Kamu & Senja

Kamu & Senja
Ibu


__ADS_3

(Bagian Flashback)


Hari ini adalah hari spesial bagi keluargaku, karena kami akan pergi ke suatu tempat untuk berkunjung setidaknya mengobati rindu yg telah lama meradang.


Sampai di rumah, aku melihat Ibuku masih bekerja. Dia bekerja sebagai penjahit untuk menghidupiku dan Raihan. Uang tunjangan Ayahku tiap bulan juga sangat membantu kebutuhan kami bertiga. "Ma, sudah waktunya. Jangan sampai keburu malam." kataku.


"iya nak. Kalau gitu Mama ganti baju dulu." jelasnya.


Setelah ganti baju, kami bertiga lalu naik kendaraan umum (angkot) menuju tempat yg membuat setidaknya rindu kami sedikit terobati.


Cukup lama kami di jalan, akhirnya sampailah kami pada sebuah jalan dan kami masih harus berjalan masuk ke dalam jalan itu karena angkot tidak masuk ke dalam sini.


Kami berjalan tidak terlalu jauh, sekitar 400 meter dan tempat yg ingin kami tuju sudah terlihat. Kami masuk sambil berjalan perlahan karena ada banyak semak-semak dan rumput yg terlihat panjang.


Di kiri dan kanan terdapat batu nisan, dan terlihat sebagian orang jongkok di batu nisan, ada yg berdoa dan ada yg sekedar membersihkan sekitaran kuburan di sini. Kami berada di sebuah pemakaman umum, kami datang ke sini untuk bertemu Ayahku.


Sampailah kami pada satu batu nisan yg bertuliskan Ahmad Dahlan. Batu nisan bertuliskan nama Ayahku, setelah itu Ibuku terlihat menangis sambil berdoa dengan nada yg lirih. Raihan yg melihat Ibu menangis juga ikut menangis di buatnya.


Aku memanjakan doa untuk Ayahku, aku berdoa agar dia senantiasa di jauhkan dari azab kubur dan siksa serta di terima semua amal ibadah yg telah di kerjakannya.


Setelah berdoa, Ibuku terlihat berbicara kepada Ayah meski aku sangat tau bahwa pembicaraan ini tentu sia-sia sebab Ayahku tak dapat mendengar suara Ibuku. Ayah sudah berada di alam yg berbeda, namun bukan itu masalahnya.


Yg ku tau cinta mereka berdua suci dan abadi, sering aku mendapati Ibuku berdoa ketika selesai shalat di rumah. Dia berdoa agar dirinya di pertemukan dengan Ayahku di surga.


Romantis, iya menurutku. Sebuah cinta yg tidak hanya berakhir di dunia tapi akan berlanjut di akhirat, akan berlanjut di surga. Dan aku selalu mengaminkan doa Ibu ketika aku mendengar dia berdoa seperti itu.


Aku melihat Ibu tak kuasa menahan air matanya, tentu karena lelaki yg telah menikah dengannya harus meninggalkan dia terlebih dahulu. Tapi di balik tangis seperti itu, aku yakin Ibu sangat kuat. Di buktikan dengan usahanya yg selalu memberikan aku dan Raihan perhatian sebagai seorang Ibu dan sebagai seorang Ayah.


Aku tak tau hidupku akan seperti apa jika Ibuku juga pergi meninggalkanku, aku tak tau bagaimana jadinya jika aku hidup tanpa Ibu.


Aku selalu berfikir, bagaimana jika Ibuku meninggal saat ini? Bagaimana jika Ibuku meninggal besok? Lusa? Minggu depan? Bulan depan? Tahun depan? Apakah aku bisa hidup tanpa Ibu? Apa kalian bisa hidup tanpa Ibu? Coba tanyakan pada hati, sesayang apa kalian dengan Ibu, jika sayang maka katakan sebelum terlambat.


Sebelum raganya kaku tak bernyawa, sebelum mulutnya tak bisa lagi mengomeli tingkah kalian, sebelum Ibu tak bisa lagi memeluk kalian dengan hangat, katakanlah.. Katakan sebelum terlambat.


Ibu yg sedari tadi jongkok memegang batu nisan Ayahku kemudian berdiri. "Mama, Raihan rindu Ayah." ucap Raihan.


Ibu melihat Raihan, dia memeluk Raihan dan aku pun memeluk mereka berdua, keluarga yg sangat aku cintai. "Jangan nangis sayang, ingat hari ini hari ulang tahun Bapak. Jangan sampai Bapak sedih melihat kamu dari langit sedang menangis." Kata Ibu menenangkan Raihan.


"Dek. Ingat pesan Ayah untuk jadi anak laki-laki yg tidak cengeng. Kita harus bisa kuat agar bisa menjaga Mama." jelasku.


"iya kak." jawabnya terseduh-seduh.


Setelah puas meluapkan rindu kepada Ayah, Kamipun memutuskan untuk pulang. "baiklah kalau begitu, ayo pulang. Ujar Ibu.


Kami berjalan meninggalkan Ayahku, mungkin di bawah tanah Ayahku sedang kedinginan tapi aku selalu berdoa agar dia senantiasa mendapatkan kehangatan dari-Nya.


Semakin menjauh hingga akhir kami keluar dari gerbang pemakaman umum ini, saat melewati gerbang aku berpapasan dengannya, dengan perempuan yg telah mencuri hariku.


"Alfy.." kataku menyapanya.

__ADS_1


"loh, Arman." balasnya.


