
(Bagian Flashback)
Dosakah aku jika hanya mencuri pandang padanya seperti yg saat ini aku lakukan. Dia terlihat cantik dengan balutan pakaian tertutup yg dia kenakan. Tak jarang aku cari-cari perhatian padanya, tapi jika terus seperti itu maka tidak ada kemajuan. Sebaiknya aku mendekat dan mencoba mengajaknya jalan.
Aku menghembuskan nafas. "Fy.. Besok kamu ada acara gak?" tanyaku.
"besok? Besok.. sepertinya tidak ada. Kenapa?"
"aku mau ngajakin kamu jalan, hehe." Kataku sambil menggaruk kepala sedikit malu.
"jalan? Mau ngapain jalan sama aku Arman. Kenapa tidak jalan sama Roid atau temen cowok aja." jawaban polos Alfy.
"Hehe. Gak bisa yah?"
"kalau berani Arman ke rumah aku aja, ajak jalan Abi aku." Ujarnya.
"hehe.. Ya udah kalau gak bisa Fy." kataku dengan wajah memerah karena malu.
Aku pun keluar dari sekretariat UKM penalaran Ilmiah karena malu di tolak oleh Alfy, di luar aku bertemu dengan Idan yg sedang duduk sambil menghisap sebatang rokok. "yo.." sapa Idan.
"yo, sendiri aja perasaan tadi bareng Roid." kataku.
"dia ke gedung rekrorat bareng sama Wildy, baru aja."
"ohh.."
"eh di dalem ada siapa aja?"
"Alfy sama Irene."
"Alfy?"
"sorry.. Sorry.. Maksud aku Fina." jelas ku.
__ADS_1
"sesuka itu lu yah sama Fina?" Kata Idan yg sesaat mengubah detak jantungku.
"hah? Maksudnya apa? Ada-ada aja kamu tuh." aku mencoba mengelak.
"udahlah Man, jujur aja kali sama gue. Lagian anak-anak UKM udah pada tau kali." Ujarnya.
"HHAAAAHHHHH? tau apa? Jangan fitnah." aku berusaha sekali lagi mengelak.
"jiahh, muka lu tuh udah kayak badut. Gue bilangin sama elu ya bro, mana ada cowok kasih nama julukan sama cewek kalau bukan karena dia suka sama cewek itu. Eh bro, konsep jadul itu udah lama kali. Lu sering panggil dia Alfy, sedangkan anak-anak yg lain panggil dia Fina. Masih mau ngelak???" jelas Idan.
"ya kan namanya emang gitu. Cek aja ktpnya." sekali lagi aku mencoba mengelak.
"iya emang.. Tapi temen-temen kan manggil dia Fina. itu udah jadi nama panggilannya dia. Lagian dianya juga membenarkan kok."
Karena sudah tak bisa mengelak, akhirnya aku mengaku pada Idan. "eheheh, emang keliatan banget yah kalau aku suka sama dia?" tanyaku.
"dari awal juga udah keliatan bro. Hahaha." balas Idan sambil tertawa.
"jadi sekarang udah sampe mana hubungan lu dengan Fina? Lu udah nembak dia?" tanya Idan.
"belum, takut bro, aku takut di tolak sama dia." jawabku.
"gue prediksi sih lu bakal di tolak." Kata Idan melihatku dari ujung kaki sampai kepala.
"hah? Emang aku sejelek itu yah?"
"jelek banget Man." balasnya.
"gitu yah." Ujarku tertunduk kehilangan harapan.
"hahaha bercanda bro." Kata Idan mumukul punggungku.
"adduh, sakit ****."
__ADS_1
"sorry sorry bro. Gue becanda tadi. Gini Man, gue kasih tau. Lu harus tau Fina orangnya kayak gimana, lu seharusnya tau sendiri kan dari cara pakaiannya itu, bisa di bilang dia itu bukan cewek sembarangan bro. Pakaiannya aja tebal-tebal kayak gitu." jelas Idan
"ya elah Idan, namanya juga pakaian syar'i." balas ku mencoba membela Alfy.
"nah itu maksud gue Man. Lu udah pasti di tolak, si Fina kan agamanya jago sedangkan lu apaan, agama lu bagaikan butiran debu."
Mendengar itu aku seperti di tampar ketika Idan mengatakannya padaku. Aku seketika sadar dari pengharapan palsu yg selama ini membayangi pikiranku. Seharusnya sedari awal aku sudah tau, tapi karena keegoisanku mencintai Alfy aku malah menutup mata dan aku pun di kuasai oleh cinta dan terus mengejarnya hingga aku menutup mata untuk mengerti dirinya.
Benar yg di katakan Idan, apalah dayaku. Aku yg hanya belajar agama pada saat sekolah dan setelah lulus aku sudah tidak pernah lagi belajar. Alfy perempuan yg aku cintai, dia adalah perempuan sholeha sedangkan aku yg seenaknya saja masuk di hidupnya mencoba mendekati dia dengan cara yg salah baginya, sekali lagi benar kata Idan aku akan di tolak olehnya.
"Arman, kamu masih di sini?" tanya Alfy yg tiba-tiba keluar dari Sekretariat.
Aku melihat Alfy, aku memperhatikan dia dari ujung kaki dan kepalanya. Semua tertutup, satu-satunya yg terlihat adalah wajah cantiknya, wajah yg selalu mengganggu tidurku di malam hari. "Iya." balas ku singkat.
"hi Fin udah mau pergi aja, mau kemana?" tanya Idan.
"iya, kebetulan sore ini ada jadwal kuliah. Aku ke Fakultasku dulu yah." ujarnya seraya berjalan meninggalkan kami berdua.
Aku melihat dia, melihat punggungnya semakin menjauh. "apa aku bisa meraihnya?" kataku tak sadar.
"gak bisa bro." jawab Idan.
"paan sih ."
"ya elu, ngelamun.. Makanya mbloo jangan kebanyakan drama. Hahaha." Idan terlihat menikmat masalah cinta ku saat ini.
Dari semua temanku, aku bertanya kenapa orang itu harus Idan, kata-katanya memang benar, membuatku terus berpikir tentang semua usaha yg telah ku lakukan untuk mendekati Alfy. Semakin aku berfikir, semakin aku merasa tidak pantas untuk Alfy.
Sampai di perjalanan pulang aku pun terus memikirkan itu, di atas motor terus memikirkan itu, karena terganggu dengan fikiran itu aku memutuskan untuk melepas penat dengan pergi ke tempat favoritku untuk menikmati senja.
Sampai di tempat itu aku menatap langit yg mulai berwarna jingga, aku terus bertanya "apakah aku pantas untuk Alfy?" pertanyaan itu terus berputar di kepalaku. Hingga senja tenggelam, aku masih tidak bisa menjawab pertanyaan berat itu.
-Bersambung-
__ADS_1