
Aku seperti sedang halu mendengar Alfy menyebut namaku. Aku tak tau harus merespon apa, aku hanya tidak ingin terlalu percaya diri. Mungkin Arman yg dia maksud bukan aku orangnya.
Cukup lama suasana terasa hening, sampai Alfy akhirnya pamit berusaha menghindar dari situasi sangat canggung. Ku dengar dia mengucap salam lalu berbalik melangkah. Aku masih seperti patung, bibir yg kaku mencoba berkata tapi tak bisa.
Akhirnya ku angkat tangan dan ku tampar diriku sendiri dengan keras. Saking kerasnya Alfy berbalik karena terkejut dengan suara tamparan diriku sendiri. "Tunggu.. Alfy.." ucapku usai menampar diri sendiri.
Alfy menatap, dia sedikit terkejut karena melihat pipi sebelah kananku memerah akibat tamparan keras yg ku lakukan.
"Arman.. Apakah Arman yg kamu suka itu adalah.. Aku?" tanyaku perlahan.
"saya tidak mengenal Arman yg lain. Arman yg saya kenal cuma satu." terangnya.
"ja.. Jadii? Alfy... ka.. ka.. kamu su.. ka.. sa.. sama ak.. aku?" ucapku gagu.
"laki-laki memang tidak peka." ucapnya menunduk.
Cukup dengan ucapan itu, sudah membuatku bahagia setengah hidup. Tanpa sadar aku mengekspresikan rasa bahagia dengan berlebihan di depan Alfy.
"whhooaaaaa.. Yyesss yess... Waaaa." gumamku seperti orang kesurupan.
"Arman.. Kenapa?" tanya Alfy yg melihat tingkahku.
"e.. Hehe sorry Fy.. Jadi sekarang.. Kita?" ucapku sambil menunjuk ke arahnya.
Sekarang aku benar-benar bahagia. Hal yg ku kira mustahil, sekarang benar-benar terjadi. Meskipun aku seperti pengejut karena bukan aku yg menyatakan perasaan tapi Alfy lah yg menyatakanya duluan.
"Arman.. saya tidak tau perasaan kamu seperti apa ke saya.." ucap Alfy.
Belum selesai dia berbicara, dengan sumbringah aku memotong perkataannya.
"aku suka.. Aku juga SUKA SAMA KAMU. Dari awal aku sudah menaruh hati sama kamu, aku hanya tidak percaya diri, aku.. Aku hanya memendam. Tapi terima kasih, hari ini aku sudah lega.. Karena kamu juga punya rasa yg sama denganku. Aku.." ucapku penuh semangat.
"Arman.. Dengar dulu." Kata Alfy memotong perkataanku.
"e iya Fy, kenapa?" tanyaku
__ADS_1
Raut wajah Alfy memerah dan terlihat tak ingin mengangkat wajahnya, terus saja dia menunduk. "aku bilang, aku suka sama kamu. Tapi.. Itu tidak mengubah apapun, aku hanya mengakui perasanku saja." tegasnya.
"iiya Fy.. Aku juga suka sama kamu. Artinya kita sekarang sudah.."
"saya tidak bisa. Saya tidak bisa mengikuti apa yg kamu pikirkan sekarang." ucap Alfy.
"hah, kenapa Fy?" Tanyaku bingung.
"saya tidak bisa. Saya.. Apakah aku harus menjelaskan alasannya sama kamu." terang Alfy masih bingung.
"aku tidak mengerti, kamu suka sama aku dan aku juga suka sama kamu. Terus kenapa kamu gak mau kita jadian, apa yg salah dari itu?" kataku sambil mendekat.
Aku mencoba memegang kedua pundaknya untuk meyakinkan Alfy tentang perasanku.
"Maaf, jangan pegang-pegang." ucapnya sigap menepis tanganku yg ingin mendekap kedua pundaknya.
Melihat reaksi Alfy yg seperti itu, aku tersadar. Aku terlalu bahagia sampai lupa jati diri Alfy yg sebenarnya.
Iya, benar juga. Dia bukan perempuan sembarangan, dia bukan perempuan seperti kebanyakan, dia perempuan yg menjaga kehormatannya.
"apa karena pacaran itu haram?" tanyaku spontan.
