Kamu & Senja

Kamu & Senja
Pemulihan


__ADS_3

Cuaca hari ini cukup cerah untuk terbang, tentu dengan menggunakan pesawat. Mungkin penerbangan hari ini akan baik-baik saja bahkan dengan cuaca seperti ini mungkin Sahidah akan tiba lebih cepat, karena hari ini Sahidah sudah akan meninggalkan Indonesia dan kembali ke Malaysia.


Kami semua mengantar kepergiannya seperti halnya dia pernah mengantar kepergian kami ketika di Malaysia. Aku, Ana, Riyal dan tentu saja Alfy juga turut berada di Bandara. Sebelum berangkat kami makan siang terlebih dahulu di tempat makan yg tersedia dalam Bandara. Masih tersisa satu jam sebelum keberangkatan pesawat yg di tumpangi oleh Sahidah.


Kami masih saja bernostalgia, kurang lebih selama 2 minggu Sahidah berada di Indonesia. Ana yg setia menemaninya kemanapun Sahidah pergi entah itu ketempat liburan atau sekedar menikmati kota. Aku sesekali saja, terlebih sejak aku mengetahui apa yg terjadi dengan Ica dan Ilham. Begitupun dengan Riyal yg cukup sibuk dengan urusan kedokterannya. Sedangkan Alfy tidak bisa setiap hari bersama dengan Sahidah karena masih memulihkan diri dengan kondisinya.


Seperti kataku, memulihkan diri dengan kondisinya yg masih belum mengingat apa-apa tentangku. Meski begitu Alfy sudah terlihat akrab kembali dengan Ana dan Sahidah.


"aka pasti rindu kalian." ucap Sahidah.


Ana dan Alfy yg mendengarkan langsung memeluk Sahidah. Dan seperti perempuan pada umumnya, merekapun tenggelam dalam perasaan, sesaat kemudian air mata mereka perlahan tumpah karena sebentar lagi berpisah.


Setelah menyantap makan siang, kami masih berbincang. Menikmati momen yg mungkin tak akan sulit untuk kembali. Di tengah suka cita smartphoneku berdering dan saat aku lihat, itu adalah panggilan dari Ica.


Sudah 10 hari ini Ica di rawat dan kondisinya mulai membaik. Dia tersadar dari tidurnya di hari kedua dalam perawatannya, saat matanya terbuka. Di sampingnya sudah ada Ibu dan Ayah serta keluarganya yg lain. Keluarganya tinggal di kota yg berbeda, jadi butuh waktu agar tiba di kota ini.

__ADS_1


Saat Ayahnya tiba Ica langsung di pindahkan ke ruangan VVIP, tak heran karena Ayah Ica memang seorang pengusaha sukses.


Dan berita baiknya, 4 hari setelah penculikan. Otak dari sindikat narkoba yg menculik Ica telah di tangkap dan saat ini tengah menjalani masa persidangan. Ica akan menjadi saksi atas kasus penculikan yg di lakukan sindikat narkoba tersebut. Dengan pasal berlapis tentang pengedaran narkoba dan penculikan serta kekerasan fisik, kemungkinan para pelaku akan mendapat hukuman berat yaitu hukuman mati atau setidaknya penjara seumur hidup.


Hari ini Ica akan keluar dari rumah sakit dan aku sudah berjanji akan menjemputnya bersama dengan teman-teman yg lain. Oleh sebeb itu, meski Sahidah belum berangkat aku harus meninggalkannya dan segera menuju rumah sakit.


Sahidah dan teman-temanku saat ini paham, tentu saja aku menceritakan sedikit kepada mereka tentang apa yg menimpa teman angkatanku. Akhirnya akupun pamit kepada Sahidah dan yg lain, setelah itu aku bergegas pergi ke rumah sakit.


