Kamu & Senja

Kamu & Senja
Kampus


__ADS_3

(Flashback)


*dua tahun yg lalu.


Seperti kemarin, hari ini tidak ada yg spesial karena hariku berjalan seperti biasa. Dari tidur, bangun, kuliah, nongkrong dan pulang. Keseharian yg ku jalani sebagai mahasiswa semester 3 di kampus.


Sebagai mahasiswa yg masih di bilang baru aku menjalaninya dengan penuh semangat, terlebih aku kuliah dengan beasiswa, tentu aku harus berusaha agar nilaiku tidak buruk supaya beasiswaku tidak di cabut.


Selain kuliah, aku juga aktif dalam kegiatan kulikuler kampus. Lembaga yg ku ikuti adalah UKM (unit kegiatan mahasiswa) penalaran ilmiah dan UKM karate. Menurut ku kedua UKM ini perlu, pertama untuk meningkatkan analisis dan kemampuan dalam menulis karangan ilmiah dan kedua untuk mempelajari ilmu beladiri agar bisa mempertahankan diri kalau saja ada kejahatan yg terjadi menimpaku di jalan.


Hari ini kebetulan dosen sedang tidak masuk, sama saja seperti waktu bersekolah. Kebanyakan teman-temanku tentu saja sangat menyukai jika kelas sedang kosong.


Begitu pula dengan temanku yg bernama Ilham, dia sangat bersemangat jika kelas sedang kosong karena artinya dia punya banyak waktu untuk menggoda semua teman cewek yg ada di kelas. Salah satu yg sangat dia incarnya adalah Ica tapi sayang walaupun tampangnya lumayan, sikapnya yg agak sedikit eror membuat cewek-cewek jadi ilfil dengan dia.


"Man, katanya cowok humoris itu di sukai sama cewek-cewek. Kok gua ngak yah?" Tanya Ilham yg datang menghampiriku.


"itu mitos Ham.. Coba aja kamu tanya sama cewek. Mereka pilih Jefri nichol atau Aziz gagap." Kata ku sambil bercanda. Tak jarang orang yg mengatakan hal seperti itu tak bisa memilih jika dihadapkan pada pilihan seperti sekarang.


"ohh iyaa yah.. Bener juga lu." Kata Ilham bengong.


Terlepas dari perilakunya yg rada gesrek, Ilham adalah orang yg setia kawan. Kami sudah berteman sejak semester pertama dan sampai sekarang aku benar-benar salut dengan sifat kesetiakawanannya itu. Cuma kalau urusan cewek, teman nya di nomor duain sama dia.


Setahun aku mengenal Ilham, tidak pernah sekali pun dia membuatku marah atau kecewa. Jika hanya sekedar pinjam uang, dia adalah orang yg berkali-kali kena tipu dengan temannya sendiri saking mudahnya dia mengekuarkan uang demi menolong temannya bahkan dengan orang yg baru dia kenal, Emang dasarnya saja dia gesrek.


Suasana kelas yg begitu riuh, membuatku tak bisa konsentrasi membaca buku. Padahal kelas kosong seperti ini adalah momen yg pas untuk baca buku, ketimbang di rumah lebih baik baca buku di kampus seperti ini karena kalau sudah sampai rumah bawaannya mager.


Dengan kuliah, wawasan dapat terbuka lebih luas. Aku dapat mengenal orang-orang yg berbeda dengan latar belakang agama, kultur dan daerah yg berbeda. Kami semua terkumpul dalam satu jurusan administrasi negara. Seangkatan kami ada 70 orang. Kelasnya di bagi 2, ada yg kelas A dan B.


Kelas lagi ribut-ributnya, tiba-tiba pintu terbuka dan masuklah seorang perempuan cantik berambut pendek yg tampak sedang marah. Menghampiri salah satu temanku bernama Irwan yg sedang mojok di bangku paling belakang.

