
Ivan tersenyum mengucap syukur.. Pandanganya tak teralihkan melihat calon istrinya, sesekali dia menunduk dan beristigfar karena pada dasarnya mereka belumlah halal.
Ivan sangat tau akan hal itu tapi hatinya saat ini tak bisa jika tak memandang calon istrinya.. Benaknya.. Selangkah lagi, Yana benar-benar akan berada dalam dekapannya.
"Ivan.. Matamu nak." Gurau Ibu Ivan yg melihat tingkah lucu Ivan mengagumi Yana.
Yana tersenyum malu, kini di jari manisnya telah melekat sebuah cincin. Cincin yang menegaskan kesungguhan Ivan untuk meminangnya dalam ikatan yang sangat serius bernama pernikahan.
Proses lamaran hari ini berjalan dengan lancar, meski Ivan sempat gugup tapi keramah tamahan keluarga Yana membuat rasa gugup Ivan hilang, apa lagi dari awal ia telah mendapatkan restu dari keluarga Yana.
Nenek Yana bahkan sangat menyukai sifat dan sikap Ivan selama ini.. Kedekatan terbangun baik saat Ivan memutuskan untuk bertaaruf dengan Yana.
Pun sebaliknya.. Keluar Ivan yang baru saja mengenal Yana sudah langsung menyukai sikap Yana saat pertama bertemu siang tadi saat upacara wisuda di kampus.
Kedua keluarga itu terlihat mulai akrab.. Mereka saling gurau satu sama lain. Kini tinggal menunggu waktu saja, agar mereka berdua benar-benar menikah.
"Jadi gimana nak Ivan.. Apa benar setelah menikah kamu bakal membawa cucuku ke Amerika?" Nenek Yana bertanya kepada Ivan.
"Insyaallah Nek, saya mau lanjut kuliah di sana. Sekalian mengelola salah satu bisnis keluarga." Balas Ivan.
"Untung saja kalian menikah tahun depan, karena kalau sekarang Nenek belum siap melepas cucu kesayangan Nenek." Ucap Nenek sambil memegang tangan Yana yg saat ini duduk di dekatnya.
Yana yg mendengar Neneknya spontan memeluk erat Neneknya.
"Tapi Nenek bangga.. Cucu Nenek bisa menikah dengan laki-laki seperti kamu."
Ivan tersenyum.. Entah pujian itu sudah berapa kali di ucapkan oleh keluarga Yana.
"Saya.. Ibu dari Ivan juga bangga. Sepertinya Ivan mendapatkan perempuan yg baik dan dari keluarga yg baik pula." Kata Ibu Ivan.
Kedekatan kedua keluarga itu semakin terlihat seiring dengan berjalan lancarnya acara lamaran hari ini.
Sementara itu.. Di pekarangan rumah.
Aku tidak pernah menyangka akan bertemu dengan Puput hari ini. Perempuan yg sangat membenciku, karena luka yg telah aku berikan kepada adiknya atau lebih tepat sepupunya.
Orang itu adalah Alfy..
Aku hanya diam dan tak tahu harus berkata apa saat dia datang dan mulai menatapku dengan penuh amarah. "He.. Ngapain kamu di sini?"
"A..Aku." belum selesai aku menjelaskan dia terus saja memotong pembicaraanku.
"Kok bisa sih kamu tahu rumah ini?" lagi-lagi dia membentakku.
"Ngak itu, aku... Ak.."
"Mending kamu pergi deh.. Sekarang.. Pergi ngak." Ucapnya sambil menunjuk jalan keluar.
"Sorry Put, tapi.."
"Ngak ada tapi-tapi.. Pergi ngak."
"Aku disini mau ketemu Ivan." Ucapku sedikit membesarkan suara.
Terpaksa aku besarkan suaraku karena Puput tidak mau mendengar penjelasanku.
"Hah!? Ivan.." Puput cukup terkejut saat aku menyebut nama Ivan.
"Iya, Ivan.." Ucapku sambil menggaruk kepala.
"Ka.. Kamu siapanya Ivan emang?"
__ADS_1
"Temen sih, iyaa temen.. Dia ngundang aku di acara lamarannya hari ini. Aku pikir ini rumah yg tepat karena di depan tadi aku lihat mobilnya Ivan." Jelasku.
Aku tidak habis pikir, apa yg dilakukan Puput di sini. Apakah Alfy juga berada di sini? Apa mungkin calon istri Ivan adalah keluarnya Alfy atau... Ahhhh memikirkannya membuatku takut.
Puput terlihat canggung, dia mendekat sedikit ke arahku. " Jadi kamu sudah tahu kalau Ivan hari ini datang melamar ke sini?" tanyanya tiba-tiba.
"Iya tentu saja, kalau engak mana mungkin aku sekarang berada di sini." balasku sambil tersenyum canggung.
"Emang kamu udah tau siapa calon istri Ivan?"
"Iya, kalau gak salah namanya Yana... Tapi aku belum pernah bertemu." Ucapku sambil tertawa ringan.
Ekspresi Puput berubah.. Dia jadi tidak enak melihat ke arahku.
"Kamu.. Sebaiknya ngak usah masuk deh."
"Eh.. Kenapa? Ta.. Tapi kan aku di undang."
Aku harus masuk, setidaknya Ivan melihatku datang karena aku tak ingin mengecewakan dia dan orang tuanya. Mereka sudah memintaku untuk datang, walaupun sudah sangat terlambat sepertinya tapi aku harus masuk.
"Ngak.. Kamu pukang saja." Puput melihatku dengan tatapn iba.
