Kamu & Senja

Kamu & Senja
Keraguan Hati


__ADS_3

(Bagian Flashback)


Aku melihat langit, begitu indah. Warna biru dengan putihnya awan terlihat selaras dan saling menyempurnakan. Aku yg saat ini berbaring di atas rumput lapangan terus saja memandang indahnya langit.


Nafas yg sedikit sesak karena kelelahan dan kelenjar keringat masih terasa lengket di tubuhku. Tiupan angin sore sedikit mengurangi lelah dan membuat nyaman.


Bermaksud ingin menikmatinya akupun menutup mata, dalam gelap aku meyakinkan perasaanku. Alfy? Mungkin aku harus menyerah padanya. Fikiranku terus saja berkutat dengan namanya.


"Arman." panggil Victoria salah satu temanku.


Aku membuka mata, aku lihat Victoria yg menyodorkan sebotol minuman dingin padaku. "tank u." balas ku sambil meraih minuman itu.


"Kata Sensei latihan selesai sampai sini. Anak-anak yg lain udah ada balik ke sekretariat." jelas Victoria.


Aku bangun dari tidur dan duduk memandang Victoria. "oh iya, aku masih ingin di sini. Duluan aja." kataku padanya.


"ok deh." balasnya.


Victoria meninggalkanku sendiri, aku melihat postur tubuh proposionalnya. Meskipun dia perempuan tapi aku tidak bisa mengalahkannya dalam sparing satu lawan satu saat latihan tanding dengannya.


Sore ini, adalah jadwal latihan Karate. Latihan kali ini cukup menguras tenaga. Sepertinya aku ingin berada di lapangan ini lebih lama untuk memulihkan tenagaku yg habis. Sebulan belakang latihan UKM Karate lebih intensif dari biasanya. Itu Karena pada libur semester nanti akan ada kejuaraan antar kampus.


Kejuaraan yg di ikuti oleh semua mahasiswa yg bercita-cita jadi atlet, tak terkecuali Victoria dan beberapa temanku yg memang serius untuk menempa diri menjadi atlet di UKM Kampus. Aku sendiri tidak terlalu memikirkan hal itu, karena sedari awal tujuanku hanya untuk kebugaran.


"woy bro, napa masih di sini?" Aku yg sedari tadi merenungi hidup dengan melamun di tengah lapangan hijau di kagetkan oleh Abel.


"Abel."


"ngelamun aja."


"iya nih. Badan pegal-pegal." kataku sambil memijat betis dan lengan.


"wajarlah bro, lu kan latihan gak rutin kayak anak-anak yg lain."


"iya nih. Sorry ya bro."


"kalian berdua, belum balik?" tanya Yusuf dari belakang.


"belum bro." jawab Abel.


"aku masih betah di sini." kataku


"oh, ya udah aku gabung kalau gitu."


"ada apa bro? Tumben lu lesu habis latihan?" tanya Abel.


"iya, biasanya kamu kan yg paling semangat." ujarku.


"gak papa."


"santai bro, gue yakin lo bakal lolos kualifikasi untuk kejuaraan nanti." Kata Abel menenangkan.


"mudah-mudahan sih." balas Yusuf.


"asli ya, lo gak kayak biasanya bro."


"iya, kenapa sih?" tanyaku penasaran.


"gue tau nih, biasanya kalau cowok lagi kayak gini pasti gara-gara cewek." terang Abel.


"aku habis di tolak." jelas Yusuf tersenyum.


"tolak? Lah bukannya lo bilang gak mau pacaran bro." sekali lagi Abel penasaran.


Bukan tanpa alasan Abel bertanya seperti itu, Yusuf sama dengan temanku Sabri. Yusuf sering di panggil oleh teman-teman bahkan senpai dan sensei sebagai Uztad karena dia adalah orang yg selalu menasihati teman-teman yg lain akan agama.


"aku gak ngajak dia pacaran bro."


"terus lo ajak nikah gitu?"


"waduh kalau kasusnya kayak gini, aku gak bisa ikut campur nih. Takut salah ngomong." kataku.


"aku ngajakin dia ta'aruf tapi dia nolak." Kata Yusuf.


"emang siapa bro?" Tanya Abel.


"teman angkatanku di Jurusan."


"dari jurusan sastra Indonesia?" tanyaku.


"iya bro."

__ADS_1


"gue bingung, emang bedanya pacaran sama taaruf beda yah?" tanya Abel.


"beda bro, walaupun banyak sih orang ngaku taaruf berkedok pacaran. Tapi prosesnya beda dari yg kebanyakan orang tau." jelas Yusuf.


Yusuf pun berbicara panjang lebar dan memulai lagi perannya sebagai Uztad yg menerangkan pemahamannya tentang agama islam, topik yg dia angkat kali ini adalah taaruf.