Dia menyukaiku, ya.. Dia hanya suka tidak lebih. Lagipula dia terlalu sholehah untuk ku yg masih berkutat dengan dosa yg sama.
"sudah ku duga.. Dari awal aku memang tidak pantas untuk kamu, hal inilah yg aku hindari saat aku menyadari punya perasaan sama kamu." Ucapku tertunduk.
Entah mengapa, suasana jadi bertambah canggung. Aku yg tadi bahagia malah jadi benci dengan diri sendiri. Tanpa sadar aku berbalik dengan penuh kekesalan aku berjalan menjauh.
Saat aku mulai melangkah, Alfy tiba-tiba memegang lengan kemejaku. "Arman.. Tolong maaf. Aku tidak bermaksud mempermainkan perasaan kamu."
Wajahku menatap Alfy dengan penuh kesal. Tanpa berpikir panjang aku mengatakan semua kekesalanku padanya.
"terus maksud kamu apa? Jika kamu mengatakan perasaan seperti itu hanya untuk memertegas perasaanmu, Sebaiknya kamu tidak usah mengatakan kalau kamu suka sama aku, karena akhirnya aku seperti orang yg sedang di permainkan.. Jangan bercanda. Perasaanku tidak bisa menerima alasan yg kamu katakan." ucapku sedikit membentaknya.
Alfy terkejut mendengar hal itu. Ku lihat dia mulai mengeluarkan air mata. "apakah harus pacaran?" tanyanya seraya terisak.
"lantas apa? Apakah kita tetap harus berteman setelah apa yg kamu katakan kepadaku, setelah aku juga mengakui perasaanku? Apakah kamu hanya menganggap kita lebih layak berteman?"
Alfy masih tertunduk, dia terisak mendengar perkataanku dengan nada kesal kepadanya.
__ADS_1
"e.. Maaf Fy. Aku minta maaf.. Aku.." ucapku melihat dia sedikit mengeluarkan air mata.
"gak papa."
"Alfy, tidak bisakah kita menjalin hubungan? Aku benar suka sama kamu. Aku.. Aku janji bakal serius sama kamu, aku bakal nikahkan kamu nanti.. Aku.." ucapku dengan berbagai janji manis.
Dia menggelengkan kepalanya sementara tangannya masih memegang kemeja bagian tanganku.
"aku tidak tau harus bilang apa sekarang." Ujarku.
"aku tidak butuh ucapan manis, cukup buktikan." ucapnya lugas masih terisak.
"tentu saja, aku akan buktikan.. Aku serius." sekali lagi aku mengobral janji.
"cukup. Jika memang serius, silahkan datang ke rumah dan bicara dengan ayahku." ucap Alfy sambil melepas genggaman tangannya dari tangan kemeja lengan panjangku.
Sehabis mengakatan hal itu, dia berlari menjauh dariku. Meninggalkan aku yg masih mencerna yg dia katakan. Setelah dia pergi, aku hanya menatap senja hingga senja pamit menghadirkan malam, meninggalkan kegelisahan.
"jadi, dia maunya kamu nikah gitu." ucap Wahid merespon kisah yg aku ceritakan kepadanya.
"iya.. Begitulah."
"gila juga yah, udah mau langsung nikah aja." Ujar Wahid.
"kalau kamu ketemu dengan perempuan seperti dia, kamu pasti bakal ngerti." balasku.
"nah terus gimana?" tanyanya masih dengan rasa penasaran.
"dia melupakanku. Dia lupa siapa aku." ucapku.
"hah? Lupa? Maksudnya bro?"
"sudah bro, itu aja. Aku gak mau ingat tentang itu lagi." kataku sambil berdiri.
"eh Arman, nanggung. Kegangtung. Selesaiin dong ceritanya."
"sorry, aku buru-buru. Aku ada janji sama Mamaku." ucapku sambil pamit kepada Wahid yg terlihat tidak puas dengan kisah yg ku ceritakan padanya.
Aku meninggalkan Wahid yg masih kesal karena cerita yg aku katakan padanya belum selesai. Tentu aku ingin mengatakan yg sebenarnya tapi setelah ku pikir baik-baik, rasanya sakit jika harus mengingat hal perih itu. Sebab rasa sakitnya berlipat, aku hanya tak ingin di bayang-bayangi oleh rasa sakit dan bersalah sekaligus.
__ADS_1
-Bersambung-