Kamu & Senja

Kamu & Senja
Kriminal


__ADS_3

(Bagian Flashback)


Keesokan harinya di kampus, karena cuma ada satu jadwal kuliah maka seperti biasa kami menghabiskan waktu bersama dengan nongkrong di kantin.


Ica yg sudah menghilang sedari awal ketika jam kuliah habis, sepertinya langsung menuju rumah sakit tempat Irwan sedang di rawat. Dia juga memberikan surat keterangan dokter kepada Dosen untuk menegaskan bahwa Irwan tidak masuk kuliah karena memang sakit dan tidak bisa hadir dalam perkuliahan.


"gila yah, perasaan Ica dulu benci banget sama Irwan. Sekarang dia jadi perhatian kayak gitu." Adi memulai pembicaraan.


"cinta memang gila." jawabku.


"Wahid kemarin gak jadi datang ke kenapa?" tanya Gina.


"iya sorry banget, tiba-tiba ada rapat komunitas." jawabnya.


"sudah ku duga." respon Adi.


"Ham, kita selesai dari sini mau ke rumah sakit. Kamu mau ikut gak?"


"gua gak bisa, gua ada urusan sama temen-temen UKM Theater sore ini." ucap Ilham.


"jenguknya juga gak sampe sore kok Ham." lanjut Gina.


"gak usah." tegas Ilham.


"Maaf Ham." Gina cemberut karena penekanan Ilham saat menolak sedikit meninggikan suara seperti sedang marah.


"ya udah, gua pamit dulu mau ke UKM." Kata Ilham.


Ilham pun bangkit dari kursi dan beranjak meninggalkan kami."Gin, kalian semua." kataku kepada mereka semua.


"jangan sebut nama Ica sementara waktu di hadapan Ilham. Sekarang dia sedang mencoba ngelupain Ica, kalian tau kan selama ini perasaan Ilham kayak gimana ke Ica." lanjutku menerangkan situasi Ilham.


"oh gitu." Ujar Gina.


"aku baru tau ternyata sedalam itu perasaan Ilham ke Ica." Kata Wahid.


"Man. Aku yakin kamu pasti tau. Instingku bilang Ilham punya rahasia selama ini, rahasia kenapa dia bisa secinta itu sama Ica." Kata Adi.


"baiklah, mungkin sudah waktunya kalian tau." Ujarku.


Aku merasa harus mengatakan ini kepada mereka bertiga. Bagaimanapun mereka adalah teman dekatku dan teman dekat Ilham, setidaknya kalau aku mengatakan ini mereka akan mengerti situasinya.


Akupun menceritakan tentang gadis kecil dan gelang manik-manik sebagai bukti bahwa mereka terikat janji untuk bersama sedari kecil. Aku menceritakan bahwa selama ini Ilham masih memegang janji kecil itu, aku mengatakan bahwa gadis cilik itu adalah Ica.


"hah... Gila." respon Adi.


"Ilham bener-bener. Asli sih dia loyal." Kata Wahid.


"gelang manik-manik?" tanya Gina terkejut.


"iya, seperti itulah Ilham yg kita kenal." kataku.


"jadi gitu yah."

__ADS_1



"kenapa Gin?" tanyaku.


"gak.. Gak papa. Aku.. Tidak lupakan saja." ucap Gina bingung.


"hmm.. Tapi kan Ica gak tau." Kata Adi.


"iya percuma kalau Ica gak tau." ucap Wahid.


"kita harus kasih tua Ica kalau gitu." balas Adi.


"jangan bro. Biarin Ilham memutuskan. Sekarang dia memutuskan untuk ngelupain itu dan kita harus menghormati dia." jelas ku.


"tidak.. Jangan gitu." respon Gina.


"Gin kamu harus mengerti perasaan Ilham." ucapku


"gak maksudku, kenapa kita harus membiarkan Ilham melupakan janjinya itu.. Itu tidak adil. Bisa saja perempuan itu bukan Ica kan? Bagaimana bisa dia seyakin itu kalau perempuan yg memegang gelang janji mereka berdua adalah Ica?"