__ADS_1


Irwansyah.. Lelaki tampan idaman semua cewek di kampus, bukan tanpa alasan parasnya yg mirip oppa-oppa korea dan postur tubuh mendekati ideal membuat dia jadi incaran banyak cewek di kampus. Sadar akan kelebihannya itu, Irwan memanfaatkannya untuk jadi playboy kelas kakap. Bukan rahasia umum lagi kalau dia memang seperti itu, hanya masih saja cewek-cewek masih tetap kepincut dengan paras kinclongnya.


Aku kadang heran, kenapa ya.. Masih saja perempuan mempercayai perkataan laki-laki yg sudah jelas latar belakangnya. Apa memang karena cinta itu buta? Kalau aku lihat bukan karena buta, tapi bagiku cinta itu ibarat penyakit bagi logika, bahkan untuk orang-orang yg berpendidikan tinggi.


Alasannya simple, sebab logika tidak akan menang melawan perasan jika sudah terkena penyakit itu. Logika akan tertutup atau di paksa tertutup oleh keegoisan hati meski hati tau akhirnya akan terluka. Kalau mau di bilang nahas.. Iya bisa saja, buktinya saat kau menasehati temanmu yg sedang sakit hati mungkin awalnya dia akan mendengarmu tapi nyatanya dia masih bertahan.. Maka saat itu rasanya kamu seperti berbicara dengan tembok.


"Irwansyah.... Dasar ya laki-laki breng***." Teriak perempuan cantik berambut pendek itu kepada Irwan yg sedang menikmati musik melalui smartphonenya.


Mendengar teriakan itu, sontak satu kelas berbalik ke arah Irwan dan perempuan berambut pendek itu. Tapi dengan santainya Irwan membalas dengan nada sedikit arogan. "makasih mba."


Mendengar balasan Irwan yg judes seperti itu, cewek itu terlihat geram dan mulai naik pitam. Dia lalu mengambil air botol yg ada di depannya dengan maksud untuk mengguyur muka Irwan dengan air yg ada di dalam botol itu saking emosinya.


Playboy kelas kakap seperti Irwan sudah sering melalui situasi seperti ini dan sudah banyak juga pengalamannya menghadapi perempuan yg lagi marah, dengan sigap dia kemudian mengelak dan membalas perempuan itu dengan sedikit percikan air bermaksud untuk menghina perempuan itu agar segera pergi dari hadapanya. Melihat situasi itu, salah satu temanku yg tak terima atas perilaku kasar Irwan ikut naik pitam. Dialah Ica yg kemudian menghampiri Irwan dan sedikit membentaknya."he... Kamu jangan begitu. Jahat banget sih." Kata Ica ngotot.


"loh.. Lu kenapa ikut-ikutan marah. Ikut campur urusan orang aja." Jawab Irwan judes.


Karena malu dilihat satu kelas dan tak bisa lagi melampiaskan rasa kesalnya kepada Irwan, perempuan cantik berambut pendek itu kemudian keluar dari ruang kela berlari sambil menangis. Dari raut wajahnya sih, sepertinya dia adalah salah satu korban gombalannya si Immang.


"hello.. Yg jahat siapa? Gua gak ngelakuin hal apa pun yah. Ceweknya aja tuh yg kege'eran. Di deketin dikit baper, trus maunya di seriusin. Dasar.." Jawab Immang dengan alasan pembenarannya.


"kamu tuh.. Ish.. Bukannya minta maaf malah ngomong kayak gitu." lagi Ica masih mencoba menasihati.


"udah ah, males gua ngomong sama cewek cerewek kayak elu." balas Irwan yg kemudian keluar daek kelas karena terus di desak oleh Ica untuk meminta maaf.


"Ishhhhh..." Ica yg bergumam karena kesal.


