Kamu & Senja

Kamu & Senja
Basa-basi


__ADS_3

(Bagian Flashback)


Gombal istilah yg biasa di gunakan jika seorang laki-laki memuji perempuan yg dia suka atau memberikan kata-kata yg di ramu sedemikian rupa untuk membuat perempuan yg di sukainya baper.


Bukan tanpa alasan sebab sudah kodrat jika perempuan menyukai puji-pujian apa lagi pujian yg keluar dari mulut laki-laki yg juga di sukai olehnya. Meskipun kadang perempuan benci untuk mengakui tapi perasan mereka tak bisa bohong.


Istilah gombal kemudian berkembang karena puji-pujian zaman sekarang dianggap terlalu berlebihan, tak jarang perempuan malah ilfil di buatnya. Bagaimanapun sebuah gombal di butuhkan dalam hubungan untuk mempererat hubungan antar kekasih.


Seperti halnya orang-orang di luar sana, dua orang yg sedang kasmaran di depanku ini membuatku sedikit ingin muntah, bagaimana tidak kata-kata "romantis" yg saat ini di ucapkan membuat aku tak percaya bahwa dia adalah Wahid yg aku kenal selama ini. "kalian berdua udah kenal lama atau baru sih?" tanya Adi.


"hm, kayaknya baru sih. Waktu di kepanitian itu." jawab Ike mikir.


"baru kenal udah jadian? Gercep amat kamu bro." ucapku.


"kenapa harus lama, bukankah perasaan harus di katakan." Wahid menerangkan.


Jleppp.


Perkataan Wahid menusuk dadaku, seolah dia tau bahwa aku selama ini tak berani menyatakan perasaan kepada orang yg ku suka.


"mantapp bro, ini baru cowok." Ujar Adi memuji perkataan Wahid.


Gina dan Ike yg duduk bersebelahan tertawa ringan. "emang bisa gitu yah?" Tanyaku masih tidak percaya.


"bisa aja bro, soalnya waktu pertama aku lihat Ike nih yah, rasanya pengen ngemil." Kata Wahid.


"kok ngemil?" tanya Ike.


"iya ngemil, ngemilikin dia." jelas Wahid.


Wajah Ike memerah, dia tak bisa menyembunyikan senyumnya walaupun menutup mulutnya dengan tangan. Sambil memandang Wahid dia mendorong dan memukul bahu Wahid beberapa kali dengan pukulan manja karena malu.


"jiahhh.. Bisa ae." Kata Adi.


"kantong mana kantong.. Pengen muntah." lanjut Gina.


Sementara aku tepuk jidat, baru kali ini aku melihat sisi lain dari Wahid. Biasanya dia hanya sibuk dengan Kegiatan-kegiatan kampus tapi saat ini dia terlihat seperti orang lain. Kadang jatuh cinta memang bisa mengubah seseorang menjadi bukan dirinya sendiri. "eh tapi kasihan si Arman yah." Kata Gina.

__ADS_1


"lah.. Kok aku?"


"iya, soalnya kamu kan jomblo." lanjut Gina sambil tertawa.


"bahhaha jomblo." Ujar Adi.


"eh denger, jomblo itu nasib sedangkan single itu juga nasib."


"lah, terus.. Sama aja dong." Kata Adi.


"iya sama aja, sama-sama ngenes." kataku sedikit bercanda.


Mereka bertempat tertawa, jomblo memang punya tugas mulia. Tugasnya untuk membuat pasangan-pasangan di luar sana berbahagia. Mulai bangetlah pokoknya.


"tapi emang gak ada cewek yg deket sama kamu Man?" tanya Wahid.


"banyak kok." balasku.


"terus kenapa saat ini masih ngenes aja?" pertanyaan kurang ajar dari Adi.


Adi tertawa dan melanjutkan. "udah kamu sama Jamilah aja, itu tuh yg kamu godain di stasiun."


Wahid tertawa mendengar perkataan Adi sementara Gina dan Ike tidak merespon karena mereka tak tau Jamilah yg di maksud.


"eh set**, gini-gini aku masih normal yah. Masa mau di jodoh-jodohin sama bencessssss. Iiiww ogah." kataku memperagakan gerakan laki-laki tulang lunak.


Sekali lagi mereka bertempat tertawa dan sekali lagi aku katakan ini lah tugas mulai seorang jomblo. "oh iya, kamu sama Ilham aja Man. Diakan juga masih jomblo." saran Gina.


"oh iya yah." sambung Adi.


"kurang ajar kalian."


Sementara kami bertiga masih berbicara tentang kejombloan, Wahid dan Ike terlihat asyik dengan pembicaraan merek sendiri. "aku mau ngasih sesuatu untuk kamu." ucap Wahid.


"apa tuh?" balas Ike.


Wahid memasukkan tangannya ke dalam saku kemeja yg berada di dadanya, dia terlihat mengambil sesuatu yg di sembunyikan dalam kepalannya.

__ADS_1


"ini untuk kamu."


Wahid mengeluarkan tangan kanannya dan memberikan sesuatu ke Ike, tapi tak ada apa-apa. Hanya tangan Wahid yg membentuk love poluler di kalangan K-pop, dimana jadi telunjuk dan jempol membentuk love <3.


Melihat itu Ike kembali tersipu malu dan tersenyum dengan tingkah kekasihnya itu.


Aku yg melihatnya sesarasa ingin mendaratkan pukulanku ke tembok yg ada di belakangku. Sedangkan Adi dan Gina tertawa melihat tingkah romantis itu. "udah, udah ya bro. Jangan gitu lagi di depanku. Entar aku baper." Kataku mulai kesal.


"diam, jomblo di larang protes." balas Gina.


Sedang asyik bercanda, Ica dan Irwan mendekat. "asyik banget, boleh gabung gak?" Kata Ica.


"tentu saja. Eh kenalin ini wanitaku." balas Wahid.


Ica bersalaman dengan Ike, di ikut Irwan.


"kalian berdua dari mana?" tanya Gina.


"dari tadi." jawab Ica tertawa.


Aku bisa melihat bahwa Irwan mulai berubah, perhatiannya ke Ica tampak berbeda dari sebelumnya. Mungkin kali ini dia benar-benar tulus, tapi aku tak mau berekspektasi tinggi terhadapnya karena reputasi hebat yg di miliki oleh dia di kampus sebagai penakluk wanita.


Hanya ada yg menjanggal di pikiranku, aku masih mengetahui bahwa penyebab Ivan putus dengan Dian adalah Irwan. Dalam hati aku masih bertanya apakah Irwan masih memiliki hubungan dengan Dian, kalau benar berarti ketulusan yg dia tampakkan adaku akhir-akhir ini hanya palsu.


"sorry guys, aku duluan." ucapku sambil berdiri dari kursi.


"mau kemana Man?" tanya Adi.


"aku ada urusan keluarga."


"apaan?" tanya Ica penasaran.


"adalah pokoknya, ya udah aku duluan." kataku sambil beranjak dari mereka.


Aku bergegas pulang meninggalkan mereka yg masih asyik berbintang satu sama lain. Rasanya masih ingin bersama dengan mereka tapi saat ini bersama dengan keluargaku adalah hal terpenting dari apapun.


-Bersambung-

__ADS_1


__ADS_2