"oh gitu.." kataku sok paham.


"buset dah.. Tampang lu yg kayak gini plus lu ahli agama aja di tolak bro. Apa lagi gue sama Arman." Kata Abel.


"eh *******, tampangku gak hancur-hancur amat." Kata ku membela diri.


Yusuf tertawa, dia bangkit berdiri. "tapi, masih banyak perempuan yg lain." katanya.


Aku melihat dia yg berkata seperti itu mulai berpikir. Segampang itu cari perempuan lain?


"jadi ceritanya lo udah move on." tanya Abel.


"kenapa aku harus memikirkan perempuan yg sudah menolakku? Memang sih kecewa tapi sudahlah." jelas Yusuf.


"syiap bro." Kata Abel memberikan dua jempolnya pada Yusuf.


"tapi bro, kamu ngajak dia buat ta'aruf kan artinya kamu mau serius sama perempuan itu. Artinya kan kamu cinta sama dia, masa iya segampang itu kamu lupain." kataku mencoba memahami pikiran Yusuf.


"cinta sih cinta tapi kalau nyakitin diri sendiri buat apa? Lagian aku sudah di tolak, ya udah. Cinta sesimple itu ngapain aku repot-repot mengejar orang yg tidak suka denganku." jelas Yusuf sekali lagi.


"tapi bro.."


Belum selesai aku berbicara, Yusufpun memotong perkataanku. "Arman.. Tau gak kenapa banyak orang yg terluka karena cinta?" Tanyanya.


"Kenapa?"


"karena banyak orang yg jatuh cinta, tapi mereka tidak tau diri, mereka tidak bercermin. Mereka memaksakan cinta sepihak mereka untuk orang yg menutup hatinya untuk mereka. Sekarang aku sudah di tolak, kenapa aku harus berjuang untuk orang yg menolakku."


Aku yg mendengar perkataan Yusuf sekali lagi berfikir, memikirkan tentang perasaanku. Terbesik agar seharusnya aku melupakan niatku, niat untuk mencintai Alfy. Menyerah pada perasaanku yg mungkin sudah tertolak sejak aku mencintainya.


"ya udah aku duluan." Kata Yusuf.


"siyappp pak Uztad. Makasih atas nasehatnya kali ini." balas Abel dengan nada bercanda.


"aku yakin, perempuan yg di ajak Yusuf untuk ta'aruf itu pasti perempuan yg baik-baik sama kayak Yusuf. Bener kata kamu tadi Bel, laki-laki kayak Yusuf aja di tolak apa lagi aku." gumamku


"hah? Kenapa lo?"


Entah mengapa semakin hari, yang bertambah besar bukan perasaanku pada Alfy, tapi yg bertambah adalah keraguanku pada perasaanku itu. Setiap hari logikaku kian menonjol ketimbang hatiku. Logika yg menjelaskan bahwa aku tidak pantas untuk Alfy.


Yg ada aku hanya terus memikirkan agar aku melupakan Alfy, setidaknya itu keinginan logikaku tapi hatiku berkata sebaliknya. Yg jadi masalah adalah ketakutanku untuk mendapkan jawaban, ketakutanku di tolak oleh Alfy saat aku mengakui perasaanku padanya.


Aku berjalan meninggalkan sekretariat UKM setelah membersihkan diri dan mengganti pakaianku. Aku berjalan menuju parkiran motor yg berada di sekitar komplek UKM Kampus.


Di depan perkiraan itu aku bertemu dengannya, dia baru saja turun dari motor maticnya dan sekarang dia berjalan menuju ke arahku. Aku bingung, tak tau harus menyapa seperti apa. "Arman. Mau pulang yah?" tanyanya.


"i.. Iya Fy."


"kenapa ? Kayak gagu gitu?"


"gak papa, ya udah aku mau pulang dulu."


"hm iya, hati-hati."


Dia benar-benar terlihat cantik, aku benar menganguminya. Belum pernah aku merasa seperti ini di depan perempuan kecuali di depannya. Selain cantik dia juga baik, dia adalah gambaran perempuan idamanku.


Selama ini aku tidak bisa membayangkan kriteria perempuan idaman jika seseorang bertanya padaku, tapi sekarang jika ada yg bertanya mungkin aku akan mengatakan bahwa Alfy lah orangnya. Dia benar-benar kriteria idamanku, dia cantik. Tapi bukan cantiknya yg membuatku jatuh hati, karena aku jatuh hatilah makanya dia terlihat cantik dengan pakaian tertutupnya itu.


