Kamu & Senja

Kamu & Senja
Menantu Idaman


__ADS_3

"aku gak nyangka sih Van, kamu udah kenal sama Mas Lukman." ucapku


"aku juga.. Gak nyangka kalau toko bunga yg kamu maksud ternyata yg punya adalah Kak Lukman." Kata Ivan.


"enak banget yah.. Dapat bunga gratis. Haha."


"hahaha..iya. Kadang Allah tuh nyiapin cerita hidup yg lucu yah. Masyaallah.."


Dalam hati aku berpikir, jika saja takdirku juga bisa selucu ini. Lucu saat semua angan-anganku bersama Alfy menjadi nyata.


"Man.. Aku mau langsung ke rumah Yana soalnya Ayah Yana mau minta tolong sesuatu, kamu mau ikut? Kalau tidak aku anterin kamu pulang dulu." tanya Ivan.


Sempat berpikir untuk ikut atau pulang, akhirnya aku mengatakan pada Ivan agar mengantarku ke sebuah restoran tempat yg lain sedang berkumpul. Setidaknya aku harus bisa menghadapi kenyataan, lagi pula sudah lama juga aku tidak bertemu dengan Ana, apalagi Sahidah.


Apa lagi setelah aku menyalakan smartphone, banyak notif pesan dari Ana dan juga telpon dari nomor yg kemungkinan nomor ini adalah nomor telepon Sahidah. Aku harus bersikap dewasa, lagi pula aku yakin Riyal bukan tukang gosip atau tukang adu yg akan menceritakan kisah piluku kepada Sahidah dan Ana.


Tak berselang lama, sampailah aku di depan sebuah restoran. Setelah aku turun dari mobil, lalu aku kumpulkan keberanian untuk melangkah maju.


Belum aku masuk ke dalam, tanpa sengaja aku bertemu dengan Puput.


"e.. Assalamualaikum." ucapku gugup.


Dengan tatapan sinis dia mendekat. "Kamu datang juga, padahal aku udah senang tadi kamu gak datang." ujarnya sinis.


Aku hanya diam, tak tau harus membalas apa ucapan sinis itu. Aku bisa memaklumi betapa Puput membenciku, itu karena aku telah melukai sepupunya.


Dia mengatakan kepadaku bahwa sengaja ikut dengan Alfy ke pertemuan ini karena Puput tau bahwa aku juga akan hadir. Puput tak mau aku mengintimidasi Alfy agar segera mengingat diriku yg dulu hingga membuat Alfy kembali merasa sakit dan pusing di kepalanya. Akhirnya dia memutuskan untuk ikut agar bisa mengawasiku.


"oh iyaa, ingat yah.. Jangan sampai kamu menyinggung lagi tentang kejadian waktu itu. Aku gak mau adikku lagi-lagi harus mengingat kakaknya karena perkataanmu. Aku minta maaf, aku bukannya benci denganmu tapi hanya saja Sepupuku lebih berharga di banding apapun. Walaupun kami cuma sepupu tapi dia sudah aku anggap sebagai adikku sendiri. Ingat itu.." ujarnya.


Aku diam,.. Puput pun masuk ke dalam restoran. Aku mulai berpikir lagi, haruskah aku masuk ke dalam? Aku bimbang. Mungkin lebih baik aku pulang, kehadiranku tidak terlalu bermakna.


Saat aku mulai berbalik, seseorang memanggil namaku. "Arman.."


"Sahidah." ucapku sambil berbalik ke arahnya.

__ADS_1


" ya ampun Arman.. Lame tak jumpa. Apa kabar?" ucapnya kegirangan.


"alhamdulillah baik. Kamu?" balas ku.


"alhamdulillah.. Masyaallah Arman.. Tambah tampan aja kau ni."


Aku tidak menyangka akan bertemu dengan Sahidah sekarang dan aku tak tau harus merespon seperti apa.


"mau kemana? Ayo masuk." ucapnya.


