
(Bagian Flashback)
"kamu hati-hati yah nak. Titip salam sama Ibu kamu." Kata Ibuku kepada Ivan sambil memeluknya.
"iyaa tante.." balas Ivan.
Cukup lama Ivan berada di rumahku hari ini, besok Ivan sudah harus berangkat ke Jepang, karena memang kedua orang tuanya berada di sana. Mumpung sedang libur kulliah, berkumpul dengan keluarga menjadi pilihan utama selain untuk Ivan. "salam juga sama ibu kamu Van." Kataku sambil memeluknya.
"iyaa Man. Btw jangan lupa oleh-oleh dari Malaysia yah." Balas Ivan sembari bercanda. Ivan dan ibuku sudah tau bahwa aku akan ke Malaysia untuk studi banding.
"hahaha. Seharusnya aku yg minta oleh-oleh dari Jepang Van." Kataku membalas candaanya.
Ivan lalu keluar dari rumah, bersamaan dengan Ivan yg keluar rumah, saat Ivan sudah berangkat dengan mobilnya. Tak lama kemudian Ilham datang ke rumahku. Jika Ilham datang tiba-tiba sementara dia tidak berkabar terlebih dahulu seperti sekarang, itu artinya ada sesuatu yg ingin dia ingin katakan padaku. "IlHam.. Gak ada angin gak ada awan. Pasti ada sesuatu nih?" Kataku.
"iyaa Man. Maaf gak ngasih kabar." Balasnya
"ya udah masuk.. Di kamar aja yuk." aku lalu mengjak dia masuk ke kamar.
"eh arman.. Ngapain di kamar? . Lu mau ngelecehin gua yah?" katanya sedikit bercanda.
"set**.." Kataku sambil tertawa.
Kalau sudah seperti ini, pasti Ilham ingin curhat. Aku sangat tau dengan sikapnya, apa lagi ketika dia datang ke rumahku tiba-tiba makanya aku mengajaknya untuk berbicara di dalam kamar supaya dia bisa bebas berbicara apa pun tanpa takut di dengar oleh Ibu atau adikku.
Baru saja aku menutup pintu, Ilham langsung rebahan di ranjangku. Dengan galau dia menatapku. "Man.. Ica.." katanya.
__ADS_1
"kenapa lagi Ica? Di tolak lagi kamu?" jika ku perhatikan lagi rasanya aku ilfil melihat dia seperti ini di depanku.
"gua bodoh banget sih.. Giliran Ica butuh gua, gua malah gak ada buat dia." kata Ilham ngoceh menyalahkan dirinya sendiri.
"maksunya?"
"Ica kemarin tiba-tiba WA gua, mau minta tolong tapi gua telat balasnya. Trus pas gua balas. Ehh gak di balas sama dia." Jelas Ilham.
"ya elah.. Kirain apaan? Kemarin Ica hubungin aku juga. Tapi karena aku ada kerjaan jadinya gak bisa." jelasku pada Ilham
"ohh jadi bukan gua satu-satunya ya." Kata Ilham sedikit berharap.
"sebenarnya apa sih yg kamu suka dari Ica?" Udah sering di tolak juga." aku mulai ibah demgan Ilham, pasalnya selama ini di mata Ica Ilham tak lebih hanya seorang teman biasa.
"man.. Bukan cinta namanya kalau gua perlu alasan untuk suka sama Ica. Karena kalau gua punya alasan untuk suka sama dia, maka perasan itu gak akan bertahan lama. Perasaan itu akan hilang jika hal yg membuat gua suka sama Ica sudah gak ada di dirinya." Jelas Ilham sok bijak.
"elu tu yah.. Pinter di kampus tapi kalau soal ginian ******." Kata Ilham nge gas.
"ya maaf.. Aku taunya cuma teori-teori administrasi, gak tau aku Teori-teori cinta." Kataku.
