Kamu & Senja

Kamu & Senja
Rencana


__ADS_3

(Bagian Flashback)


Sudah seminggu sejak aku kembali ke Indonesia tapi aku belum memberi tahu Ibu tentang kondisiku, walaupun sebenarnya sudah tidak ada yg perlu di khawatirkan karena aku sudah sangat sehat walafiat. Namun, fikirku aku tetap harus memberi tau Ibu.


Ku lihat Ibu sedang berada di depan TV, menonton Sinetron favoritnya yg sempat membuatku berpikir bahwa aku bisa meniru gerakan-gerakan hebat di sinetron itu untuk menghajar Fijay waktu itu, tapi hasilnya aku yg K.O.


Akhirnya aku beranikan diri mendekat, perlahan aku mulai berbicara tentang hal yg lain sebelum masuk ke inti pembicaraan. Perlahan tapi pasti aku mulai berterus terang tentang lukaku.


Aku pun terkejut karena ekspresi Ibuku saat aku mengatakan bahwa aku terluka ternyata di luar dugaan. Dengan santai dia mengatakan "oh". Aku tentu heran karena ini tidak seperti Ibu yg aku kenal.


Melihat ekspresi wajahku yg bingung, Ibu tertawa dan menjelaskan bahwa dia sudah tau keadaanku sejak saat aku masih di rawat di RS Malaysia. Dia di hubungi oleh Pak Imran selaku Dosen pendamping pada waktu itu.


Pak Imran menjelaskan situasinya dan tentu Ibu sangat khawatir tapi mengetahui aku sudah baikan akhirnya dia tidak menghubungiku karena Ibu khawatir anak sulungnya ini tak mau melihat Ibunya panik. Maka dari itu Ibu tidak mengabariku dan menunggu aku mengabarinya.


Mendengar penjelasannya, aku langsung memeluknya. Wanita hebat yg menjadi panutanku, aku menyayanginya. Sedang dalam suasana haru, suara ketukan pintu terdengar. "itu ada orang di luar. Coba kamu lihat." Kata Ibu mendengar suara ketukan pintu.


Aku lalu berjalan ke arah pintu depan rumah, setelah ku buka ternyata Ivan. "Ivan.. Tumben malam-malam ke sini." Kataku.


"iya Man. Boleh masuk gak?" balasnya.


"iyalah.. Ya udah masuk.."


"maaf mengganggu Man."

__ADS_1


Aku mempersilahkan Ivan masuk, dia duduk di ruang tama bersamaku. "santai Van. Ada perlu apa nih?"


"gak.. Main aja ke rumah kamu Man."


"oh.. Ngomong-ngomong apa kabar?" Kataku.


"baik Man. Eh luka kamu gimana?" balasnya bertanya.


"udah gak papa. loh.. Tau dari mana tentang lukaku?"


"Ibu kamu yg kasih tau. Btw gimana rasanya jadi pahlawan kesialan?" tanya Ivan dengan nada meledek.


"kurang ajar kamu Van.. " balasku tertawa.


"Ivan Ma." Jawabku.


"eh nak Ivan.. Apa kabar?" kata Ibu sambil menghampiri Ivan dan memeluknya.


"baik tante." Balas Ivan.


"bentar yah saya bikinin minum dulu." Kata Ibu berjalan meninggalkan kami.


"seperti biasa Man. Ibu kamu baik." Kata Ivan.

__ADS_1


"Sebaik anaknya dong hehe." Kataku.


"anaknya mah.. Baik kalau ada maunya. Haha." Ujar Ivan bercanda.


"aku atau kamu nih yg kayak gitu." Balasku.


"hahaha.. Iya aku ngaku deh. Kebetulan juga aku mau minta tolong."


"nah tu kan.. Pasti ada maunya. Hahaha. Mau minta tolong apa?"


"bisa aja kamu Man. Jadi gini aku mau ngasih kejutan buat Dian."


Ivan sebagai seorang lelaki yg baik tentu ingin membahagiakan kekasihnya, salah satu yg dapat membuat kekasihnya bahagia tentu memberikan sedikit kejutan kepada kekasihnya itu di hari spesial miliknya.


Ivan ingin aku membantu mempersiapkan dekorasi di Vila pribadi milik Ivan yg berada di puncak. Nanti Ivan akan menjemput Dian tanpa tau Dian akan di bawa kemana. Matanya pun akan di tutup sampai di Vila kemudian baru kemudian di buka.


Ivan juga ingin mengundang teman-temannya yg lain untuk merayakan ulang tahun Dian di Vila pribadinya itu supaya lebih meriah dan Dian pun akan senang. Sebagai hadiah Ivan telah menyiapkan sebuah kalung emas dengan mutiara sebagai wujud cintanya kepada Dian.


Mendengar Ivan yg begitu bersemangat tentang hal ini tentu aku akan membantu agar kejutan itu berjalan sukses. Walaupun kejutannya akan di lakukan bulan depan tapi sepertinya Ivan sudah mempersiapkan ini dengan matang.


Dari caranya menjelaskan kepadaku tentang kejutan itu aku bisa tau bahwa perasaannya kepada Dian sangat dalam, aku jadi khawatir jika suatu saat Ivan akan di khianati oleh Dian, walaupun aku sebenarnya tau kalau Dian ada hubungan dengan Irwan tapi aku masih berharap jika hubungan itu hanya hubungan sesaat dan Dian pada akhirnya tetap memilih Ivan.


Ibuku keluar membawa teh hangat dan sedikit cemilan untuk Ivan dan meninggalkan kami berdua untuk melanjutkan pembicaraan. Sepanjang malam, Ivan banyak membicarakan Dian. Apa pun demi Dian dan hanya Dian.

__ADS_1


-Bersambung-


__ADS_2