Kamu & Senja

Kamu & Senja
Senyum Palsu


__ADS_3

"Cantiknya.." Benakku terus saja memuji perempuan yg saat ini terlihat bahagia bersama dengan laki-laki yg mantap untuk meminang dan mengikat janji di jari manisnya.


Yana.. Iyaa, bagaimana mungkin aku lupa nama lengkapnya, nama lengkap perempuan yg aku cintai.. Alfyana Mansur.


Apa yg harus aku lakukan sekarang. Di depanku saat ini.. Sahabatku melamar perempuan yg aku cintai dan menjadi alasan penyesalanku selama ini.


Apa yg terjadi sebenarnya? Sejak kapan mereka bertemu? Sejak kapan mereka saling mengenal? Sejak kapan mereka? Sejak kapan mereka saling menyukai?.. Iyaa, aku terus bertanya dalam hatiku, sambil tersenyum dan terlihat bahagia di depan mereka berdua.


Sakit!! Sakit rasanya, tapi aku tak tau harus melakukan apa. Aku hanya diam.. Tersenyum dalam luka.. Perasaanku.. Patah.


Sejak tadi.. Ku lihat Ibu dari Alfy masih segan melihat ke arahku, mungkin karena dia tau siapa aku dan apa yg telah di lakukan oleh anak pertamanya pada keluargaku.


Sementara Ayah dari Alfy mencoba rileks dan merespon baik Ivan saat memperkenalkan aku sebagai sahabat dekatnya. Meski cukup canggung tapi beliau tetap melihat ke arahku dan memperkenalkan dirinya seolah tak mengenalku sebelumnya.


Tak ada satupun dari keluarga Alfy yg mengenalku kecuali kedua orang tuanya dan juga Puput yg berusaha mencegah aku masuk sedari tadi. Kini aku tau alasan kenapa Puput begitu kekeh melarangku masuk ke dalam rumah.


Iya.. Tak ada satupun yg mengenalku kecuali mereka bertiga, bahkan Alfy.. Sampai saat ini ia belum mengingat siapa diriku.


Aku duduk.. Seolah-olah aku ikut menikmati jamuan makan di acara bahagia ini.. Bahagia untuk mereka tapi tidak denganku, apakah aku egois? Kenapa takdir lagi-lagi tak berada di sisiku?..


Hiruk pikuk tawa dan canda terdengar dari mereka semua.. Dari Ayah dan Ibu Ivan.. Keluarga Alfy.. Sampai mereka berdua.. Sedangkan aku yg saat ini memegang sepiring makanan tak sedikitpun menyantap atau bahkan menikmatinya. Pikiranku kacau.. Aku hanya ingin terbangun dari tidur saat ini, berharap bahwa aku sedang bermimpi tentang ini semua.


"Loh Man.. Kenapa ngak dimakan?" Ivan melihat ke arahku yg hanya bisa termenung karena kenyataan yg saat ini ku hadapi.


"Ngak, ngak papa." Aku merespon.. Aku tersenyum penuh kepalsuan sambil menyantap makanan yg ada di depanku.


"Makan yg banyak Nak Arman..." Nenek Alfy tiba-tiba melirik ke arahku.


Aku hanya membalas sambil tersenyum.


"Aku ngak nyangka ternyata Arman sudah kenal sama Yana.." Kata Ibu Ivan kepada Yana.


"Iyaa tante, Yana juga tidak tau kalau Ivan ternyata sahabatan sama Arman." Balas Alfy.


Aku terus menyantap makananku, sementara mereka membicarakan tentangku.

__ADS_1


"Yana juga tidak begitu ingat sih,.. Sejauh yg Yana tau kalau Yana sama Arman itu selain bergabung di UKM yg sama, juga ikut program studi banding di Malaysia waktu semester 3." Jelas Alfy.


"Oh gitu... Ya ampun." Kata Ibu Ivan.


Ivan merangkul leherku dan mengacak-acak rambutku. "Emang nih anak, ternyata dia udah kenal dengan calon istriku.. Jadi gak surprise deh." Ucap Ivan sambil bercanda.


Aku mencoba untuk sekedar tersenyum merespon candaan Ivan.


Sementara itu.. Ku lihat ekspresi sesal dari raut wajah Puput yg juga bergabung bersama kami di ruang tengah. Ayah Alfy mencoba kalem dengan situasi, pun dengan Ibunya yg sebenarnya sangat mengenalku.


"Yana tau tidak.. Kalau Arman ini sudah bareng terus sama Ivan sejak mereka masih kecil.. Udah kayak saudara. Kadang berantem.. Habis itu nangis, si Ivan sering ngadu ke tante kalau dia berantem sama Arman, terus Arman bukannya ngadu sama mamanya malah ngadu ke tante juga. Duhhh.. Kalau mengingat masa kecil mereka berdua rasanya tante jadi terharu.. "Ibu Yana terus saja mengatakan hal-hal tentang diriku dan Ivan.


Alfy yg mendengarkan larut dalam cerita.. Mungkin karena dia bisa mengetahui segala hal tentang Ivan.. Tentang masa kecil Ivan, bukan tentangku.


Sementara aku terus menyantap makanan.. Sambil menguatkan hatiku.


"Eh Man.. Pelan-pelan makannya, nanti keselek." Ivan menegurku.


"Iya nih Arman.. Tadi sepertinya tidak nafsu makan tapi sekarang makannya lahap sekali." Sambung Alfy.


