Kamu & Senja

Kamu & Senja
Lupakan Janji


__ADS_3

Kenyataan kadang berbeda dari apa yg di harapkan. Ego menjadi satu-satunya penyebab yg membuat ilusi menjadi nyata dan lagi logika terlambat bertindak atas kesalahan yg di sebabkan oleh hati. Apa lagi kenyataan di depan mata amat sulit untuk di terima, rasanya ingin mengulang waktu dan membereskan kesalahan yg telah di buat.


Ilham tak habis pikir tentang hal yg di katakan oleh Adi dua hari yg lalu. Kini dia tak tahu harus berbuat apa dan bagaimana jadinya hubungan mereka nanti.


Di tengah pikiran-pikiran kacaunya sambil mengendarai mobil. Smartphone miliknya terus berdering, di liriknya panggilan tersebut adalah Ica. Biasanya dengan sigap dia akan menerima panggilan itu, tapi kali ini sepertinya tidak. Benaknya terus memikirkan perempuan yg telah mengucap janji dengannya sejak kecil dan perempuan itu ternyata adalah Gina.


Di malam tanpa bintang ini, Ilham memutuskan untuk bertemu dengan Gina. Dia harus berbicara dengan Gina setelah apa yg Adi katakan padanya 2 hari yg lalu. Dalam lubuk hatinya Ilham masih berharap agar semua yg di katakan oleh Adi adalah salah paham.


Setelah sampai di salah satu kompleks perumahan, Ilham bertanya kepada Satpam yg ada di komplek itu tentang kediaman Ibu Irma yg merupakan Kakak kandung dari Gina. Setelah di tunjukkan arah rumah itu, Ilhampun menghampiri dengan perasaan gelisah.


Sampailah dia di depan sebuah rumah dengan dua lantai berwarna Putih, terlihat sebuah pohon mangga di depan rumah itu. Dengan menghela nafas, dia akhirnya turun dari mobil dan menguatkan niatnya untuk berbicara dengan Gina.


Sepertinya Pagar rumah tersebut tidak terkunci, Ilham melangkah masuk ke dalam teras rumah dan mulai mengetuk pintu. Tak lama keluarlah seorang perempuan yg tak asing bagi Ilham.


"Ilham.. Kamu ngapain di sini?" ucap Gina melihat kedatangan Ilham.


Gina sendiri tak tahu apa yg terjadi antara Adi dan Ilham. Bahkan dia tak tahu maksud kedatangan Ilham ke rumahnya.


"Gina.. Gue mau ngomong sesuatu sama elu." ucapnya.


Karena Gina kebetulan sendiri di rumah tersebut dan tak ingin menimbulkan fitnah, jadinya Gina tidak mempersilahkan Ilham masuk ke dalam rumah. Mereka hanya berbincang di kursi yg tersedia di teras rumah tersebut.


"aku buatin minum dulu yah, kamu mau minum apa? Kopi hitam?" tanya Gina.


"gak perlu, gue gak haus. Gue langsung saja." balas Ilham terlihat serius.


"hm.. Mau bicara apa? Kok serius gitu."


Ilham sempat ragu harus memulai dari mana. Akhirnya dia merogoh kantong tas selempang yg dia kenakan dan mengeluarkan dua buah gelang manik-manik yg dia rebut dari Adi tempo hari.


"lu tau ini apa?" tanya Ilham memperhatikan kedua gelang tersebut.


Normalnya, orang biasa akan berkata bahwa itu adalah gelang. Tapi bagi Gina yg saat ini tak bisa berkata apa-apa, gelang tersebut bukan sekedar gelang. Itu adalah ikatan janji yg telah dia buat bersama Ilham ketika mereka masih anak-anak. Tapi.. Lagi-lagi ego membuat Gina tak ingin mengakui hal tersebut.


Sempat diam dan terkejut, Gina akhirnya membalas pertanyaan Ilham. "itu gelang." ucapnya.

__ADS_1


Gina terkejut dengan hal yg sekarang dia lihat, dari mana Ilham mendapatkan gelang putih itu, bukankah yg memegang gelang itu sekarang adalah Adi.


"jawab dengan jujur Gin.. Plis. Apa benar gelang manik-manik putih ini punya elu?"


Gina ragu menjawab, dia tak menatap mata Ilham. Jika dia menjawab iya, maka mungkin saja pertemanan mereka akan rusak.


"bukan, itu punya Ica." jawab Gina berat.


"ngak.. Lu bohong sama gue. Setelah gue tahu dari Adi. Ingatan ketika gue masih kecil kembali terlihat. Dan wajah anak perempuan itu sangat mirip sama elu Gin." ucap Ilham tertunduk.


Mendengar hal itu, tanpa sadar air mata Gina tumpah. Dia bingung apakah air mata yg tumpah ini adalah air mata bahagia karena Ilham mengenalinya atau air mata sedih karena kemungkinan terburuk yg akan terjadi dengan hubungan pertemanan mereka semua akan kacau karena kesalah pahaman ini.


"Gin.. jawab.. Kenapa? Kenapa selama ini elu gak jujur sama gue. Lu tau kalau gue punya gelang hitam ini dan lu diam saja. Apa lu udah lupa janji kita dulu." Ujar Ilham.


Gina menutup mulutnya, tak tahan dengan hal yg baru saja terungkap. "aku.. Tidak sedikitpun lupa dengan janji itu Ilham. Yg lupa itu kamu karena menganggap Ica adalah orang yg selama ini kamu cari dan bukan aku." ucapnya lirih.


"gue.. Gue pernah melihat Ica mengenakan gelang ini sekali dan gue gak tau kalau waktu itu lu cuma minjemin dia."


