Kamu & Senja

Kamu & Senja
Amarah


__ADS_3

(Bagian Flashback)


Hari yg aku nanti akhirnya tiba. Sebulan telah berlalu dan hari ini aku harus menemui Ayah dari Alfy. Aku lesu dan siap dengan konsekuensi yg ada, bukan tanpa alasan. Itu semua karena Aku gagal memenuhi syarat dari Ayahnya.


Sepertinya aku adalah tipe orang yg cukup sulit menghafal sesuatu dalam waktu singkat. Hingga batas waktu bahkan seminggu terakhir, hari-hariku terus ku luangkan untuk hatam hafalan 10 juz tapi sampai waktu yg di tentukan aku hanya berhasil menghafal 7 Juz.


Cukup berat rasanya melangkah, terlebih aku sempat mengatakan hal keren di depan Alfy sebulan yg lalu. Ketika sampai di depan rumahnya, aku coba berdoa memohon agar hati Ayahnya Alfy melunak dan memberikan aku waktu lagi untuk malanjutkan hafalan.


Ketika aku mulai mengetuk pintu, ternyata aku sudah di sambut duluan oleh Alfy yg terlihat senang dengan kedatanganku kali ini. Ku ihat Ayahnya sudah duduk di ruang tamu untuk menyambutku.


Alfy dengan suasana hati yg berbunga menyambutku mulai tegang saat Ayahnya bertanya padaku tentang syarat yg di berikan sebulan yg lalu.


Dengan lesu aku menjawab bahwa aku gagal dan aku pasrah atas keputusan apapun dari Ayah Alfy terhadap niat baikku.


Ketika aku mengatakan hal itu, aku lihat Alfy tidak khawatir sama sekali, raut wajahnya tidak terlihat sedih dengan apa yg ku katakan padahal aku gagal memenuhi syarat untuk melamarnya. "aku hanya bisa hafal 7 Juz Uztads." ucapku lesu.


"oh gitu.. Sayang sekali. Jadi gimana dong?" tanya Ayah Alfy.


"saya terserah Uztads saja." balasku singkat.


Meski sempat berfikir harapanku pupus tapi tiba-tiba Ayah Alfy malah mengatakan yg sebaliknya. Sepertinya dari awal dia sudah mempertimbangkan menerima lamaranku terlepas dari bisa atau tidaknya aku memenuhi syarat yg dia berikan.


Jelasnya, waktu sebulan yg dia berikan padaku sebenarnya dia gunakan untuk berfikir dan mencari informasi Tentang diriku secara sembunyi.


Ayah Alfy ternyata sempat ke kampusku untuk mengikuti rutinitas yg aku kerjakan dan di beberapa waktu dia melihatku berada di mesjid kampus dan mengikuti kajian bersama dengan Sabri.


Lebih lanjut bahwa kesan pertama atas pertemuanku saat motornya rusak di jalan dan aku menolong, membuat dia meyakinkan diri akan menerima pinanganku atas anaknya. Tentu aku yg tadi lesu karena merasa gagal, sekarang kembali bersemangat. Bagaimana tidak. Tinggal selangkah lagi, harapanku bisa aku wujudkan.


Hari ini, Ayah Alfy mempersilahkan padaku untuk bertanya apapun tentang Alfy agar aku cukup mengenalnya sebelum dia menjadi istriku. Selain itu, Ayah Alfy mengatakan bahwa sebaiknya kami menikah setelah lulus kuliah dan akupun menyanggupi hal itu.


Seharian aku duduk bersama Ayah dan Ibu Alfy, mereka berdua sangat baik padaku. Ayahnya berkata agar aku mengetahui hal-hal tentang Alfy untuk aku jadikan bahan pertimbangan menikahnya


Ayah Alfy bicara panjang lebar.. Sesekali Alfy mengelak jika yg di bicarakan Ayahnya adalah momen memalukan ketika dia kecil. Melihat dia yg seperti itu membuatku gemas, karena karakternya di kampus dan di dalam rumah sangat berbeda.


Lebih jauh Ayahnya mengatakan bahwa Alfy adalah anak yg manja, apa lagi ketika dia sakit. Terlebih saat Kakaknya masih hidup, dia selalu merepotkan kakaknya. Satu lagi hal yg tidak ku ketahui, bahwa ternyata Alfy punya saudara laki-laki. Tapi entah mengapa dari tadi aku tidak melihat dia di rumah ini.


