Kamu & Senja

Kamu & Senja
Grogi


__ADS_3

Matahari kian meninggi, tanda untuk bersujud kembali sudah terlihat. Tak ingin kehilangan fadilah Shalat Dhuha, Ivan mengambil air di tangan dan mulai membasuh muka serta bagian-bagian yg lain. Wajahnya berseri dan bercahaya akibat air wudhu yg masih menempel di wajahnya. Sembari menghadap ke kiblat dengan niat shalat Dhuha diapun bertakbir menuju Tuhannya.


Sangat khusyuk, gerakan demi gerakan mulai dari rukuk, sujud hingga berdiri kembali dia lakukan dengan perlahan. Bibirnya yg tak diam terus saja melantunkan ayat Qur'an dan puji-pujian kepada Allah Subhanahu Wa Ta'ala.


Dua rakaat telah selesai namun dia bengkit kembali untuk memulai, dua rakaat selesai lagi dan akhirnya dia mulai mengangkat tangan sembari berdoa kepada Tuhannya. Hanya satu doanya hari ini, semoga besok siang pertemuan dia dengan keluarga perempuan yg sudah beberapa bulan ini berta'ruf dengannya menerima pinangannya, menerima dia untuk bergabung dengan keluarga mereka.


Setelah menggoda Tuhannya dengan doa, diapun bersiap-siap. Tidak hanya mempersiapkan penampilan tapi juga mental dan iman. Tentu perlu karena kemungkinan dia di tolak tetap ada walau selama ini proses yg dia jalani berjalan dengan baik.


Ivan percaya bahwa hati perempuan yg ingin di pinangnya bisa berubah sewaktu-waktu, begitupun hati keluarga perempuan itu sebab yg mengatur hati adalah dia Yang Maha Memiliki Hati.


Pertemuan dengan keluarga pujaan hatinya itu akan berlangsung besok siang. Mungkin karena tidak tenang, akhirnya dia berfikir untuk bertemu dengan sahabatnya terlebih dahulu meminta saran dan masukan. Diapun berangkat menaiki sepeda motor. Dia berangkat ke rumah Arman, sahabat baiknya yg sudah membantunya belajar agama Islam serta membimbingnya selama ini.


*sementara itu, di tempat Arman.


Arman, mau kemana kamu nak?" kata Ibu yg melihatku keluar membawa motor.


"aku ke toko bunga bentar Ma." Balasku.


Seperti minggu sebelumnya, hari ini aku harus mengulangi kembali rutinitas mingguanku. Memesan bunga matahari dan mengirimkannya kepada seseorang sebagai tanda permintaan maaf. Meski aku tak berani untuk menyatakannya langsung kepadanya. Aku hanya menuliskan sedikit cerita di setiap bunga yg aku kirimkan padanya agar setidaknya dia tau bahwa aku telah menyesali atas perbuatanku padanya."assalamualaikum Mas." ucapku masuk ke dalam toko bunga.


"iya.. Eh Mas Arman."


"seperti biasa ya Mas." Kataku kepada Mas Lukman.


"iya Mas, tapi maaf sepertinya kami tidak bisa mengirim bunganya besok karena kebetulan kurir lagi cuti terus besok saya juga harus ke luar kota." Jelasnya.


"oh gitu yah." Aku pun sempat berfikir untuk kali ini tidak melakukan tindakan sia-sia ini. Tapi mengingat ini adalah jalan yg aku tempuh untuk menebus kesalahanku, aku tidak bisa tidak melakukannya. Walaupun selama ini pesan yg ku sisipkan pada bunga itu tak pernah di balas dan tak tanggap olehnya.


"kalau gitu biar saya sendiri yg kasih langsung Mas." Kataku memberanikan diri.


"yakin nih Mas."


"iya gak papa."


"bener nih Mas, gak mau nunggu 2 hari lagi aja." Katanya.


"iya Mas. Tolong." Kataku ngotot.


"ya udah Mas. Saya siapkan dulu bunganya."

__ADS_1


Entah kenapa hari ini Mas Lukman beringkah aneh seperti itu, tatapannya juga berbeda. Mungkin karena selama ini dia mengira bahwa aku tidak berani untuk memberikan langsung bunga ini, makanya dia berkata seperti tadi. Bisa ku maklumi karena memang sudah 5 bulan rutinitas ini aku jalani dan baru kali ini aku berinisiatif untuk mengantar langsung bunganya.


Tak lama Mas Lukman datang dengan seikat bunga matahari yg ku pesan. Setelah itu aku keluar dari toko dan memantapkan hati untuk berangkat ke rumahnya, ke rumah dia, ke rumah Alfy.


Di jalan sambil mengendarai motor aku gelisah, di pikiranku terus membayangkan ekspresi wajah apa yg akan di tampakkan dia jika melihatku datang ke rumahnya. Mungkin kah dia akan tersenyum seperti dulu atau malah tak menganggapku siapa-siapa.


