Kamu & Senja

Kamu & Senja
Cemburu


__ADS_3

(Bagian Flashback)


Seseorang pernah berkata tentang hidup, jika hidupmu tak sesuai dengan keinginan maka lebih baik mati. Hanya saja ada yg salah dari pernyataannya, bagaimana mungkin seseorang hidup tidak sesuai dengan keinginannya? Sedangkan dia bebas memilih dalam hidupnya ingin berbuat apa. Yg jadi masalah adalah tidak adanya usaha atau kurangnya usaha untuk mendapatkan apa yg di inginkan.


Bisa di bilang 'banyaknya gaya tidak berbanding lurus dengan usaha' hingga kita gagal dan menyalahkan diri sendiri, percayalah kegagalan yg sebenarnya ketika kita berhenti berusaha dan tidak mau mencoba lagi.


Mungkin hanya itu yg bisa aku katakan kepada Ilham ketika kemarin dia terlihat murung di kampus. Aku bukan orang bijak yg bisa menasehati seseorang dan merubah orang itu menjadi optimis kembali, tapi aku juga tidak mau melihat Ilham seperti orang yg putus asa karena hal sepele. Hal sepele yg di sebut cinta, sepelekah hal itu? Itu tergantung dari persepsi orang masing-masing.


Belakangan Ilham tidak terlihat seperti dirinya lagi, dia sudah tidak bisa menyembunyikan perasaan kala melihat Ica, perempuan yg di cintainya bersama dengan laki-laki lain. Bisa di bilang ini adalah klimaks dari rasa yg tak pernah dia ungkap.


Singkatnya, Ilham sudah tidak bisa lagi menahan cemburunya. Dia risau tiap kali berada di kampus, aku tau dari tatapan matanya sangat jelas menggambarkan bagaimana perasannya saat ini. Jadi was-was jika harus bertemu Ica sedang berdua dengan Irwan, lelaki yg mengalahkan Ilham dan memenangkan hati perempuan yg dipujanya selama ini.


Seperti halnya kemarin, hari ini aku lihat dia seperti itu. Seperti ada sesuatu yg kosong pada dirinya, sesuatu yg menyebabkan lubang besar di hatinya. "Ham gimana kalau kamu ikut bantuin kita di kepanitiaan." Kata Adi.


"males bro." Balasnya singkat.


"kenapa Ham? Lemes amat." Ujarku.


"aman bro." Sekali lagi dia hanya menjawab singkat.


Aku melirik Adi memberi tanda tentang kondisi Ilham yg tidak seperti biasanya.


"Ica?" kata Adi.


"hi guys." Balas Ica.


"eh Ca' dari mana?" tanya ku.


"habis jalan sama Irwan. Katanya dia mau ke UKM dulu jadi aku mampir dulu ke sini sambil nungguin urusan dia selesai."


"ohh.." ujar Adi.

__ADS_1


"Gina mana?"


"hari ini dia gak ke kampus." Balas Adi.


"terus Wahid mana?"


"tau sendirilah dia Ca', orangnya kan sibuk terus." Jawabku.


Ica melihat Ilham yg dari tadi menatap smartphone miliknya tapi dengan tatapan kosong. "Ilham kamu kenapa? Kok kayak lemes gitu." Kata Ica.


"hm." Gumam Ilham yg di ikuti oleh angggukan kepala.


"Ham.. Ica gak nyapa kamu, dia nanya kamu kenapa?" Kataku.


"oh, gak papa." Balasnya datar.


Ica melihatku dan melihat Adi seolah memberi tanda dan bertanya tentang kondisi Ilham hari ini. Aku yg sebenarnya tau harus pura-pura tidak tau, begitu pun Adi memberi tanda kepada Ica kalau dia tidak tau apa-apa. "terus gimana penyambutan maba?" tanya Ica.


"huff... Terus malamnya kembali kerjain backdrop buat acaranya nanti. Kerja malam lagi." Kata Adi mengeluh.


"semangat guys." Kata Ica menyemangati.


