
(Bagian Flashback)
Malam datang, Ica yg sedari tadi di sibukkan dengan tugas kampus terus saja berada di depan laptop berkutat dengan tugasnya. Fokusnya terganggu dengan dering smartphone yg berada di sebelah laptopnya.
Terlihat di layar smartphonenya, pria spesial sedang menelfon. "hallo." Ujar Ica.
"hallo Ca' kamu lagi ngapain?" tanya Irwan.
"ini lagi ngerjain tugas, maaf yah. Seharian ini gak bisa nemenin kamu."
"oh, iya gak papa. Ca' sorry kayaknya gue udah bosen sama lu." Ujar Irwan.
"hah? Maksudnya? Kamu lagi becanda yah?" Kata Ica, raut wajahnya mulai serius mendengar pengakuan tiba-tiba dari Irwan.
"ngak, jadi selama ini tuh gue gak serius sama lu. Sekarang gue udah punya cewek baru, jadi maksud gue kita udahan aja." jelas Irwan dengan santainya.
"hah? ak. a.. aku gak ngerti? Kamu ngomong apa sayang? Aku salah ya.. Aku.. Ak." Ica mulai gagu merespon perkataan Irwan yg tiba-tiba.
"gak, lu gak salah kok. Nyantai aja. Gue bosen aja sama lu."
"say.. Sayang.. Aku ada salah yah? Maafin aku. Please.. Aku." Belum selesai Ica bicara, Irwan memotong dan menegaskan kembali.
"udahlah. Gue udah puas mainin lo." Kata Irwan langsung mematikan telfon.
"yang.. Sayang.. Aku. Halo. Halo. Irwan." Ujar Ica mulai panik.
Dia syok mendengar perkataan Irwan, dia pun mencoba menelfon balik tapi tidak tersambung. Pesan yg di kirim tak di balas, WA juga tidak aktif. Ica berfikir Irwan marah akan sesuatu, Ica berfikir dia harus minta maaf. Dia terlalu cinta untuk mengakhiri hubungan ini.
Tanpa fikir panjang, tugas yg sedari tadi dia kerjakan di tinggalkan begitu saja. Dia keluar dari kosannya dan langsung mengendarai motor maticnya menuju rumah Irwan.
__ADS_1
Suara petir menggema, deras hujan malam ini tak membuat Ica berhenti untuk setidaknya berteduh. Terus saja dia tancap gas untuk mencari sebuah jawaban atas perkataan Irwan yg lagi-lagi membuat air matanya tumpah.
Hujan tak mengizinkan air mata Ica terlihat, dengan mengenakan helm tanpa kaca dia terus saja mengendarai motor maticnya hingga Sampailah dia di depan rumah Irwan.
Karena pagar rumah yg terbuka, Ica langsung masuk ke dalam rumah itu. Dengan basah kuyup dia mengetuk pintu dan terus memanggil Irwan. Tapi tak ada yg keluar, tidak dengan orang tuanya, tidak juga oleh Irwan. Rumahnya sepi tapi lampu di dalam terlihat terang menandakan bahwa sedang ada orang di rumah.
Perasaan kacau Ica saat ini membutuhkan jawaban, karena perasaannya itu pula dia membuka pintu yg ternyata tidak terkunci. Diapun masuk ke dalam rumah. Air terjatuh membasahi lantai rumah, perlahan Ica berjalan masuk ke dalam.
Ica masih tak percaya dengan perkataan Irwan yg tadi, dia berharap itu hanya sebuah lelucon. Perkataan mendadak itu tak bisa di jadikan acuan dasar atas isi hati seseorang. Setidaknya itu yg dia pikirkan dari tadi sampai dia melihat sesuatu yg meremukkan hatinya.
Ketika dia masuk ke ruang tamu dan berjalan menuju ruang tengah rumah Irwan. Dia di kejutkan oleh Irwan yg sedang berdua dengan perempuan lain. Dia melihatnya dengan mata kepala sendiri, dia melihat saat ini Irwan sedang mencium perempuan lain di depan matanya. Tidak hanya sekedar mencium tapi mereka berdua terlihat sedang bercumbu satu sama lain.
Wajahnya menegang melihat pemandangan tak pantas itu, seketika matanya dibanjiri air karena sesaknya dada dia tak mampu berkata apapun dari apa yg dia lihat. Dia menutup mulutnya dengan tangan seakan tak percaya yg dia lihat. Fikirannya kosong dan dia pun bersimbah air mata sambil berlutut dan terduduk karena kesedihan yg datang tiba-tiba.