"seharusnya kamu bisa mencari tahu dulu sebelum menyimpulkan sesuatu."


"semua sudah terlambat, aku gak mau jadi pengganggu antara kamu dan Ica. Sebaiknya kamu lupakan saja janji itu." kata Gina menatap Ilham penuh dengan air mata.


"lu pikir semudah itu.. Gue suka sama Ica karena mengira bahwa dia itu adalah elu.. Gue.. Bingung sekarang. Ahh..." Ilham mengacak-acak rambutnya karena bingung dengan keadaan yg sekarang dihadapinya.


Gina ikut berdiri, dia mendekat kepada Ilham. Dia menyentuh dada Ilham dan berkata." kamu tidak perlu bingung, ikuti kata hatimu. Aku yakin yg ada di hatimu adalah Ica bukan. aku. Aku hanyalah bagian dari masa lalumu"


Ilham menatap wajah Gina. "tapi Gin.. Perempuan yg selam ini gue cari adalah elu. Gue.."


"Ilham please.. Aku tak mau pertemanan kita jadi rusak cuma gara-gara hal ini."


Sementara itu, diwaktu yg sama tepatnya di depan sebuah toko klontong yg berada di depan Kampus. Ica yg baru saja membeli minuman terlihat berdiri melihat layar smartphonenya.


Hari ini dia terlibat diskusi dengan salah seorang temannya di kampus terkait hasil penelitian skripsinya. Hingga mereka lupa waktu dan akhirnya langit sudah sangat menghitam.


Di tempat ini, dia sedang menunggu angkutan umum, tapi dari tadi berdiri dia tak melihat angkutan umum yg mengarah ke tempat tinggalnya. Hari ini dia tidak menggunakan motor seperti biasanya, karena motor matic putihnya sedang mengalami kerusakan dan harus berada di bengkel dalam beberapa hari. Sesekali dia menghubungi Ilham tapi Ilham tak menerima panggilan darinya dan tak membaca pesannya. Dia juga menghubungi Arman tapi nomornya tidak sedang aktif.

__ADS_1


Ica cukup gelisah mengingat hari semakin malam tapi dia masih berada di tempat ini. Sementara orang-orang yg menunggu angkutan umum bersamanya mulai pergi satu persatu. Akhirnya dia memutuskan untuk menggunakan jasa ojek online melalui aplikasi.


Sekitar 10 menit setelah dia memesan Ojol, sebuah mobil berwarna hitam pekat mendekat ke arahnya. Tepat di depannya mobil itu berhenti, tapi Ica merasa aneh karena mobil yg dia pesan dari aplikasi berbeda dengan mobil yg saat ini berada di depannya. Karena prasangka itu, Ica mundur sedikit menjauh dari mobil tersebut.


Dua langkah Ica mundur tiba-tiba pintu mobil tersebut terbuka dan dengan sigap dua orang berbadan kekar dan bertampang preman keluar dan menghampiri Ica. Belum sempat Ica bereaksi atas hal itu, kedua pria itu sudah memegang Ica dan menutup mulut Ica agar tidak berteriak. Ica di seret paksa masuk ke dalam mobil di bawah pergi meninggalkan tempat itu.


Kejadian itu terlalu cepat untuk di sadari oleh sedikit orang yg berada di tempat itu saat ini. Ada yg melihat tapi tak mempedulikan hal tersebut dan tak ingin terlibat.


Di dalam mobil yg ternyata kedab udara tersebut Ica di sekap oleh 4 orang pria bertubuh besar dan kekar. Satu pria yg mengetir, dua pria duduk di samping kira dan kanan Ica dan satu lagi seorang pria yg terlihat mengenakan jam tangan emas duduk didepan bersebelahan dengan pria yg menyetir.


Kembali ketempat Ilham saat ini. Dia sedang menatap langit tak berbintang. Masih belum menerima kenyataan bahwa selama ini dia telah menjatuhkan hatinya kepada perempuan yg salah. Gina masih terlihat bersedih atas kenyataan yg terungkap dan mencoba meyakinkan Ilham bahwa seharusnya dia tetap mencintai Ica.


Bagi Ilham itu bukan perkara yg mudah, atas dasar janji masa kecilnya. Dia memilih Ica sebagai orang yg harus dia cintai. Kini keyakinan kecil itu hancur ketika perempuan yg bertukar janji dengannya ternyata adalah Gina.


"Ilham... Tolong. Lupakan saja."


"jadi cuma seperti itu, janji itu bukan sesuatu hal yg penting yah buat lu."


"bukan begitu, maksudku..." belum selesai Gina berbicara, Ilham memotong dengan mengatakan.


"oh... Jadi cuma seperti itu Ha..." terdengar seperti membentak.


Sedang bertikai dengan hal tersebut, tiba-tiba sebuah pesan masuk ke smartphonenya yg berada di meja saat ini. Terus smartphone itu bergetar sampai Gina melihat bahwa pesan itu adalah pesan dari Ica.


"Ham.. Ada pesan yg masuk dari Ica." ucap Gina.


"gue gak peduli. Gue mencintai dia karena Gue kira dia itu adalah elu.. Sekarang apa? Hah? Apa masih bisa gue mencintai dia.." balas Ilham masih bingung dengan perasaannya.


"Ilham..." ucap Gina sambil menampar Ilham.


"aku bilang.. Lihat hati kamu. Lihat hati kamu... Siapa yg ada di hati kamu sekarang." sambung Gina sambil terus menekan dada Ilham.


Ilham merenung.. Sejenak dia menutup mata mencari jawaban atas keraguannya saat ini. Sesaat kemudian entah mengapa, ada firasat buruk di benaknya..


"Ica..." ucapnya gelisah.

__ADS_1


-Bersambung-


__ADS_2