Iya, pakaian tertutupnya. Dia perempuan baik yg sholeha, berbeda denganku. Aku tidak pantas untuknya, aku benar-benar tidak pantas. Aku mungkin harus memendam perasaan ini dan ku biarkan larut hingga tak tersisa.


Aku melihat dia berjalan meninggalkanku, aku tetap saja menatap punggungnya dan tenggelam dengan fikiran-fikiranku. Aku kembali teringat perkataan Idan waktu itu, terus saja sampai seseorang menepuk punggungku. "Arman."


"ya.. Ilham." ucapku terkejut.


"ngapain lu di sini?"


"aku mau balik, tadi habis latihan karate."


"oh."


"kamu sendiri Ham, mau kemana?"


"gua mau ke UKM Theater. Biasalah."


"oh gitu. Ham, gimana Ica?"

__ADS_1


Ilham terlihat lesu ketika aku menyebut nama Ica, dia menarik nafas panjang. "entar malam gua ke rumah lu deh."


"ke rumah?"


"iya, sekalian gue ceritain semua ke elu Man."


"ok lah."


Seperti biasa jika Ilham ingin mengatakan sesuatu pasti dia akan ke rumahku untuk bercerita panjang lebar. Apa lagi saat ini aku tau bahwa Ica sangat terpukul karena diperlakukan seperti mainan oleh Irwan.


Irwan sendiri berhasil mengelabuiku, aku sempat percaya bahwa dia telah berubah tapi ternyata memang dasarnya dia ahli bersandiwara apa lagi jika di hadapkan pada perempuan. Sesuai dengan julukannya di kampus, sang penakluk wanita.


Aku pun berpisah dengan Ilham, saat aku ingin menaiki motorku, tiba-tiba smartphoneku berdering. Akupun mengambil smartphone yg berada di saku kanan celanaku. Aku menatap layar dan tertera nama Evelyn. "halo."


"halo kak."


"iya, kenapa?"


"kak lusa jadi kan ya, aku cuma mau mastiin aja." tanya Evelyn.


"iya, jadi kok."


"makasih kak." katanya dengan gelagat tertawa.


"Kamu ketawa yah?" tanyaku.


"ih siapa yg ketawa coba." katanya menyangkal.


"tuh kan cengar cengir, ayo ngaku? Kataku menggodanya.


"gak, kak Arman tuh yg cengar cengir."


Aku dan Evelyn bisa di bilang sudah akrab, pertemuan kami dua minggu yg lalu membuat kami semakin dekat. Bahkan hampir setiap hari kami bertukar pesan di via WA.


Aku sebenarnya bukan tipe yg mau Berlama-lama membalas pesan seseorang, tapi semanjak mengenal Evelyn aku banyak membahas hal yg sebenarnya sepele tapi entah mengapa itu membuatku nyaman.


Mungkin setiap percakapan yg aku lakukan dengannya cukup nyambung, dia pun sering curhat tentang masalah-masalahnya di kampus dan tak jarang pula aku menjadi pendengar yg baik untuknya.


Terlebih lagi lusa kami ada janji untuk bertemu di salah satu Mall. Katanya dia punya dua tiket nonton film tapi temannya yg semula ingin dia ajak nonton membatalkan janjinya karena urusan keluarga, alhasil Evelyn mengajakku sebagai gantinya dan anehnya aku menyanggupi walaupun film yg di nonton adalah film horor, genre film yg aku tidak suka.


"ya udah kak, jangan lupa lusa yah."


"iya, kita ketemu di sana kan?"


"kalau aku minta jemput boleh gak?"


"hah, jemput?"


"iya kak."


"aku sih gak keberatan, tapi aku cuma ada motor. Gak ada mobil." kataku ragu.


Mungkin aku mengatakan hal ini, karena aku tau bahwa Evelyn berasal dari keluarga yg berada. "ya ampun kak, emang yg minta di jemput pake mobil siapa." jawabnya ketus.


"hehe iya iya maaf. Jadi kamu di jemput nih?"


"kalau Kak Arman gak keberatan?"


"keberatan? Emang kamu berat?" tanyaku bercanda.


"ih kak Arman. Jadi kesel." ujarnya manja.


"hahaha. Iya iya aku jemput. Jangan kesel gitu."


"awas loh aku tunggu."


"eh tapi aku gak tau alamat rumah kamu."


"entar aku kirim lokasinya kak."


"ya udah kalau gitu." kataku


"ya udah kak." Balasnya


"ya udah." responku


"udah." balasnya


"udah ya." ujarku


"iya." katanya.

__ADS_1


Akupun mematikan telfon, entah mengapa untuk mengakhiri panggilan darinya terasa begitu sulit. Dengan senyum yg terukir di wajahku, aku menyalakan motor.


-Bersambung-


__ADS_2