"Iya ngak papa." Ucapku sambil memaksa tersenyum, tapi..


"Ah.. I.. Ini hehe. Makanan ini terlalu enak, aku jadi terharu. Iyaa enak. Hehe." Ucapku mengalihkan pembicaraan.


Sontak saja tingkah bodohku itu membuat orang-orang yg melihat ke arahku tertawa ringan. Kecuali mereka bertiga.. Ayah Alfy, Ibu Alfy dan Puput. Mereka memandang dengan canggung..


Fakta yg berada di depanku sangat melukaiku, aku mungkin masih bisa bersembunyi dengan memaksa mulut untuk tetap tersenyum tapi mataku tidak bisa di ajak kompromi. Meski hanya setetes tapi tetesan air mata itu sangat mewakili perasaanku saat ini.


Aku berada di situasi yg serba salah, aku tidak tau harus berekspresi seperti apa atau berkata apa sekarang.. Diam adalah hal terbaik yg bisa aku lakukan.


Setalah menyelesaikan makananku.. Aku berdiri dan beralasan untuk keluar sebentar mencari angin, padahal.. Aku hanya ingin pergi dari tempat ini.


Aku berjalan meninggalkan ruang tengah.. Aku pikir acara ini akan berjalan singkat tapi sepertinya percakapan dan keakraban yg ditampakkan dari keluarga Ivan dan keluarga Alfy membuat acara ini akan lebih lama dari biasanya.


Aku meninggalkan ruang tengah rumah.. Meninggalkan ruangan yg menyesakkan dadaku. Sampai di teras rumah, aku duduk di sebuah kursi yg tersedia.. Aku memikirkan ulang tentang apa yg sebenarnya terjadi.

__ADS_1


Aku melamun..


"Arman.." Seorang pria tak asing mendekat dan duduk di sampingku.


Orang itu adalah Ayah dari Alfy.


"Uztads.." Ucapku.


Sejak pertama bertemu aku memang sudah memanggilnya Uztads, bahkan aku bertemu sebelum aku tau bahwa dia adalah Ayah dari orang yg aku cinta.


"Maaf saya tidak memberitahukan hal ini sama kamu." Ucapnya sambil memegang punggungku.


Aku melihatnya sebentar lalu ku alihkan lagi pandanganku ke arah depan.


"Bagaimana keadaan Ibumu?" Tanyanya.


Sejak aku mengetahui jika keluarga Alfylah yg membuat Ayahku meninggal. Ayah Alfy datang ke rumahku setelah insiden kecelakaan yg menimpa Alfy terjadi, ia datang untuk meminta maaf pada Ibuku secara langsung atas apa yg telah dilakukan anak pertamanya kepada keluargaku.


Ibu tentu terkejut.. Sambil menangis dengan lapang dada, ia telah memaafkan keluarga Alfy, baginya itu sudah menjadi masa lalu.. Bahkan Ibuku sempat menjenguk Alfy dan mengatakan bahwa.. Jika Alfy sudah sembuh sepenuhnya dan perasaannya tetap sama. Maka Ibuku akan datang langsung melamar Alfy untukku. Seperti itulah seharusnya..


Tapi Alfy tidak sembuh meski kondisinya sangat sehat, ia mungkin kembali sehat tapi meninggalkan ingatan tentangnya denganku. Ia sampai sekarang belum mengingatku kembali.


"Alhamdulillah baik." Kataku membalas pertanyaan Ayah Alfy.


"Demi Allah saya tidak tau jika... Jika Ivan adalah orang yg dekat denganmu. Itu terjadi begitu saja.." Ucap Ayah Alfy.


"Tiba-tiba saja, saat kondisi Yana sudah mulai membaik.. Seorang pemuda datang ke rumah.. Persis seperti apa yg kau lakukan waktu itu.. Tapi Yana tidak mengenal Ivan.. Dengan percaya diri Ivan mengajak Yana untuk ta'aruf, saya sendiri waktu itu tidak percaya saat Yana menyetujuinya.. Saya juga tidak keberatan, karena waktu itu Ivan datang bersama dengan teman satu pengajian tempat biasanya saya mengikuti majelis ilmu. Tentu saja, dari situ saya mengambil kesimpulan bahwa Ivan adalah pemuda yg baik dan sholeh.. Sampai akhirnya proses ta'aruf mereka berjalan dengan baik.. Dan.. Yana menerima niat baik dari Ivan. " Lanjut Ayah Alfy menjelaskan.


Meski tak acuh, aku tetap mendengar apa yg dikatakan oleh Ayah Alfy.


"Seperti itulah yg terjadi.. Saya minta maaf, tapi mungkin ini akan terdengar jahat.. Arman.. Tolong jangan rusak hubungan anak saya dengan Ivan.. Apa lagi Ivan sudah melamar anak saya.. Jadi.."


"Iyaa.. Saya ngerti Uztads." Ucapku memotong ucapan Ayah Alfy, ucapan yg mengoyak hati dan perasaanku. Jika aku mendengar hal itu lebih jauh lagi mungkin saat itu juga aku akan kembali meneteskan air mata.


"Tidak usah khawatir.." Aku berdiri dari tempat duduk.

__ADS_1


"Aku..., tidak,.. lagi pula tidak mungkin aku masih punya perasaan pada perempuan yg keluarganya telah menghancurkan keluargaku." Ucapku sekali lagi sambil berjalan meninggalkan teras rumah.


-Bersambung-


__ADS_2