
(Bagian Flashback)
Dunia ini luas tapi sering kali terasa sempit untuk hal-hal yg tak bisa di jelaskan. Misalnya jika kita bertemu secara tidak sengaja dengan seseorang yg pernah hadir sebentar tapi meninggalkan kenangan yg dalam hingga berharap bertemu lagi.
Mungkin begitu juga dengan Alfy, sudah dua tahun berlalu sejak dia mengalami hal buruk itu walau akhirnya di tahun ketiganya mengenakan putih abu-abu dia harus mengalaminya lagi. Tapi kala itu lebih parah dari sebelumnya, hingga dia harus pindah sekolah karena tak kuat menahan bullyan teman sekolahnya sendiri.
Di tambah fakta tentang kakaknya yg terungkap, menambah derita yg dia rasakan di tahun-tahun terakhir masa SMAnya. Sepeninggal kakaknya itu, dia jadi sering murung tapi Alfy tumbuh menjadi muslimah yg kuat. Seiring waktu, bullyan ******* yg di deritanya saat tahun-tahun terakhirnya sekolahpun lenyap bersamaan dengan keputusannya untuk kuliah.
Di bangku kuliah, kehidupan baru sedang menunggu. Dengan semangat memulai kembali dan tak ingin berbalik melihat kenangan buruk itu, Alfy melanjutkan hidup. Satu per satu orang-orang yg peduli padanya berdatangan.
Di dunia kampus, dunia baru yg tak pernah terpikirkan olehnya membawa dia memiliki banyak teman yg lebih bisa menghargai dirinya dan membuat dia berdamai dengan masa lalu.
Hingga satu waktu di kampusnya, setelah perkuliahan tanpa sengaja dia melihat orang pertama yg sangat peduli padanya di masa lalu. Seorang pria yg pernah menolongnya dari ketakutan saat itu.
Lelaki itu tampak berjalan di koridor kampus jurusannya, lama ke lamaan lelaki itu berjalan lebih dekat dan semakin dekat. Alfy masih memperhatikannya, dia menerka-nerka apakah laki-laki ini adalah dia.
Saat laki-laki yg di perhatikannya itu mengangkat pandangan yg sedari tadi menunduk melihat smartphonenya, saat itu juga Alfy yakin bahwa laki-laki ini adalah Arman. Seseorang di masa lalu yg menjadi pahlawan untuknya dan saat itu juga Alfy merasakan hal yg belum pernah dia rasakan sebelumnya.
Arman lalu berjalan melawatinya, tanpa sadar mereka saling memandang dan Alfy tersenyum padanya dan saat itu pula Arman berhenti. Dia merasa aneh, akhirnya karena penasaran dengan perempuan yg di lihatnya dia menoleh kebelakang. Dia melihat punggung perempuan itu, tertutup dan sangat tertutup.
Senyuman perempuan itu padanya, membuat Arman penasaran dan semakin dia berjalan menjauh dia semakin terjatuh dalam penasarannya.
Alfy yg baru saja melihat Arman, seorang remaja laki-laki yg pernah menolongnya merasa untuk pertama kalinya sejak kakaknya meninggal. Dia kembali tersenyum tanpa sadarnya. Hingga laki-laki itu berlalu, Alfy menatap punggung Arman sesaat sebelum Arman menoleh spontan Alfy memalingkan badannya ke depan tak ingin di lihat oleh Arman.
__ADS_1
Sejak saat itu, Alfy terus saja memikirkan hal itu. Hari berlalu dan dia tidak lagi melihat Arman. Hingga satu waktu di minggu pagi, pada kegiatan kampusnya di lapangan alun-alun kota. Di sebuah stand yg menjual pakaian-pakaian bekas tanpa sengaja Alfy bertemu dengannya, tanpa sengaja mereka berdua bertabrakan.
Di lihatnya laki-laki itu adalah Arman. Matanya terpaku, lalu menunduk karena malu. Arman terus saja meminta maaf tapi Alfy panik dan berbalik ingin pergi namun ternyata Arman meraih tangannya, dengan spontan dia melepas genggaman tangan itu dan pergi meninggalkan Arman yg terlihat bersalah.
Iya, itu adalah awal interaksi mereka berdua. Setelah itu Alfy terus saja mengalami ketidaksengajaan yg lain. Seperti saat mereka berpapasan sekali lagi di koridor kampus. Semakin dekat hingga mereka berjarak satu langkah.
Tapi Alfy menunduk seolah tak tau harus bersikap apa. Dia melihat betul bahwa Arman mencoba menyapa tapi dia tak tau harus merespon apa hingga mereka berlalu.
Alfy merasa bodoh, kenapa dia bisa segagu itu di depan Arman. Memang benar menjaga jarak itu perlu, tapi Arman bukan orang asing baginya. Lantas kenapa dia masih tidak jujur dengan apa yg dia rasa.
Satu lagi saat baru saja dia bergabung ke dalam UKM Penalaran Ilmiah, jelas saja bahwa dia melihat Arman di sekretariat tapi sekali lagi dia tak tau harus bersikap dan memilih untuk tidak mendekat.
