
(Bagian Flashback)
Di tengah keramaian ini Aku, Wahid dan Adi sedang menunggu seseorang. Kami sedang berada di salah satu pusat perbelanjaan. Kami duduk di kursi umum tepat di tengah orang-orang yg berlalu lalang. Sambil melihat jam aku mulai gelisah.
Kami berada di sini tidak ingin berbelanja tapi ingin menghibur diri di salah satu bioskop yg ada di pusat perbelanjaan ini. "lama banget.." ucapku kepada Adi yg sedang menunggu kenalannya.
"ya elah sabar..." Kata Adi yg juga sesekali melihat jam tangannya.
"nungguin siapa sih?" Tanya wahid.
"biasa, adalah pokoknya." Balasnya.
Kami bertiga sebelumnya sudah janjian untuk menonton salah satu film laga di bioskop pusat perbelanjaan yg saat ini sedang tayang. Bukannya kami tidak mengajak Ica, Gina dan Ilham tapi mereka memang tidak menyukai Film yg bergenre action.
Ilham menyukai film komedi sementara Ica film drama percintaan dan Gina menyukai film horor atau sejenisnya.
Cukup lama kami menunggu akhirnya yg di tunggu Adi datang juga. Dia Rini, mahasiswi sastra Inggris yg di temui Adi beberapa pekan lalu waktu kami janjian untuk joging bersama di lapangan alun-alun kota. "ohh jadi ini toh." Kataku mencoba menggoda Adi
"hehe.. Sudah kenal kan." Jawabnya.
Adi lalu memperkenalkan Rini kepada Wahid karena aku sendiri sudah mengenalnya waktu itu. Karena sudah lengkap kami akhirnya masuk ke bioskop tapi ternyata film yg akan kami tonton sudah tayang 20 menit yg lalu. Memang masih bisa masuk tapi rasanya kami tidak bisa menikmati film karena tidak tau keseluruhan cerita. Karenanya kami memustukan untuk menunggu lagi sekitar 30 menit untuk jam tayang yg berbeda dari rencana awal.
Kami pun duduk di lantai depan teater 2 sembari menunggu teater itu terbuka."aduh jadi gak enak sama kalian. Maaf ya." Kata Rini dengan nada memelas maaf.
"iyaa gak papa kok." Kataku sambil tersenyum (padahal dalam hati kesel juga).
Selamat datang di Indonesia, dimana kamu akan pura-pura tidak apa-apa padahal hatimu sedang kesal. Mungkin yg membuat orang-orang negeri ini terlihat ramah adalah hal itu, aku juga tidak tau sejak kapan kultur itu terbangun hanya saja kekesalan agak sulit di ucapkan kepada orang yg belum atau tidak terlalu kita kenal."iya nih. Gara-gara kamu yg di tunggu jadi telat nontonnya." ucap Wahid kepada Rini
"eh. He.. He maaf yah." Jawabnya
__ADS_1
"ahahaha.. Gak becanda kok." Kata Wahid sambil tertawa.
"eh.. Rini. Kamu kenal gak sama..? Aduh siapa lagi namanya." Kataku mencoba bertanya.
Aku tau bahwa kegiatan beberapa pekan yg lalu, saat Rini dan teman-temannya sedang menjual pakaian bekas di lapangan alun-alun kota adalah kegiatan Lembaga Jurusannya di kampus. Dan maksudku yg sebenarnya adalah bertanya tentang perempuan yg sampai saat ini masih saja mengisi kepalaku.
Perasaanku mengatakan bahwa pasti Rini mengenal perempuan itu, karena yg aku ingat saat di lapangan alun-alun kota, perempuan itu terlihat seperti salah satu panitia sama seperti Rini, bukan pembeli yg hanya sekedar singgah untuk melihat pakaian bekas."siapa namanya ?" tanya Rini.
"Aduh itu dia masalahnya, aku gak tau namanya. Waktu itu aku sempat ketemu tapi belum sempat kenalan." Kataku dengan tidak yakin.
"ketemu dimana emang?" tanya Rini.
"di lapangan itu loh waktu kamu lagi jual pakaian bekas." Balasku mencoba menegaskan.
