
(Bagian Flashback)
Malam ini jadi malam terakhir aku melihat langit senja di Malaysia, sudah ku duga langit senja memang indah dimanapun itu. Setelah memandang langit aku lalu melihat Alfy dan Ana memeluk Sahidah, di iringi isak tangis mereka bertiga terlihat tak ingin pisah.
Waktu memang kadang mengeluarkan sisi jahatnya dengan memisahkan tapi kemudian jarak datang memberi rindu, sekarang tinggal menanti kebaikan waktu untuk selanjutnya mempertemukan kembali.
Ku lihat pula Riyal yg sibuk berbincang dengan Dosen pendamping, entah apa yg mereka berdua perbincangkan. Tak lama Sahidah datang kepadaku sambil menangis, melihat perempuan menangis di depanku tentu saja jiwa kejantananku meronta-ronta tapi apalah yg bisa ku lakukan selain berkata manis agar dia tidak sedih dengan kepergian kami berempat."nangisnya di sini aja." Sambil memberikan bahuku padanya.
Tentu aku melakukan itu untuk menghiburnya. Dia pun tersenyum malu sambil menghapus air matanya."hati-hati.. Jangan lupakan saya." Kata Sahidah terisak.
Selama di Malaysia, Sahidah adalah orang yy paling dekat dengan kami bertempat. Jadi rasanya wajar saja jika dia sampai menangis seperti ini melihat kami pergi. "tentu tidak. Semoga kita bisa bertemu lagi." Kataku menghiburnya.
Kami lalu bergegas masuk ke bandara meninggalkan Sahidah yg terus saja mengusap air matanya."eh kita berangkat jam berapa sih?" Ucapku.
"jam 5 lewat 20." Balas Riyal .
__ADS_1
"waduh gak sempat shalat magrib dong yah." Kataku.
"nanti di jamak saja kalau sudah sampai di Indonesia." Kata Alfy memberian solusi
Seperti penampilannya, bisa mengenalnya sedekat ini aku jadi tau kalau Alfy ilmu agamanya di atas rata-rata. "haduh.. Laporan menanti." Ujar Ana bergumam dengan dirinya sendiri.
"haha semangat.." balasku.
"ya elah.. Kamu enak selama di RS gak di bebankan laporan." Balasnya dengan tatapan iri.
Ada hal yg menggangguku dari tadi, aku tidak melihat kedekatan antara Riyal dan Alfy, apakah mungkin mereka tidak punya hubungan apa-apa alias Riyal di tolak oleh Alfy. Sejak di apartemen sampai di bandara mereka berdua terlihat normal seperti biasa, tak ada yg berubah. Akhirnya aku terus memikirkan itu tanpa tau cara mencari tau kebenarannya kepada mereka berdua.
Hingga rasa penasaran itupun terbawa sampai di dalam pesawat.. Di dalam pesawat juga sama, aku tak tau bagaimana cara mengkonfirmasi hubungan Riyal dan Alfy. Aku hanya terus mengamati mereka berdua.
Setelah terbang kurang lebih 2 jam kami akhirnya tiba di Indonesia. Karena sudah memiliki jemputan masing-masing, kami bertempat langsung berpisah. Tentu yg menjemputku siapa lagi kalau bukan Ilham.
__ADS_1
Ilham terlihat menunggu di area penjemputan, setelah bertemu kami langsung berjalan ke arah mobil. Setelah masuk ke dalam aku terkejut melihat Adi dan Gina. "eh.. Kalian berdua.. Ngapain di dalam mobil berdua doang lagi." Kataku dengan nada bercanda.
"hahaha.. Lagi zina." Balas Adi sambil bercanda.
"selamat datang kembali Man.." Kata Gina menyambutku masuk ke dalam mobil.
"oleh-oleh nya mana?" ujar Adi menagihku seolah aku punya utang kepadanya.
"ya elah baru sampai, besok deh.. Capek." Jawabku.
Sepanjang perjalanan pulang di dalam mobil kami pun bercerita panjang lebar tentang hal-hal yg ku alami selama berada di negeri orang, tapi ada hal yg belum bisa aku katakan kepada mereka meski mereka teman baik ku. Aku masih belum bisa mengatakan bahwa aku menyukai seseorang.
Karena jalan sedang padat-padanya, akhirnya sampai di rumah sudah jam 9 malam, ketika turun dari mobil ku lihat Ibu sudah menunggu di teras rumah. Raihan yg melihat ku turun dari mobil langsung menghampiri sambil membantu mengangkat barang bawaan ku.
Ku hampiri Ibu lalu memeluk dan mencium tangannya. Memang sesederhana apapun tidak akan ada yg mengalahkan nyamannya berada di rumah. Jika ada hal yg belum aku beritahukan kepada ibuku malam ini mungkin adalah luka yg ada di perutku. Setidaknya tidak untuk malam ini, sebaiknya aku menunggu momen yg tepat.
__ADS_1
-Bersambung-