian lama.


Ilham yg terus mencari perhatian dari Ica, Adi yg terlihat menjahili Gina, Wahid dengan lahap menyantap makanannya sedangkan aku yg sedang menikmati waktuku dengan mereka.


"eh Arman tadi dari mana?" tanya Ica.


"ada urusan sama Ivan. Bentar doang tadi." balasku.


"Gua curiga nih sama gelagatnya Arman." Ujar Ilham dengan tatapan sinis.


"paan sih?"


"oh Iya, tempo hari aku lihat Arman jalan berdua sama cewek cantik." ucap Wahid tiba-tiba.


"hah?" Ilham dan Adi bereaksi.

__ADS_1


"widih siapa tuh?" tanya Gina.


"ah jangan mengada-ada. Sembarangan aja." aku mencoba mengelak karena aku tau betapa keponya mereka tentang kisah asmara seseorang.


"udahlah Arman. Ngaku aja. Aku lihat di sekitar Fakultas Kedokteran." sambung Wahid.


"hah? Kedokteran?" lagi-lagi Adi dan Ilham bereaksi.


"jangan gitu lah bro." kataku pada Wahid.


"wah gak bisa ini, gak bener kalau kita gak tau." Ujar Gina.


"siapa Arman cewek itu?" tanya Ica.


"bukan siapa-siapa cuma temen. Udah-udah bahas yg lain aja."


"Man.. Lu bener-bener ya. Selama ini gua jomblo karena menghormati lu tapi lu malah deket sama cewek tanpa gua tau." Kata Ilham dengan tingkah konyolnya.


"yaelah Ilham. Jomblo ya jomblo aja.. jomblo."


"Jujur ajalah Man, temen-temen pengen tau sekarang kamu dekatnya sama siapa? Itu doang." ucap Wahid yg dari tadi jadi biang informasi.


"Arman.. Kalau kamu masih anggep kita temen. Cepetan kasih tau siapa cewek itu." sekarang giliran Adi bertingkah lebay.


"ya udah. Elah.. Kepo banget." kataku cukup kesal.


"kepo is care Man." balas Ica.


"namanya Evelyn, dia Maba Fakultas Kedokteran."


"eh buset.. Pedofil lu Man." Kata Ilham meledek.

__ADS_1


"kampret, beda umurnya cuma 2 tahun."


Seperti kataku, sekarang mereka mulai mengulik informasi tentang hubunganku dengan Evelyn sejauh ini. "mantap bro. Mahasiswa Kedokteran." Kata Adi.


"terus kalian kenal dimana?" tanya Gina.


Pertanyaan demi pertanyaan di lontarkan. Aku seperti seorang tersangka yg di sidang oleh lima orang hakim yg sangat ingin mengetahui kronologi perkenalanku dengan Evelyn.


Sedikit kesal tapi pada akhirnya aku menceritakan juga pada mereka. Pertemuan pada saat perkenalan UKM Kampus, makan siang bareng sampai jalan dan sering komunikasi. Hingga timpul rasa nyaman dan perlahan nyaman itu menjadi suka.


Ya, aku mengakuinya. Sepertinya aku mulai menyukai Evelyn.


"tembak aja udah." Kata Adi.


"bro gua dukung lu apapun keputusannya." sambung Ilham.


"yakin Man?" tanya Wahid tiba-tiba.


Apa maksud dari pertanyaannya. Tentu saja aku menjawab yakin tapi Wahid kembali menjelaskan dirinya, dia menjelaskan bahwa apa yg ku rasakan seperti dengan apa yg dia rasakan pada Ike kekasihnya atau tepatnya mantan kekasihnya.


Dia mengatakan bahwa aku tidak boleh terbuai hanya karena sedikit perhatian. Kadang perhatian yg nampak tidak selalu menjadi acuan akan perasaan yg tulus.


Bukan tanpa alasan Wahid berkata seperti itu, karena kegagalannya menjalin hubungan dia jadi belajar satu hal. Cinta yg tumbuh cepat dan buru-buru akan berakhir pula dengan  cepat. Setidaknya itu yg dia rasakan sebelumnya.


Terlebih ada satu hal yg membuatku ragu. Belakangan aku baru mengetahui bahwa Evelyn punya keyakinan berbeda denganku. Dia seorang Katolik, hal yg baru aku tau seminggu yg lalu.


Awalnya aku tidak terlalu mempermasalahkan hal itu. Tapi Ica mengatakan bahwa perbedaan yg ku alami ini sangat berat, jika aku memutuskan melangkah bersamanya maka kata Ica, aku seperti menjalin sebuah hubungan jarak jauh.


Nasehat demi nasehat aku terima dari mereka, sedangkan Adi dan Ilham dari tadi hanya berbicara hal yg konyol. "tapi kalau kamu merasa mampu, ya udah jalani saja." Kata Ica.


"jadiin mualaf Man, dapat pahala." Ujar Ilham.

__ADS_1


Iya benar apa yg dikatakan Ilham. Mungkin hal itu bisa ku coba, tapi apakah itu tindakan egois? Apakah semudah itu mengganti agama seseorang? Aku rasa tidak. Jika berkaca dengan kasus Ivan, tentu itu adalah hal yg berat.


-Bersambung-


__ADS_2