
(Bagian Flashback)
Di tempat lain saat kami berempat sedang bersama. “makasih ya Adi, udah mau nganterin aku dari tadi sampai malam kayak gini.” Kata Gina.
“santai.. Lagian juga gak ada kerjaan mending ngojek kan.” Balas Adi bercanda.
“ya udah nih.. 50 rb buat biaya ojeknya.” Sambung Gina bercanda sambil mengambil uang dari tasnya.
“bisa aja kamu Gin.”
“ya udah aku masuk.” ucarnya pamit.
“eh Gin ini ada yg jatuh.” Kata Adi memungut barang yg jatuh dari tas Gina.
“oh.. Makasih ya.”
“btw anak-anak ngechat aku nih, ngajakin nongkrong di Cafe depan kampus katanya ada bazar UKMnya Ilham. Mau ikut gak?”
“ngak usah deh, aku capek mau istirahat.” Kata Gina.
“ya udah.. Istirahat gih. Aku pergi dulu yah.”
“okay. Hati-hati, salam sama yg lain.”
Sementara itu, di tempat kami ngumpul bersama. “Adi lagi otw ke sini.” Kata Ilham.
“sama Gina yah?” Tanyaku.
“gak sendiri aja, katanya Gina mau istirahat.” Balas Ilham.
“rame juga yah di sini.” Kata Wahid.
“iyalah.. Banyak cewek cantik kan. Hahaha.” Kata Ilham.
“pasti ini nih.. Alasan utama kamu gabung UKM Theater karena banyak cewek cantik.” kataku pada Ilham.
__ADS_1
“nah.. Tau aja lu Man.” Kata Ilham tertawa.
“eh.. Lihat tuh. Irwan.” Kata Wahid.
Kami berbalik melihat Irwan yg datang dengan Dian. Tampak mereka jalan masuk ke dalam Cafe dan duduk berdua satu meja sambil memesan minum. Terlihat juga Anya yg datang menghampiri mereka berdua.
“Dian.. Tanks yah udah datang ke bazar UKM gue.” Kata Anya menyapa Dian.
“iya. Soalnya lagi kosong juga sih.” Balas Dian.
“hi.. Kenalin gue Irwan.” Kata Irwan mengajak Anya berkenalan.
“hi.. Gue Anya.”
Anya yg penasaran mencoba mengklarifikasi hubungan Irwan dengan Dian, mengingat bahwa Dian mengaku masih pacaran dengan Ivan. “eh kok lu datangnya ama cowok ini sih. Cowok lu mana?” kata Anya bisik-bisik.
“dia lagi sibuk. Gak usah khawatir, , gue gak sedang selingkuh. Irwan ini cuma temen kok tapi lu jangan bilang-bilang ke Ivan yah entar dia cemburu lagi.” Balas Dian bisik-bisik.
“sumpah gue gak ngerti dengan lu. Terserah lu aja deh.” Kata Anya.
Kami yg melihat Irwan bersama Dian di cafe merasa sedikit tersulut emosinya. Pasalnya Irwan saat ini sedang menjalin hubungan dengan Ica tapi dia masih menyempatkan diri pergi dengan perempuan lain yg juga telah memiliki pacar.
Ku lihat ekspresi Ilham, marah tapi sekali lagi dia berusaha berbohong dengan perasaannya. Sedangkan Wahid dari tadi ingin menghampiri Irwan tapi aku selalu mencegahnya. “ini gak bisa di biarin, kita harus beritahu Ica.” Kata Wahid sedikit emosi.
“sabar.. Mungkin mereka teman aja.” Kataku.
“kalau gitu kita fotoin Ica aja trus kasih lihat ke dia kalau Irwan tuh kayak gini. Biar dia sadar.” Kata Wahid merasa harus melakukan sesuatu.
Di tengah kegelisahan kami, Adi pun datang.
“woi.. Sorry lama biasa lah jalan lagi macet.” Katanya menyapa.
Melihat ekspresi Wahid dan aura marah dari Ilham membuat Adi bertanya penasaran. “pada kenapa sih?”
“tuh lihat biang keladinya.” Kataku sambil menunjuk Irwan.
__ADS_1
“eh buset. Kurang ajar. Kata Gina, Irwan udah pacaran sama Ica tapi kok sekarang dia sama cewek itu lagi.” Kata Adi yg juga mulai emosi.
“gua akan ke sana.” Kata Ilham berdiri dari kursinya.
Baru saja Ilham berjalan ke arah Irwan, akupun menarik tas selempangnya mencoba menariknya kembali duduk. Ketakutanku adalah Ilham tidak dapat mengontrol emosinya sehingga akan terjadi perkelahian.
Saat aku menarik tas selampangnya, karena tasnya tidak tertutup barang-barang yg berada di dalam tasnya pun terjatuh begitu pun dengan smartphone milik Ilham.
Aku berdiri dan berbisik kepada Ilham agar tetap tenang karena saat ini teman-teman kampus lain banyak yg hadir, terlebih lagi ini acara bazar UKMnya. Saat aku menenangkan Ilham, Wahid dan Adi memungut barang-barang yg terjatuh dari tas selempang milik Ilham.
Akhirnya Ilham duduk kembali ke tempat duduknya, aku bersyukur dia masih bisa berfikir Logis di saat seperti ini. “Ham aku aku juga emosi tapi gak mesti bertindak seperti itu. Ingat situasinya sekarang.” Kataku menenangkan Ilham.
“iya gua ngerti. Sial.” Kata Ilham masih emosi.
“sabar bro..” Kata Wahid memegang pundak Ilham.
“nih barang-barang kamu.” Kata Adi menyerahkan barang milik Ilham yg tadi terjatuh.
“ya udah foto aja. Biar nanti kita kirimin Ica.” Kata Wahid.
“biar gua yg foto.” Balas Ilham.
“eh ngomong-ngomong gelang ini kayaknya pernah lihat.” Kata Adi memegang gelang manik-manik hitam milik Ilham.
“siniin, gelang ini barang penting.” Kata Ilham sambil mengambil gelang ya.
“sepenting itu yah? Padahal udah tua sih keliatan.” Kata Adi masih penasaran.
“gelang itu tuh punya sejarah di hidupnya Ilham.” Kataku keceplosan.
“hah.. Nih? Rahasia lagi.” Kata Wahid penasaran.
“gak ada papa. Arman aja yg lebay.” Kata Ilham sambil memberikan kode bahwa aku tak boleh memberi tau rahasia Ilham kepada mereka berdua.
“aku ingat, gelang itu mirip banget sama gelangnya Gina yg tadi aku lihat.” ucap Adi tiba-tiba kepada kami.
__ADS_1
-Bersambung -