Akhir-akhir ini Ica terlihat bahagia, aku pikir hubungan dia dengan Irwan berjalan dengan baik. Mungkin Irwan sudah sadar dan sekarang bisa membuat Ica bahagia tanpa harus mencari wanita lain lagi.


Aku senang Ica bisa seperti ini, hanya saja aku akan lebih senang jika Ilham juga bisa seperti Ica. Aku tidak ingin memihak kepada salah satu dari mereka, maski begitu tetap saja sebagai laki-laki aku sepertinya condong kepada Ilham karena perihatin melihat dia harus menahan perasaannya.


Belakang Ica juga sudah jarang berkumpul dengan kami semua, mengingat waktunya lebih banyak di habiskan bersama dengan Irwan. Ternyata benar, jika sudah memiliki seorang yg spesial maka waktu bersama teman akan berkurang.


Jika dua orang bersama atas dasar cinta, waktu mereka pasti akan di pakai untuk bersama membangun cinta, hingga mereka lupa bahwa waktu berharga itu juga sebaiknya di bagi kepada orang-orang yg ada di sekitar mereka. Setidaknya itu yg terjadi berdasarkan pengalamanku selama ini. "Ca' ayo.." Irwan datang dan memanggil Ica.


"iya tunggu aku. Guys aku pergi dulu yah." Pamit Ica pada kami.

__ADS_1


"iya Ca'." balasku.


Adi memberi tanda dengan tangannya sedangkan Ilham tak merespon sama sekali.


"Ham, lupain Ica." Kataku frontal


Mendengar itu Ilham menoleh kepadaku, dia menatapku tajam. "di kampus ini banyak cewek lain, kenapa kamu harus memenjarakan diri sendiri untuk memikirkan cewek yg sama sekali tidak memikirkan kamu." Jelasku sekali lagi.


Tatapan Ilham semakin tajam kepadaku, seolah tak terima dengan perkataanku.


"Arman udah." Kata Adi memberi tanda kepadaku agar aku tidak mengatakan hal yg tidak perlu.


Tapi menurutku aku harus mengatakan ini, aku harus mengeluarkan Ilham dari penjara yg di buatnya sendiri sejak dia berumur lima tahun.


"Ilham, sekarang kamu bebas memilih. Tapi kalau kamu mau tetap memilih Ica, maka jangan diam seperti pengecut." Karena terbawa suasana aku pun tak berfikir sebelum mengadakan itu pada Ilham.


Pada akhirnya Ilham tertawa mendengar perkataanku, tapi dia tidak tertawa karena lucu. Dia menertawakan dirinya sendiri. "gue balik dulu." Ilham berdiri lalu berbalik.


"Ham.. Ilham. Woy." Kataku mencoba menahannya.


Aku memegang punggungnya dari belakang dengan maksud meminta maaf karena memang perkataanku sudah keterlaluan. Apa yg ku katakan seolah aku tak mengenal Ilham, aku seolah orang asing yg baru mengenalnya. Mungkin seperti itu yg di rasakan Ilham ketika mendengar ucapanku.


Ilham tidak menghiraukanku dan mulai menjauh dariku. "huhhh.. Kekanak-kanakan banget sih anak itu." Kataku kesal.


"wajar sih bro. Biarin aja dia berpikir." Balas Adi.


Sepertinya Adi lebih mengerti bagaimana perasaan Ilham di banding denganku. Bagaimanapun dia adalah temanku, aku harus meminta maaf kepadanya.


Sepertinya pertemananku kali ini sedang di uji, kadang cinta dan pertemanan seperti kutup Utara dan kutup Selatan yg tak bisa bertemu. Harus ada yg mengalah, harus ada yg meninggalkan salah satu kutup agar hubungan tak rusak. Apa lagi ini hanya masalah sepele, iya sepele menurutku tapi menurut Ilham mungkin tidak. Olehnya, aku harus mengalah dan meminta maaf kepadanya.


"Man kata Wahid sebentar lagi rapat, kita di suruh kumpul ditempat biasa." Kata Adi yg mendapatkan pesan WA dari Wahid.

__ADS_1


-Bersambung-


__ADS_2