"Put tolong.. Aku harus bagaimana supaya kamu memaafkan kesalahanku.. Aku tau kamu benci banget sama aku tapi aku benar-benar harus bertemu dengan Ivan. Aku sudah janji akan datang di hari bahagianya, Ivan adalah sahabatku.. Tidak.. Ivan sudah seperti saudaraku." Aku memelas pada Puput agar membiarkan aku masuk ke dalam.
"Arman.. Tolong, kamu harus pergi dari sini. Ini demi kebaikan kamu juga."
Puput masih bersikeras agar aku tidak masuk ke dalam, tapi aku tidak mau menyerah.
Setidaknya kami terlibat perdebatan tentang hal ini, aku tidak tau alasan kenapa Puput mengusirku. Rasanya aneh saja, jika hanya karena membenciku bisa sampai seperti ini.
Kembali kedalam rumah.. Suasana masih haru. Obrolan santai dua keluarga terjalin sangat baik.
Ivan gelisah, sesekali melihat jam tangannya.
"Ngak Ma.. Arman lama banget yah.. Apa dia gak jadi datang."
"Coba kamu telfon, siapa tau dia tersesat."
Ivan beranjak dari tempat duduknya.
"Ustadz.. Umi.. Mohon maaf saya keluar dulu, saya mau nelfon." Ucapnya sambil memegang smartphone.
"Oh iya Nak.. Silahkan."
"Biasa Bu.. Dia tadi ngajakin sahabatnya kemari, tapi dari tadi belum keliatan juga." Kata Ibu Ivan menjelaskan situasi.
"Oh.. Mungkin tersesat kali Bu."
Ivan berjalan keluar sambil menelfon.
Di pekarangan rumah, aku masih ditahan oleh Puput. Aku tidak tau harus berbuat apa sekarang, masa iya aku menerobos masuk. Itu adalah hal yg tidak mungkin aku lakukan di depan perempuan.
Saat dalam kebingungan, smartphoneku berdering.
"Halo.. Assalamualaikum."
"Waalaikumsalam.. Ivan.."
"Man, dimana kamu? Jadi ke sini ngak?"
"Ini aku udah di depan tapi ngak bisa masuk, soalnya.. Soalnya.. Anu.. Ini."
__ADS_1
"Hah.. Ya udah aku keluar."
Tak lama kemudian Ivan keluar dari rumah dan melihatku bersama Puput.
"Nah itu Ivan.." Aku menunjuk Ivan yg berjalan mendekat.
Puput menoleh melihat Ivan.
"Kak.. Maaf, ini sahabatku Arman. Aku ngundang dia ke sini." Ivan menjelaskan posisiku pada Puput yg terlihat bingung.
"Nah kan.. Aku udah jelasin dari tadi." Ucapku.
Puput hanya diam, sepertinya dia tidak punya alasan lagi untuk menahanku masuk ke dalam.
Akhirnya aku dan Ivan masuk ke dalam.
"Maaf ya Van.. Udah telat banget." kataku padanya.
"Ngak papa Man.. Yg penting kamu datang."
Kami berdua masuk ke ruang tamu, ku lihat beberapa anak kecil yg sedang bermain. Sepertinya semua keluarga sedang berkumpul di ruang tengah, saat aku melangkah..
"Alfy.. Jika Puput ada di sini berarti Alfy juga berada di sini.. Iya bisa jadi." Benakku.
Aku melangkah dengan pikiran itu.. Hingga aku melihat Ayah dan Ibu Ivan sedang terlibat pembicaraan dengan orang yg tak asing untukku.
Saat masuk ke ruang tengah, semua orang yg berada di ruangan itu menoleh dan melihat ke arahku dan Ivan.
Aku bergabung dengan mereka semua.. Mataku masih tertuju pada pria baruh baya yang saat ini berbincang dengan Ayah dari Ivan.
"Uztads.. Umi.. Yana.. Kenalkan ini sahabatku." Ucap Ivan menunjukku.
Pria yang di panggil Uztads oleh Ivan berbalik melihatku. Dia terkejut, pun dengan istrinya.. Saking terkejutnya dia menutup mulut karena tak percaya dengan apa yang dia lihat.
Saat pandanganku fokus melihat pria paruh bayah dan istrinya..
"Arman.." Ucap seorang perempuan yg mengenakan gaun putih menjuntai menutup dirinya dengan jilbab putih panjang menutup dada.
Aku menoleh.. Tanpa melihatpun aku sudah tau, kalau suara itu.. Suara itu adalah Alf..
"Man.. Ini Yana, calon istriku." Kata Ivan menunjuk Alfy.
Aku menoleh melihat Ivan.. Apa yg Ivan katakan tadi? Aku tidak mendengar perkataannya dengan jelas.
Waktu serasa berhenti, apa yg terjadi? Aku.. Aku.. Tidak mengerti.
Aku berbalik lagi ke arah Alfy.. Dia sangat cantik dengan gaun yg di kenakannya. Aku tersenyum melihatnya.. Apakah aku sedang bermimpi? Di depanku saat ini ada sosok bidadari.. Iya..
"Arman.. Man.. Kamu kenapa?"
Aku menoleh... Ku lihat Ivan.
"Yana ini Arman, Sahabatku." Ucap Ivan sambil melihat Alfy
"Hehh, Yana?" Gumamku.
Alfy mendekat. "Iya aku udah tau.. Aku dan Arman sama-sama anggota UKM Penalaran Ilmiah di kampus." Kata Alfy.
"Heh? Yana.." Aku masih tidak mengerti, aku masih bingung.
"Oh yah.. Wah kebetulan sekali. Ternyata kalian udah kenal sebelumnya." Ucap Ivan sumbringah.
__ADS_1
Ayah dan ibu Alfy masih tak percaya, raut wajah mereka sangat jelas menggambarkan betapa terkejutnya mereka berdua melihatku saat ini di hari bahagia puterinya.
-Bersambung-