Kamu & Senja

Kamu & Senja
Ayah


__ADS_3

(Bagian Flashback)


Siang ini panasnya sangat terik, tidak seperti biasa burung yg terlihat hinggap dan terbang di atas pohon belakang rumahku kini hanya terlihat diam di sarangngya. Orang-orang yg berlajan kaki di gang sempit belakang rumahku terlihat mamakai payung meski tak hujan, tentu saja untuk melindungi kepala mereka dari teriknya matahari.


Aku bersama dengan adikku sedang bermain di belakang rumah. Adikku saat ini duduk di bangku kelas 6 SD, dia satu-satunya adik ku. Yaa.. kami dua orang bersaudara dengan seorang ibu dan ayah yg sudah meninggal 2 tahun yg lalu saat aku masih duduk di bangku kelas 3 SMA.


Ayahku seorang petugas polisi yg hebat, Ayahku adalah pahlawan. Dia meninggal ketika bertugas di pos lalu lintas jalan raya. Dia meninggal karena terbunuh setelah memeluk bom yg di lempar oleh orang yg tidak bertanggung jawab. Ayahku memeluk bom itu untuk mencegah ledakannya mengenai pejalan kaki yg lain.


Serangan ******* 2 tahun lalu begitu membekas bagi keluarga kami, tentu karena kejadian itu menewaskan Ayahku. Setelah kejadian itu, keluarga kami berbenah tentu tak ingin larut dari kesedihan.


Ibu berjuang seorang diri demi memberi aku dan adikku nafkah. Jika di tanya apakah aku menyanyayangi Ibu atau tidak, maka tak usah aku jawab cukup aku buktikan dengan membuatnya bahagia. "Han.. Raihan.. Sini nak sebentar." Kata ibu memanggil adikku.


"iya Ma.." Jawab Raihan.


"tolong kamu beli bahan ini yah di supermarket depan." Kata Ibu sambil memberikan daftar belanjaan dan juga uang kepada Raihan.

__ADS_1


"Ma.. Kenapa gak nyuruh aku aja." Kataku kepada Ibu.


"iya.. kamu anterin ini ke rumahnya tante Lani yah." Kata Ibu menyerahkan kotak yg aku tak tau isinya.


"ohhh ya udah, sini Ma biar aku anterin." Aku lalu bersiap-siap untuk mengantar barang itu ke rumah tante Lani karena memang rumahnya cukup jauh dari rumahku.


Cukup lama aku di jalan, bukan karena rumah tante Lani jauh banget, hanya saja jarak yg dekat pun akan terasa sangat-sangat jauh jika macet sudah terjadi di jalan. Sekitar 2 jam lebih aku terjebak macet sampai akhirnya bisa berkendara dengan lancar.


Setelah sampai ke rumah tante Lani aku lalu memberikan barang itu dan segera pamit pulang. Suara adzan shalat ashar akhirnya terdengar dan aku hendak singgah di mesjid untuk menunaikan kewajiban.


Setelahnya aku berbaring sejenak di dalam mesjid. Ku lihat orang satu persatu mulai keluar dari mesjid, aku melihat salah satu orang yg begitu khusyuk sedang berdoa. Perawakan pria baru baya menggunakan sorban dengan gamis panjang sampai betis. Janggot panjang yg terlihat sudah mulai memutih menutupi dagu hingga dadanya.


Jika di tanya apa aku membenci *******, tentu aku sangat membencinya. Mereka hanya orang bodoh, yg mereka lakukan hanya membunuh, mereka tidak sedang memperjuangkan apa-apa, semua yg mereka kerjakan hanya berdasarkan kebodohan mereka. Dan kemudian yg menjadi korban adalah agama mereka dan agamaku.


Agamaku dan Agama pria paruh baya yg sedari tadi berdoa di depanku. Orang-orang jodoh ini tidak berfikir terbuka, mereka di butakan oleh ideologi sesat tanpa mau mencari tau benar atau salah yg mereka lakukan. Akibatnya orang tak bersalahpun jadi korban.. Aku pun kehilangan Ayahku.. Aku kehilangan Ayahku.

__ADS_1


Memikirkan itu tanpa sadar aku meneteskan air mata, aku mengingat semua momen saat bersama Ayahku. Pernah kah kau merasakan seperti apa yg aku rasa, sosok Ayah yg sedari kecil menjagaku, mengajariku menjadi seorang lelaki bertanggung jawab, harus meninggalkanku saat usiaku masih remaja.


Momen ajaib saat aku masih kecil dulu, dimana aku tertidur di kursi malam harinya, dan di pagi hari saat aku membuka mata ternyata aku sudah ada di tempat tidurku. Ajaib fikirku ketika itu, beranjak remaja kini aku lihat siapa yg memindahkan aku waktu itu, saat aku melihat Ayah melakukan hal yg sama kepada Raihan. Ayah.. Aku merindukannya.


Aku benar-benar tak bisa lagi menahan air mata yg terus keluar, mengalir tanpa mau berhenti jika aku sudah memikirkan tentang Ayahku. Menangis adalah emosi positif, karena setelahnya kau benar-benar akan merasa lega dengan keadaan. Akhirnya seraya meneteskan air mata aku memanjatkan doa untuk Ayahku. Ayah sedikit doa kepadamu di alam sana, maafkan anakmu yg belum bisa membahagiakan Ibu. Ayah.. Aku merindukanmu..


Setelah menumpahkan semua perasaanku dengan doa, aku lalu keluar dari mesjid. Sekarang sudah sekitar jam setengah 5, waktu yg tepat untuk menikmati alam favoritku. Senja..


Tempat terbaik untuk menikmati senja dimana lagi kalau bukan tempat matahari terbenam yaitu lepas pantai di bagian barat kota ini, cukup jauh tapi semoga aku bisa tiba tepat waktu.


Jalan yg tidak terlalu padat kemudian membantuku sampai lebih cepat dari perkiraan. Bukan hanya aku di sini, ada banyak orang yg menantinya. Ada banyak aktivitas, mulai dari hanya sekedar duduk, sekedar bercengkrama bersama keluarga, sekedar menikmati segelas kopi panas di kedai-kedai yg tersedia dan ada juga yg menyempatkan bermain air di pinggir pantai.


Aku lalu berjalan menuju tempat favoritku ketika berada di sini. Tanpa sadar matahari perlahan mulai pamit, langit yg berwarna jingga kemarah-merahan layaknya sebuah fana merah jambu. Memanjakan mata bagi siapa saja yg melihatnya, burung yg terbang dengan kawanannya menambah indah langit senja kali ini.


Saat aku sampai pada tempat biasa aku menikmati senja, ku lihat di tempat itu ada seorang perempuan. Aku mendekat sesaat aku sadar bahwa perempuan itu ternyata Fina. Lagi.. Kebetulan kali ini tidak akan aku sia-siakan.

__ADS_1


Kali ini aku harus berhasil kenalan dengannya, aku tak mau terus-terusan hanya melihat dia dari jauh. Aku cukup degdegan, dengan menghela nafas panjang aku kumpulkan keberanian untuk menyapanya. Aku pun mendekat dan mencoba berbicara dengannya. "hei.." Kataku canggung.


-Bersambung-


__ADS_2