Kamu & Senja

Kamu & Senja
Benci jadi Cinta


__ADS_3

(Bagian Flashback)


Aku masih belum bisa menerima kenyataan yg masih samar-samar. Aku meyakinkan diri untuk tidak terlalu memikirkan kemungkinan terburuk. Jika aku bertemu dengan Alfy sekali lagi, aku akan langsung bertanya padanya.


Karena Ilham dkk telah menungguku di tempat biasa, aku pun bergegas ke tempat mereka berada. Di tengah jalan tepatnya di taman kompleks sekretariat UKM kampus aku melihat Ica sedang duduk sendiri.


Tanpa fikir panjang tentu aku langsung menghampirinya. "Hi Ca'.. Ngapain di sini?" Kataku mencoba menyapa.


"Arman.. Gak ngapa-ngapain." Balas Ica terlihat lesu.


Saat aku mendekat, terlihat matanya sedang berkaca-kaca seperti ingin menangis. "loh.. Ca' kamu gak papa kan?" Kataku menanyakan keadaannya saat ini.


"gak papa Man.." balasnya terlihat sedang berpura-pura kuat.


"Ca'... Kamu gak papa kan?" sekali lagi aku bertanya dengan nada lembut sambil jongkok di depannya yg sedang duduk dan tertunduk.


Baru dia ingin berbicara, mungkin karena sudah tidak tahan akhirnya Ica pun menangis. Sambil menutup matanya yg terus mengalirkan air, aku mencoba menghiburnya.


"Ica.. Aku ada sini. Aku selalu mendukung kamu, apa pun itu. Percaya sama aku." Kataku mencoba menenangkan.

__ADS_1


"Man.. Irwan.. Irwan ********." katanya sambil menangis.


"iya Ca' iya.. Emang ada apa dengan dia?" ucapku sambil memeganh bahunya mencoba menenangkan.


"dia cowok bereng*** Man.. Dia.." terdengar pula isak tangis.


"tanang Ca'.. Tenang.."


"Irwan cowok kurang ajar Man.. Tapi... Tapi... Aku sayang sama dia." Kata Ica masih dengan tangisnya.


Aku menghibur dan menenangkan Ica, meskipun sekarang aku sejak dari tadi di lihat oleh orang-orang yg ada di taman ini, mungkin mereka berfikir kalau aku adalah laki-laki jahat yg membuat Ica nangis seperti sekarang ini. kalau saja ada yg merekam kejadian ini dan di upload ke media sosial aku akan jadi objek nyinyir oleh nitijen.


Perlahan Ica mulai terbuka, sambil mengusap air matanya dia menceritakan masalahnya padaku.


Akhirnya mereka bertemu dan bercerita banyak hal. Bisa di bilang Irwan berhasil membuat Ica nyaman dan dari situ timbul perasaan. Pertemuan semakin intens, hal itu juga yg membuat Ica menunda pulang kampungnya pada saat libur semester lalu.


Hingga akhirnya Ica benar-benar luluh dan hatinya telah di curi oleh si pencuri ulung bernama Irwan. Awalnya Ica senang bisa mengenal sisi baik Irwan seperti itu, tapi lama kelamaan Ica mengetahui kalau Irwan menjalin hubungan dengan perempuan lain.


Walaupun Ica mengetahui itu, Ica tak bisa membenci Irwan karena sekali lagi hatinya telah tercuri. Ica tetap bertahan dengan alasan dia berteman baik dengan Irwan. Tentu alasan itu sengaja di buat-buat agar dia punya alasan itu untuk tetap dekat dengan Irwan.

__ADS_1


Sikap Irwanpun yg seperti membuka harapan untuk Ica, membuat Ica semakin buta dengan kenyataan bahwa Irwan hanya mempermainkan perasaannya saja.


Mungkin inilah salah satu dampak jika seseorang terkena penyakit cinta. Seperti sebelumnya aku berkata bahwa cinta adalah virus bagi logika, menutup logika dan memaksa hati untuk terluka.


Bodoh.. Iyaa... Sebab cinta itu menutup logika berfikir seseorang, meskipun ada duri yg terlihat dimatanya, maka dengan menutup mata dia akan berjalan melewati duri itu. Tentu yg di dapat hanya sakit tanpa tau akhir dari duri yg di lalui. "Ca' aku bingung, aku harus berbuat apa? Kamu temanku.. Teman yg sangat berharga. Melihatmu seperti ini aku tidak tega, aku marah tapi bingung aku harus marah ke Irwan atau ke kamu Ca'." Kataku.


Terlihat Ica menunduk dan matanya masih meneteskan air. "Ica.. Plis banget.. Kamu lupain dia yah." Kataku sekali lagi.


"aku gak bisa Man.. Kalau bisa aku udah.." belum selesai berbicara dia kembali menangis.


Aku tak tau lagi harus berkata apa. Aku hanya bisa terus berada di sampingnya sembari dia menangis meluapkan semua emosinya. Sesaat kemudian smartphone ku berdering, ketika ku lihat ternyata telfon dari Ilham.


"iya halo Ham." Kataku mengangkat telfon darinya.


"Man.. Di mana sih lu? Belum selesai yah urusan di rektorat?" tanya Ilham.


Sejenak aku diam karena tak tau harus menjawab apa, Ica melihat ku seakan memberi tanda bahwa aku tidak boleh mengatakan apa yg terjadi sekarang kepada siapapun. Akhirnya aku mengatakan kepada Ilham bahwa aku masih di rektorat dan baruselesai sekitar jam setengah tiga.


Tentu aku iba melihat kondisi Ica sekarang, jadinya aku memutuskan untuk menemani dia berada di tempat ini sampai dia benar-benar merasa puas melupakan emosi negatifnya dengan tangisan.

__ADS_1


Seperti kataku pada Ica, aku bingung ingin marah kepada siapa? Marah pada Irwan kah? Tapi di sisi lain Ica sendiri sudah tau sifat Irwan dan masih memilih berharap dan bertahan, Kadang cinta bisa sebodoh ini.


-Bersambung-


__ADS_2