
(Bagian Flashback)
Di kota-kota besar, keberadaan Mall atau pusat perbelanjaan menjadi sangat krusial. Bukan hanya sebagai prasarana untuk berbelanja tapi juga sudah menjadi tempat untuk menghibur diri bahkan sekedar berjalan-jalan untuk menghilangkan penat.
Ada banyak Mall dengan konsep yg berbeda, tentu untuk menarik pengunjung. Dari berbagai toko tempat belanja keperluan sampai tempat bermain sampai dengan tempat makan semuanya tersedia.
Seperti itulah kira-kira percakapan kedua mahasiswa jurusan bisnis ini. Mereka yg sedari tadi mengobrol tentang bisnis pusat perbelanjaan saat ini. Ivan beserta Mario yg saat ini tengah nongkrong di sebuah Coffee Shop di dalam sebuah mall sedari tadi membicarakan bisnis dan bisnis.
Bisa di bilang mereka berdua maniak bisnis, itulah sebabnya mereka berdua masuk ke jurusan bisnis. Belakangan mereka berdua memang sering meluangkan waktu bersama tentu sejak saat Ivan putus dengan Dian, dia lebih banyak waktu untuk teman-temannya.
Sruuuttt
"mantap banget yah? "
"yoi bro. Gak ada yg ngalahin nikmatnya segelas moccacino." Kata Mario
"emang ya kopi tuh minuman sejuta umat."
"yoi lah. Gue jadi tertarik buat bisnis kopi, apa lagi komoditasnya mudah di dapat."
"iya juga sih, tapi persaingan di bisnis ini juga gak main-main. Sudah banyak kedai-kedai kopi mulai dari yg kecil, sedang, sampai yg sudah mendunia kayak Coffee Shop ini."
"lu bener bro, tapi justru di situ tantangannya. Sebagai produsen kita harus mampu berkreasi memenuhi tuntutan konsumen."
"ya kalau kamu bisa bersaing sih entar aku jadi investornya." Ujar Ivan bercanda
"hahaha. Bisa bro."
Belakangan Ivan memang sudah tidak galau lagi, tidak lagi memikirkan mantan kekasihnya. Sekarang di benaknya adalah memulai hidup sebagaimana mestinya tanpa mau memikirkan luka yg terukir di hatinya.
__ADS_1
"oh iya, balik yuk. Gue ada urusan sore ini." Ujar Mario.
"ok. Biar aku yg bayar." Kata Ivan sambil berdiri dari kursinya.
"jadi gak enak."
"santailah."
Seusai Ivan membayar tagihan di kasir mereka berduapun keluar dari Coffee Shop itu, mereka berjalan keluar dari mall tapi belum mereka melewati gerbang keluar perhatian Ivan teralihkan oleh perempuan yg di lihat olehnya beberapa waktu lalu saat berjalan di perpustakaan kampusnya.
"sorry bro, kamu pulang duluan aja. Aku tiba-tiba ada urusan." ujarnya beralasan.
"oh ya udah." balas Mario.
Ivan yg penasaran dengan perempuan itu mengikutinya diam-diam dari belakang. Dilihatnya perempuan itu sedang berbicara dengan teman yg sedari tadi bersama dengannya.
Ivan terus saja memperhatikan perempuan itu sampai di depan toko buku dan perempuan itupun masuk ke toko buku. Baru Ivan melangkah untuk ikut masuk, tiba-tiba dia di kagetkan oleh seseorang yg memegang bahunya dari belakang. "loh.. Van."
"ngapain kamu di sini?" tanyaku penasaran.
"ini aku mau masuk ke sini."
"oh, mau cari buku?"
"e iya buku.." balasnya tersenyum mencurigakan.
Ivan yg terlihat aneh menoleh dan melihat bahwa aku sedang bersama dengan seorang perempuan."siapa ini? Pacar kamu?" tanya Ivan spontan.
"bukan.. bukan.." balas ku sedikit panik.