"ada satu hal yg harus kamu tau. Rasanya berat untuk mengatakan ini tapi sebagai calon suami Alfy kamu harus tau." ucap Ayahnya dengan wajah serius memegang kedua lututnya.

__ADS_1


Ku lirik Alfy, wajahnya pun berubah. Puput yg berada di dekatnya memegang pundak Alfy. Sementara Ibunya terlihat sedih dan tertunduk ketika Ayah Alfy memberi kode dengan mata kepada mereka.


"Arman.. Kamu tau, kami sempat mendapatkan cobaan beberapa tahun yg lalu. Saat itu Fina masih duduk di bangku SMA."


"Kakak dari Fina.. Alhamdulillah, dia adalah anak yg baik. Tapi hari shalat ke mesjid dan rajin ngaji. Karena merasa cukup yakin dengan akhlaknya, akhirnya saya menyesal karena tidak terlalu mengawasi pergaulannya. Tanpa saya sadari, anak pertama saya itu terlibat dalam organisasi radikal." sambung Ayahnya.


Sepertinya pembahasan kali ini cukup serius, melihat dari ekspresi wajah Alfy dan orang tuanya. "Abi.." ucap Alfy seolah memberi tanda agar Ayahnya tidak menceritakan hal ini padaku.


"Arman harus tau ini nak. Dia akan jadi bagian dari keluarga ini." Jawab Ibu Alfy.


"saat itu, dia melakukan kesalahan besar dan pada akhirnya harus di vonis hukuman mati." tutur Ayah Alfy.


Mendengar hal itu, aku jadi berpikir. Hal apa yg dapat membuat seseorang di vonis hukuman mati. Tak lama, Ibu Alfy berdiri dan terlihat masuk ke dalam kamar. Setelah kembali dia membawa bingkai foto dengan gambar seorang laki-laki muda.


Saat aku menatap dengan jelas.. Saat itu juga rasanya langit runtuh tepat menimpa diriku. Aku tak bisa berkata apa-apa sementara suhu tubuhku naik seketika.


"ini kakaknya Fina. Namanya Imam. Kalau mungkin kamu masih ingat. Kasus bom di dekat monumen merdeka dan di depan Hotel Bintang. Kakaknya Fina adalah salah satu pelaku kejadian keji itu." ucap Ayah Alfy.


"saya hanya tidak mau menutupi hal ini kepada kamu, ini adalah salah satu dosa dari keluarga kami. Saya harap kamu bisa menerima kekurangan Fina dan keluarganya." sambung Ayah Alfy.


Aku sudah tidak mendengar ucapan Ayah Alfy, perhatianku fokus menatap gambar pada bingkai yg di pegang Ibu Alfy. Sambil menatap gambar tersebut, aku kembali teringat kejadian mengerikan itu.


Salah satunya di depan Hotel Bintang, aku yg tak tau apa-apa tetap menyaksikan berita tersebut. Ketika Ibuku datang, dia terkejut. Hingga dia terjatuh dan tubuhnya lemas bahkan hampir pingsan.


Aku yg panik langsung memegang Ibuku dan bertanya ada apa. Dengan lesu dan gagap dia berkata bahwa Ayahku sedang bertugas tepat di jalan depan Hotel tersebut.


Mendengar hal itu aku ikut panik sementara Ibuku sudah menangis histeris, terlebih saat melihat keadaan di TV yg sudah sangat kacau. Kami masih berharap ketika itu Ayahku dalam keadaan baik-baik saja tau setidaknya jika terluka dia masih hidup. Tapi setelah mendapatkan kabar dari atasan Ayah bahwa Ayahku menjadi salah satu korban, tangisan Ibuku semakin menjadi-jadi. Akupun yg berusaha tegar tak luput dari tangis.


Keadaan tambah parah, tangisan dan kesedihan Ibu saat mengetahui jasad Ayahku yg tercerai berai dan tak dapat di kenali lagi. Atasan Ayahku menceritakan kronologis kejadian melalui cctv yg di saksikan olehnya.


Terdapat 4 titik bom yg di simpan dalam tas dan di buang beberapa detik sebelum meledak. 2 bom bunuh diri di dalam gedung dan 2 lagi bom yg di berada dalam tas dan di buang ke parkiran dan di dekat pos polisi yg ada di jalan Raya depan Hotel Bintang.


