
(Bagian Flashback)
Seseorang yg galau karena putus cinta akan sulit move on, itu kata sebagian orang, sebagiannya lagi berkata move on dari orangnya itu mudah dan yg sulit adalah move on dari kenangan indahnya. Keduanya benar, tapi sekali lagi tiap individu berbeda.
Begitupun bagi Ivan, sekarang dia terlihat lebih santai dari sebelumnya. Mungkin karena perkataanku tempo hari yg menyuruh agar dia lebih banyak menghabiskan waktu bersama teman-temannya di banding menyendiri, karena ketika sendiri potensi untuk mengingat kembali kenangan bersama kekasih jauh lebih besar. Dan pada saat kita mengingat kembali maka kita akan di buat galau karena kenangan indah yg telah berlalu itu.
Ivan sedikit demi sedikit mulai terbiasa sendiri, mulai terbiasa tanpa panggilan sayang, mulai terbiasa tanpa pesan sayang dan telfon dari orang tersayang.
Seperti kali ini, dia berjalan dengan penuh percaya diri di koridor kampus. Dia sedang dalam perjalanan ke perpustakaan Universitas mencari sebuah buku untuk tugas kuliahnya. Dia bersama dengan salah satu teman dekatnya Mario. "hari ini gue lihat elu udah baikan." Kata Mario memandang Ivan yg berjalan di sampingnya.
"iya bro. Hidup kan terus berputar, masalah yg datang pasti bakal hilang."
"sok bijak banget sih lu bro."
"hahaha. Biasa aja."
"tapi emang ya asli, orang galau itu biasanya tiba-tiba jadi orang paling bijak di dunia, tiba-tiba langsung jago aja merangkai kata gitu."
"ah gak juga."
"buktinya elu barusan." Kata Mario tertawa.
"hahaha."
Tak sadar karena sedang ngobrol, Ivan bertabrakan dengan perempuan yg berjalan dari arah berlawanan darinya.
Tumpukan buku yg di pegang oleh perempuan itu terjatuh, Ivan yg meminta maaf mencoba membantu mengambil buku-buku itu. "Maaf mba, saya gak lihat. Ini bukunya." Kata Ivan memberikan salah satu buku ke perempuan itu.
"Maaf Saya juga tidak lihat, terima kasih." balas perempuan itu.
Saat itu, saat Ivan merasa bahwa dia telah kehilangan hatinya dan membutuhkan waktu lama agar kembali jatuh cinta, saat Ivan berusaha untuk tidak lagi mengingat Dian. Tiba-tiba hatinya bergetar, matanya terus saja memandang wajah perempuan itu, perempuan yg dia tabrak. Matanya tak berkedip, saat itu jantungnya berdecak lebih cepat dan waktu terasa lambat. "Maaf, saya permisi." Kata perempuan itu meninggalkan Ivan dan Mario.
__ADS_1
"Van.. Ivan.. Oi."
"iya iya, kenapa?"
"matamu itu... Haha." Kata Mario tertawa.
"ha, hehe."
"cantik ya?"
"iya cantik. Eh maksudku itu.. Anu.." Ivan mulai salah tingkah.
"hahaha dasar kau, baru aja putus udah coba lirik-lirik cewek lain."
"ngak itu, anu.. Cuma bantuin tadi."
"alah... Alesan aja lu."
"tapi perempuan itu cantik. Kamu kenal dia gak?"
"semoga aja aku bakal ketemu dia lagi." Kata Ivan berharap.
"ngarep lu jomblo." balas Mario tertawa.
Mereka berdua melanjutkan berjalan menuju perpus, sekarang Ivan terus saja memikirkan perempuan yg baru dia temui. Dia mengingat suara lembut perempuan itu ketika minta maaf, dia mengingat betul bentuk bibirnya ketika minta maaf. Ivan benar-benar terlena dengan perempuan itu.
Ivan jatuh cinta pada pandangan pertama dengan perempuan itu, apakah bisa seperti itu? Iya bisa, Ivanlah buktinya sekarang.
~~
Malam yg dingin di sebuah beranda rumah, dua orang sedang duduk. Yg satu laki-laki dan satunya perempuan, dari dekat ternyata perempuan itu adalah Dian, laki-laki yg berada di sebelahnya adalah Irwan.
__ADS_1
Dian terlihat masih sedih, dia menyandarkan kepalanya di bahu Irwan. Irwan terlihat mencium kepala Dian, dia berusaha membuatnya tetap tegar dan tidak sedih karena telah putus dengan Ivan. "aku sayang sama dia." ucap Dian.
"iya iya, udah. Masih banyak laki-laki lain sayang." balas Irwan.
"sayang? Apa kamu juga bakal ninggalin aku?" Dian menganggakat pandangannya dan melihat ke arah Irwan.
"ya gue.. Gue.."
"kenapa? Kok kamu gak jawab?"
"gue harus jawab apa? Lu tau sendiri kan hubungan kita tidak lebih dari hubungan gelap. Dari awal kita berdua berhubungan cuma buat cari kepuasan pribadi, gak lebih." jelas Irwan.
Dian menjauh dari pelukan Irwan. "oh jadi setelah aku di tinggalin Ivan, sekarang kamu mau ninggalin aku juga?" tanya Dian.
"ya sekarang apa yg lu harapkan dari gue?"
Dian menunduk, dia tak bisa menjawab. "Dian lihat gue, kita berdua tidak sedang dalam hubungan cinta. Jujur aja gue gak cinta sama elu, gue deket sama elu karena elu cantik, elu sempurna dan elu.."
"jadi seperti itu kamu memandang aku?"
"iya gue jujur dan sepertinya saat ini gue harus menjauh dari elu."
Dian kehabisan kata untuk mengekspresikan perasaannya, dia kembali menangis. Entah belakangan ini dia sering menangis, menangisi penyesalannya. "udah lu gak usah nangis Dian, cewek secantik elu pasti bakal nemuin cowok baru."
"please, jangan tinggalin aku. Aku udah gak punya siapa-siapa lagi kalau kamu juga pergi." Kata Dian memelas.
"Dian gue gak bisa lagi kayak gini. Sejujurnya saat ini gue jatuh cinta sama cewek, dia adalah cewek pertama yg ngeliat gue bukan dari tampang. Cewek itu berhasil buat gue jatuh cinta dan untuk itu gue gak mau nyakitin dia. Gue bakal berhenti deket sama cewek termasuk elu." jelas Irwan.
"Kamu jahat.. Dasar cowok brengsek." Dian mendekat dan memukul-mukul Irwan sambil terus menangis.
Irwan hanya diam, tidak seperti biasanya. Irwan terus memandangi Dian dan meminta maaf.
__ADS_1
"maafin gue Dian. Lu layak bahagia dan gue juga ingin jatuh cinta yg sebenarnya." Kata Irwan pergi meninggalkan Dian di teras rumahnya.
-Bersambung-