"perempuan mana lagi yg kamu modusin Man." Kata Adi bermaksud meledek.
"bener-bener nih arman. Ingat bro jamila yg kamu modusin di terminal." Sambung Wahid.
Aku dangat yakin Rini pasti mengenal perempuan itu, hanya saja aku tidak tau bagaimana cara menjelaskan kepada dia agar dia mengerti perempuan yg ku kamsud."jadi ciri-cirinya, dia itu pakai jilbab....." Belum selesai aku menjelaskan Rini memotong.
"ya elah Arman. Perempuan berjilbab di kampus bukan satu orang doang." Kata Rini.
"hehe.. Matanya dua, hidung ya satu.." Kataku lagi mencoba bercanda.
"bodo amat Arman." Jawab Rini mulai kesal.
"ehehe. Maaf.. Tapi bener kok. Cuma emang gak tau namanya aja."
"tapi mukanya tau kan?" tanya Rini.
__ADS_1
"iyaa tau..."
"nih coba lihat di galeri hp aku. Siapa tau ada mukanya tuh." Ujarnya sambil memberikan smartphonenya.
Aku lalu memeriksa foto satu persatu yg ada di galeri smartphonenya. Dengan seksama mulai memperhatikan setiap wajah, jangan sampai wajah yg mengganggu kepalaku beberapa minggu ini terlewatkan. Tak butuh waktu lama, aku melihat sebuah foto rombongan sekitar 7 orang dan yg paling menarik perhatianku adalah perempuan yg berdiri paling kanan. Karena takut salah aku mulai memperbesar foto tersebut, seperti dugaanku. Perempuan yg ada di foto tersebut adalah dia yg ku maksud."nah.. Ini dia. Yg paling kanan." Kataku sambil memberi smartphone ke Rini.
"coba ku lihat.." ucap Adi yg tiba-tiba merebut Smartphone dari tanganku.
"ohh ini.. Kasian banget perempuan ini di taksir sama kamu Man. Haha." Kata Wahid mulai sedikit meledek.
"eh sini sini..." balasku sambil mengambil smartphone itu dan memberikan kepada Rini.
"ohh ini.. Namanya Fina." Kata Rina. Akhirnya aku tau juga nama perempuan itu. Fina.. Nama yg bagus, sepertinya akan bagus juga kalau aku langsung berkenalan dengannya.
Rini lalu memberitahu kepadaku tentang si Fina ini. Katanya Fina itu perempuan yg baik, dia agak pendiam dan kaku kepada orang yg baru dia kenal apa lagi kepada laki-laki. Bukan tanpa alasan, Fina adalah muslimah yg taat. Jadi wajar kalau dia agak menjauh dan menjaga jarak dengan laki-laki. Meskipun begitu dia tetap akan bersikap baik jika sudah mengenalnya.
Aku tidak begitu terkejut mendengar kalau dia muslimah yg taat. Hal itu karena terlihat dari pakaian yg dia kenakan dan mungkin aku sudah berbuat jahat kepadanya saat itu, ketika aku memegang tangannya. Itu jelas sangat salah di matanya, entah bagaimana aku harus meminta maaf padanya.
Karena perbincangan itu, kami pun tak sadar kalau waktu 30 menit telah berlalu dan pintu teater 2 pun terbuka, suara khas yg mengumumkan pintu teater bioskop lalu berbunyi. "sudah terbuka.. Ayo kita masuk." Kata Adi.
"ehh.. Bentar-benar. Coba lihat itu bukannya Irwan yah? Kata Wahid sambil menunjuk laki-laki yg sedang bersama wanita cantik dengan rambut panjang yg di ikat kebelakang.
"lohh kok dia ada di sini." Kataku heran.
"bukannya dia seharusnya menghadiri rapat penting di kampus sebagai anggota Humas lembaga jurusan." Kataku.
"siapa lagi tuh cewek? Mangsa barunya yah?." ucap Adi sedikit iri.
"Irwan panutankulah pokoknya." Kata Wahid memuji sikap buayanya.
__ADS_1
-Bersambung-