__ADS_1
Aku pun memperkenalkan Evelyn yg saat ini bersama denganku kepada Ivan. Seperti janjiku sebelumnya bahwa hari ini aku akan nonton film bersama dengan Evelyn dan ternyata di perjalanan menuju teater bioskop aku bertemu dengan Ivan yg katanya ingin membeli sebuah buku.
"oh temen. Semangat Man." Kata Ivan memberi isyarat.
"hah? Semangat?"
Sementara Evelyn yg terus berada di dekatku tertawa melihat tingkah Ivan, seakan dia tau maksud Ivan berkata semangat kepadaku. Aku dan Evelyn melanjutkan berjalan menuju teater bioskop sementara Ivan setelah dari jauh aku berjalan dan menoleh ke belakang melihatnya, dia terlihat tidak masuk ke dalam toko buku itu. Dia hanya berada di luar dan seperti sedang mengawasi seseorang yg berada di dalam.
Sampai akhirnya aku tepat berada di depan pintu kaca sebuah bioskop dan akupun masuk ke bioskop di mall ini. Aku melihat antrian yg panjang, tapi saat aku ingin mencoba mengantri Evelyn mengatakan bahwa dia sudah punya tiketnya.
Tentu saja, karena sebelumnya dia sudah bilang bahwa yg di ajaknya nonton sebelum aku adalah temannya, mengingat itu aku jadi gelisah. Temannya? Apakah temannya itu perempuan atau laki-laki? Kenapa? Kenapa kalau laki-laki? Cemburu? Aku? Fikiranku terus memikirkan itu.
Saat kami tiba ternyata pintu teater tempat pemutaran film horor yg ingin kami tonton telah terbuka, aku yg masih memikirkan itu tak sadar saat tanganku di genggam oleh Evelyn dan kamipun masuk ke dalam ruangan teater.
Saat itu tanganku di genggamnya erat, di berjalan cepat. Aku yg berada di belakang melihat wajahnya, dia tersenyum. Akupun mempercepat langkahku agar bisa berada di dekatnya dan melihat senyum manisnya itu, senyum dengan kedua cacat di pipinya atau biasa di sebut lesung pipi. Sangat indah..
Sementara aku terus terpesona dengan senyum manis Evelyn, Ivan yg saat ini masig berada di depan toko buku masih saja terus mengawasi seseorang.
Cukup lama Ivan menunggu perempuan itu keluar dari toko buku, karena rasa penasarannya dia akhirnya memutuskan masuk ke toko itu untuk mencari perempuan itu.
Sampailah dia pada rak buku dengan tema religi, dia melihat perempuan itu tengah berdiri sambil membaca buku tebal yg di pegangnya. Ivan menghela nafas dan mencoba memberanikan dirinya untuk menyapa.
Baru dia mau menyapa ternyata ada perempuan lain yg lebih dulu memanggil perempuan itu. Akhirnya mereka berdua ke kasir toko buku itu dan membayar buku yg mereka beli.
Perempuan itu keluar dari toko buku bersama dengan temannya. Ivan yg masih penasaran dan menunggu momentum untuk mengajak perempuan itu kenalan terus saja mengikuti perempuan itu di dari belakang.
Hingga perempuan itu singgah ke sebuah restoran yg ada di dalam mall. Perempuan itu teralihat memesan segelas jus buah sementara temannya memesan makanan. Ivan sebenarnya tidak begitu haus, tapi karena rasa penasaran yg besar diapun ikut masuk dan memesan minuman sambil sedikit mengamati perempuan itu.
Dari jauh Ivan mengamati, sesekali perempuan itu tersenyum dan bercanda dengan temannya. Hingga dia tak tahan dengan rasa penasarannya dan akhirnya memutuskan bangkit dari kursi dan menghampiri perempuan itu. Dia kumpulkan semua keberaniannya untuk menghampiri dan menyapa perempuan itu.
__ADS_1
-Bersambung-