Kamu & Senja

Kamu & Senja
Rival


__ADS_3

(Bagian Flashback)


Sudah 5 hari aku di rawat di rumah sakit ini, cukup sedih karena ada banyak agenda yg tidak bisa aku hadiri selaku mahasiswa yg sedang mengikuti studi banding. Kabar baiknya kata dokter besok aku sudah bisa keluar, tapi masih di sarankan untuk banyak beristirahat karena luka jahitan di perutku belum sepenuhnya kering.


Cukup membosankan berada di ruangan sendirian seperti ini. Walaupun ada smartphone, tapi tetap saja berinteraksi dengan seseorang secara langsung itu lebih menyenangkan untukku dari pada melalui dunia maya.


Nyatanya untuk sebagian orang smartphone betul-betul menyita waktu mereka. Positifnya mungkin adalah mendekatkan yg jauh tapi negatifnya adalah menjauhkan yg dekat. Aku sering melihat orang-orang sedang nongkrong bersama teman atau keluarga, entah itu di Cafe atau di taman. Mereka memang berkumpul tapi jarak mereka jauh karena masing-masing sibuk dengan smartphonenya.


Tentu tidak melulu tentang itu, ranah digital juga tak bisa di pungkiri. Percepatan teknologi sebanding dengan percepatan pembangunan. Layanan-layanan umum misalnya sudah bisa di akses dengan sistem online tanpa harus mengantri lagi berjam-jam. Dan masih banyak lagi, intinya tergantung diiri sendiri sebagai pengguna agar bijak menggunakan teknologi ini. Karena jangan sampai ketakutan Einstein terhadap perilaku manusia yg akan menjadi semakin bodoh ketika teknologi sudah sangat maju akan menjadi kenyataan.


Sedang berfikir tentang hal itu, aku dikejutkan dengan kedatangan Riyal. "yo..vMan." kata Riyal menyapa.


"Riyal.. Gimana seminar hari ini?" balasku sambil bertanya.


"iyaa seru.. Pematerinya bagus dan cara menyampaikan materi juga menarik."


"terus Alfy dan Ana kemana?"


"mereka lagi belanja buat keperluan besok."


"oh... Emang besok ada apa?"


"kan besok kamu udah keluar dari sini, Sahidah juga mau buat acara perpisahan untuk kita bertempat jadi sekalian aja." Jelas Riyal.


"jadi ngerepotin.." balasku.


"Man.. Besok sekalian aku mau nembak Fina." Kata Riyal

__ADS_1


Jlebbb..


Saat mendengar Riyal berkata seperti itu, aku diam sambil berfikir mungkin aku yg salah dengar, mungkin telinga ku sedang bermasalah.. Mungkin.. Mungkin dan semua kemungkinan yg ku fikiran tapi Riyal kembali memperjelas.


"besok malam.. aku bakal nembak Fina." ucapnya serius.


Aku diam.. Aku tak tau harus berkata apa, aku tak bisa pura-pura mendukung dia karena pasti sakit dan aku pun tak boleh melarang Riyal karena aku bukan siapa-siapa. Aku hanya diam sambil menatap wajahnya.


"Man.. Aku tau kamu suka sama dia." Kata Riyal memasang wajah yg semakin serius.


"eh.. Dia? Siapa. Ehehe." Balasku pura-pura tertawa mencoba mengalihkan pembicaraan.


"kamu suka sama Fina kan? Dari awal juga udah ketahuan." Kata Riyal mencoba mendesakku agae mengaku.


Setelah di desak aku tidak bisa lagi mengelak


"aku tak tau kalau Fina tau atau tidak tentang perasanmu. Tapi dimataku itu sangat jelas. Kamu memanggilnya Alfy sementara yg lain memanggilnya Fina. Itu sangat sederhana. Laki-laki jika tertarik sama perempuan salah satu tandanya adalah itu. Kamu pikir aku tak tau." jelas Riyal.


"jadi ketahuan yah. Hehe" balasku sekali lagi pura-pura tertawa.


"jadi sekarang apa yg akan kamu lakukan Man?" tanya Riyal yg meminta pendapatku tentang niatnya yg ingin mengakui perasaannya pada Alfy.


"ya.. e.. aku gak tau." Jawabku kebingungan.


"besok kalau dia nerima aku, aku mau kamu jangan ganggu dia. Bisa kan?" tegas Riyal.


Aku hanya diam mendengar hal itu. Tak bisa berkata apapun, bagaimana jika besok Alfy menerima perasaan Riyal. Bagaimana jika Riyal dan Alfy benar-benar bersama, bagaimana denganku. Pikiranku di isi oleh kemungkinan-kemungkinan buruk yg membuatku tak tenang.

__ADS_1


"diam berarti iya. Arman, kau harus tau aku juga suka sama dia tapi aku tidak mau bersikap pengecut sama seperti dirimu sekarang yg tidak mau jujur dengan perasaannya sendiri. Besok.. Aku akan nembak dia. " Kata Riyal menegaskan perasaannya.


Aku sedikit terganggu dengan ucapan Riyal, tapi setelah ku fikir-fikir aku memang pengencut."assalamualaikum.." Kata Alfy masuk kedalaman ruangan.


"waalaikumsalam." Balasku.


"kenapa muka kalian tegang begitu?" Kata Ana melihat tingkah aneh kami berdua.


"tegang? Gak papa kok ini. Hehe." Balasku pura-pura tertawa.


"oh iya.. Besok kamu sudah keluar jadi kita mau buat acara kecil-kecilan untuk kamu." Kata Alfy sembari tersenyum padaku.


Alfy tersenyum.. Lagi-lagi tersenyum.. Dan jika besok dia menerima Riyal maka senyum itu akan hilang, senyum itu bukan lagi untuk ku."Fy aku amu ngomong sesuatu sama kamu." Kataku spontan.


"iyaa ngomong aja." Balasnya.


"Fy aku suka sama kamu.. Dari awal aku melihat kamu.. Dari awal aku bertemu kamu.. Dari awal aku kenalan sama kamu.. Aku suka sama kamu Fy." Gumamku DALAM HATI.


"Arman.. Mau ngomong apa?" kata Alfy padaku yg tanpa sadar melamun.


"eh.. Iyaa itu.. Anu.. Bisa gak aku request buat di bikinin nasi goreng besok. Hehe. Soalnya itu makanan favoritku." Balasku mencoba memungkiri hal yg sebenarnya ingin ku katakan.


"tentu saja." Jawabnya lagi-lagi tersenyum.


Lidahku kaku, hati dan Lidahku tidak konek jika harus jujur kepada Alfy. Sepertinya aku harus siap-siap sakit hati dan benar saja kata Riyal aku memang pengecut.


-Bersambung-

__ADS_1


__ADS_2