Yg jadi pikiranku adalah, mungkin kah dia tidak membaca setiap pesan singkat yg aku sisipkan pada setiap bunga yg aku kirimkan untuknya. Apakaj kertas itu di buang tanla membaca isinya?


Pikiranku terus berputar hingga aku telah sampai tepat di depan rumahnya. Aku diam di atas motor sejenak, mencoba menenangkan diri. Aku menarik dalam-dalam nafas untuk menenangkan pikiran, setelah itu aku mengucap bismillah sambil memarkirkan motorku. "assalamualaikum.. Permisi." Kataku memberi salam sambil memukul-mu kul pagar besi yg terlihat terkunci.


Aku terus mengulangi dan terus mengucapkan salam tapi tak ada yg menjawab. Jika di perhatikan memang rumah ini sepertinya sedang kosong tapi aku tetap saja berusaha sampai seseorang di rumah sebelah keluar dan mengatakan bahwa pemilik rumah ini sedang keluar. Katanya pemilik rumah ini sedang pergi ke rumah orang tuanya.


Mendengar hal itu tentu aku sedikit kecewa tapi mau bagaimana lagi. Sesaat aku berfikir untuk meninggalkan bunga ini di depan rumah tapi ku urungkan niatku karena takut pemilik rumah ini baru kembali dua atau beberapa hari lagi. Hingga bunganya layu dan percuma.


Dengan berbesar hati akhirnya aku memutuskan membawa bunga ini kembali ke rumah bersamaku. Setidaknya di rumah aku bisa membuatnya tetap segar dan tak layu dengan percuma.


Kembali aku di bebani pikiran-pikiran tentang takdir yg tak memihak padaku, aku merasa bahwa satu lagi tanda hari ini, tanda yg seharusnya membuat aku harus mundur sedari lama. Hanya saja setiap ingin mundur, perasaan dan hatiku seakan tak bisa, tetap saja memberi semangat agar tak menyerah. Itulah yg sedang ku lakukan sekarang, tetap tegar dan tak menyerah.


Sampai di rumah aku melihat sebuah motor terparkir. Ketika aku masuk aku lihat Ivan sedang duduk dan bercengkrama dengan Ibuku. "Ivan. Tumben ada apa?" Kataku sambil bersalaman dengannya.


"Ya udah ngobrol aja ya nak. Ibu masuk dulu." Kata Ibuku.


Aku kemudian duduk dengannya. Sepertinya dia ingin mengatakan sesuatu.


"Arman, sepertinya aku grogi."


"grogi? Kenapa emang?"


"sebenarnya besok aku mau ke rumah Yana. Besok adalah penentuan Man."


"Yana? Oh perempuan yg sedang ta'aruf dengan kamu Van?"


"iya Man."


"terus-terus gimana Van?"


"besok akhirnya dia sudah mau menjawab lamaranku. Aku di terima atau ngak akan Terjawab besok." Jelas Ivan.


"masyaallah Van. Semangat bro. Insyaallah kamu bakal di terima." Balasku meyakinkan Ivan.

__ADS_1


"insyaallah Man, tapi aku tak mau juga terlalu berharap entar sakit hati."


"iya.. Betul Van. Tapi optimis pentingkan. Kamu tenang aja aku doain semoga kamu di terima Van."


"aamiin. Makasih.


"gak nyangka secepat ini kamu nikah. Padahal dulu aku masih ingat kamu galau di tinggal Dian." Balasku menggodanya.


"subhanallah Man. Belum pasti nikah."


"insyaallah Van. Tenang aja kamu." Kataku menenangkan Ivan yg terlihat gugup.


"Huff.. Bismillah." Katanya sambil menarik nafas.


"udah tenang, laki-laki sholeh dan tampan seperti kamu insyaallah di terima."


"hahahaha. Bisa aja kamu. Terus menurut mu sebaiknya aku bawa sesuatu gak? Atau gimana?"


"oh iya ini Van, kebetulan aku ada bunga nih." Kataku sambil memperlihatkan bunga matahari kepada Ivan.


"bunga matahari?"


"iya, tadinya aku mau kasih ke seseorang tapi dia lagi tidak ada di rumahnnya jadi aku bawa aja pulang." Jelasku.


"ohh."


"kalau kamu mau, kamu boleh ambil, terus bawain calon mu itu, Siapa tau dia suka. "


"hm.. Bunga matahari yah." Katanya sambil berpikir.


"dari pada gak bawa apa-apa. Siapa tau aja bisa membantu. Tapi terserah kamu sih."


"ya sudah, aku bawa untuk besok. Semoga dia suka."


"siplah."


Kami berbincang dan tak sadar akhirnya waktu Dhuhurpun tiba dan kami berdua berangkat ke mesjid dekat rumahku untuk menunaikan kewajiban.


-Bersambung -

__ADS_1


__ADS_2