Sepertinya Gina bingung dengan dirinya sendiri, dia terlihat tidak yakin dan tak tau harus bersikap seperti apa atas kenyataan yg ku sampaikan kepada mereka.


"kenapa Gin? Kok gitu?" tanya Adi.


"mak.. Maksudku, bagaimana kalau Ica nanti tau dan dia menyalahkan kita karena tidak memberi tahu Ica." Kata Gina gugup.


"Kamu bener Gin, tapi saat ini bukan waktu yg tepat." tuturku.


"iya itu benar." sambung Adi.


Di tempat lain, di gedung UKM. "woy bro, dari mana lu. Lesu amat?" tanya Ardan salah satu teman Ilham di UKM Theater.


"habis kuliah, gimana sebentar sore jadi gak?"


"iya bro jadi dong."


"terus anak-anak yg lain mana?"


"di dalam lagi nyantai."


"wes, bro." sapa Roy yg keluar dari dalam sekretariat UKM melihat Ilham.


"eh Roy, di dalam ada siapa aja?"


"ada Anya, Diva, Anggi sama Tia." jawabnya.


"yg cowok-cowok mana?"


"gak tau, belum datang kali."


"oh ya udah.


Saat mereka bertiga berbincang, tiba-tiba seorang laki-laki datang. "Roy, lu lihat Kinan gak?" tanya laki-laki itu.

__ADS_1


"gak bro, dari tadi juga di cariin sama anak-anak." jawab Roy.


"oh gitu, kalau lu lihat dia tolong tanyain yah kalau gue lagi nyariin. Gue ada di UKM Photography." ucap laki-laki itu meninggalkan mereka bertiga.


"Roy itu siapa sih?" tanya Ilham.


"namanya Gibran, pacarnya Kinan."


"anak UKM Photography?" sekali lagi penasaran.


"iya, dia ketua UKMnya sekarang." balas Roy.


"oh, kalau gitu gua mau bicara sama dia."


Ilham lalu beranjak dari tempatnya dan mengejar Gibran yg berada di depannya. "bro.. Bro.." panggil Ilham.


Gibran berbalik melihat Ilham yg berlari mengejarnya.


"sorry bro, gua mau nanya sesuatu." Kata Ilham.


"iya bro, nanya apa?" respon Gibran.


"ngomong-ngomong lu udah ke rumah sakit belum?"


"rumah sakit? Ngapain?" tanya Gibran heran.


"bukannya temen lu lagi di rumah sakit sekarang?" tanya Ilham


"hah? Temen gue. Siapa?"


"Irwan. Irwansyah salah satu anggota lu kan?"


"Irwan yg anak sospol itu?"


"iya itu."


"oh dia di rumah sakit, rasain tuh biar kapok." umpat Gibran


Mendenger hal itu Ilham heran sekaligus penasaran. "kok gitu bro? Emang si Irwan kenapa sampai lu kayak benci banget gitu sama dia?"


"Irwan emang anggota bro, tapi udah dua bulan ini dia gak pernah datang lagi ke UKM. Gue sempat berantem sama dia."


"berantem? Maksud lu tonjok-tonjokan gitu."


"iya, jadi dia itu ternyata sering make di sekretariat UKM, bukan cuma make tapi juga ngedarin di area kampus. Anak-anak udah risau karena ulah dia tuh. Gue sempat negur tapi dia gak terima, akhirnya kita berantem dan anak-anak yg lain ngeroyokin dia. Sejak itu dia gak pernah lagi muncul di UKM." jelas Gibran.


"bentar bro, maksudnya make? Ngedarin tuh apa?" Ilham penasaran.


"ya lu tau lah. Irwan itu pengedar narkoba bro." ucap Gibran.


"hah.. Lu yakin bro?"


"iya bro, anak-anak di UKM Photography udah pada tau kok."

__ADS_1


Ilham tentu saja terkejut, wajahnya terlihat panik. Hal yg membuat dia panik adalah pikiran liarnya saat ini yg memikirkan perempuan yg dia dambakan sedari kecil, siapa lagi kalau bukan Ica.


-Bersambung-


__ADS_2