"iya ini juga baru mau masuk."


Karena tak ada alasan lagi untukku menghindar akhirnya aku putuskan ikut saja bergabung dengan mereka. "ayolah.. Aku nak ke kereta dulu, ambil sesuatu."


"hah? Kereta?"


" Mobile lah maksudku."


"mobil? Oh.. Iya iya."


"kalau gitu aku temanin kamu dulu aja."


"ya udah. Itu keretanye... Mobil maksudnye."


Sahidah memang agak fasih menggunakan bahasa tapi tetap saja logatnya masih jelas menunjukkan bahwa dia orang malaysia.


Dari yg aku kenal, Sahidah tidak banyak berubah. Mulai dari penampilan hingga karakternya, mungkin jika tidak ada seseorang yg duduk di singasana hatiku maka bisa aku katakan Sahidah akan menjadi kandidat kuat untuk mendudukinya.


"jadi, kamu berapa lama di Indonesia?" tanyaku.


"hm.. Mungkin seminggu atau ya lebih siki tak apelah.. Arman aku nak nanya nih. Boleh?"


"nanya apa?"


"Kata Riyal, waktu Fina kecelakaan kamu juga ada di situ. Di tempat kecelakaan itu?"

__ADS_1


"iya, kebetulan aku ada di tempat kejadian."


Bukan hanya berada di tempat kejadian, tapi aku menyaksikan sendiri saat dia tertabrak. Aku menyaksikan sekaligus jadi penyebab dia mengalami kejadian buruk itu.


Sementara itu, setelah mengantarkan Arman ke restoran, Ivan yg mengunjungi rumah calon istrinya telah sampai di depan gerbang. Karena restu sudah di kantongi maka dia berpikir untuk menjaga dan mempererat hubungan antara dia dengan keluarga Yana.


Setelah berada di rumah dia terlibat pembicaran dengan ayah Yana, tak lupa pula Ivan memberikan bunga yg tadi di dapatkan dari toko bunga ke Ibu Yana.


Meski sedikit berharap agar bisa melihat Yana Siang ini tapi sayangnya Yana sedang tidak berada di rumah karena ada urusan di luar. Dalam hati sedikit kecewa tapi juga merasa lega karena Ivan masih bisa menjaga pandangannya.


Walaupun sudah mendapat restu tetap saja Ivan sadar bahwa hubungan antar dia dan Yana belum halal, artinya masih ada batasan yg harus mereka jaga.


"makasih nak yah, Yana pasti kaget kalau pulang bunga Mataharinya udah di ganti." ucap Ibu Yana.


"sama-sama Ibu."


"jadi gimana kuliahnya nak Ivan?" tanya Ayah Yana.


"alhamdulillah Ayah, insyaallah tahun ini saya wisuda."


"alhamdulillah.."


"dan insyaallah, setelah wisuda mungkin saya akan melanjutkan studi dulu di amerika sambil menjalankan bisnis keluarga." ucap Ivan.


"Masyaallah.. Sudah sholeh, pekerja keras pula." Ucap Ibu Yana.


"InsyaAllah, setelah Yana Wisuda tahun depan. Saya dan orang tua akan ke Indonesia dan melamar Yana secara resmi bersama orang tua. Tegas Ivan


"alhamdulillah.. Ibu senang dan mungkin juga lega karena Yana bisa punya calon suami yg baik seperti kamu."


"Saya gak nyangka anak satu-satunya akan menikah secepat ini, tapi kalau laki-laki yg melamar anak saya sebaik kamu, tentu saja saya gak bisa nolak." ucap Ayah Yana.


Terus saja rasa syukur di lontarkan oleh kedua orang tua Yana, bukan tanpa alasan sebab akhlak dan perilaku yg tercermin pada diri Ivan benar-benar mencerminkan lelaki sholeh. Terlebih keluarga Yana sangat menjunjung erat nilai kegaaman dalam keluarga mereka.


-Bersambung-

__ADS_1


__ADS_2