
Bertempat di fakultas sospol..
Di kantin tempat biasa teman-temanku menghabiskan uang jajan dan nongkrong kalau lagi tak ada kuliah.
"Arman.. Woi!" Wahid berteriak dan mengangkat tangannya.
Aku melihat Wahid, sepertinya ia sedang duduk bersama seorang perempuan saat ini. Aku mendekat ke arahnya..
"Darimana aja bro? Dari tadi aku tungguin." Ucapnya, terlihat kesal tapi dari gelagatnya ia sedikit senang karena mungkin bisa berdua dengan perempuan yg saat ini bersamanya.
"Maaf bro, tadi gak sengaja ketemu sama teman. Ngobrolnya keasyikan jadi lupa waktu." Ucapku sambil senyum-senyum penuh arti.
Iya, penuh arti karena berkat perempuan yg aku temui itu, moodku jadi lebih baik saat ini. Kagalauanku sedikit terobati olehnya.
Sejam lebih aku berbicara banyak dengan Evelyn, jika bukan karena dia harus mengerjakan sesuatu mungkin saat ini aku masih bersama dengannya.
"Oh iya, kenalin nih!" Wahid memperkenalkan perempuan yg saat ini bersamanya.
"Namanya Acha.." Lanjut Wahid.
"Kak.." Sapa perempuan itu.
"Cha' ini Arman.. Teman angkatanku yg udah alumni." Kata wahid.
Aku hanya tersenyum melihat perempuan itu.. Aku tidak heran, sepertinya perempuan bernama Acha ini adalah gebetan baru dari Wahid.
"Jadi gimana nih.. Ada keperluan apa di kampus?" Tanya Wahid.
"Ngak, kebetulan aku ada janji sama teman di gedung rektorat." Tentu saja apa yg aku katakan hanya kebohongan, alasan aku datang ke kampus karena.. Aku tidak bisa bertemu dengan Ivan.. Bukan, bukan tidak bisa tapi tidak mau melihat Ivan.. Padahal dia adalah sahabatku, tapi.. Rasanya sakit.
"Oh gitu.. Terus, apa rencana kedepan?"
Pertanyaan yg paling banyak aku dapatkan dari orang-orang setelah aku lulus kuliah adalah pertanyaan ini..
Banyak orang mengira bahwa lulus kuliah adalah akhir perjalanan mereka.. Benar, itu adalah akhir dari masa studi tapi untuk perjalanan hidup yg sesungguhnya itu adalah awal.
Awal yg membuat tak sedikit orang akan gelisah dengan pilihannya.. Ada banyak jalan yg bisa di tempuh saat selesai kuliah. Bisa dengan melanjutkan kembali pendidikan ke tingkat yg lebih tinggi, bisa dengan mencari kerja, atau menjalankan usaha.. Atau lain sebagainya.
Ada banyak jalan, tapi tidak mudah.. Mental harus siap tentunya. Jalan terjal dan berbatu menunggu.. Tapi untuk apa... Orang bilang untuk sukses.
Sukses itu apa? Kebanyakan bilang sukses itu adalah jabatan dan kekakayaan. Jika sudah seperti itu, bahkan akupun jadi bingung dengan masa depan.
"Arman.. Man.."
"Oh iya, sorry-sorry.."
"Kenapa sih?"
"Ngak, ngak papa.. Aku masih belum berpikir sekarang mau ngapain."
__ADS_1
"Oh, ya udah.. Santai aja. Asal jangan kelamaan mikir. Hahaha." Wahid tertawa ringan.
"Jadi, gimana.. Anak-anak yg lain. Masih sering ke kampus ngak mereka?" Aku bertanya tentang teman-teman angkatanku di kampus.
"Hm.. Kemarin aku ketemu sama Aan. Biasalah.. dia juga masih aktif di organisasi."
Perbincangan kamipun berlanjut.. Yg paling mengambil perhatian tentu saja Gina. Ia benar-benar menghilang, tak terdengar kabar darinya.
Sedangkan Adi saat ini sudah pulang ke daerahnya, mungkin aku tak akan bertemu lagi dengannya.
Ilham.. Terakhir aku bertemu dengannya,.. Seminggu yg lalu di acara wisuda bersama dengan Ica.
Aku ingat kembali.. Setelah pikiranku kacau karena kenyataan pahit pertunangan antara Ivan dan Alfy.. Kini aku ingat kembali bahwa pertemananku juga rusak.
Yg merusak itu semua itu adalah cinta..
