Kamu & Senja

Kamu & Senja
Kepanikan


__ADS_3

(Bagian Flashback)


Di lorong koridor kampus yg sedikit padat, Ica berjalan lemas menunduk ke bawah sambil memegang sebuah berkas. Dia berjalan dengan tatapan kosong menuju ruangan Prof Armin, terus saja dia melangkah sampai pada akhirnya dia tersandung. Sesaat sebelum jatuh pundaknyapun di pegang oleh Ilham yg tiba-tiba saja sudah berada di belakangnya.


"lo gak apa Ca'." Ujar Ilham.


"Ilham. Aku gak papa." balas Ica sambil melepas dekapan Ilham.


"lo mau kemana?"


"ke ruangan Prof Armin."


"Ca' kok muka lo pucet sih?"


"gak, gak papa."


Saat lagi-lagi Ica ingin melangkah, dia tidak bisa menjaga keseimbangannya hingga dia sempoyongan dan hampir terjatuh jika saja Ilham tidak sigap memegangnya dari belakang.


"ya udah gua anterin lo yah."


"gak papa kok, aku bisa sendiri."


Yg menimpa Ica sekarang bukanlah penyakit yg bisa di sembuhkan dengan hanya meminum obat. Ini adalah penyakit yg banyak membuat atau merenggut hidup seseorang, hidup yg tadinya indah berubah seketika menjadi kelam. Ini adalah sakit hati, sebuah penyakit tak berobat dengan Indikasi galau berkepanjangan.


Ica yg sedari tadi mencoba berjalan normal terus saja gagal, akhirnya dia menyerah dan menerima bantuan dari Ilham untuk memegangnya sambil berjalan.


Dengan perlahan Ica berjalan dan Ilham yg berada di sampingnya mencoba membantu agar Ica berjalan tidak sempoyongan. Dia memegang bahu Ica, sementara orang yg berlalu lalang melihat mereka berdua. Sesekali ada yg menganggap bahwa mereka berdua adalah sepasang kekasih, sesuatu hal yg telah lama di inginkan oleh Ilham.

__ADS_1


Ilham terus saja membantu Ica dengan hati-hati terus memegang Ica yg terlihat lesu.


"Ilham."


Ilham menoleh ke depan.


"Gina."


"Ica." Kata Gina yg terkejut melihat Ica yg di pegang oleh Ilham.


"Gina." Kata Ica lesu.


"astaga Ca' kamu kenapa? Sakit?" Gina pun menghampiri Ica dan menggantikan Ilham yg sedari tadi memegangi Ica.


"oh iya Gin, kata lo tadi ada yg mau di omongin?"


"udah nanti aja. Biar aku yg bantuin Ica ke ruangan Prof Armin." jelas Gina terlihat ragu.


"ya udah kalau gitu."


Gina pun melangkah sambil membantu Ica sementara Ilham terus saja diam di tempat dengan wajah khawatirnya.


"Kamu beruantung Ca'." gumam Gina dengan nada suara yg ringan."


"iya, kamu ngomong apa Gin?" tanya Ica.


"ah gak. Gak ada Ca'." jawabnya menyangkal.

__ADS_1


Sementara itu di tempatku sekarang berada. Masih di sebuah Mall, tepatnya di sebuah bioskop. "gimana film yg tadi kak? Serem gak? Tanya Evelyn.


"hm, biasa aja sih." kataku sok kuat.


"biasa aja tapi teriak ketakutan." ledeknya sambil tertawa.


Hampir dua jam aku berada di dalam teater bioskop, hingga aku bisa lega karena akhirnya terbebas dari film yg aku benci. Terlepas dari itu sepertinya kali ini aku merasa senang bisa berdua dengan Evelyn. Walaupun dia sering jahil tapi aku senang bersamanya saat nonton film horor.


Setelah nonton tentu saja kami berjalan mencari sebuah cafe untuk sejenak duduk bercengkrama sebelum pulang. Ini adalah ide dari Evelyn, tentu aku tidak seagresif itu untuk mengajak dia nongkrong bersama.


Kami pun turun ke lantai satu dari lantai tiga dimana gedung bioskop itu berada. katanya Evelyn punya langganan Cafe yg berada di lantai satu mall ini yg minuman dan makanannya enak.


Setibanya di lantai satu, kami berjalan menuju Cafe yg di maksud oleh Evelyn. Ketika aku merasa bahwa hari ini berjalan dengan lancar, sesuatu yg membuatku panik akhirnya terjadi.


Di lantai satu mall ini aku berpapasan dengan seseorang. Orang itu adalah Alfy dan sepupunya Puput yg datang dari arah kanan dimana aku dan Evelyn berjalan.


Awalnya dia tidak melihatku dan akupun mencoba untuk menyembunyikan diri. Tunggu dulu, kenapa aku harus menyembunyikn diri? Kenapa aku harus takut jika Alfy milihatku? Bukankah dia bukan siapa-siapa?


Hingga akhirnya Puput melihat ke arahku dan memberi tahu Alfy tentangku. Mata kamipun berpandangan, meski hanya sekilas tapi tatapan Alfy saat itu terlihat kecewa.


Tidak mungkin, aku hanya geer saja. Untuk apa dia kecewa? Batinku bergemulat.


"hei e Fin?" sapaku.


Tunggu dulu, aku memanggilnya Fina? Bukan Alfy?


"Arman." balasnya terdengar berat.

__ADS_1


-Bersambung-


__ADS_2