Kamu & Senja

Kamu & Senja
Pukulan Amarah


__ADS_3

(Bagian Flashback)


Entah mengapa hari ini di kampus terasa panas, mungkin karena pantulan cahaya matahari dari kepala botak mahasiswa baru yg sedari tadi lalu lalang di kantin kampus Fakultasku.


Pemandangan seperti ini sudah biasa jika awal perkuliahan semester ganjil, di kampusku khususnya di Fakultasku semua mahasiswa baru laki-laki memang wajib untuk menggunduli kepalanya.


Memang penerimaan mahasiswa baru tingkat Fakultas telah berakhir tapi setiap lembaga Jurusan di Fakultas punya caranya masing-masing dalam menyambut mahasiswa baru.


Di jurusanku misalnya Ilmu Administrasi Negara. Setiap mahasiswa baru yg ingin bergabung atau aktif pada lembaga kampus jurusan di haruskan mengikuti kaderisasinya selama satu semester kedepan. Artinya mahasiswa baru harus mengikuti aturan yg salah satu aturan itu adalah menggunduli rambut untuk mahasiswa laki-laki.


Cukup banyak Jurusan di Fakultas ini yg menerapkan hal seperti itu, tapi untuk Jurusan Hubungan Internasional dan Ilmu Komunikasi punya cara tersendiri dalam Memperlakukan mahasiswa baru.


Jika mengingatnya aku pun pernah merasakan hal itu, menurutku saat itu adalah masa-masa penjajahan. Tekanan senior membuatku tak betah berada di kampus berlama-lama waktu itu tapi seiring proses yg di jalani akhirnya aku bisa mengerti kenapa kami waktu itu sebagai MABA harus melewati serangkaian kaderisasi yg panjang.


Hasilnya bisa di lihat sekarang, kepribadian dan mental kami terbentuk untuk menjadi generasi intelektual dan generasi berguna bagi bangsa ini. Seperti itulah percakapan kami saat ini, kami sedang mengingat kembali masa-masa itu. "dulu Arman nangis kan waktu itu." Ujar Adi.


"enak aja, bukan nangis matakuĀ  kelilipan." aku membela diri.


"yee nangis." Kata Gina.


"serah dah." balasku.


Saat sedang asyik membicarakan masa lalu tentang kebodohan saat masih MABA, Ilham datang. Terlihat dia sedang buru-buru dengan nafas yg terengah-engah. "kalian lihat Ica gak?" tanya Ilham.


"gak lihat, kenapa?" balas Gina.


"oh ya udah." ucapnya sambil menjauh.


"Ham, mau kemana? Sini aja gabung sama kami." kataku.


"sorry gua ada urusan."


"belakangan ini dia sering ada urusan yah. Seperti Wahid aja tuh anak sekarang." umpat Adi.


"tapi kok Ilham cariin Ica yah? Bukannya dia mau ngeluapain Ica." Kata Gina.


"mungkin dia berubah fikiran." balasku.


Hari ini sudah seminggu sejak Irwan masuk ke rumah sakit dan sudah 2 hari yg lalu dia keluar dari rumah sakit itu.


Ica kembali lega ketika Irwan sudah di perbolehkan pulang, dengan setia waktu itu Ica selalu berada di samping Irwan. Dia benar-benar mencintai Irwan dan sepertinya Irwan juga seperti itu.


"oh iya ngomong-ngomong kapan konser UKM Paduan Suara?" tanyaku kepada Adi.


"Bulan depan." jawabnya.


"berarti kamu tampil dong."


"apalah aku ini bro, cuma rumput yg bergoyang." katanya merendah.


"suara bising gini mau nyanyi, bikin penonton tutup telinga." ledek Gina.


"awas loh Gin, entar jatuh cinta." balas Adi.

__ADS_1


Sedang berbincang, dering smartphoneku bergetar. Sepertinya ada seseorang yg menelepon. "bentar yah, aku angkat telfon dulu." kataku menjauh dari Adi dan Gina.


"halo" ucapku


"halo kak." jawab penelfon yg tidak aku kenal ini.


"sorry ini siapa yah?"


"ini aku kak, Evelyn." jawabnya.


"Evelyn yg mana?"


"MABA tahun ini kak. Yg ketemu waktu di penerimaan mahasiswa baru tingkat Universitas itu." jelasnya.


"oh Evelyn, iya iya saya ingat. Kenapa?"


"kak aku mau konsultasi nih sama kakak. Boleh gak?"


"hm, konsultasi apa?"


"UKM kak."


"oh ya udah, ngomong aja."


"tapi kak gak enak ngomong di telfon. Bisa gak aku ketemu kakak hari ini." terangnya.


"hm.. Bisa, sekarang aja gimana?"


"jadi kita ketemu dimana?


"di kantin pusat aja kak, sekalian makan siang."


"ya udah, siang ini habis dhuhur yah."


"ok kak. Makasih."


"iya sama-sama."


