
Di suatu sore tenang, hembusan angin menyambar pepohonan. Angin segar tercipta dari gesekan angin dan pohon, rasa nyaman membuat mata terpejam. Bayangan sosok yg di banggakan kembali terlihat di kegelapan. Sambil tersenyum dia berkata sesuatu yg tak bisa aku dengar.
Di tengah pejaman mata, air matapun menetes. Rasanya sudah lama aku tidak bertemu, rasanya rindu. Ayah.. Aku rindu, semoga kau baik-baik saja di alam sana.
Sudah sejak tadi aku tertunduk memikirkan Ayahku. Di taman UKM kampus, aku duduk menunduk menutupi kelemahan hati saat ini. Meski sepi tapi tak lengah kalau-kalau ada orang yg melihatku sekarang, melihatku dalam kondisi seperti ini.
Ku kuatkan hati dan menghela nafas untuk menenangkan pikiran. Tak lama seseorang menghampiri dengan suara keras dan dia memanggil dari jauh.
Suara itu semakin dekat, setalah ku angkat wajahku ternyata ku lihat dia adalah Wahid.
"Man, sendiri aja." ujarnya.
"iya bro." balasku lesu.
"Kenapa kamu?"
"gak papa."
"oh..." balasanya sambil menepuk pundak ku keras.
Aku bereaksi kesakitan karena hal itu. "Kenapa bro.. Cerita aja. Dari mukamu yg kek gini aku bisa tau kalau kamu sedang ada masalah." ucapnya.
Aku berbalik memandang Wahid dan ku palingan kembali Wajahku ke bawah. "aku hanya rindu dengan Ayahku." Kataku.
Wahid hanya diam, sepertinya dia tak punya kata apapun untuk menghibur kerinduanku ini.
"obat dari rindu hanya bertemu bro. Aku tidak punya kapasitas untuk mengatakan ini tapi bukankah nanti semua manusia juga akan meninggal. Bukankah manusia akan bertemu di alam sana?" Ujar Wahid.
Ku naikkan lagi Wajahku, kali ini aku memandang langit. Sepertinya Wahid berhasil sedikit menghiburku, setidaknya aku sedikit lega.
"jadi, siapa perempuan itu?" Kata Wahid tiba-tiba.
"perempuan?" tanyaku.
"walaupun aku jarang ngumpul sama kalian, tapi aku tau kamu menyukai seseorang." jelasnya.
"hah? Suka sama orang, jangan sotoy bro." aku mengelak karena tidak tau maksud dari Wahid.
"ayolah, gak usah bohong gitu. Kalau gak salah sih dia anak UKM Penalaran Ilmiah."
Jleb, mendengar dia mengatakan hal itu aku langsung paham siapa yg dia maksud.
"jadi gimana.. gimana? Udah sampai mana?" tanyanya penasaran.
"gak kemana-mana kok, masih jalan di tempat." Ujarku.
"Kenapa? Dia nolak kamu?"
"bukan, dia malah punya perasaan yg sama selama ini. Hanya aku yg tidak peka,.."
"nah, sekarang udah peka dong, jadi?" Wahid semakin penasaran dengan kisah cintaku, mungkin karena aku jarang bahkan tidak pernah membahas hal-hal seperti ini kepada teman-temanku.
"walaupun terlambat tapi akhirnya aku sadar, tapi dia bukan perempuan sembarangan. Ah.. Sudahlah, aku tidak mau membahas hal ini." ucapku lugas.
"Arman. Ayolah, aku tau kamu bukan tipe orang yg terbuka.. Sebenarnya aku sudah tau lama kalau kamu suka sama perempuan, tapi sengaja aku gak singgung hal itu ke teman-teman yg lain karena aku tau kamu gak akan suka. Tapi aku penasaran juga tentang kisah cintamu ini. Jika bisa, ceritalah sedikit padaku, siapa tau itu bisa melegakan sedikit perasaanmu. "
__ADS_1
"tidak ada yg menarik dengan kisah cintaku."