Ibuku melihat Alfy dan mereka berdua saling menatap. Akupun memperkenalkan Alfy kepada Ibuku dan mereka berdua berjabat tangan. Alfy dengan sigap menjabat tangan sambil menciumnya, hal yg biasa di lakukan seorang anak kepada orang tuanya." cantik yah nak Alfy." Kata Ibu


"tante bisa aja. Jadi malu saya." balas Alfy sedikit terlihat malu.


Aku yg melihat tingkah malunya merasa ingin memeluk dia saat itu karena gemas. "oh iya Arman, kenalin ini sepupuku, namanya Puput." Kata Alfy memperkenalkan sepupunya.


Aku dan Puput berkenalan, saat ingin menjabat tangan dia mengelak. Tentu aku tau, karena kami berdua bukan mahram. Sepertinya Puput dan Alfy tidak jauh beda, mereka berdua seorang muslimah yg taat terlihat dari pakaian mereka.


Melihat sepupu Alfy, aku mengambil kesimpulan bahwa keluarga Alfy adalah keluarga yg religius.


Sebenarnya aku ingin langsung pulang tapi entah mengapa Ibuku malah banyak berbincang dengan Alfy, entah mengapa mereka berdua nyambung dalam pembicaraan. "jadi Nak Alfy ini sudah kenal Arman berapa lama?" tanya Ibu yg mulai mencoba menjodoh-jodohkan anaknya


"setahun tante kalau saya gak salah ingat." jawab Alfy.


"menurut Alfy sendiri, Arman gimana orangnya?"


"hm, baik tante, perhatian juga ke teman-teman yg lain, trus pekerja keras kayaknya sih. Hehe."


"cocok gak sama kamu?"


"maksudnya tante?" Alfy mulai panik.


 


"cocok gak buat jadi suami kamu?"


 


Alfy tak menjawab dia hanya tersenyum sementara Puput di sampingnya terus saja berkata "cie cie."


"Mama bercanda nak. Jangan di masukin ke hati yah." jelas Ibuku kepada Alfy.


"heheh iye tante." balas Alfy yg agak malu.


Sekali lagi melihat tingkah malunya membuatku ingin memilikinya. "tapi kalau bisa sih tante mau kamu jadi istrinya Arman?" tanya Ibuku yg lagi-lagi membuat Alfy semakin malu dan tak bisa berkata-kata.


"Ma... Mantapppp, aku juga mau nikah sama Alfy." Kataku DALAM HATI.


"ya ampun Ma, jangan gitu ah." kataku pada Ibu.


"ya kan Mama mau yg terbaik untuk kamu nak."


"iya iya, Alfy berhak dapat yg lebih baik dari aku Ma."


Entah mengapa aku mengatakan itu, perkataan itu keluar dari mulutku begitu saja. Dan ku lihat saat aku berkata seperti itu ekspresi Alfy tiba-tiba berubah yg tadi malu menjadi serius. "Maaf ya Nak Alfy, si Arman ini memang tidak peka." Kata Ibuku.


"udah Ma udah. Alfy maaf yah. Gak usah di pikirin kata Ibuku. Emang dia orangnya gitu. Maaf ya." jelasku.

__ADS_1


"iya. Gak papa. Aku seneng kok." balas Alfy.


"kalau gitu kami pulang dulu yah."


"iya Arman. Hati-hati di jalan."


"assalamualaikum." kataku pamit.


"waalaikumsalam." balas Alfy dan Puput.


Aku pergi berjalan meninggalkan mereka berdua. Ibuku yg sedari tadi menggoda Alfy tak henti-hentinya membicarakan Alfy kepadaku. "Kamu suka kan sama dia?" tanya Ibu.


"paan sih Ma."


"kakaknya cantik. Kalau kak Arman tidak mau untuk Raihan saja." Kata Raihan dengan kepolosannya.


"eh anak kecil sekolah yg bener." balas ku mulai kesel.


"udahlah jujur aja nak. Suka kan? Suka yah? Ayo loh?" Kata Ibu yg masih saja menggodaku.


"gak Ma. Gak mungkin. Titik." kataku mengelak.


Dengan Isengnya Ibuku terus saja menggoda sampai kami menjauh dari pemakaman umum tersebut.


*sementara itu.


"hoooo jadi dia orangnya." Kata Puput.


"orang apa?" balas Alfy.


"orang-orangan sawah." Kata Puput tertawa.


Setelah kami pergi, Alfy dan Puput masuk kedalam pemakaman umum itu, dia menghampiri makam Kakaknya yg bernama Imam. Mereka berdua terlihat berdoa di samping makam kakaknya itu.


"Kamu tau gak? Saat dia manggil nama kamu tadi. Aku langsung ingat Mas Imam." Kata Puput.


"dulu, yg manggil kamu kayak gitu cuma mas Imam kan? Teman kamu itu benar-benar ngingetin aku dengan Mas Imam." sambung Puput.


"waktu aku pertama kenalan dengan Arman, dia langsung manggil aku kayak gitu dan saat itu aku juga langsung ke inget sama Kak Imam. Setiap dia panggil aku dengan nama itu, pasti aku ke ingat terus sama Kakak ku." jelas Alfy.


"Kamu suka yah sama dia?" tanya Puput.


"ih, paan sih kakak." jawab Alfy.


"Kamu itu sudah aku anggep adikku, jadi aku tau banget kamu tuh kayak apa." Kata Puput memegang tangan Alfy.


"aku gak yakin kak. Sekarang aku hanya hanya berdoa agar aku mendapatkan pasangan yg sholeh dan bisa menjaga aku sampai ke Jannah-Nya." balas Alfy.


"aamiin."

__ADS_1


"ya sudah kak, kita pulang. "Mereka berdua meninggalkan makam tersebut, sebuah makan dengan batu nisan bertuliskan Muh. Imam Mansur.


-Bersambung-


__ADS_2