
(Bagian Flashback)
Saat ini aku berada di salah satu kampus negeri yg ada di Kuala Lumpur Malaysia. Di kampus inilah kami melakukan degala aktivitas studi banding, suasananya tidak jauh beda dengan berada di Indonesia. Mungkin karrnw negeri ini juga bagian dari Nusantara dalam sejahtera, jadinya aku masih seperti berada di Indonesia walaupun Bahasa sedikit berbeda. "Man.. Laporan kemarin udah selesai gak?" tanya Riyal kepadaku yg sedari tadi sibuk membaca artikel tentang kesehatan di depan layar laptopnya.
"belum, insyaallah sebantar sore baru aku kerjain." jawabku.
"iyaa Man. Entar repot kalau di kerjainnya nanti pas kita selesai program studi banding ini." ujarnya.
Di tengah obrolan, mereka berdua datang.
"assalamualaikum.." kata Ana menarik kursi dan ikut duduk bersama kami.
"waalaikumsalam." Balas Riyal
Ketika aku berbalik, ku lihat lagi.. Senyum itu. Aku tadi yg sempat pusing karena memikirkan laporan, tapi saat melihatnya aku kembali bersemangat. Tenaga dan fikiran ibarat terisi kembali, terlebih lagi sudah sekitar 2 minggu kami berada di sini dan dalam rentang waktu itu aku sekarang sudah mengenalnya dan dia pun sudah mengenalku. Kami bisa di bilang sudah dekat sebagai teman bukan lagi orang asing yg tidak mengenal.
Sekarang kami sedang berada di kantin kampus, Agenda kami selama berada di sini tentu saja mengikuti perkuliahan dan membuat laporan sebagai tugas yg akan kami kumpulkan nanti ketika kembali ke Indonesia.
Selain kuliah umum, kami pun mengikuti berbagai macam kegiatan seperti seminar, presentasi lintas budaya dan tentu saja liburan di berbagai tempat yg ada sini.
Selama berada di sini, aku melihat bahwa pribumi yg ada di negeri ini dari segi penampilan tidak jauh beda dengan yg ada di Indonesia. Bahkan sempat aku mendapati orang asli Malaysia yg bisa berbahasa Indonesia sampai bahasa jawa. Dan bahasa melayu pun yg jadi bahasa nasional di Negara ini tidak terlalu berbeda dari bahasa Indonesia. Walaupun ketika datang pertama kali dan berbicara bersama teman-teman pribumi di kampus sering terjadi miskomunikasi.
Contohnya ketika aku dan salah satu temanku orang asli Malaysia ingin ke suatu tempat. Kemudian karena waktu itu perjalanan cukup jauh dia pun menyarankan untuk naik kereta. Di fikiran ku kereta mungkin sama seperti kereta yg ada di Indonesia, ternyata yg di maksud kereta adalah mobil. Aku sempat tertawa sendiri karena kesalahpahaman itu.
Selain pribumi, di Negeri ini pun banyak yg keturunan India tapi sudah menjadi warga negara Malaysia. Dari segi jumlah mereka cukup banyak bahkan bisa di bilang mereka mendominasi khususnya di wilayah apartemen tempatku tinggal selama berada di sini.
__ADS_1
Setelah tadi kami berempat mengikuti kuliah umum, sekarang kami sedanh istirahat sambil bersantap siang di kantin ini "besok kan agenda kosong nih. Jalan yuk." Kata Ana.
"boleh, kemana?" tanya Alfy.
"bentar-bentar aku coba cari dulu di om Google." Balasku kepada Alfy. Hal seperti ini sering terjadi, aku dengan sigap selalu merespon apa yg di katakan oleh Alfy. Tentu saja karena aku ingin mendapatkan perhatiannya.
"Fin.. Ngomong-ngomong gimana kemarin. Kamu terima lamarannya?" Tanya Riyal kepada Alfy sembari sedikit tertawa.
"aduh.. Saya tidak tau harus bilang apa. Malu banget." Balas Alfy.
Ceritanya kemarin kami berempat habis ikut kuliah umum, setelah keluar ruangan tiba-tiba ada seorang laki-laki keturunan India yg juga kuliah di kampus ini datang kepada Alfy dan menyatakan perasaannya pada Alfy. Bukan cuma menyatakan perasaan, bahkan sampai mengajak menikah. Untung Alfy menolak jika tidak mungkin aku akan patah hati di negeri ini. "hahaha.. Sumpah ya, kemarin itu parah.. orang - orang pada ngeliatin kamu loh Fin." Kata Ana kepada Alfy.
