
(Masa Kini)
"Man cerita kamu kegantung tau." ucap Ana yg turun dari mobil.
"masa iya aku cerita di parkiran gini, lagian Sahidah juga mau istirahat." balas ku.
"tak apalah. Saya juga penasaran." Ujar Sahidah.
"iya nanti, cek in dulu sana."
Di perjalan menuju hotel dari restoran tempat kami makan siang bersama. Aku menceritakan kepada mereka tentang hubunganku dengan Alfy. Hingga tak terasa kami tiba di hotel ternyata ceritaku belum selesai sampai membuat Ana kesal padaku.
Setelah tiba di parkiran hotel, kamipun masuk ke lobi. Setelah cek in, Sahidah sebenarnya terlihat capek tapi malah memaksa agar aku dan yg lain ikut ke kamarnya menikmati cemilan yg dia bawa dari Malaysia.
Walaupun aku tahu alasan dia yg sebenarnya menahanku tidak pergi karena masih ingin mendengarkan cerita yg ku katakan pada mereka di dalam mobil.
Aku pun tak bisa mengelak dan menuruti kemauannya, terlebih Ana yg terus merengek ingin mendengar kelanjutan dari kisahku ini.
Setelah berada di dalam kamar, bukannya buat minuman atau apapun Sahidah malah duduk manis, begitupun dengan Ana juga Riyal yg kompak memandangku dengan tatapan haus akan kisah yg ku ceritakan.
"ayolah Man. Kami penasaran ini." Ujar Ana.
"baru masuk sudah di tagih. Hadeuh."
"gak usah jual mahal, sekalian kamu curhat." Kata Riyal yg mulai ikut-ikutan.
__ADS_1
Ya, dengan terpaksa aku mulai kembali harus mengingat kejadian yg membebaniku sampai saat ini.
Lebih lanjut ku jelaskan pada mereka bahwa akhirnya aku memutuskan untuk melamar Alfy. Dengan percaya diri aku memberanikan diri untuk pergi ke rumahnya menemui Ayahnya, tanpa sepengetahuan dari Alfy sebelumnya.
Ketika aku berada di depan rumahnya tentu saja dia terkejut melihatku dan akupun terkejut melihat Ayahnya waktu itu. Meski begitu aku di sambut dengan baik oleh keluarganya.
Dengan lantang akupun menyampaikan niat baikku kepada Ayahnya dan dengan lantang pula Ayahnya bertanya tentang diriku dan seberapa dalam ilmu agama yg ku miliki.
Setelah perbincangan itu, Ayah Alfy memberikan syarat untukku jika ingin meminang anaknya dan akupun menyanggupinya.
Sebulan berlalu dan aku kembali bertemu Ayahnya, sebenarnya aku gagal memenuhi syarat yg di berikan oleh Ayah Alfy tapi tiba-tiba dia berubah fikiran dan memberikan restu padaku dengan syarat menikah setelah kami lulus di bangku kuliah.
Tentu saja aku sangat senang, aku lihat Alfy pun terlihat senang walau mengeluarkan air mata sambil memeluk Puput sepupunya.
Setelah itu kami tentu terlibat banyak pembicaraan. Ayah Alfy adalah orang yg sangat baik, dia menceritakan semua kebiasaan dan kelakuan Alfy padaku dan diapun mengatakan jika ada sesuatu yg aku tidak suka dengan perilaku Alfy maka aku lebih baik mengatakan jika aku ingin membatalkan lamaranku.
Ayah dan Ibu Alfy bercerita banyak hal padaku, mulai dari hal kecil dan sepele dari perilaku Alfy. Semua informasi ini penting menurut Ayah Alfy sebagai bahan pertimbangan untuk ku yg berniat melamarnya.
Sampai pada satu topik yg mengubah segalanya, Ayahnya menceritakan padaku kisah kelam keluarga mereka di masa lalu yg membuat Alfy sempat terpuruk.
Mendengar hal itu membuatku diam, aku seperti ditampar dan murka. Aku masih ingat ketika pertama kali Ibunya memperlihatkan foto orang itu padaku.
Mataku melotot dan emosiku memuncak. Air mataku menetes dan aku meninggalkan rumahnya dengan keadaan marah dan mengatakan kata kasar yg membuat Alfy menangis.
Aku masih ingat Alfy mengejarku sampaiĀ turun ke jalan. Untuk pertama kalinya dia memegang tanganku erat dan terus meminta maaf padaku, tapi aku malah membentak dan mengatakan hal yg sangat melukai hatinya.
__ADS_1
Aku melepaskan genggaman erat tangannya dan tak sengaja mendorong dia hingga terjatuh. Ketika aku hendak menyebrang jalan dengan motoku ternyata dia masih mengejarku dan saat itulah dia tertabrak kendaraan lain.
Hingga saat ini dia masih belum mengingat apa yg terjadi ketika itu dan tidak mengingat semua yg berhubungan dengan diriku.
Dengan seksama Sahidah memeluk Ana, seolah mereka tenggelam larut dalam cerita yg ku katakan pada mereka.
"jahat banget kamu Arman. Ish." ucap Ana.
"iya, Arman jahat." sambung Sahidah.
"iya aku memang jahat." Kataku sambil tertunduk menyesal.
"sebelum itu, ada hal yg tidak aku mengerti. Apa yg membuat kamu begitu marah sampai tega melakukan itu pada Fina?" tanya Riyal.
Ini adalah pertanyaan yg cukup sulit untukku jawab tapi meski berat sepertinya aku harus katakan yg sebenarnya.
"tentu aku sudah cerita kepada kalian tentang Bapakku kan? Dia seorang polisi yg hebat dan aku sangat menyayangi serta hormat padanya."
"iya kami sudah tau." balas Riyal.
"ayahku meninggal.. Waktu itu saat sedang bertugas. Dia memeluk bom. Dan.. Dan.." ucapku terisak.
Ana yg iba padaku mendekat, karena dia tau betapa aku sangat rindu dengan sosok Ayahku. hal yg sering aku katakan pada mereka ketika masih berada di Malaysia.
"Arman.." ucap Ana mendekat padaku.
__ADS_1
"Ayahku waktu itu memeluk bom.. Dia pahlawan.. Dia dibunuh oleh *******.. Dia ayahku.. Di bunuh oleh.. Ka.. Kak.. Kakak laki-laki dari Alfy." ucapku sambil menunduk dan terisak.
-Bersambung-