Ketika bom yg berada dalam gedung meledak. Semua orang yg berada di luar gedung panik, di tengah kepanikan seseorang misterius membuang sebuah tas tepat di depan pos jaga di mana Ayahku sedang bertugas. Saat itulah Ayahku spontan melompat ke arah tas dan menutupi tas itu dengan tubuhnya sampai sampai jasadnya tak utuh lagi.


Kata atasan Ayahku, jika seandainya Ayahku tidak melakukan hal itu mungkin akan lebih banyak korban yg meninggal di tempat itu.


"Arman.. Arman.." ucap Alfy menyebut namaku.

__ADS_1


"nak Arman.." Kata Ibu Alfy bingung melihat tingkahku.


"Arman. Nak Arman..." ucap Ayah Alfy sambil memegang pundakku.


Aku tidak merespon. Fikiranku sekarang berada pada saat bom itu meledak. Fikiranku sekarang memikirkan pelaku yg membuat ayahku meninggal. Fikiranku sekarang berada pada waktu 5 orang tersangka di vonis mati. Salah satu tersangka ******* yg meledakkan bom di depan Hotel adalah Muhammad Imam. Laki-laki yg sama dengan wajah pada bingkai foto di depan mataku.


Setelah fikiranku kembali dan mulai memahami situasi. Emosiku memuncak, akal sehatku hilang dan yg ada hanya marah. Alfy dan kedua orang tuanya terkejut melihat ekspresi marah yg tergambar jelas di wajahku.


"Arman.. Kamu kenapa?" tanya Alfy mulai panik.


"Bapakku.. Bapakku.." ucapku gagap sambil mengeluarkan air mata.


"nak kamu kenapa.." ucap Ibu Alfy yg coba menenangkanku.


"Ayahku... Meninggal,.. Saat. Kejadian. Dia.. Ayahku.."


"Arman.. Arman.. Pelan-pelan." ucap Alfy semakin panik melihat ekspresi emosionalku.


Aku berbalik ke arah Alfy yg mencoba menenangkanku. Ku tatap tajam matanya dengan penuh amarah. "Kakakmu.. Telah membunuh Ayahku." ucapku membentak dengan suara keras.


Mendengar hal itu Alfy terkejut sampai terjatuh ke lantai karena kenyataan pahit yg baru saja dia dengarkan. Sambil menutup mulut dia mulai menangis.


Semantara itu Ayah Alfy tak bisa berkata apa-apa saking terkejutnya Beliau dengan hal yg baru saja dia dengarkan. Ibu Alfy menangis dan juga mengucap maaf di depanku. Semantara Puput menenangkan Alfy yg menangis sambil duduk di lantai.


Dengan lantang akupun Mengatakan semua pada mereka tentang kematian Ayahku yg jasadnya tak utuh sampai kesedihan mendalam Ibuku. Ayah Alfy yg mendengar amarahku tertunduk di depanku meminta maaf atas kelakuan putranya, Semantara Alfy yg masih tak percaya terus saja menangis di pelukan Puput.


"nak.. Maafkan anakku. Maaf kan anakku." ucap Ibu Alfy sembari terisak.


Ayah Alfy kemudian mendekat ke arahku dan ingin memeluk ku sembari mengacup maaf. Fikiranku kacau, aku di kuasai oleh amarah yg selama ini aku pendam sejak Ayahku meninggal. Belum sampai Ayah Alfy memeluk, aku malah menjauh.


"Kalian pembunuh.. Kalian *******.. Kalian membunuh Ayahku." ucapku dengan lantang.


Ayah dan Ibu Alfy terus saja meminta maaf tapi fikiranku sedang kacau. Yg ku ingat hanya kematian Ayahku dan amarah yg aku pendam untuk pelaku *******.


Aku terus mengulang perkataan kasarku pada keluarga Alfy, tiba-tiba Puput mendekat dan menampar Wajahku karena terus saja aku mengatakan hal yg semakin melukai keluarga mereka. Sesaat aku tersadar dan melihat situasi yg ada di depanku. Aku tak tau harus berbuat apa. Tanpa pikir panjang aku segera keluar dari rumah Alfy.


"Arman.. Arman." ucap Alfy yg mencoba menghentikan diriku dan terus mengucapkan maaf.

__ADS_1


"minggir dari hadapanku.. Kakakmu adalah *******." ucapku lantang sambil menunjuk ke arahnya, menegaskan kepadanya tentang siapa kakaknya yg sebenarnya.


-Bersambung-


__ADS_2