"iya malu tau." Sembari menutupi wajahnya yg memerah.
Tanpa sadar aku melihat ekspresi wajah malunya yg memerah itu, lagi-lagi aku terkesima dan terus memandang wajahnya.
"hm. Kenapa.. Kenapa?" balasku kepada Ana.
"ayo loh.. Kamu suka ya sama Fina?" Tanya Ana yg sadar akan prilaku anehku pada Alfy.
Jlebbbb.. Rasanya pertanyaan ini langsung menusuk ke hatiku. "hah.. Ngak lah.. Mana mungkin." Jawabku spontan untuk menghindari kecurigaan Ana. Setidaknya sekarang aku belim punya keberanian untuk menyatakan perasanku pada Alfy.
"btw gimana Man, udah dapat belum?" tanya Riyal memotong pembicaraan.
"dapat apa?" responku bingung.
__ADS_1
"kan tadi katanya lagi cari-cari tempat di om Google."
"oh iyaa iyaa. Ini nih.. Kuala lumpur Butterfly Park. Bagus nih sejuk, lumayan untuk refresing sambil ngeliat kupu-kupu." ucapku sambil memperlihatkan foto kelada mereka.
"coba-coba ku lihat tempatnya." Kata Ana sambil mengambil smartphoneku.
Saat kami bertempat ngobrol santai, tiba-tiba pria keturunan India yg kemarin menyatakan contanya pada Alfy datang menghampiri. Dia datang menghampiri Alfy sambil memegang bunga, aku melihat ekspresi Alfy yg sedikit ketakutan melihat tingkah pria itu. Alfy bergeser sedikit ke arah Ana dan terlihat ingin memeluk Ana karena mungkin mulai takut dengan tingkah laki-laki itu.
Pria keturunan India itupun mulai berbicara dengan bahasa inggris, sambil memperkenalkan diri dan memberikan bunga yg dia pegang kepada Alfy. Melihat itu, aku sedikit gerah bukan karena pria bernama Fijay itu memberi bunga kepada Alfy, tapi aku gerah karena melihat ekspresi Alfy yg terganggu dengan tingkahnya. Untung setelah memberi bunga dia langsung pergi, kalau tidak mungkin aku akan mengusirnya.. Ya.. Mungkin saja, Kalau aku punya keberanian. "So sweet banget sih. Hahaha." ujar Ana yg melihat tingkah laki-laki itu.
"saya tidak suka.. Takut.." Kata Alfy yg sedikit merengek takut.
"loh loh.. Fin.. Tenang Fin tenang.. Orangnya udah pergi." Kata Ana.
Ya.. Karena sudah kenal dengan Alfy, sedikit demi sedikit aku mulai mengenal karakternya seperti apa. Dia adalah perempuan yg sangat-sangat feminim, dia mudah terharu dan mudah menangis jika terdesak dan hal itu semakin membuat aku menyukainya."udah Fin.. Kalau muncul lagi entar aku usir." Kata Riyal mencoba menenangkan Alfy.
Karena sudah mulai sore, kami bertempat kemudian memutuskan untuk kembali ke apartemen. Gedung apartemen kami terpisah, karena memang di apartemen ini punya konsep syariah. Gedung laki-laki dan perempuan terpisah untuk menghindari kontak yg tidak di inginkan.
Satu hal lagi yg aku salut dengan negeri ini. Di sini konsep-konsep syariah Islam sudah banyak di terapkan, seperti ketika kemarin kami berempat masuk ke dalam sebuah restoran dan ternyata pelayan restoran menjelaskan bahwa restoran yg kami masuki tidak menjual makanan halal.
Ini adalah salah satu peraturan di negara ini, bahwa setiap restoran wajib memberikan label halal atau tidak halal di depan restoran mereka, kalau kemudian ada pelanggan muslim yg masuk ke restoran tidak halal secara sengaja atau tidak sengaja maka pemilik restoran wajib melarang muslim makan di tempat mereka jika tidak maka restoran tersebut akan di kenakan denda oleh Pemerintah setempat.
Tentu jika orientasinya keuntungan, mungkin pemilik restoran tidak akan peduli dengan pelanggan muslim dan mereka tetap akan menyajikan makanan tidak halal. Tapi karena aturan ini kemudian tidak ada seorang muslimpun yg merasa di rugikan.
Hal kecil seperti ini seharusnya bisa di tiru oleh Indonesia yg merupakan negara dengan jumlah penduduk muslim terbesar di dunia.
__ADS_1
-Bersambung-