Semakin aku menolak, maka semakin pula Wahid memberi tekanan agar aku mengatakan hal yg tak ingin aku ingat. Kejadian yg menghancurkan hatiku dan hatinya.
"namanya Fina, tapi aku sering memanggilnya Alfy. Pertama kalinya setelah aku patah hati waktu masih SMA, aku kembali menaruh hati. Walau sempat ingin menyerah tapi akhirnya aku sadar apa yg dia katakan hari itu.."
Rasa penasaran Wahid tak terbendung, akhirnya akupun mulai mengatakan kegelisahan dalam hati.
Waktu itu.. Aku masih ingat bagaimana malunya dia ketika teman-teman di UKM berkumpul dengan menggodaku untuk segara menyatakan perasaanku padanya.
Yg menyebabkan semua itu adalah Idan, dengan keras dia mengatakan bahwa aku menyukai Alfy. Sebuah rahasia kecil yg entah bagaimana dia bisa tau.
Mendengar hal itu dari Idan, semua teman-temanku saat itu bereaksi berlebihan. Sambil berkumpul mereka memaksaku untuk mengakui perasaanku di depan Alfy yg terlihat bingung saat itu.
Aku mencoba menjelaskan kepada mereka bahwa Idan hanya bercanda, tapi mereka tetap saja menggodaku agar segera mengakuinya.
Alfy terlihat tidak nyaman, dari raut wajahnya terlihat dia ingin pergi. Karena tak ingin dia marah aku mencoba menjelaskan kepadanya bahwa mereka semua hanya sedang bercanda.
Hingga Alfy sedikit mendekat dan berisik lalu pergi meninggalkanku. Seseorang berkata bahwa dia mendengar Alfy menolakku. Walaupun aku tidak begitu yakin apa yg ku dengar adalah penolakan.
Aku melihat dia menjauh, untuk sesaat aku berpikir "mungkin benar, dia menolakku tanpa tau perasanku yg sesungguhnya."
"tunggu bro.. Jadi kamu di tolak?" tanya Wahid menyanggah pembicaraan.
"awalnya aku berpikir seperti itu, tapi.." balas ku.
Iya, awalnya seperti itu.. Dia menolakku. Itu adalah hari yg berat karena aku di tolak oleh dua orang sekaligus. Di tolak oleh Evelyn dan yg tersakit adalah di tolak oleh Alfy.
Setelah hari itu aku merenung. Mungkin aku memang tidak pantas untuknya, aku harus belajar melupakannya.
Keesokan harinya, di suatu sore. Aku sudah mengatakan hal ini kepada Ivan.
"iya."
Karena rasanya ingin melepas lelah, aku sedikit curhat pada Ivan. Waktu itu Ivan hanya berkata bahwa "Allah selalu punya cara untuk menyatukan kedua hambaNya yg jatuh cinta."
Entah mengapa karena perkataan itu, aku jadi ingat dengan jelas. Dengan sangat jelas perkataan Alfy ketika dia pergi begitu saja. Perkataan yg aku kira penolakan itu..
"di bawah senja, tempat pertama kita saling mengenal. Aku tunggu." Itulah kata yg dia bisikkan kala itu.
Aku yg tersadar waktu itu, langsung menghubungi Alfy. Aku telfon, wa, sms dan DM di IGnya tapi tak ada respon.
Tanpa pikir panjang aku segera ke kampus meski tau hari sudah sore. Berharap jika dia masih berada di kampus.
"Kenapa gak kerumahnya aja sekalian?" lagi-lagi Wahid memotong pembicaraan.
"aku belum tau rumahnya waktu itu." balasku.
Iya, aku ingin ke rumahnya tapi tak tau alamat rumahnya. Pikiranku hanya kampus dan harapan agar dia masih berada di kampus saat itu.