Perempuan yg bersama dengan Irwan melihat Ica yg sedang duduk menundukkan kepala ke lantai karena tak kuat menahan kenyataan yg di lihatnya saat ini. Perempuan itu memainkan matanya, seolah memberitahu Irwan arah dimana Ica terduduk meringis sambil memukul-mukul dadanya.
Irwan yg melihat Ica dalam keadaan seperti itu berdiri, melangkah ke arah Ica. "ngapain lu datang?" Kata Irwan.
"ak. Aku.. A." Ica gagu. Dia tak mampu mengatakan satu Kata pun kepada Irwan.
"udah.. udah lu keluar deh." Immang meraih tangan Ica, memaksa Ica berdiri dalam keadaan sempoyong dan menggiring Ica keluar dari rumahnya.
"say. Irwan. Tunggu.. aku." Ica masih belum menyerah dan mencoba mencari secerca harapan di hati terdalam Irwan.
"udah keluar." Irwan melempar Ica keluar dari rumahnya.
Ica tersungkur, masih bersimbah air mata dia bangkit dan merangkak ke arah Irwan. Belum mendekat Irwan kemudian menegaskan perasaannya.
"selama ini gue cuma mainin elu. Bye." katanya dengan nada suara yg di tinggikan.
__ADS_1
Irwan menutup pintu dengan keras. Dia kemudian mengunci pintu itu agar Ica tak dapat masuk.
Semantara Ica masih mencoba memukul-mukul pintu sambil memanggil nama Irwan. Dia terus mempertanyakan perkataannya, dia masih tidak terima. Air matanya dan mimik wajahnya menandakan kesedihan terdalam.
Dia merasa Irwan sudah berubah, itu menurutnya tapi kali ini dia malah harus menelan pahitnya perkataan Irwan tentang dirinya. Dia tidak terima, benar-benar tidak terima. Kesedihannya semakin menjadi karena tak di gubris oleh Irwan, dia menangis, terus menangis. Dia histeris, tapi suara tangisnya tak terdengar karena besarnya suara hujan di sertai kilat yg menyambar malam ini.
Bisa di bilang suara petir dan hujan deras selaras dengan suara tangisannya. Dia semakin histeris, hingga akhirnya dia menyerah dan meratapi kenyaatan bahwa Irwan memang bukan laki-laki baik. Dia adalah pria brengsek yg seenaknya saja mempermainkan perasaannya.
Ica berbalik, dia keluar dari beranda rumah itu. Dia berjalan ke luar dari pekarangan. Dia di guyur oleh hujan, hujan yg tadi tiba-tiba turun jadi pertanda Kesedihannya. Tatapannya kosong, sementara air terus saja membasahi pipinya.
Dia berjalan dan terlihat mulai kedinginan, di depan pagar rumah Irwan dia berhenti. Dia berhenti berjalan, fikirannya kosong. Nafasnya sesak di iringi isak tangis. Dia terus berdiri tak beranjak sampai perhatiannya teralihkan oleh suara yg memanggilnya.
"Ica."
Ica menoleh ke kiri, dia melihat seorang pria tegap yg juga terguyur hujan. Dia memperhatikan dengan mata yg masih penuh dengan genangan kesedihan. Ternyata pria itu adalah Ilham. "Ica kamu gak papa?"
"Ilham." ucapnya lirih.
Ilham mendekat dan memegang bahunya, Ilham menatap wajah Ica yg terlihat mulai memerah karena air mata terus mengalir. Bibirnya bergetar karena mulai keinginan. Spontan Ica yg mulai lesu memeluk Ilham dengan erat. "Ica." Kata Ilham.
Ica memeluk Ilham semakin erat. "Ca' gua, gua sayang dalam lu." ujarnya.
Tapi Ica tak mendengar ucapan Ilham, karena di saat ini otaknya kacau dengan perkataan Irwan.
Sementara itu dari balik pintu rumah Irwan. Dia melihat dari kaca depan rumahnya, dia melihat Ilham yg memeluk Ica.
Perempuan yg bersama dengannya sedari tadi mengatakan sesuatu dari belakang. "apa lu yakin dengan ini?" tanya perempuan itu.
Dia berbalik melihat perempuan itu. "ini yg terbaik Wan, makasih sudah bantuin gue." Kata Irwan menatap datar ke arah Wanda.
__ADS_1
Irwan berjalan kembali masuk ke ruang tengah, terlihat wajahnya yg sedikit mengungkap kesedihan.
-Bersambung-