Evelyn menutup telfon, entah apa yg ingin dia bicarakan mungkin dia ingin bergabung dengan UKM Karate. Dari suaranya dia terlihat sedang senang, mungkin hari ini hari yg baik untuknya.


Sementara aku penasaran dengan perempuan yg bernama Evelyn, Ilham sedari tadi mengelilingi Fakultas, dia tidak terlihat tenang dengan tatapan mata yg serius. Terus saja sampai dia melihat Irwan di depan ruang akademik Fakultas lantai 1 gedung utama.


Saat dia melihat Irwan, dengan buru-buru dia mendekat dengan amarah yg ingin segera meledak. Irwan yg melihat Ilham mendekat mencoba menyapa. "hi bro, kemana aja lu baru kelihatan." sapa Irwan.


Tanpa pikir panjang Ilham langsung melayangkan pukulan di pipi kanan Irwan.


Pkkkkk


Irwan terdorong ke belakang, tapi dia masih bisa menjaga keseimbangannya agar tidak terjatuh.


"sini lu." Kata Ilham yg menarik kerah kemeja Irwan menjauh dari depan ruang akademik.


Orang-orang yg berada di sekitar melihat mereka berdua. Terus saja Ilham menyeret Irwan sampai menjauh sampai di taman Fakultas belakang gedung utama. "sini lu *******."

__ADS_1


Irwan memegang pipi kanannya yg mulai tampak membiru karena pukulan Ilham.


"eh lu denger yah, gue minta lu jauhin Ica." Kata Ilham membentak.


Irwan hanya diam dan menatap tajam ke arah Ilham. "gue udah tau siapa lu sebenarnya. Jadi lu gak usah nutup-nutupin kedok elu *******." Umpat Ilham sambil menunjuk-nunjuk Irwan.


"maksud lu?" tanya Irwan.


"eh *******. Gue tau dari anak-anak UKM Photography. Elu itu pengedar narkoba." jelas Ilham dengan nada menantang.


"ohh.."


"lu gak pantes buat Ica, gue mau lu tinggalin dia."


"gue.. gue emang berniat ninggalin dia. Cewek murahan kayak dia gak mungkin gue pertahanin."


"kurang ajar." Ilham melayangkan pukulan lagi ke arah Irwan.


Irwan tak menahan pukulan itu dan mengenai pipi kanannya, kali ini dia terjatuh karena pukulan Ilham.


Orang-orang yg berada di sekitar taman itu berlarian menghampiri mereka berdua. Salah satu teman angkatan mereka berdua yg bernama Aan datang dan melerai.


"woi.. ****. Ngapain kalian." Teriak Aan kepada Irwan dan Ilham.


Karena masih marah, Ilham kembali ingin memukul Irwan yg sudah tergeletak di tanah tapi di tahan oleh Aan. "Ham.. Woy.. Itu temen lo." Kata Aan.


Sementara itu, orang-orang yg berkumpul di tempat itu mencoba membantu Irwan untuk berdiri. Aan masih menahan Ilham yg masih saja mencoba mendekati Irwan.


"sini lu *******." Kata Ilham.


"woy Ham sadar lo.. sadar." terus saja Aan menahan Ilham.


Irwan berdiri dengan bantuan orang-orang yg berkumpul karena perkelahian mereka. "gak di suruh pun, gue bakal ninggalin dia." Kata Irwan kepada Ilham.


"gue udah puas mainin dia. Gue udah puas nikmatin dia." sambung Irwan.


Mendengar hal itu, Ilham tak terbendung. Ilham mendorong Aan dan Aan terjatuh. Ilham melompat ke arah Irwan dan memukul Irwan di bagian wajah. Tiga kali pukulan yg masuk ke wajah Irwan membuat hidungnya berdarah. Sampai orang-orang yg berada di tempat itu melerai dan menarik Irwan.


Situasi yg kian memanas membuat banyak orang berkumpul. Setidaknya perlu tiga orang untuk memegang Ilham agar menjauh dari Irwan.


Sementara itu Irwan yg bangkit sempoyongan tersenyum ke arah Ilham, dia bermaksud untuk mengintimidasi dan membuat Ilham semakin emosi. Irwan pun berjalan menjauh sambil memegang pipi dan membersihkan darah di hidungnya.


Orang-orang yg sedari tadi berkumpul perlahan bubar dan tinggal Ilham yg menendang-nendang tong sampah yg berada di sekitar tempat itu. "anji**.. Sial sial.." umpat Ilham menentang tong sampah.


"lu kenapa sih Ham? Lu tau gak kalau Irwan baru aja keluar dari RS" ucap Aan bingung.


Ilham hanya diam, terus saja dia mengumpat karena emosi yg tak tersalurkan sebagaimana mestinya.


"ada masalah apa lu sama Immang? Hah?" tanya Aan sekali lagi.


"lu gak perlu tau." jawab Ilham pergi meninggalkan Aan.


-Bersambung-

__ADS_1


__ADS_2