"contohnya gini nih.. Anggap aja gua suka sama Ica karena rambutnya panjang.. Nah artinya itu alasan kenapa gua suka sama Ica. Kan tadi lo nanya 'kenapa gua suka sama Ica?' jadi gua bakal jawab karena rambutnya panjang. Iyaa kan?" tegas Ilham.
"iya iya.. Terus?" balasku sambil mencoba memahami makna dari ucapan Ilham.
"nahh.. Kalau nanti rambutnya Ica sudah gak panjang lagi alias pendek. Artinya gua gak suka dia lagi dong. Bener gak gua?" tegas Ilham sekali lagi.
__ADS_1
"iya bener.. Iya juga yah." Kataku mulai sedikit mengerti maksud dari Ilham.
"artinya Man... Gak perlu ada alasan bagi gua untuk suka sama Ica. Karena ketika gua punya alasan untuk suka sama dia berarti nantinya gua juga punya alasan untuk ninggalin dia." Kata Ilham tegas.
"ohhh iya iya.. Ngerti. Tapi kan pasti adalah yg buat kamu milih dia Ham. Dari sekian banyak cewek di kampus. Maksudku kenapa harus Ica gituloh.. Sampai segitunya lagi kamu suka sama dia?" Kataku penasaran.
"gak ada alasan Man. Gua udah bilang tadi." Jelasnya. Mungkin aku sedikit bingung, bagaimana bisa kita menyukai seseorang tanpa alasan. Apakah sesederhana itu? Aku rasa bagi sebagian orang tidak, sebagiannya lagi mungkin akan mengatakan iya.
Bagiku cinta itu terdefinisi dari pandangan orang yg merasakannya, jika ada yg menerjemahkan cinta dengan nyaman itu sah, jika ada pula yg menerjemahkan cinta dengan ciri fisik yg di sukai itu juga sah. Sekali lagi cinta bagiku definisinya berbeda dari setiap orang yg merasakan, layaknya Ilham yg merasa bahwa tidak perlu ada alasan untuk menyukai Ica. "Man.. Ada yg mau gua pastiin ke elu." Kata Ilham dengan wajah serius.
"apa Ham?" balasku
"gua tau lu deket sama Ica, gua mau mastiin aja. Lu suka gak sama dia?" tanya Ilham. Mendadak suasana jadi tegang karena pertanyaannya itu.
"gak Ham." Jawabku dengan tegas.
"lu yakin? Lu bisa jamin kedekatan lu sama Ica gak bakal membuat lu suka sama dia." Tanya Ilham masih dengan muka serius.
"ya elah ham.. Serius amat sih mukamu. Ica ataupun kamu itu adalah temanku. Aku merasa gak ada perasaan sama Ica. Kalau ada ya pasti aku udah bilang ke dia." Jelasku.
"Man.. Gua gak bakal bertindak egois ngelarang lu jadian sama Ica kalau nanti lu bakal suka. Hanya saja kalau lu bener jadian suatu saat nanti. Tolong jangan muncul di hadapan gua saat lu lagi berduan sama dia." Jelasnya balik dengan mendramatisasi keadaan.
"hahahaha.. Ham.. Ham.. Tegang banget sih kamu. Udah gak kayak Ilham yg aku kenal aja." Kataku sembari tertawa.
Sempat aku berfikir bahwa Ilham mungkin akan mengatakan untuk tidak jatuh cinta kepada Ica, tapi di luar dugaan bukan itu yg ku dengar dari mulutnya. Ya.. Mungkin karena rasa pertemanannya yg lebih kuat dia malah mengatakan hal yg sebaliknya. Hanya saja siapapun itu pasti akan sakit hatinya jika melihat seseorang yg kita suka bersama dengan orang lain.
__ADS_1
Tapi di balik sifat buruknya yg sering godain cewek2 di kampus. Ternyata Ilham punya perasaan yg sedalam itu terhadap Ica.
-Bersambung-