Waktu berlalu dan sepertinya pesawat akan segera berangkat. Sahidah terlihat memeluk Alfy dan Ana, meski berat mereka memang harus berpisah saat ini. Alfy yg mulai dekat kembali dengan Sahidah beberapa hari ini mengatakan kabar gembira kepada mereka. Sebuah berita gembira yg membuat Sahidah dan Ana ikut bahagia mendengarnya. Akhirnya merekapun berpisah dan Sahidah dengan koper yg di dorongnya mulai masuk kedalam antrian tiket.


Sementara itu, di rumah sakit ketika aku tiba. Ku lihat orang tua Ica sudah bersiap-siap dan berbenah sebentar lagi dia akan meninggalkan rumah sakit. Meski kondisinya sudah membaik tapi Ica masih compang camping saat berjalan. Ilham yg setia menemaninya selalu sigap dan membantu Ica. Sampai-sampai orang tua Ica telah di buat luluh oleh Ilham dalam beberapa hari saja.


Terlihat juga Gina yg berada di sisi Ica, sebagai sahabat dekat Gina selalu meluangkan waktu untuk menemani Ica. Sedangkan Wahid tidak hadir karena sedang ada urusan organisasi. Dan Adi, meski pernah datang menjenguk tapi entah kenapa saat itu aku melihat ada jarak antara Adi dan Ilham. Aku masih belum tahu apa penyebabnya, dan jika bisa aku tidak ingin tahu. Semoga saja mereka berdua bisa segera menyelesaikan masalahnya.


Selain itu, aku bertemu dengan Pak Yayat. Polisi yg menangani kasus yg menimpa Ica dan Ilham. Pak Yayat adalah teman dekat dari Ayahku, tentu saat melihatnya dia juga mengenalku karena sejak kecil aku sering datang ke kantor Ayahku.

__ADS_1


Saat bertemu kami bercerita banyak hal, tentang kasus ini atau bahkan tentang Ayahku. Pak Yayat sangat menghormati Ayahku, dia juga mengatakan bahwa jika saja saat itu Pak Yayat ada di posisi Ayahku, mungkin dia tidak akan berani melakukan hal yg di lakukan oleh Ayahku. Mendengar hal itu sangat membuatku bangga dengan Ayahku.


Jika harus kembali mengingat hal itu, rasanya pedih.. Ayahku meninggal karena.. Sulit rasanya menerima kenyataan. Benar bahwa aku mencintai Alfy tapi.. Kenapa takdir tidak berpihak padaku? Kenapa aku harus jatuh hati padanya? Pada keluarga orang yg telah menghancurkan keluargaku.


"sepertinya anak Ibu sudah menemukan laki-laki baik." ucap Ibunya Ica melihat kedekatan antara Ica dan Ilham.


"Siyap Tante." tegas Ilham salah tingkah.


Orang-orang yg berada di sini tertawa, tak terkecuali aku dan Ica. Satu orang lainnya hanya diam, orang itu adalah Gina.


"seperti semua pakaian kamu sudah Ibu masukin ke tas." ucap Ibunya Ica.


"mari Tante, biar saya yg pegang tasnya." Ilham terus saja mencari perhatian.


Saking semangatnya mencari perhatian, Ilham menyerah mengangkat barang yg ternyata berat itu. Dengan sebuah kode mata, dia meminta aku menolongnya. Sepertinya Ilham kembali ke tingkah bodohnya dan akupun ikut senang karena kedua temanku saat ini masih hidup dan baik-baik saja.

__ADS_1


Selain pengobatan Fisik, Ica juga menjalani pengobatan psikis dari psikeater mengingat kejadian yg di alami pasti meninggalkan trauma mendalam. Dan trauma itu semakin membuat dia dekat dengan Ilham, terlebih dia sempat membuka mata waktu itu.. Ketika Ilham susah payah menggendong dirinya keluar dari pabrik lautan api. Bagi Ica sekarang Ilham adalah pahlawannya.


-Bersambung-


__ADS_2