Satu kata yg saat ini sangat memuakkan jika aku mendengarnya. Sekali lagi, aku bukanlah orang beruntung karena cinta tidak datang untuk membahagiakan hidupku, tapi malah merusak segalanya.
Cukup lama aku dan Wahid berbincang, saat hari mulai sore.. Aku putuskan untuk pulang ke rumah.
Baru aku berdiri dari kursiku, di depanku saat ini.. Alfy tersenyum dan menyapaku.
"Arman.." Sapanya.
"Alf.. Fina.." Kataku canggung.
"Tumben ketemu di sini!" katanya.
"Man.. Siapa?" Wahid menegur percakapanku dengan Alfy, ia mengangguk karena ingin aku memperkenalkan Alfy padanya.
"Oh iya.. Fin, ini teman angkatanku Wahid dan ini temannya Acha." Ucapku sambil menunjuk Wahid dan Acha.
"Bro.. Ini Fina atau Yana atau.. Ah sudahlah. Ini calon istri dari Ivan." Ucapku.
"Hai.." Kata Wahid menyapa.
Alfy tersenyum kepada Wahid dan Acha.
"Jadi aku panggilnya seperti apa nih?" Wahid bingung karena aku menyebut beberapa nama.
"Panggil Fina saja, teman-temanku biasa manggil aku seperti itu." Jelas Alfy.
"Oh iya.. Ngomong-ngomong selamat yah! Atas pernikahannya." Kata Wahid.
"Belum nikah,.. InsyaAllah tahun depan." Balas Alfy.
"Oh.. Hehe.. Sorry."
"Fin, sorry ak-aku pamit pergi dulu." Rasanya berat berada di dekatnya lama-lama.
__ADS_1
"Kenapa? Buru-buru yah?"
"Iy-iya, sorry ak.."
"Arman udah makan? Tanya Alfy tiba-tiba.
"Belum tuh kayaknya, soalnya dari tadi aku di sini sama dia.. Ku lihat dia ngak pesan apa-apa." Wahid ikut campur dengan menjawab pertanyaan Alfy.
"Loh.. Makan dulu aja. Kebetulan aku juga lapar.. Makan bareng yuk, kebetulan aku juga nungguin Citra di sini."
Aku diam sejenak.. Alfy.. Dia berbicara padaku seolah semua baik-baik saja. Ada apa dengan perempuan ini.. Apa dia sedang berpura-pura.
"Arman.. Gimana?" Katanya.
"Ngak usah Fin, aku udah kenyang.
"Oh ya udah.. Oh iya, hari ini Ivan sudah berangkat ke Jepang. Tadi dia nelfon aku katanya dia gak sempat ketemu sama kamu karena kamu lagi ke kampus."
"Padahal Ivan pengen banget ketemu sama kamu.." Lanjut Alfy mengatakan tentang Ivan. Ivan.. Ivan dan Ivan..
Ada apa dengan perempuan ini.. Kenapa dia tidak mengingatku? Kenapa? Apa dia membenciku karena perkataan buruk yg aku katakan padanya dan keluarganya waktu itu.. Kenapa? Kenapa dia begitu menyiksa batinku..
"Iya, aku ada urusan mendadak di gedung rektorat." Nada bicaraku kini mulai ketus saat ia berbicara tentang Ivan.
"Hm, kamu ke gedung rektorat?"
"Iya.."
"Dengan kaos oblong?"
Aku melihat pakaianku.. Kaos oblong hitam dengan celana jens biru. Sudah jelas, dengan pakaian tidak sopan seperti ini aku tidak akan dibiarkan masuk ke dalam gedung rektorat.
"Ta-tadi.. Ah sudahlah.. Fin sorry aku harus pergi. Assalamualaikum.."
Aku berlalu.. Meninggalkan Alfy,.. Meninggalkan Wahid yg heran dengan tingkahku.
Alfy cemberut, ia tampak murung melihatku pergi sambil bertingkah acuh padanya.
Aku.. Benar-benar tidak tau harus berbuat apa sekarang. Aku berjalan, terus berjalan.. Aku meluapkan kekesalan sambil menendang tong sampah yg aku lewati.. Menendang kaleng kosong di jalan.
Aku bahkan tak tau kenapa aku sekesal ini padanya.
Sepertinya obat yg diberikan oleh Evelyn hanya bertahan beberapa saat saja. Saat ini pikiranku kembali kacau, hanya dengan melihat Alfy hatiku kembali kacau..
Aku..
Cemburu..
-Bersambung-
__ADS_1