Rasanya berat, dia terus saja menghindar bahkan waktu mereka berpapasan di lorong UKM. saat Arman sedang berbicara kepada ketua UKM saat itu. Alfy yg tak ingin terlihat canggung malah mengajak teman yg berada di sampingnya untuk ngobrol agar dia punya kesibukan untuk tidak melirik Arman.
Menghindar karena bingung harus bersikap. Di ruangan itu dia mencoba untuk tidak melirik Arman, mencoba agar Arman terlihat orang asing yg tak di kenal. Meski begitu ada perasan resah dan ingin mengakhiri kepura-puraannya.
Setelah pertemuan selesai, Alfy tak mendapat banyak informasi di pertemuan karena datang terlambat, dia mencoba bertanya kepada mahasiswa lain. Setelah mempertimbangkan akhirnya dia memutuskan memulai pembicaraan dengan Arman yg saat itu terlihat sedang memperhatikannya.
Tapi niatnya kembali dia urungkan, entah mengapa refleks tubuhnya mengarahkan dia menjauh dari Arman dan lebih memilih bertanya kepada Ana yg saat itu terlihat buru-buru ingin pergi.
Sekali lagi dia tampak bodoh, apa yg menghalanginya untuk sekedar bertanya. Mungkin kehormatannya sebagai muslimah, dengan percaya diri dia meyakinkan dirinya bahwa dia tak seharusnya bersikap seperti itu terhadap laki-laki yg bukan mahramnya.
Setelah itu dia berusaha kembali pada realitas hidupnya dengan tidak memikirkan hal yg perlu, hal yg hanya akan mengganggu waktunya.
__ADS_1
Tapi waktu seperti tak merestui, pada satu sore entah mengapa dia memustukan untuk menikmati sejuk angin sore dia suatu pantai. Mengingat kembali kenangan kakaknya yg telah meninggal, mengingat Kebesaran Tuhannya yg telah menciptakan langit nan indah waktu itu.
Sedang berfikir tentang keindahan langit, tiba-tiba dia mendengar suara laki-laki yg berada di belakang sedang berbicara kepadanya. Dia menoleh dan tak tau harus merespon apa saat melihat laki-laki itu adalah Arman.
Dia hanya melihat laki-laki itu tanpa tau laki-laki yg ternyata adalah Arman berkata apa kepadanya, karena merasa resah dan malu akhirnya dia pamit kepada Arman. Meninggalkan Arman yg masih diam di tempatnya.
Dia berjalan menjauh sambil memukul kepalanya, mengingat kebodohan yg dia lakukan. Tapi sekali lagi dia menguatkan niatnya bahwa hal yg telah dia lakukan sudah benar. Seorang muslimah tidak seantasnya berdua dengan seorang laki-laki asing di sebuah pantai pada saat sore hari.
Alfy kembali menguatkan niatnya, semanjak itu beberapa kali dia melihat Arman di kampus tapi tak bisa menyapa. Hingga dia merasa bahwa harus memulai pembicaraan, setidaknya mereka bisa berkenalan.
Tapi rasa canggung dan malu menghalanginya untuk menghampiri Arman, sampai dia teringat sore itu, ketika secara tak sengaja dia bertemu dengan Arman di pantai.
Alfy pun memutuskan untuk kembali ke pantai itu, di tempat yg sama di waktu yg sama. Dia berdiri menikmati angin laut sore hari, sembari menunggu, menunggu agar secara tidak sengaja dia bertemu lagi dengan Arman dan mungkin kali ini bisa menyapa setidaknya memperkenalkan diri.
Dia menunggu, sempat berpikir bahwa hal yg dilakukannya sia-sia tapi takdir berkata tidak. Saat dia menatap langit, dia mendengar panggilan dan seperti tidak asing. Alfy terkejut dan tak percaya ketika dia berbalik ternyata memang suara itu adalah Arman.
Sekali lagi dia tak bisa bersikap, akhirnya dia berbalik dan pamit. Dalam hatinya kacau dan menyalahkan diri sendiri karena berbalik dan ingin pergi. Tapi di langkah kakinya yg ketiga, sekali lagi dia mendengar suara Arman yg mengatakan bahwa mereka berdua berada di kampus yg sama.
Mendengar itu Alfy berhenti, dia berbalik dan saat itu adalah pertama kali mereka berbicara sejak saat waktu pertama mereka bertemu saat masih duduk di bangku SMA. Mereka memulai percakapan pendek di bawah langit senja. Namun Alfy tak sekalipun menyinggung bahwa mereka berdua sudah kenal sebelumnya, Alfy hanya merespon perkataan Arman seolah memang benar mereka baru kenal hari itu.
Arman mengatakan banyak hal, dia mengatakan bahwa sudah berapa kali secara tidak sengaja dia bertemu dengan Alfy. Tentu Alfy mengetahuinya, tapi dia hanya tak ingin jujur. Meski begitu Alfy cukup senang karena Arman menyadari pertemuan mereka meski pertemuan mereka yg pertama, saat Alfy di bully, saat Alfy di ganggu, sayang Arman sepertinya tidak mengingat kejadian itu.
-Bersambung-
__ADS_1