Tiba di kampus yg mulai tampak sepi, aku berlari ke gedung UKM, tapi dia tak terlihat. Aku berlari ke Fakultas Sastra, kantin dan tempat dia biasa bersama dengan teman-temannya. Dia tidak ada, aku terus mencarinya.
Sampai smartphoneku berdering, setelah ku lihat ternyata Alfy membalas pesanku. Ternyata dia sedang berada di ruangan Dosen.
Betapa lega mengetahui bahwa dia masih berada di kampus. Akupun mengatakan bahwa ingin bertemu, aku mengatakan hal yg sama yg dia bisikan kemarin itu.
__ADS_1
"di bawah senja, tempat pertama kita saling mengenal. Aku tunggu." isi pesanku kepadanya.
Aku pun meninggalkan kampus dan menunggu di tempat biasa aku menikmati senja sambil menikmati angin sore tepi pantai. Setengah jam aku berdiri menunggu hingga ku dengar suara lembutnya memanggil namaku.
Aku pun menoleh dan melihat matanya yg sesekali melihat dan menunduk ke bawah. "aku minta maaf, aku baru sadar sekarang." kataku dengan nada canggung.
"oh iya, yg kemarin itu anak-anak pada iseng maaf yah.." sambungku masih canggung.
"iya gak papa." balasanya singkat.
Sekitar sepuluh menit hening, aku kehabisan kata. Sementara itu matahari mulai merubah warna langit yg tadi biru muda menjadi jingga.
"jadi, ada apa?" tanya Alfy.
"heh.. Apanya? e.. ." Aku gagu, tak tau harus berbicara apa.
Aku menghela nafas mengumpulkan keberanian.
"Alfy.." kataku.
"Arman." Kata Alfy.
Hampir bersamaan kami saling memanggil nama masing-masing.
"eh, kamu duluan deh Fy." ucapku.
"ngak papa, duluan aja." balasnya
"gak.. Anu.. Aku.. Benar-benar minta maaf. Andai saja kemarin aku sadar lebih awal kalau kamu ngajakin aku ketemuan di sini." Ujarku.
"iya gak apa-apa. Aku juga minta maaf ninggalin kamu begitu aja kemarin. Soalnya aku malu banget... Asli aku malu." jelasnya sambil memegang kedua pipinya.
"maaf ya Fy, emang si Idan jahilnya minta ampun." kataku sambil tertawa kecut mencairkan suasana.
"apa benar itu hanya candaan?" tanya Alfy tiba-tiba serius.
"iya.. Kurang ajar banget si Idan." balasku sok asyik.
"oh, jadi cuma becanda yah."
"iya.hehe."
"oh." balasnya dengan nada dingin.
Saat dia berkata seperti itu, aku langsung tau bahwa aku salah bicara."Fy kenapa?" tanyaku mulai khawatir.
Alfy diam, dia hanya menatap senja yg sedang menampakkan keindahannya. Dia tengah hening dia tiba-tiba bergumam.
"dahulu aku menyukai matahari ketika terbit, hangatnya memberi tenaga tapi ada seseorang yg memperkenalkanku dengan senja yg selalu hadir sesaat tapi berkesan. Menjadi obat dari rutinitas harian, menjadi candu sebelum malam datang. Aku mulai menyukainya, seperti aku mulai suka dengan orang itu.. Orang itu.. Arman." terang Alfy.
Aku diam, aku yg sedari tadi menatap langit ketika mendengar namaku di sebut oleh Alfy. Aku menoleh, melihat Alfy tersenyum seusai mengatakan hal itu padaku.
Aku masih diam, masih memandang wajahnya dari sambing kanan.. Apakah kali ini pendendengaranku masih normal? Apakah Arman yg dia maksud adalah aku atau orang lain? Gumamku masih mencoba mencerna.
"sudah hampir magrib, aku pulang dulu. Assalamualaikum." Ujarnya sambil berjalan menjauh.
__ADS_1
"tunggu.."
-Bersambung-