Jam kuliah akhirnya selesai, karena sudah siang, kami lalu memutuskan untuk makan bersama di kantin kampus tempat biasa kami nongkrong."Bu.. Biasa.. pesan kopi hitam satu." Ujar Ilham sedikit berteriak kepada Ibu kantin.


Meskipun hari ini sudah tidak ada lagi kelas, biasanya jika lagi kosong begini kami sempat-sempatkan untuk nongkrong di kantin sembari bercengkrama kadang tentang ambisi masa depan, kadang diskusi tentang kampus, kadang pula ngomongin teman sendiri. Setidaknya itulah yg membuat kami akrab satu sama lain.

__ADS_1


Ini mungkin terdengar sedikit aneh, hanya saja ada yg menggangguku sejak kamarin. Aku terusik oleh perempuan yg tak sengaja aku lihat tempo hari di depan Fakultas Ilmu Budaya. Bukan terganggu karena dia mengganggu, hanya saja senyum itu tak mau lepas dari kepalaku.


Di saat semua temanku asyik berbincang satu sama lain, aku terpaku sendiri memikirkan hal itu yg lagi-lagi membuatku bingung. Kenapa perempuan itu ada di kepalaku? Dan kenapa sekarang aku seperti orang aneh?


"Man.. Napa sih?" tanya Adi salah satu temanku.


"iya nih.. Melamun aja dari tadi. Gak asyik." Sambung Gina yg juga salah satu temanku.


"eh.. Ngak.. Gak papa. Kenapa tadi?" ucapku merespon perkataan mereka.


"ini tadi si Ica bete gara-gara kelakuannya Irwan. Makanya kalau temen ngomong dengerin." jawab Gina yg menjelaskan percakapan mereka tadi saat aku Melamun kebingungan.


"ya udah kali.. Gak usah di bawa ke hati. Entar kamu suka lagi sama dia Ca'. Haha." Kataku sambil sedikit menggoda Ica.


"hah.. Aku suka sama dia? Gak mungkin.. Kayak gak ada laki-laki lain saja." Jawab Ica judes. itu mungkin perkataan Ica, tapi biasanya hal seperti ini sering terjadi. Awlanya benci tapi akhirnya.. Ah sudahlah..


"iya nih.. Arman.. Mending Ica sama gue." Ujar Ilham yg masih saja tak menyerah dengan Ica meski sudah berkali-kali di tolak.


"ogahhhhh." Di jawab kontan sama Ica.


"kalau di hitung-hitung, ini sudah yg kelima kali Ica nolak Ilham." Ucap Adi ngakak. Sontak kami pun menertawai nasib Ilham.


"he he.. Tapi tetap aja. Gue gak bakal nyerah. Liat aja Ca', gua akan buat lo jatuh cinta sama gue." Ujar Ilham dengan optimis.


"iya iya, terserah deh Ham. semangat saja." Kata Ica judes.


Di antara teman-teman yg lain di kampus, mungkin aku lebih akrab dengan mereka. Ilham, Ica, Adi, Gina dan Wahid. Hanya saja hari ini wahid tidak bisa bergabung dengan kami karena ada urusan di luar kampus dia mahasiswa yg aktif dalam gerakan-gerakan aktivis, mungkin karena dia kritis dalam berfikir. Menurutnya, memperjuangkan hak-hak masyarakat dari ketidakadilan adalah suatu kewajiban dan harus di tegakkan, jika bukan kita siapa lagi. Itu sih katanya.. Tapi bagi sebagian mahasiswa seperti aku, menjalani kehidupan kampus yg biasa-biasa saja itu sudah cukup.


Entah apa yg membuatku nyaman berteman dengan mereka berlima walaupun baru setahun, hanya saja mereka nyambung kalau di ajak ngomong dan seru kalau jalan bareng mereka. Ada saja cerita yg tergambar tiap hari dengan mereka, bisa di bilang mereka menjadi warna dalam kehidupan kampusku.

__ADS_1


-Bersambung-


__ADS_2